Annual Report

Showing posts with label UNICEF Indonesia. Show all posts
Showing posts with label UNICEF Indonesia. Show all posts

Tuesday, 19 March 2019

Kasih Sayang Ayah Melindungi Sakira dan Sahira dari Malaria

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer

Sakira dan Sahira saat dimandikan ayah dan ibunya. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Kembar Sahira dan Sakira sedang dimandikan oleh Ayah dan Ibunya ketika Tim UNICEF datang ke rumah mereka di Desa Ligan, - Kabupaten Aceh Jaya. Ibu mereka adalah seorang guru baca Qur'an dan ayahnya - Pak Saidi bekerja untuk untuk dinas sosial sebagai pencatat data kependudukan.

Hutan di area dekat rumah Sakira dan Sahira. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan dari Kota Banda Aceh menuju Desa Ligan. Rumah mereka terletak hanya sepuluh menit dari area konservasi gajah sumatera, dikelilingi hutan tropis dan juga area penambangan emas. Selain itu banyak juga tempat bersarang induk-induk nyamuk Anopeles, pembawa penyakit malaria pada manusia.

Satu bulan lalu saat Sakira dan Sahira berulang tahun yang pertama, tetangga seberang rumah mereka mengalami sakit malaria, bukan tidak mungkin mereka juga akan tertular. Menurut Dokter Endang Sumiwi - spesialis malaria UNICEF Indonesia, rendahnya imunitas malaria pada balita seperti Sakira dan Sahira menyebabkan potensi sakit berat dan kematian karena malaria lebih tinggi jika mereka tertular malaria. Selain itu malaria pada anak-anak dapat mengakibatkan anemia, stunting  dan terganggunya perkembangan.

Ayah mereka sempat bercerita pengalamannya sakit malaria tahun 2011 lalu  "Rasanya itu sangat sakit, terasa panas di dalam tulang, dingin dan badan menggigil. Saya tidak ingin, anak-anak saya sampai tertular malaria, pasti kasihan sekali." Ujar Pak Saidi.

Wednesday, 25 January 2017

Tenda UNICEF untuk anak-anak di Pidie Jaya - Aceh

Oleh: Cory Rogers

Hari Rabu, saat ribuan orang keluar untuk salat subuh berjamaah, tanah di Pidie Jaya – Aceh Utara tiba-tiba terguncang. Dalam hitungan menit, 3000 rumah hancur menjadi puing-puing, jalanan di sekitar terbelah dan rusak parah.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 102 orang meninggal duni, lebih dari 300 orang terluka, dan 85.000 penduduk saat ini masih dalam pengungsian. Seperempat dari mereka yang meninggal berusia di bawah 18 tahun.

Dampak langsung dari gempa tersebut adalah puluhan ribu orang kehilangan rumahnya. Juga banyak dari mereka yang tidak memiliki akses pelayanan yang baik seperti, air yang aman, kesehatan dan sanitasi, bahkan pendidikan.

Thursday, 8 December 2016

Kini, Sang Pengantin telah kembali menjadi Pelajar!

Oleh: Dinda Veska

Masih ingatkah dengan kisah dua orang anak dari Desa Kenanga* bernama Sari* dan Dewi*? Yang hidupnya berubah dramatis setelah menikah dan melahirkan anak dari laki-laki yang sama. Sari sempat menguangkapkan bahwa ia rindu kehidupan lamanya. "Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada Ibu. Ketika saya masih sekolah, semuanya lebih baik."


Setelah ditinggalkan oleh Hazar – suaminya, Sari menyampaikan kembali keinginannya kepada sang Ibu. Keterbatasan biaya menjadi kendala utama untuk mengembalikan Sari ke sekolah. Ditambah lagi tidak mudah untuk mencari sekolah yang bersedia menerima Sari dengan kondisi sudah pernah menikah dan memiliki anak.

Wednesday, 30 November 2016

Suara anak muda menginspirasi solusi di Ende

Oleh Kate Rose, Communication Specialist, UNICEF Indonesia

“Ayo, maju dan tunjukkan ide kalian” ucap Sulastri dengan senyum terkembang. Hujan turun dengan derasnya di luar tenda terpal biru, tapi itu tidak menyurutkan semangat sekitar 40 orang anak muda yang berkumpul dibawahnya. Begitu jugadengan anggota masyarakat lainnya yang mengelilingi kelompok yang penuh semangat itu, yang menonton pembukaan acara. Sindi maju dan menjelaskan kepada teman sebaya dan orangtuanya tentang rencana tangki air, usulan dari kelompoknya untuk membantu desa mereka.

