Tuesday, 9 February 2016

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Oleh Ita, Fasilitator WASH Kabupaten Sumba Timur

Perwakilan 49 Marga di Kecamatan KAHALI  melakukan Sumpah Adat untuk mempertahankan status SBS.

Katala Hamu Lingu (KAHALI) adalah salah satu dari 22 kecamatan di Sumba Timur yang menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan juga kecamatan pertama yang meraih status SBS di Sumba Timur, NTT.

Pada acara deklarasi SBS tersebut, Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI mengatakan bahwa “Program Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan kegiatan yang positif dalam mendukung Program Kecamatan KAHALI Berhias, yang menitikberatkan pada keindahan dan kebersihan. Deklarasi yang akan diwarnai sumpah adat ini merupakan janji yang sakral dari masyarakat KAHALI untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai Kecamatan bebas buang air besar sembarangan."

Tuesday, 26 January 2016

Peluncuran Layanan Terpadu Kesejahteraan Anak dan Keluarga - Mimpi Yang Menjadi Kenyataan

Oleh: Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist  

Wakil Walikota Tulungagung (keenam dari kanan) dengan Wakil Ketua DPRD (ketiga dari kiri) dan kepala lembaga (dari kiri: Kepala Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana; Kepala Bappeda; Ketua LPA Provinsi Jawa Timur; Kepala Sub-Direktorat Anak Terlantar, Direktorat Kesejahteraan Anak, Kementerian Sosial, Direktur Rumah Sakit Umum; Astrid Dionisio - Child Protection Specialist dan I Made Sutama, Child of Field Office dari UNICEF; Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial, dan Sekretaris Pemerintah Daerah Tulungagung. ©UNICEF/2015 /Astrid Dionisio

Ini bukanlah pertama kalinya saya mengunjungi Tulungagung, Jawa Timur. Namun kegembiraan kunjungan kali ini sungguh berbeda. Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.

Pengembangan sistem perlindungan anak sekali lagi merupakan sebuah mimpi besar. Penggambaran sistem tersebut sangat rumit sebelum Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meluncurkan model pertama layanan kesejahteraan anak dan keluarga terpadu: Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (PSAI). Jalan yang dilalui tidak mulus, dan perjalanan yang ditempuh sangat panjang. Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu daerah utama pengirim buruh migran perempuan.

Pada tahun 2011, UNICEF Indonesia menggunakan pendekatan baru bagi perlindungan anak yang difokuskan pada pengembangan sistem. Sejak saat itu, UNICEF bersama-sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Sosial memulai proses untuk mengembangkan sistem perlindungan anak komprehensif yang secara lokal dikenal sebagai SPA (Sistem Perlindungan Anak).

Thursday, 21 January 2016

Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Kedua

Oleh: Femmy, In-House Face To Face UNICEF Surabaya

Baca blog Femmy yang sebelumnya: Hari Pertama

Hari kedua dipusatkan di Dukuh Gajihan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi.

Meeting point dilakukan di Dinas Kesehatan Klaten untuk bertemu dengan Mbak Reta yang bertugas menemani kami meninjau.

Tempat pertama yang dituju adalah kantor PKK yang sering disulap menjadi ruang serba guna. Kami kembali bertemu dengan Ibu Sri Budiati selaku bidan desa yang inspirational. Tidak salah memang jika Desa Pandes menjadi desa percontohan nasional karena banyak gebrakan dan program unik yang berjalan sampai sekarang dan didukung oleh semua pihak terkait.

Beberapa hal lain yang ada di Desa Pandes dan Klaten;

  • Sekitar 20 - 30% anak usia di bawah 20 tahun hamil, baik dikarenakan Pernikahan Dini ataupun MBA
  • GPRS (Gerakan Peduli Remaja Sehat) berfungsi untuk mempersiapkan wanita agar nanti ketika menikah dan hamil, tubuhnya dalam keadaan prima. Sehingga anak yang dikandungnya nanti tidak punya resiko terkena gizi buruk / stunting / lainnya.
  • Nenek ternyata punya andil tinggi dalam mensupport ibu memberikan ASI dan Makanan Pendamping (MP ASI)
  • Cafe Baby untuk membantu ibu-ibu yang kerepotan mempersiapkan sarapan di pagi hari. Ini adalah alternatif support untuk para ibu dan tujuannya bukan untuk profit.

Wednesday, 20 January 2016

Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Pertama

Oleh: Femmy, In-House Face To Face UNICEF Surabaya

Pada hari Senin, 26 november 2015, saya berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Tugu Yogyakarta bersama dua anggota team In-House Face To Face UNICEF.

Tujuan dari trip ini adalah untuk melihat secara langsung program kerja UNICEF di lapangan, mengenai bagaimana peran UNICEF mampu memberikan dampak pada perubahan perilaku pada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan pada kesempatan kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi wilayah kabupaten Klaten, Jawa Tengah, untuk melihat program gizi dan perlindungan anak.


Setelah sekitar satu jam perjalanan, tempat pertama yang kami kunjungi adalah kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) kabupaten Klaten untuk berdialog dengan Dinas Kesehatan Klaten, Perangkat Desa Pandes dan juga tim kesehatan UNICEF Surabaya.

Monday, 18 January 2016

Ketidakhadiran Siswa di Papua

Oleh: Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Teo menghadapi masa depan yang tidak pasti. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Waktu itu hari Senin pukul 8 pagi di kampung Poumako Papua. Ketika lonceng berbunyi, kelompok anak-anak berdatangan dari rumah mereka dan mulai berjalan menuju kelas. Tetapi Teo tidak – anak yang berusia sembilan tahun tersebut tidak pergi ke sekolah hari itu. Ia jarang pergi ke sekolah.

Kisah Teo merupakan kisah umum yang terjadi di sekitar kampungnya dan di seluruh provinsi. Daerah ini merupakan salah satu daerah termiskin dan paling terisolasi di Indonesia. Kondisi ini dapat dilihat dari  besarnya jumlah anak yang putus sekolah untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Anak-anak di sini lebih mengenal palu dan sekop daripada pensil dan buku.

"Kadang-kadang saya bekerja di pelabuhan," kata Teo. Ada pelabuhan besar beberapa kilometer dari kampungnya yang melayani daerah tersebut. Anak-anak seperti Teo bisa memperoleh sedikit tambahan rupiah melalui bongkar muat barang ke kapal-kapal yang berlabuh di sana. "Saya mengangkut barang-barang seperti perabot, semen dan beras," katanya, "Barang-barang ini biasanya beratnya 15-25 kilogram."