Monday, 24 November 2014

UNICEF Indonesia luncurkan kampanye Tinju Tinja untuk melawan BAB sembarangan


Melanie Subono dan Aidan Cronin meluncurkan kampanye Tinju Tinja di Jakarta pada Hari Toilet Sedunia (19/11).

Jakarta, 24 November 2014 – UNICEF Indonesia dan rocker / aktivis Melanie Subono melakukan perlawanan terhadap fenomena buang air besar sembarangan (BABS) di atas ring tinju melalui kampanye Tinju Tinja yang diluncurkan pada Hari Toilet Sedunia.

Kampanye sosial media ini bertujuan untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik tentang implikasi kesehatan dari perilaku BABS, serta menekankan betapa pentingnya mengakhiri fenomena tersebut di Indonesia, melalui cara yang baru dan inovatif.

Dalam acara peluncuran ini UNICEF mengungkapkan bahwa, berdasarkan laporan Joint Monitoring Program (2014) yang diterbitkan oleh WHO dan UNICEF, 55 juta penduduk Indonesia masih melakukan BABS, atau kedua tertinggi di dunia.

Thursday, 6 November 2014

“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”

By Ermi Ndoen - Health (Malaria/EPID) Officer

 Pulau Sumba, Oktober 2014 – Martinus Lende Walu (48) merasa dirinya sangat beruntung. Ia hampir kehilangan nyawa akibat malaria seperti dua orang tetangganya, namun hanya ia yang selamat. Sejak saat itu, ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu melindungi dirinya dengan menggunakan kelambu nyamuk berinsektisida.

Desa asalnya, Kampung Langgar, adalah salah satu desa adat di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di desa ini, sekitar 200 orang tinggal bersama di 13 rumah adat di sekeliling kuburan-kuburan megalitik. Masing-masing kuburan dimiliki oleh sekelompok keluarga.

Pulau Sumba sering dikunjungi wisatawan karena rumah adat, kuburan megalitik, kain ikat, pasola (kompetisi tombak dan kuda tradisional), serta pantainya yang indah. Namun semua ini dibayangi oleh tingginya tingkat malaria di pulau tersebut. 

Tuesday, 28 October 2014

Identitas Legal Untuk Semua

By: Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist

Mamuju, Indonesia, Oktober 2014 – Hari itu adalah hari yang cerah di Mamuju. Dari jendela kamar hotel saya, terlihat Pulau Karampuang di Sulawesi Selatan, tujuan kami pada hari itu. Bagi penduduk Pulau Karampuang ini adalah hari yang istimewa: 84 pasangan, baik tua dan muda, serta lebih dari 200 anak akan mendapatkan pendaftaran resmi pernikahan dan kelahiran.

Total populasi di Karampuang adalah sekitar 3.300 orang, lebih dari 50 persen berusia di bawah 18 tahun. Banyak dari mereka yang tidak memiliki akta kelahiran karena orang tua mereka tidak menikah secara resmi[1]. Sebagian besar pernikahan di pulau ini hanya dilakukan secara agama, namun tidak terdaftarkan.

Perjalanan kami menuju Karampuang dimulai dari pelabuhan Mamuju pada pukul 8 pagi. Perjalanan 20 menit ke tepi pantai Karampuang ditempuh dengan menggunakan perahu motor. Di atas perahu, kami ditemani oleh Asisten Bupati Mamuju, Kepala Pengadilan Agama dan delapan hakim lainnya, Kepala Dinas Pendidikan, tim dari Kantor Urusan Agama, serta dari Kantor Catatan Sipil.

Monday, 1 September 2014

UNICEF Indonesia menyambut Kepala Perwakilan baru, Gunilla Olsson


Gunilla Olsson, Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia
©UNICEF/2012

JAKARTA, 1 September 2014 – Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia yang baru, Gunilla Olsson, telah memulai memulai jabatan barunya di Jakarta hari ini.

Sebelumnya, ia bekerja di New York sebagai Direktur UNICEF di bidang Tata Kelola Pemerintahan, PBB dan Multilateral.

"Ini adalah saat yang menarik untuk bekerja di Indonesia, karena negara ini baru saja menyambut Pemerintah baru," ucapnya. "Saya tak sabar untuk bekerja dengan mereka dalam merencanakan keterlibatan UNICEF di Indonesia selama lima tahun ke depan.”

Friday, 29 August 2014

Bekerja sama untuk menyelamatkan ibu dan bayi di Sulawesi

Ratna dan anaknya, Ralvin, di Puskesmas Galesong
©UNICEF Indonesia/2014/Ramadana

GALESONG, Sulawesi Selatan, Agustus 2014 - Ratna Adam mulai merasakan nyeri persalinan sekitar pukul sepuluh malam. Dia sedang berada di rumahnya di desa Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Suaminya yang seorang nelayan sedang bekerja di Kalimantan, sehingga orang pertama yang dipanggilnya adalah seorang dukun bersalin bernama Basse Cama.

Ibu Basse telah membantu para ibu di Galesong melahirkan selama 33 tahun dan sangat dihormati masyarakat. Dia tinggal sekitar lima menit jalan kaki dari rumah Ratna. Ia pun bergegas untuk membantunya.