Sindi mempresentasikan desain tangki air.
© UNICEF Indonesia / 2016
Sindi dan teman-temannya telah menjadi bagian dari Lingkaran Remaja di desa mereka selama beberapa bulan.  Ini adalah kelompok yang dijalankan oleh relawan fasilitator Sulastri dan merupakan kesempatan bagi semua anak untuk berkumpul, bersenang-senang, mempelajari hal baru dan terlibat dalam beragam cara. Salah satu aktivitasnya adalah kerja sama dengan UNICEF melalui mitra lokal Child Fund, yang berusaha melibatkan anak-anak untuk mencari solusi bagi masalah yang memengaruhi masyarakat mereka.

Indonesia adalah negara dengan keberagamannya, tempat bencana alam sering terjadi, mulai dari banjir lokal hingga gempa bumi yang menghancurkan segalanya. Di banyak wilayah, bencana alam terjadi dalam skala yang cukup kecil, dan seringkali sulit diduga kapan dan di mana terjadinya. UNICEF bekerja sama dengan Lingkaran Remaja, yang umumnya berada dalam Forum Anak Desa atau Kota, seperti kelompok Sulastri untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah-masalah yang memengaruhi anak-anak dan untuk mengembangkan ide-ide baru tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Ada sejumlah forum anak di Ende, Pulau Flores, semuanya dijalankan oleh relawan muda seperti Sulastri, dan semuanya diundang hari ini untuk membagikan ide yang telah mereka kembangkan.

Sunday, 20 November 2016

Sektor Minyak Kelapa Sawit dan Anak di Indonesia – Prinsip Dunia Usaha dan Hak Anak dalam Aksi

Oleh Michael Klaus, Chief of Communication and Public Advocacy, Indonesia



Jakarta, Indonesia, 20 November 2016 – Minyak sawit digunakan di hampir separuh dari semua barang-barang konsumsi, mulai dari sabun dan body lotion hingga makanan olahan dan biofuel. Dan karena kelapa sawit mudah untuk ditanam dan lebih murah pemrosesannya dibandingkan minyak nabati lainnya, permintaan global terhadap kelapa sawit terus meningkat. Perkembangan ini merupakan kabar baik bagi Indonesia dan Malaysia, yang memproduksi sekitar 85% minyak sawit global. Namun, booming minyak sawit, harus dibayar mahal oleh lingkungan. Dampak pembukaan lahan untuk penanaman perkebunan kelapa sawit termasuk deforestasi, kerusakan lahan gambut dan emisi gas rumah kaca karena untuk praktik tebang-dan-bakar  - telah banyak dikaji. Namun, dampak industri ini terhadap anak-anak tidak mendapat banyak perhatian, meskipun di Indonesia saja faktanya 5 juta anak terdampak oleh industri tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh, UNICEF melakukan penelitian - yang merupakan penelitian pertama - tentang besarnya dampak budidaya kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia terhadap anak-anak. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang  kondisi kehidupan anak-anak di pusat-pusat produksi seperti di Sumatera dan Kalimantan, yang karena letaknya sangat terpencil, jarang mendapat banyak perhatian. Berdasarkan desk research yang komprehensif, wawancara dengan para pekerja (banyak di antaranya perempuan) anak-anak, guru, tenaga kesehatan dan perwakilan LSM, serta konsultasi dengan manajer-manajer perkebunan dan perwakilan pemerintah, penelitian tersebut mengidentifikasi tujuh area dampak utama dan sejumlah akar penyebab.

Tuesday, 15 November 2016

Berinvestasi pada modal kapital anak-anak: Menumbuhkan daya pikir mampu menumbuhkan ekonomi di Asia Selatan dan Timur

Oleh Lauren Rumble, UNICEF Indonesia Deputy Representative

Satu miliar otak bergantung pada tindakan yang diambil pemerintah dan mitra saat ini.

