Tuesday, 26 November 2013

Blog dari Tacloban: Gadis kecil bergaun putih

Sepasang boneka di antara puing-puing di kota Tacliban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Oleh Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina

Dua hari yang lalu, bersama dengan beberapa orang wartawan, kami mengunjungi salah satu pemukiman yang paling terpukul topan Haiyan di kota Tacloban. Pemukiman tempat ribuan orang tinggal ini terletak sekitar 200 meter dari pesisir pantai dan cukup kumuh.

Namun sudah tidak ada lagi yang tersisa. Daerah ini terkena kekuatan penuh topan super Haiyan, dan semua rumah pun tersapu oleh topan, gelombang badai, dan angin kencang.  

Barang-barang dan keperluan rumah tangga sehari-hari berserakan di mana-mana. Sebuah boneka di sini, sepotong baju di sana, remote control TV di satu sisi, dan foto album keluarga di seberangnya.

Saat sedang menyelesaikan pekerjaan kami, saya memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekitar 75 meter kemudian, saya melihat dua jenazah. Satu di antaranya tampak seperti seorang pemuda, dan yang satunya adalah seorang gadis kecil bergaun putih, usianya sekitar enam tahun.


Friday, 22 November 2013

Indonesia meluncurkan kampanye anti kekerasan terhadap anak (#ENDviolence)

Oleh: Michael Klaus


Direktur Kesejahteraan Sosial Anak di Kementerian Sosial, Edi Suharto (kiri), menghubungi helpline TeSA 129 untuk mencari tahu tentang jenis masalah yang sering dilaporkan anak. ©UNICEF Indonesia/2013/Dionisio 

JAKARTA, 20 November 2013 - Pada Hari Anak Universal, Indonesia bergabung dengan inisiatif global yang dinamakan #ENDviolence against Children.

"Peluncuran kampanye hari ini hanyalah awal dari sebuah proses yang panjang. Kami telah berhasil membentuk aliansi yang kuat untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak kekerasan pada anak-anak dan untuk memperkuat pencegahan dan sistem respon. Selama beberapa bulan mendatang, kami akan bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak mitra lagi," ucap Deputi Perwakilan UNICEF Indonesia Marc Lucet pada acara yang diselenggarakan bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Komisi Perlindungan Anak.

Sejauh ini, Indonesia tidak memiliki data nasional tentang kekerasan terhadap anak. Pemerintah dengan dukungan dari US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan UNICEF tengah melakukan survei nasional tentang prevalensi kekerasan fisik, emosional dan seksual terhadap anak laki-laki dan perempuan di 25 dari 33 provinsi. Hasil dan rekomendasi survey ini akan dipublikasikan tahun depan.

Wednesday, 20 November 2013

Foto: Topan Haiyan, Filipina



UNICEF mengirimkan pasokan darurat ke daerah-daerah di Filipina yang dilanda topan Haiyan pada tanggal 8 November. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa hingga 5 juta anak-anak terdampak oleh bencana ini.

Anda dapat menyumbang lewat: www.supportunicefindonesia.org

Untuk melihat keterangan foto, tampilkan galeri pada layar penuh dan klik 'show info' di sudut kanan atas.

Tuesday, 19 November 2013

Stop Kekerasan Terhadap Anak! #ENDviolence



Setiap hari, meskipun tidak semuanya tampak, anak-anak menjadi sasaran kekejaman dan pelecehan. Hal ini terjadi di seluruh dunia dan di seluruh lingkungan - publik dan swasta, perkotaan dan pedesaan, bahkan di dalam keluarga. Bergabunglah dengan kami untuk sorot yang tidak terlihat. Kunjungi http://www.unicef.org/endviolence untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Terkait:

Monday, 18 November 2013

Topan Haiyan: Kisah Jhana dan Gwendolyn

Oleh: Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina


Jhana dan perlengkapan kebersihan UNICEF di Tacloban
© UNICEF Philippines/2013/Kent Page

Gereja Our Lady of Perpetual Help di Tacloban telah menjadi rumah darurat bagi 300 keluarga yang rumahnya musnah oleh Topan Haiyan. Di antara mereka adalah Jhana, seorang ibu berusia 20 tahun dan putrinya yang baru lahir, Gwendolyn.

