Wednesday, 18 March 2015

Membangun kembali dengan lebih baik untuk masa depan yang lebih aman

Simon Nazer, Communication Consultant for UNICEF East Asia and Pacific

Latihan gempa di SDN Muhammadiyah 1 Banda Aceh.
© UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Rekan-rekan UNICEF dan lembaga-lembaga internasional kini sedang memobilisasi bantuan untuk korban Topan Pam di Vanuatu. Ini adalah pengingat betapa rentannya Negara-negara di wilayah ini terhadap bencana alam, betapa pentingnya persiapan untuk menghadapi bahaya yang bisa terjadi.

Untuk mengetahui tentang pekerjaan UNICEF dalam mengurangi dampak bencana, beberapa hari yang lalu saya berbicara dengan rekan-rekan di Indonesia dan Kiribati, beberapa daerah yang paling rawan bencana di dunia.


Tuesday, 17 March 2015

Kisah U-Report Indonesia sejauh ini

– Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer –

Kampanye Give Voice to the Voiceless telah meningkatkan minat pada U-Report Indonesia
©UNICEF Indonesia/2015

Bagaimana seandainya jika kita bisa bertanya kepada 67 juta orang muda tentang apa yang penting bagi mereka? UNICEF Indonesia tertarik untuk mencari tahu.

Pada tahun 2014, UNICEF Indonesia merintis U-Report Indonesia, sebuah platform baru untuk mendorong 67 juta pemuda di negara ini untuk membuat suara mereka terdengar pada isu-isu utama pembangunan.

U-Report Indonesia adalah sistem polling berbasis Twitter yang bertanya kepada orang-orang muda tentang berbagai topik penting, mulai dari pendidikan, gizi, pernikahan anak, hingga bullying.

Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dianalisa oleh UNICEF Indonesia. Informasi ini kemudian akan diteruskan kepada pemerintah, mitra pembangunan dan masyarakat sipil sebagai cara membina partisipasi remaja dan pemuda.


Wednesday, 11 March 2015

Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer -

Juan, 1 tahun, di depan toilet barunya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sumba Barat Daya, Maret 2015 – Juan Ngongo, usia satu tahun, adalah orang pertama di keluarganya yang akan tumbuh besar dengan akses toilet.

Juan tinggal di Desa Watu Kaula, Pulau Sumba (NTT). Selama beberapa generasi, keluarganya buang air besar di sekitar sungai di belakang rumah mereka.

Namun kini sudah tidak lagi. Keluarga Juan belum lama ini menghadiri sebuah sesi pemicuan yang difasilitasi oleh UNICEF di desa mereka. Pada sesi ini, petugas kesehatan menunjukkan bagaimana mudahnya bakteri dari kotoran manusia bisa memasuki rantai makanan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Termasuk dalam masalah kesehatan ini adalah diare dan pneumonia, yang merupakan kontributor utama dari 370 kematian balita Indonesia setiap harinya.

Tuesday, 3 March 2015

Marta Santos Pais menghimbau Indonesia untuk menjadi juara dalam mengakhiri kekerasan terhadap anak

- Devi Asmarani -

Marta Santos Pais (baris dua, kelima dari kanan) bersama representatif beberapa lembaga pemuda di Indonesia.

Jakarta, 3 Maret 2015 - Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB tentang Kekerasan terhadap Anak, Marta Santos Pais, mendesak Indonesia untuk mengambil peran utama dalam mengakhiri kekerasan terhadap anak di wilayahnya.

Selama berkunjung ke Jakarta pada tanggal 23-28 Februari, Ibu Marta mengamati bahwa negara ini telah mengambil langkah-langkah yang cukup untuk mencegah dan menghilangkan kekerasan terhadap anak. Namun, masih banyak yang perlu dilakukan untuk membuat upaya tersebut lebih efektif, ucapnya setelah bertemu dengan beberapa Menteri, anggota parlemen, perwakilan masyarakat sipil, UNICEF dan badan PBB lainnya.

"Melalui kunjungan ini saya merasa bahwa Indonesia sudah siap untuk langkah berikutnya. Dalam pertemuan saya dengan berbagai pejabat pemerintah, saya merasakan kemauan yang sangat kuat untuk mengatasi masalah ini."

Monday, 23 February 2015

Uni Eropa dan UNICEF bekerja sama untuk meningkatkan gizi ibu dan anak di Papua

- Devi Asmarani

Tina Hiluka dari Desa Muliama di Jayawijaya, Papua, bersama bayinya. Tidak seperti keempat anak sebelumnya, Tina melahirkan bayinya di sebuah Puskesmas dengan bantuan seorang bidan setelah satu minggu di rumah tunggu bersalin. ©UNICEFIndonesia/2015/Devi Asmarani  

Ketika Tina Hiluka dari Desa Muliama, Papua, melahirkan anak bungsunya tahun lalu, pengalamannya sangat berbeda dengan ketika ia melahirkan keempat anak-anak lainnya.

Kali ini ia melahirkan di sebuah Puskesmas dengan bantuan seorang bidan terlatih, bukan di rumahnya sendiri dengan hanya ditemani anggota keluarganya.

"Mereka memberi saya minum ketika haus, dan juga makanan ketika saya lapar," kata Tina dalam dialek setempat. "Di rumah, tidak ada yang benar-benar bisa merawat saya seperti itu."