Thursday, 23 March 2017

Belajar bersyukur dari Caca yang ceria

Oleh Yoan Mei Dyandari A – Fundraiser UNICEF Indonesia

Saya sangat bersemangat ketika mendapat kesempatan berkunjung ke kota Mamuju di Sulawesi Barat. Saya merasa beruntung didampingi oleh tim UNICEF dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Masagena.


Para Facers disambut oleh anak-anak SDN Pantaraan ©UNICEF Indonesia/2016

Tujuan utama kami adalah Desa Pantaraan, lokasi Sekolah Satu Atap (SATAP) yang di dukung oleh UNICEF dan LSM Masagena. Perjalanan ke sekolah tersebut tidak mudah, jalanan berbatu, tidak rata, ditambah terik matahari yang menyengat. Namun hal itu

Monday, 20 March 2017

Sekolah tinggi keguruan menanam harapan PAUD di Papua

Oleh Cory Rogers, Communication Officer
 
Sorong. Hanya 15 menit ke arah timur dari pelabuhan Sorong terdapat STKIP Muhammadiyah Sorong, sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan yang berdiri tenang di atas birunya laut.
Di antara dua kolam di tengah kampus, Herman, seorang mahasiswa semester ketiga di sekolah tinggi tersebut, mengernyitkan dahi ketika menceritakan pengalamannya memulai masa sekolahnya.
“Kami sering tidak punya kertas untuk menulis [di sekolah],” katanya, satu tangannya berputar-putar di udara seakan menulis sesuatu, dan tangan yang lain menggaruk-garuk telinganya. “Jadi, kami

Wednesday, 1 March 2017

Dari Pemuda ke Pemuda: Menciptakan Pembuat-Perubahan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak-Anak

Oleh: Melania Niken Larasati - Child Protection Officer




Peserta workshop Violence Against Children di Makassar

“Kekerasan fisik bukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia selama memiliki tujuan lebih tinggi."


Mendengar pernyataan tersebut, hadirin mulai merasa tidak nyaman, sebagaimana saya bertanya-tanya: bila pandangan seperti ini dapat dengan begitu saja diungkapkan di sini, di Makassardi sebuah lokakarya yang bertujuan untuk menghapus kekerasan terhadap anak (Violence Against Children - VAC) - seberapa luas tindak kekerasan ini terjadi di antara kaum muda?

Lebih dari sekedar mainan anak

Oleh: Cory Rogers 


Beberapa Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia menyediakan fasilitas bermain perosotan, ayunan dan ring bola basket, dan sedikit dari mereka meletakannya di dalam ruangan.

"Kami harus memindahkan semua mainan itu ke dalam ruangan agar tidak dimainkan oleh orang dewasa,” kata Ibu Lastri, kepala sekolah PAUD Terpadu di Lombok barat laut, sebuah pulau dengan mayoritas penduduk Muslim yang berada di sebelah timur Pulau Bali. 

"Saya rasa mereka tidak memiliki mainan-mainan ini ketika mereka masih anak-anak!” katanya sambil tertawa.


Monday, 27 February 2017

FutbolNet: Kesempatan yang sama untuk Alya dan Reni

Oleh: Dinda Veska



Reni dan Alya, sebuah metode pendidikan inklusi memberi kesempatan untuk mereka belajar bersama
©UNICEF/Dinda Veska/2017

“Anak-anak dengan disabilitas seharusnya sekolah bersama anak-anak lainnya seperti aku. Agar bisa bermain bersama dan mendapat kesempatan yang sama.”

Alya menyampaikan pendapatnya tersebut di tengah keriuhan acara FutbolNet awal Februari kemarin. Anak perempuan berusia dua belas tahun ini dan teman-teman lainnya dari SMP Az-Zahra mendapat kesempatan untuk belajar mengenal pendidikan inklusi melalui olahraga, bersama anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Lebak Bulus Jakarta.

Ini merupakan pengalaman pertama bagi Alya berinteraksi dan coba memahami apa yang dialami oleh Reni – anak dengan disabilitas yang ia dampingi sepanjang acara FutbolNet berlangsung.