Ilmuwan terbaik dunia baru-baru ini menegaskan bahwa investasi yang lebih besar dibutuhkan untuk mendukung ‘modal kapital’ anak-anak. Modal kapital merujuk pada keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari investasi dalam pengembangan daya pikir anak-anak. Peraih Nobel Laureates James Heckman mengatakan bahwa investasi awal menghasilkan keuntungan yang lebih besar: satu dolar yang dihabiskan selama prenatal dan masa kanak-kanak menghasilkan lebih dari 7% hingga 10% dari investasi di usia yang lebih tua. Selama tahun-tahun pertama kehidupan, seribu sel-sel otak terhubung setiap detik. Koneksi ini menentukan kapasitas anak untuk mempelajari dan mengatur impuls dan emosi. Koneksi-koneksi ini mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk memanfaatkan investasi ini kita perlu menjamin nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan juga keamanan serta keluarga yang penuh kasih sayang bagi semua anak. Jaminan ini memerlukan kepastian akan akses universal terhadap pendidikan, layanan kesehatan, sanitasi dan nutrisi serta bebas dari kemiskinan dan ketakutan untuk setiap anak.

Kebalikan dari kondisi ini juga benar. Kondisi yang merugikan berbahaya bagi perkembangan otak dan kinerja kognitif. Pengabaian kronis – seperti yang dialami oleh anak-anak dalam institusi perawatan – telah terbukti mengganggu komposisi otak. Hal ini menempatkan batas seumur hidup pada perkembangan keterampilan yang diperlukan untuk berhasil di sekolah dan masa dewasa.

Thursday, 10 November 2016

Menjadi Ibu dan Ingin Kembali ke Sekolah

Oleh: Dinda Veska

Ani* anak perempuan yang telah menikah dan melahirkan seorang anak, ingin kembali ke sekolah juga demi sang anak.
©UNICEF Indonesia/2016/Mamuju.

Menikah karena dijodohkan adalah hal yang banyak dialami oleh anak-anak perempuan di Mamuju, Sulawesi Barat. Ada 687 Anak yang tidak sekolah karena menikah/mengurus rumah tangga di sana.

Salah satunya adalah Ani*, 17.

Setelah menikah pada usia 15 tahun dan melahirkan seorang anak, Ani bertengkar dengan suaminya dan memutuskan untuk bercerai. Menyadari pentingnya pendidikan untuk sang anak nanti, Ani pun ingin kembali ke sekolah dan melanjutkan pendidikannya hingga bisa menjadi seorang guru.

Motivasinya sangat sederhana, ia ingin anaknya kelak bisa belajar langsung mengenai banyak hal dari sang Ibu. "Kalau bukan saya yang ajarkan, saya takut anak saya jadi tidak baik," ungkap Ani.

Saat ini, Ani bersama orangtuanya tengah berusaha mengurus proses administrasi untuk kembali menjadi pelajar. Sambil menunggu waktu kembali duduk di sekolah, sehari-hari Ani bekerja sebagai pelayan toko di pasar.

Seperti yang kita semua ketahui juga, salah satu fokus UNICEF Indonesia adalah pendidikan anak. Untuk itu UNICEF, bekerja sama dengan Phillip Lighting Indonesia dan Pemerintah, melakukan sebuah program Gerakan Kembali ke Sekolah, sebagai bentuk upaya bagaimana anak-anak seperti Ani dapat kembali mendapatkan hak pendidikannya. UNICEF Indonesia juga bekerjasama dengan Komite Nasional untuk UNICEF Belanda dalam isu perkawinan usia anak.

Bila akhirnya bisa kembali ke sekolah, Ani sangat ingin kisahnya bisa menginspirasi banyak anak di Indonesia untuk berusaha kembali mendapatkan hak pendidikan. "Sekolah itu cara biar aku sukses kak," jelas Ani.

*Foto, nama anak perempuan, dan desa disamarkan untuk melindungi dan menghargai hak anak.

Monday, 31 October 2016

Menggunakan setiap kesempatan untuk menemukan anak-anak yang sangat membutuhkan perawatan kesehatan

Marthen sembuh dari kekurangan gizi parah akut (sangat kurus). ©UNICEF Indonesia/2016/Ha’i Raga Lawa

Ketika seorang petugas kesehatan menemukan Marthen kecil terbaring di ruang gelap di rumah kakek dan neneknya, dia tahu Marthen sangat membutuhkan perawatan medis. Keadaan Marthen yang tidak berdaya, menyedihkan, dan sangat kurus , sangat membahayakan hidup dan kesehatan Marthen.

