Wednesday, 30 November 2016

Suara anak muda menginspirasi solusi di Ende

Oleh Kate Rose, Communication Specialist, UNICEF Indonesia

“Ayo, maju dan tunjukkan ide kalian” ucap Sulastri dengan senyum terkembang. Hujan turun dengan derasnya di luar tenda terpal biru, tapi itu tidak menyurutkan semangat sekitar 40 orang anak muda yang berkumpul dibawahnya. Begitu jugadengan anggota masyarakat lainnya yang mengelilingi kelompok yang penuh semangat itu, yang menonton pembukaan acara. Sindi maju dan menjelaskan kepada teman sebaya dan orangtuanya tentang rencana tangki air, usulan dari kelompoknya untuk membantu desa mereka.

Sindi mempresentasikan desain tangki air.
© UNICEF Indonesia / 2016
Sindi dan teman-temannya telah menjadi bagian dari Lingkaran Remaja di desa mereka selama beberapa bulan.  Ini adalah kelompok yang dijalankan oleh relawan fasilitator Sulastri dan merupakan kesempatan bagi semua anak untuk berkumpul, bersenang-senang, mempelajari hal baru dan terlibat dalam beragam cara. Salah satu aktivitasnya adalah kerja sama dengan UNICEF melalui mitra lokal Child Fund, yang berusaha melibatkan anak-anak untuk mencari solusi bagi masalah yang memengaruhi masyarakat mereka.

Indonesia adalah negara dengan keberagamannya, tempat bencana alam sering terjadi, mulai dari banjir lokal hingga gempa bumi yang menghancurkan segalanya. Di banyak wilayah, bencana alam terjadi dalam skala yang cukup kecil, dan seringkali sulit diduga kapan dan di mana terjadinya. UNICEF bekerja sama dengan Lingkaran Remaja, yang umumnya berada dalam Forum Anak Desa atau Kota, seperti kelompok Sulastri untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah-masalah yang memengaruhi anak-anak dan untuk mengembangkan ide-ide baru tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Ada sejumlah forum anak di Ende, Pulau Flores, semuanya dijalankan oleh relawan muda seperti Sulastri, dan semuanya diundang hari ini untuk membagikan ide yang telah mereka kembangkan.

Sunday, 20 November 2016

Sektor Minyak Kelapa Sawit dan Anak di Indonesia – Prinsip Dunia Usaha dan Hak Anak dalam Aksi

Oleh Michael Klaus, Chief of Communication and Public Advocacy, Indonesia



Jakarta, Indonesia, 20 November 2016 – Minyak sawit digunakan di hampir separuh dari semua barang-barang konsumsi, mulai dari sabun dan body lotion hingga makanan olahan dan biofuel. Dan karena kelapa sawit mudah untuk ditanam dan lebih murah pemrosesannya dibandingkan minyak nabati lainnya, permintaan global terhadap kelapa sawit terus meningkat. Perkembangan ini merupakan kabar baik bagi Indonesia dan Malaysia, yang memproduksi sekitar 85% minyak sawit global. Namun, booming minyak sawit, harus dibayar mahal oleh lingkungan. Dampak pembukaan lahan untuk penanaman perkebunan kelapa sawit termasuk deforestasi, kerusakan lahan gambut dan emisi gas rumah kaca karena untuk praktik tebang-dan-bakar  - telah banyak dikaji. Namun, dampak industri ini terhadap anak-anak tidak mendapat banyak perhatian, meskipun di Indonesia saja faktanya 5 juta anak terdampak oleh industri tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh, UNICEF melakukan penelitian - yang merupakan penelitian pertama - tentang besarnya dampak budidaya kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia terhadap anak-anak. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang  kondisi kehidupan anak-anak di pusat-pusat produksi seperti di Sumatera dan Kalimantan, yang karena letaknya sangat terpencil, jarang mendapat banyak perhatian. Berdasarkan desk research yang komprehensif, wawancara dengan para pekerja (banyak di antaranya perempuan) anak-anak, guru, tenaga kesehatan dan perwakilan LSM, serta konsultasi dengan manajer-manajer perkebunan dan perwakilan pemerintah, penelitian tersebut mengidentifikasi tujuh area dampak utama dan sejumlah akar penyebab.

Tuesday, 15 November 2016

Berinvestasi pada modal kapital anak-anak: Menumbuhkan daya pikir mampu menumbuhkan ekonomi di Asia Selatan dan Timur

Oleh Lauren Rumble, UNICEF Indonesia Deputy Representative

Satu miliar otak bergantung pada tindakan yang diambil pemerintah dan mitra saat ini.