Gwendolyn lahir hanya satu minggu sebelum Haiyan melanda. "Topan menghanyutkan rumah kami" ucap Jhana sambil menyusui Gwendolyn di antara ratusan orang lain yang berlindung di gereja. "Tapi dia adalah malaikat saya dan saya akan melakukan segalanya untuk memastikan kesejahteraan hidupnya."

Thursday, 14 November 2013

Diary topan Haiyan: Lumpur dan reruntuhan di Tacloban

Nonoy Fajardo (Disaster Risk Reduction and Emergency Specialist)

Seorang anak yang terlantar akibat topan Haiyan di kota Tacloban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem
Saya telah bekerja di bidang kedaruratan selama lebih dari 15 tahun, dan saya benar-benar berpikir bahwa saya sudah pernah melihat semuanya. Tapi ketika saya sampai di Tacloban pada hari Senin sebagai anggota tim assessment PBB, saya sangat terkejut. Saat pesawat berjalan di landasan pendaratan, saya melihat lumpur dan reruntuhan - hanya lumpur dan reruntuhan - di mana tadinya ada banyak pohon, bangunan dan semua tanda-tanda kehidupan yang normal.

Segala sesuatu yang dulunya di dalam bangunan terminal bandara kini berada di luar, dan apa yang tadinya di luar menjadi berada di dalam, termasuk sebuah tangga eskalator. Kami diberitahu agar menghindari bagian bangunan yang hancur karena masih ada mayat di reruntuhan, di mana para karyawan bandara mencari perlindungan.

Diary topan Haiyan: Bantuan telah sampai

Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)

Seorang anak pengungsi akibat topan Haiyan di pusat evakuasi di Tacloban
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Empat hari telah berlalu sejak topan Haiyan terjadi, dan berita baiknya adalah bantuan telah mencapai para korban. Saya pun bangga untuk mengatakan bahwa pasokan air dan sanitasi UNICEF telah sampai di Tacloban, yang akan membantu mencegah terjadinya wabah tifus dan kolera. Organisasi lainnya tengah mengendalikan bantuan makanan, tempat perlidungan dan obat-obatan.

Berita buruknya adalah pasokan yang sampai masih kurang dari cukup. Meskipun Pemerintah dan tentara Filipina serta rekan-rekan di bidang kemanusiaan berupaya sekuat tenaga, kami masih belum mencapai semua orang yang membutuhkan bantuan.

Wednesday, 13 November 2013

Diary topan Haiyan: "Tidak ada tempat untuk pergi"

Oleh Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)

Seorang ibu menggendong anaknya di Tacloban, Leyten, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Saya baru saja berbicara di telepon dengan Leon Dominador Fajardo, atau sering dipanggil 'Nonoy', UNICEF Emergency Specialist di kota Tacloban. Ia adalah seorang profesional yang berpengalaman dalam menghadapi bencana, namun suaranya terdengar bergetar. "Orang-orang, keluarga dan anak-anak berjalan sepanjang jalanan yang hancur," ucapnya. "Saya tidak tahu mereka berjalan ke mana - tidak ada tempat untuk pergi."

Ia membutuhkan waktu satu jam hanya untuk keluar dari bandara karena puing-puing yang berserakan. Beberapa staf UNICEF lainnya terjebak di bandara selama semalam. Jalan-jalan hampir tidak bisa dilalui pada malam hari yang gelap gulita dan resiko kecelakaan sangat tinggi, bukan hanya untuk pengemudi dan pengendara tapi terutama untuk orang-orang yang berkemah di jalanan.