Marthen saat itu sedang dirawat oleh neneknya di Desa Poto di Indonesia timur. Ibunya baru saja melahirkan bayi laki-laki lagi, dan ayahnya sedang mencari uang untuk menghidupi dan merawat keluarganya.

Masalah kesehatan Marthen mulai muncul enam bulan yang lalu ketika dia baru saja berusia satu tahun. Dia terserang demam dan batuk di rumah orang tuanya. Karena kakek dan neneknya percaya bahwa penyebab penyakit Marthen adalah ilmu gaib, mereka memaksa kedua orang tua belia ini untuk mencari kelompok doa, bukan petugas kesehatan, untuk menyembuhkan Marthen.

Selama enam bulan berikutnya setelah mengunjungi beberapa kelompok doa yang berbeda, kondisi malah Marthen makin memburuk. Dia kehilangan selera makan dan berat badannya semakin menurun. Dia juga menjadi sangat lemah dan tak berdaya.

Sunday, 23 October 2016

Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Oleh: M. Ilham Akbar Junior

Pertemuan lima tahunan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang aktif di satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) tingkat nasional akan digelar pada 17-23 Oktober 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Serut, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dalam bentuk perkemahan bakti ini  disebut Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Bakti Husada Tingkat Nasional ke V (PERTINAS SBH 2016).

Pada kegiatan perkemahan ini UNICEF ikut andil dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dalam beberapa segmen: pendirian booth informasi kerjasama, dukungan material peraga untuk pendalaman krida Bina Lingkungan Sehat dalam platform WASH dan pendalaman krida Bina Gizi Sehat dalam platform Adolescent Nutrition. Dimana seluruh kerjasama ini didasarkan oleh cita-cita pengabdian yang selaras antara Gerakan Pramuka dan UNICEF, diharapkan melalui kerjasama ini potensi kemanfaatan dari kedua organisasi tersebut dapat tercapai. Dengan tagline “Pramuka adalah sebagai agen perubahan” diharapkan setiap pribadi Pramuka bisa menjadi contoh yang bagus di masyarakat untuk turut mensukseskan program-program UNICEF yang memiliki pengaruh positif dan perubahan pada masyarakat.

PERTINAS SBH 2016 dibuka oleh Wakil Gurbernur Gus Ipul dan Bupati Blitar Bpk. Krijanto.

Pada hari pertama pelaksanaan PERTINAS SBH 2016, sejak pagi hari sudah terlihat aktivitas pada booth UNICEF, dari divisi Nutrition UNICEF melakukan kegiatan pre-test material dari modul nutrition dengan mengundang kakak-kakak Pramuka untuk berdiskusi mengenai materi yang terkandung dalam modul pelatihan gizi untuk pramuka yang direncanakan akan digunakan pada aktivitas follow up pasca Pertinas SBH 2016. Diskusi tersebut dilakukan dengan proses reading materi oleh Pramuka, lalu dari pihak Pramuka akan memberikan opini dari sudut pandang mereka masing masing. Dari diskusi tersebut didapatkan beberapa point yang bisa digunakan sebagai bahan improvement untuk materi Nutrition kedepannya.

Monday, 19 September 2016

Memahami Peran UNICEF untuk Anak Indonesia

Oleh: Asriani Madjid

31 Mei 2016 dini hari, saya meninggalkan Jakarta bersama tim dan terbang menuju Bandara Juanda Surabaya. Dijemput oleh TIm UNICEF di sana, kami berkendara selama 5 jam menuju satu kota yang masih asing bagi saya, tetapi nama kota ini cukup terdengar familiar, Kabupaten Tulung Agung.

Tujuan utama kami adalah kantor Lembaga Perlindungan Anak di pusat kota Tulung Agung. Sebagai mitra dari UNICEF, kami dijelaskan dengan detail kegiatan apa saja yang sudah  dilakukan dalam upaya perlindungan anak.

