UNICEF Indonesia memberikan pelatihan bagi para guru di sekolah-sekolah terpencil di provinsi Papua. Para guru diperlihatkan bagaimana menggunakan pendekatan yang ramah anak untuk membuat belajar lebih interaktif dan menyenangkan bagi anak-anak. Program ini juga berfokus pada kesehatan dan kebersihan para murid, serta mencegah kekerasan.
Showing posts with label SD Advent Maima. Show all posts
Showing posts with label SD Advent Maima. Show all posts
Friday, 2 May 2014
Monday, 14 April 2014
Sekolah-sekolah terpencil: menginspirasi anak-anak Papua untuk mengenyam pendidikan
Posted by
UNICEF Indonesia
Oleh Sarah Grainger
Desa Maima, Papua, April 2014 - Udara terasa sejuk dan matahari baru saja terbit ketika Tolaka (8 tahun) dan adiknya Lima (7 tahun) berangkat menuju sekolah pada pukul 06:00. Jarak yang harus ditempuh adalah 1 jam dari rumah mereka, di dekat tepi sungai Baliem di Kecamatan Asolokobal, Papua.
Rute yang harus ditempuh menuju SD Advent Maima meliputi padang-padang rumput yang tergenang air dan hutan-hutan penuh lumpur.
"Saya sudah terbiasa berjalan kaki jadi saya tidak capek sama sekali," kata Tolaka. "Saya senang pergi ke sekolah. Ada banyak teman di sini, kami suka main lompat karet bersama."
Ibu Tolaka, Dimika Satai, tahu betapa pentingnya pendidikan yang baik bagi kedua putrinya. Dia menghadiri sekolah yang sama semasa kecil, tetapi terpaksa berhenti ketika orangtuanya memutuskan sudah waktunya baginya untuk menikah. Sekarang suaminya telah meninggalkannya dan ia menanam sayuran seperti jagung, kentang dan kubis untuk makanan keluarganya, dan menjual sisanya di pasar.
![]() |
| Lima menggunakan sempoa di sekolahnya di daerah rural Wamena, Papua. © UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown. |
Desa Maima, Papua, April 2014 - Udara terasa sejuk dan matahari baru saja terbit ketika Tolaka (8 tahun) dan adiknya Lima (7 tahun) berangkat menuju sekolah pada pukul 06:00. Jarak yang harus ditempuh adalah 1 jam dari rumah mereka, di dekat tepi sungai Baliem di Kecamatan Asolokobal, Papua.
Rute yang harus ditempuh menuju SD Advent Maima meliputi padang-padang rumput yang tergenang air dan hutan-hutan penuh lumpur.
"Saya sudah terbiasa berjalan kaki jadi saya tidak capek sama sekali," kata Tolaka. "Saya senang pergi ke sekolah. Ada banyak teman di sini, kami suka main lompat karet bersama."
Ibu Tolaka, Dimika Satai, tahu betapa pentingnya pendidikan yang baik bagi kedua putrinya. Dia menghadiri sekolah yang sama semasa kecil, tetapi terpaksa berhenti ketika orangtuanya memutuskan sudah waktunya baginya untuk menikah. Sekarang suaminya telah meninggalkannya dan ia menanam sayuran seperti jagung, kentang dan kubis untuk makanan keluarganya, dan menjual sisanya di pasar.
Subscribe to:
Posts (Atom)
