Monday, 14 April 2014

Sekolah-sekolah terpencil: menginspirasi anak-anak Papua untuk mengenyam pendidikan

Oleh Sarah Grainger

Lima menggunakan sempoa di sekolahnya di daerah rural Wamena, Papua. © UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown.

Desa Maima, Papua, April 2014 - Udara terasa sejuk dan matahari baru saja terbit ketika Tolaka (8 tahun) dan adiknya Lima (7 tahun) berangkat menuju sekolah pada pukul 06:00. Jarak yang harus ditempuh adalah 1 jam dari rumah mereka, di dekat tepi sungai Baliem di Kecamatan Asolokobal, Papua.

Rute yang harus ditempuh menuju SD Advent Maima meliputi padang-padang rumput yang tergenang air dan hutan-hutan penuh lumpur.

"Saya sudah terbiasa berjalan kaki jadi saya tidak capek sama sekali," kata Tolaka. "Saya senang pergi ke sekolah. Ada banyak teman di sini, kami suka main lompat karet bersama."

Ibu Tolaka, Dimika Satai, tahu betapa pentingnya pendidikan yang baik bagi kedua putrinya. Dia menghadiri sekolah yang sama semasa kecil, tetapi terpaksa berhenti ketika orangtuanya memutuskan sudah waktunya baginya untuk menikah. Sekarang suaminya telah meninggalkannya dan ia menanam sayuran seperti jagung, kentang dan kubis untuk makanan keluarganya, dan menjual sisanya di pasar.

Tuesday, 25 March 2014

Indonesia: Kesembuhan seorang anak dan kemenangan sebuah pulau dari malaria

Oleh Nuraini Razak

Sebuah pulau yang pernah tercatat memiliki jumlah kasus malaria tertinggi, telah berhasil memberantas semua kasus malaria lokal, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak balita.


SABANG, Indonesia , 19 Maret 2014 - Saat demam Adelia tidak kunjung turun , ia ternyata positif terkena salah satu jenis malaria paling umum, yaitu parasite malaria vivax.  Saat itu tahun 2011, berkat pengobatan yang segera dan efektif, Adelia, yang kini berusia 9 tahun, berhasil sembuh. Tapi banyak orang lain yang tidak beruntung.

"Di pulau Sabang, pada dasarnya hampir setiap orang pernah terkena malaria pada satu titik dalam hidup mereka. Kami sangat terbiasa dengan hal itu," ujar Rahmawati, ibu dari Adelia. "Tapi ketika itu terjadi pada salah satu dari anak-anak kita sendiri, saya sangat khawatir."

"Pada tahun 2008, kami mulai bekerja dengan UNICEF untuk memberantas malaria," kata Dr Titik Yuniarti, Kepala Pengendalian Penyakit Menular di Dinas Kesehatan Sabang. "Dan hari ini, kita bisa mengklaim bahwa kita tidak lagi memiliki kasus malaria lokal disini."

Dulu di Batee Shok, desa dimana Adelia dan keluarganya tinggal, pernah memecahkan rekor karena memiliki jumlah kasus malaria yang tertinggi pada suatu desa di Sabang.

Thursday, 20 February 2014

Indonesia meluncurkan Studi Keamanan Digital

 "Anak-anak dapat terkena risiko yang sama seperti di dunia fisik, seperti kekerasan dan pelecehan, termasuk eksploitasi seksual  dan perdagangan." ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Angela Kearney.

Sejalan dengan peningkatan pesat akan akses penggunaan teknologi dan meningkatnya penggunaan perangkat mobile, Pemerintah Indonesia berkerja sama dengan UNICEF untuk memastikan bahwa anak-anak dapat menggunakan internet sebaik-baiknya dan pada saat yang sama meminimalkan risiko yang mungkin mereka hadapi selama mereka online.

Salah satu langkah utama adalah rampungnya studi mengenai "Digital Citizenship and Safety among Children and Adolescents in Indonesia", yang hasilnya dipaparkan pada tanggal 18 Februari di Jakarta.  Acara ini juga didukung oleh oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan, perwakilan dari LSM dan organisasi anak-anak.  Penelitian ini ditugaskan oleh UNICEF sebagai bagian dari proyek multi-negara pada Digital Citizenship & Safety yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Studi ini meliputi kelompok usia 10 sampai 19 tahun, atau sekitar 43,5 juta anak-anak dan remaja.

Monday, 13 January 2014

Topan Haiyan: Bagaimana UNICEF menanggapi kebutuhan kesehatan anak-anak

Seorang relawan mengukur lingkar lengan atas seorang anak, untuk mengukur status gizinya. © UNICEF/Dianan Valcarcel Silvela
Saya baru saja kembali dari Tacloban. Saya seorang spesialis kesehatan UNICEF dan ditugaskan di sana sebagai bagian dari dukungan global UNICEF untuk membantu memulihkan sistem kesehatan yang melindungi anak-anak pasca Topan Haiyan.

Meskipun telah kembali ke rumah saya di Bangkok, saya masih tercengang oleh kehancuran yang diakibatkan oleh serangan Topan Haiyan. Saya juga terkesan dengan kekuatan dan semangat warga yang terdampak. Di antara tumpukan puing-puing, ada tanda-tanda yang bertuliskan "kita akan bangkit kembali" dan "tidak berumah, tidak beratap tapi tidak putus asa".

Tuesday, 3 December 2013

Mengakhiri Kekerasan di Sekolah Lewat Disiplin Positif

Devi Asmarani

Setahun setelah memulai program Disiplin Positif, suasana di kelas telah berubah total. Siswa tidak takut guru mereka lagi. ©UNICEFIndonesia/2013/Esteve.

Selama 24 tahun mengajar, guru kelas 5 Darius Naki Sogho sering menggunakan tangan atau tongkat rotan untuk menghukum murid-muridnya.

“Saya dulu sering memukul murid-murid saya kalau mereka nakal atau tidak memperhatikan saya di kelas,” ujar Bapak Darius.

Namun setahun terakhir ini, Bapak Darius telah belajar untuk menguasai emosinya di kelas, dan berusaha mengajar dengan cara yang tidak menyakiti atau menakutkan murid-muridnya.

Ia melakukan ini melalui pendekatan Disiplin Positif, metode pengajaran yang sedang dilatih untuk sekelompok guru di Papua sebagai bagian dari kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah untuk mengakhiri kekerasan di sekolah.