Dimulai dari tahun 2000 hingga 2004, LPA mengadakan penelitian terhadap anak-anak yang dipekerjakan pada Industri Pembuatan Marmer. Kemudian LPA mulai melibatkan anak-anak dalam audiensi bersama para pengambil keputusan, sehingga mereka pun memahami dengan baik persoalan-persoalan anak. Dibuat agenda tersistem oleh anak yang disebut Forum Anak Desa atau biasa disebut sebagai Dewan Anak.

UNICEF sendiri mendukung kegiatan yang terfokus pada Pengasuhan bagi Anak terutama di panti yang 80% diantaranya masih memiliki orang tua untuk kepentingan sekolah.

Monday, 25 July 2016

Perjalanan Ke Timur Indonesia: Menyalakan masa depan anak bersama UNICEF

Oleh: Dinda Veska


Mendapat kesempatan untuk mengunjungi Papua adalah hal yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Awalnya, saya pikir akan banyak cerita-cerita menyedihkan yang akan ditulis sepulangnya dari sana. Ingat betul, sehari sebelum keberangkatan seorang teman di kantor berkata “siap-siap sedih deh Din kalau ke sana.”

Perasaan campur aduk antara takut, senang, dan penasaran menggandrungi diri saya ketika mendarat di bandar udara Wamena. Kota yang namanya memiliki arti “Babi Jinak” ini cukup banyak didatangi pendatang, mulai dari pedagang makanan, pegawai hotel, hingga pelayan masyarakat mayoritas bukan suku asli Papua. Salah satunya adalah Dokter Filan yang menemani saya dan beberapa teman officer UNICEF lainnya pergi mengunjungi desa-desa di pedalaman Wamena.

Monday, 11 July 2016

Tantangan dari Timur Indonesia

By Charlie Hartono, Philanthropy Officer UNICEF Indonesia 

Mengasah rasa tepa selira

Selalu ada cerita yang tak terduga dalam setiap perjalanan mengunjungi Indonesia Timur bersama UNICEF. Bertemu dengan orang baru, berkomunikasi dengan cara pandang yang seringan mungkin dan melakukan interaksi dengan masyarakat setempat dengan gaya bahasa yang sesederhana mungkin, merupakan tantangan yang luar biasa.

Lebih dari semua itu, kunjungan ke daerah yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta membuat saya lebih mensyukuri hidup, mengasah rasa tepa selira dan membuka cakrawala berfikir yang seringkali masih sempit mengenai arti hidup yang sesungguhnya, khususnya dunia anak-anak yang begitu indah.

Dari Ambon ke Saumlaki

Dalam perjalanan kali ini, Kepulauan Tanimbar / Maluku Tenggara Barat (MTB) adalah lokasi yang saya kunjungi. Jika dilihat dari peta, Kepulauan Tanimbar sendiri berlokasi tepat di atas Darwin, Australia atau boleh dikatakan letaknya juga di sebelah Tenggara bagian Barat Ambon – Kepulauan Maluku. Secara keseluruhan, ada 80 desa dan 1 kelurahan bernama Saumlaki dalam satu gugusan kepulauan MTB. Mata pencaharian utama dari penduduk di MTB adalah menjual kopra (bahan utama untuk sabun mandi), umbi-umbian (ubi dan singkong), sayur mayur (terong, cabe, tomat, dan bunga pepaya). Biasanya semua bahan ini akan dikirimkan ke pengepul yang akan menjualnya kembali ke Ambon, Surabaya dan Merauke.

Thursday, 23 June 2016

Laporan baru menyoroti perspektif orang muda mengenai Mutilasi Genital Perempuan


Hampir separuh dari orang muda yang berusia antara 13 dan 24 tahun di  Indonesia menganggap bahwa mutilasi genital perempuan (FGM) harus dilarang, menurut sebuah jajak pendapat online yang dilakukan oleh UNICEF melalui platform media sosial U-Report.

Laporan menemukan bahwa 44 persen responden menganggap bahwa praktek tersebut harus dihentikan dan 22 persen menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia atau dapat  mengakibatkan konsekuensi kesehatan negatif. Lebih dari separuh responden (54 persen) menganggap bahwa FGM adalah suatu praktek keagamaan atau budaya.

“Kami menganggap bahwa temuan ini adalah indikasi penting bahwa anak-anak dan orang muda tertarik untuk membicarakan topik ini lebih lanjut dan sejumlah signifikan peserta mengharapkan bahwa para pelaku seperti kita semua membantu untuk mengakhiri praktek tersebut,” kata Lauren Rumble, Deputi Wakil UNICEF Indonesia. “Kami dapat menganggapnya sebagai panggilan untuk bertindak dari orang muda sendiri, bekerja sama dengan para tokoh agama dan budaya serta pelaku lainnya."