Ilmuwan terbaik dunia baru-baru ini menegaskan bahwa investasi yang lebih besar dibutuhkan untuk mendukung ‘modal kapital’ anak-anak. Modal kapital merujuk pada keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari investasi dalam pengembangan daya pikir anak-anak. Peraih Nobel Laureates James Heckman mengatakan bahwa investasi awal menghasilkan keuntungan yang lebih besar: satu dolar yang dihabiskan selama prenatal dan masa kanak-kanak menghasilkan lebih dari 7% hingga 10% dari investasi di usia yang lebih tua. Selama tahun-tahun pertama kehidupan, seribu sel-sel otak terhubung setiap detik. Koneksi ini menentukan kapasitas anak untuk mempelajari dan mengatur impuls dan emosi. Koneksi-koneksi ini mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk memanfaatkan investasi ini kita perlu menjamin nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan juga keamanan serta keluarga yang penuh kasih sayang bagi semua anak. Jaminan ini memerlukan kepastian akan akses universal terhadap pendidikan, layanan kesehatan, sanitasi dan nutrisi serta bebas dari kemiskinan dan ketakutan untuk setiap anak.

Kebalikan dari kondisi ini juga benar. Kondisi yang merugikan berbahaya bagi perkembangan otak dan kinerja kognitif. Pengabaian kronis – seperti yang dialami oleh anak-anak dalam institusi perawatan – telah terbukti mengganggu komposisi otak. Hal ini menempatkan batas seumur hidup pada perkembangan keterampilan yang diperlukan untuk berhasil di sekolah dan masa dewasa.

Thursday, 10 November 2016

Menjadi Ibu dan Ingin Kembali ke Sekolah

Oleh: Dinda Veska

Ani* anak perempuan yang telah menikah dan melahirkan seorang anak, ingin kembali ke sekolah juga demi sang anak.
©UNICEF Indonesia/2016/Mamuju.

Menikah karena dijodohkan adalah hal yang banyak dialami oleh anak-anak perempuan di Mamuju, Sulawesi Barat. Ada 687 Anak yang tidak sekolah karena menikah/mengurus rumah tangga di sana.

Salah satunya adalah Ani*, 17.

Setelah menikah pada usia 15 tahun dan melahirkan seorang anak, Ani bertengkar dengan suaminya dan memutuskan untuk bercerai. Menyadari pentingnya pendidikan untuk sang anak nanti, Ani pun ingin kembali ke sekolah dan melanjutkan pendidikannya hingga bisa menjadi seorang guru.

Motivasinya sangat sederhana, ia ingin anaknya kelak bisa belajar langsung mengenai banyak hal dari sang Ibu. "Kalau bukan saya yang ajarkan, saya takut anak saya jadi tidak baik," ungkap Ani.

Saat ini, Ani bersama orangtuanya tengah berusaha mengurus proses administrasi untuk kembali menjadi pelajar. Sambil menunggu waktu kembali duduk di sekolah, sehari-hari Ani bekerja sebagai pelayan toko di pasar.

Seperti yang kita semua ketahui juga, salah satu fokus UNICEF Indonesia adalah pendidikan anak. Untuk itu UNICEF, bekerja sama dengan Phillip Lighting Indonesia dan Pemerintah, melakukan sebuah program Gerakan Kembali ke Sekolah, sebagai bentuk upaya bagaimana anak-anak seperti Ani dapat kembali mendapatkan hak pendidikannya. UNICEF Indonesia juga bekerjasama dengan Komite Nasional untuk UNICEF Belanda dalam isu perkawinan usia anak.

Bila akhirnya bisa kembali ke sekolah, Ani sangat ingin kisahnya bisa menginspirasi banyak anak di Indonesia untuk berusaha kembali mendapatkan hak pendidikan. "Sekolah itu cara biar aku sukses kak," jelas Ani.

*Foto, nama anak perempuan, dan desa disamarkan untuk melindungi dan menghargai hak anak.

Monday, 31 October 2016

Menggunakan setiap kesempatan untuk menemukan anak-anak yang sangat membutuhkan perawatan kesehatan

Marthen sembuh dari kekurangan gizi parah akut (sangat kurus). ©UNICEF Indonesia/2016/Ha’i Raga Lawa

Ketika seorang petugas kesehatan menemukan Marthen kecil terbaring di ruang gelap di rumah kakek dan neneknya, dia tahu Marthen sangat membutuhkan perawatan medis. Keadaan Marthen yang tidak berdaya, menyedihkan, dan sangat kurus , sangat membahayakan hidup dan kesehatan Marthen.

Marthen saat itu sedang dirawat oleh neneknya di Desa Poto di Indonesia timur. Ibunya baru saja melahirkan bayi laki-laki lagi, dan ayahnya sedang mencari uang untuk menghidupi dan merawat keluarganya.

Masalah kesehatan Marthen mulai muncul enam bulan yang lalu ketika dia baru saja berusia satu tahun. Dia terserang demam dan batuk di rumah orang tuanya. Karena kakek dan neneknya percaya bahwa penyebab penyakit Marthen adalah ilmu gaib, mereka memaksa kedua orang tua belia ini untuk mencari kelompok doa, bukan petugas kesehatan, untuk menyembuhkan Marthen.

Selama enam bulan berikutnya setelah mengunjungi beberapa kelompok doa yang berbeda, kondisi malah Marthen makin memburuk. Dia kehilangan selera makan dan berat badannya semakin menurun. Dia juga menjadi sangat lemah dan tak berdaya.