Lebih dari 3,000 tanggapan telah diterima dari orang yang sebagian besar tinggal di kota urban yang mengambil bagian dalam penelitian. Responden menjawab pertanyaan melalui platform polling @Ureport_ID berbasis Twitter dari UNICEF Indonesia.

Laporan tersebut merekomendasikan untuk meningkatkan jumlah informasi kepada orang muda beserta orang tua mengenai FGM, melakukan kampanye informasi publik mengenai praktek tersebut, serta melibatkan tokoh agama dan para pemimpin masyarakat maupun orang muda untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini.

Laporan media sosial mengikuti rilis pertama mengenai data yang meneliti FGM di Indonesia, yang menunjukkan bahwa sekitar setengah dari anak perempuan berusia 11 tahun dan lebih muda telah mengalami praktek tersebut. Pemerintah Indonesia telah mengumpulkan data melalui suatu survei rumah tangga bersama UNICEF Indonesia, dalam kolaborasi dengan Kantor Pusat UNICEF di New York, telah merilis data tersebut dalam bulan Februari 2016 pada Hari International Nol Toleransi bagi FGM / C.

Untuk membaca laporan lengkap, klik di sini.

Monday, 13 June 2016

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Oleh: Asrifakhru Rozi Batubara, UNICEF Fundraiser 

Menjadi seorang fundraiser untuk program  perbaikan gizi anak-anak Indonesia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi ada tanggung jawab dan komitmen yang digantungkan UNICEF kepada saya, di sisi lainnya menawarkan kepercayaan kepada para donatur di kota besar seperti Surabaya juga menjadi tantangan yang luar biasa. Ada beban besar yang hampir setiap hari saya rasakan.

Tetapi kemudian, beban itu menyala menjadi api semangat di 18 Februari kemarin. Ketika saya berkesempatan melihat secara langsung program perbaikan gizi buruk yang diinisiasi oleh UNICEF, tepatnya di wilayah kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di Desa Obelo saya bertemu dengan seorang Ibu bernama Ruth Kiki. Sudah enam bulan lamanya beliau mendedikasikan diri untuk menjadi relawan di Posyandu Kesra. Tugas Ibu Ruth mungkin mudah untuk dilakukan, mulai dari menimbang berat badan dan lingkar lengan balita, kemudian konseling. Semua itu dilakukan setiap bulan untuk memastikan semua balita di lingkungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang seharusnya.

Tetapi ada hal lain yang saya pelajari dari Ibu Ruth. Motivasinya yang sangat tinggi demi membantu sekitar cukup untuk menggetarkan hati seorang pemuda kota seperti saya. Inilah yang beliau katakan: “Saya prihatin dengan kondisi balita disini,karena kurangnya pemahaman ibu mereka tentang bagaimana merawat anak dengan baik. Saya ingin sekali melihat balita disini sehat, ceria dan memiliki masa depan yang lebih baik”.

Thursday, 2 June 2016

Melindungi anak melalui pencatatan kelahiran

Oleh Kristi Eaton, Petugas Manajemen Komunikasi dan Pengetahuan UNICEF Indonesia

Siti Mariyam, Kepala Kantor Catatan Sipil di Pasuruan (kiri), membacakan isi akta kelahiran kepada Rahadi Joko Suparno dan Riya Ulfa Radila yang baru saja menjadi orang tua. ©UNICEF / 2016 / Kristi Eaton

Sepasang suami istri duduk tenang di pos kesehatan, tersenyum lebar pada bayi mereka yang baru lahir, hanya enam hari yang lalu. Beberapa menit kemudian, mereka menerima surat akta kelahiran si kecil Raka Maliki dan senyum mereka bertambah lebar.

"Ini adalah dokumen legal." ucap sang ayah, Rahardi Joko Suparno. "Benar. Surat ini menyatakan bahwa ia adalah anak saya. Sekarang dia bisa bersekolah dan memiliki masa depan."

Akta kelahiran adalah hak asasi manusia yang mendasar dan diperlukan untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, tunjangan kesehatan dan lain-lain. Akta ini juga melindungi anak agar tidak menjadi korban penjualan manusia. Tapi banyak orang di Indonesia tidak mengerti atau mengetahui cara-cara untuk mencatatkan kelahiran anak mereka dan mendapatkan akta kelahiran. Itulah sebabnya UNICEF menawarkan dukungan teknis pada pemerintah lokal untuk meningkatkan jangkauan layanan pencatatan kelahiran dan membangun layanan daring di rumah sakit bersalin, pos-pos kesehatan masyarakat dan kantor-kantor pedesaan.

Thursday, 26 May 2016

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Wednesday, 25 May 2016

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

Oleh Kelly Wilson, Ketua, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saya belum pernah pergi ke tempat seperti ini; suatu negara dengan dua dunia yang benar-benar berbeda, dan dua dunia itu tumpang tindih satu di atas yang lainnya, bertabrakan antar ruang dan berebut sumber daya, waktu dan perhatian. Indonesia menghadapi tantangan-tantangan sebagai negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan di saat yang sama masih mencoba memecahkan masalah-masalah terkait negara dunia-ketiga. Yang mengejutkan, tampaknya tidak ada pemisah fisik antara si sangat kaya dan si miskin; daerah kumuh di samping gedung mewah, bangunan terbengkalai di samping pencakar langit yang mentereng, buang air besar di depan monumen pemerintah. Indonesia memiliki PDB ke-16 terbesar di dunia dan negara ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara, namun gelombang itu tidak mengangkat semua perahu, dan Indonesia melempar semua itu tepat ke muka Anda.

Di hari pertama, kami mengunjungi daerah kumuh yang dibangun di atas Tempat Pembuangan Akhir. Tidak ada yang dapat membuat Anda siap menghadapi kebas yang Anda rasakan karena melihat banyak sekali rumah-rumah keluarga dikelilingi oleh sampah, remaja-remaja tanpa sepatu mengetik pada telepon seluler terbaru dan anak-anak kecil menggaruk-garuk kepala karena kutu rambut. Dan saat kau pikir otakmu sudah terlalu penuh, seorang anak berlari ke arahmu dan mencium tanganmu. Berada di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan sampah, dia tersenyum. Dia bersama keluarganya, dan dia bahagia. Dengan manis saya teringat pada rasa kemanusiaan yang teguh dari anak-anak dan mengapa mereka berhak menerima tidak kurang dari perlindungan dan dukungan kita, tidak peduli betapa rumit penyelesaiannya.

Monday, 23 May 2016

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Oleh Casey Rotter, Pendiri Next Generation UNICEF


Untuk saya, melakukan perjalanan dengan UNICEF Indonesia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa untuk dapat melihat langsung pekerjaan hebat yang dilakukan UNICEF dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang kehidupannya telah diubah -- bahkan diselamatkan -- terima kasih pada organisasi yang hebat ini, tapi hal ini juga istimewa untuk saya sebagai anggota staf untuk menyaksikan anggota-anggota NextGen kami mengalami langsung kegiatan UNICEF untuk pertama kalinya. Melihat pendonor benar-benar menyerap sifat dan kedalaman kegiatan UNICEF dengan berada di lapangan adalah istimewa adanya.  Setelah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi, anggota-anggota NextGen yang berdedikasi ini akhirnya dapat memberikan wajah dan nama mereka pada staf yang mereka dukung dan anak-anak yang hidupnya telah diubah oleh usaha pengumpulan dana dan dana pribadi mereka.

Inilah maksud utama kunjungan lapangan para pendonor ini. Tidak peduli seberapa banyak yang kau pikir kau tahu tentang UNICEF, tidak ada yang lebih baik dari bertemu dengan staf yang bekerja di lapangan setiap harinya, menghabiskan hari dengan rekanan pemerintah dan benar-benar memperoleh pemahaman tentang betapa mereka mempercayai dan menghargai kata-kata dan kemitraan UNICEF, mendengarkan advokasi remaja tentang hak-hak rekan-rekannya, dan melihat ke dalam mata seorang ibu saat ia berkata bahwa jika bukan karena dukungan UNICEF untuk Posyandunya, bayi yang tersenyum di gendongannya tidak akan ada di sini hari ini.

Melihat sang ibu menahan air matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, dan adalah sesuatu yang menggerakkan kami agar bekerja lebih baik lagi untuk UNICEF. Untuk semua pengalaman ini, kami selamanya berterima kasih. Jadi, TERIMA KASIH untuk UNICEF Indonesia, rekan UNICEF di negara ini, semua sukarelawan luar biasa yang kami temui dan seluruh keluarga NextGen yang mendukung kegiatan luar biasa ini.

***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3

Friday, 20 May 2016

Mengapa UNICEF?

Oleh Leila Ladjevardian, Next Generation di New York 


Next Generation UNICEF adalah suatu kelompok luar biasa yang terdiri dari kaum profesional muda dengan kesempatan yang unik untuk menyumbangkan waktu, dana dan tenaga mereka untuk membantu anak-anak paling rentan di dunia. Saya telah bergabung dengan NextGen selama hampir lima tahun sekarang, dan saat ini saya bertugas sebagai Wakil Ketua New York Steering Committee.

Saya mendedikasikan banyak waktu luang saya untuk tujuan-tujuan dan langkah-langkah melalui penyelenggaraan penggalangan dana, berkontribusi dalam program kegiatan-kegiatan dan merekrut anggota baru. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah, "Mengapa UNICEF?"

Di masa lalu, jawaban saya adalah: "UNICEF adalah organisasi internasional yang menempatkan anak-anak di urutan pertama.  Tidak peduli tentang politik, tidak peduli seberapa mengerikan situasinya -- UNICEF bekerja dengan pemerintahan lokal untuk memastikan anak-anak diperhatikan. Saya adalah generasi pertama orang Iran-Amerika dan menghargai keanggotaan internasional organisasi ini. Sebagai tambahan, ibu saya telah sangat terlibat dalam UNICEF selama bertahun-tahun, yang membuat saya dapat membangun hubungan dengan organisasi ini sejak usia dini."

Thursday, 19 May 2016

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Oleh Bonner Campbell, Next Generation di Los Angeles 

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah laporan orang-pertama tentang kegiatan mereka di Indonesia. 


Hal pertama yang menyentak saya saat mendarat adalah panasnya. Bahkan di malam hari, Jakarta adalah kota yang gerah dengan suhu 80°F (27 derajat Celsius). Saya di sini selama satu minggu dengan anggota NextGen lainnya untuk melakukan kunjungan lapangan untuk program-program kegiatan UNICEF. Indonesia adalah negara pertama tempat diadakannya dua lab inovasi terpisah dari UNICEF: satu di Jakarta, ibu kota negara yang sangat sibuk, dan satu di Kupang, sebuah kota di pulau Timor.

Aku terbujuk oleh konsep sebuah "lab inovasi". Lab-lab inovasi di Indonesia berfokus pada keterlibatan remaja dan pemuda dan juga tanggap darurat. Lab-lab ini melibatkan siswa-siswa dari Global Design for UNICEF Challenge dan mengeksplorasi beragam isu seperti pencatatan kelahiran dan tanggap bencana.

Walaupun telah diperoleh kemajuan dalam hal perlawanan terhadap kemiskinan, masih banyak yang harus dilakukan dan ide-ide inovatif sangatlah penting. Saya di sini untuk melihat cara UNICEF memperluas sumber daya yang terbatas dan memastikan kami membelanjakan dana kami di area yang akan memberikan dampak terbesar. Lebih jauh lagi, bagaimana saya dapat menginspirasi orang-orang di tempat asal saya untuk mempercayai pentingnya yang terjadi di belahan bumi lainnya, bagi mereka dan masa depan mereka?

Rencana perjalanan minggu ini terdiri dari 11-jam presentasi konferensi pers yang akan dilakukan dalam beberapa hari, dari staf lokal UNICEF dan kunjungan ke lapangan dan rekanan program kegiatan. Saya sungguh menantikan kesempatan untuk terlibat secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan oleh UNICEF. Saya ingin kembali dengan membawa pemahaman budaya yang lebih baik dan ide-ide lain tentang cara UNICEF dan NextGen dapat terus memberikan dampak secara dramatis dan membangun masa depan yang lebih stabil untuk generasi muda masa kini.

Karena suhu cukup panas di Indonesia, semoga kami bisa mematangkan beberapa ide.