Friday, 26 December 2014

Indonesia mengenang Tsunami di Aceh dan berterimakasih kepada dunia internasional

- Devi Asmarani



Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) di stand UNICEF di acara Tsunami Expo, didampingi oleh Koordinator Kantor UNICEF Banda Aceh Umar bin Abdul Azis (kedua dari kiri) dan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson. ©UNICEF Indonesia/2014/Devi Asmarani

BANDA ACEH, Indonesia, 26 Desember 2014 – Ribuan orang berkumpul di Aceh hari ini untuk memperingati tsunami Samudra Hindia yang telah meluluhlantakan provinsi Aceh 10 tahun yang lalu. 

Banyak korban maupun tokoh-tokoh lokal dan asing yang menghadiri peringatan di Blang Padang di Banda Aceh tersebut yang menitikkan air mata ketika mereka mendengarkan puisi dan lagu yang dibawakan dengan iringan foto-foto dan video dari bencana tersebut.

Penyanyi Aceh Rafly mengajak penonton bersamanya menyanyikan lagu yang mengharukan dalam bahasa Aceh, dan penyair terkenal Taufik Ismail membacakan puisi yang mengenang gelombang tsunami yang membunuh sekitar 170.000 orang di provinsi tersebut.

“Ribuan mayat bergelimpangan di lapangan ini,” kata Wakil President Jusuf Kalla di acara tersebut. “Ada rasa bingung, kaget, sedih, takut dan sengsara. Kita semua berdoa.”

Namun bantuan yang luar biasa besarnya untuk Aceh tidak lama setelah tsunami, yang membuat hampir setengah juta warga kehilangan tempat tinggal mereka, membantu menguatkan semangat para korban yang hidup.

Wednesday, 24 December 2014

Bagaimana kekacauan pasca-tsunami membantu Aceh menjadi pelopor perlindungan anak



 Jika seorang anak dituduh melakukan kejahatan, polisi akan mencoba untuk mengatasi situasi dengan menggunakan mediasi, dan hal ini berhasil bagi lebih dari setengah dari kasus yang terjadi. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi


BANDA ACEH, Oktober 2014 – Sekitar satu tahun yang lalu, tiga remaja ditangkap polisi di sebuah stadion olahraga di Banda Aceh karena memukuli seorang pria berusia 21 tahun. Dua di antara mereka berusia 17 tahun, dan satunya berusia 18 tahun. Di masa lalu, mereka pasti masuk penjara karena peristiwa tersebut, namun reformasi hukum yang dimulai setelah tsunami Samudera Hindia telah merubah ini.

Mereka ditahan selama 24 jam di unit anak kantor polisi, sementara keluarga dan kepala desa mereka dihubungi. Keluarga dan kepala desa diminta datang ke kantor polisi agar semua pihak bisa bertemu dan berunding.

Proses ini dikenal sebagai proses mediasi. Catatan polisi tidak menunjukkan berapa lama proses ini berlangsung dalam kasus mereka, namun petugas mengatakan rata-rata dibutuhkan tiga sesi mediasi untuk menyelesaikan suatu kasus.

Keluarga remaja tersebut membicarakan situasi yang terjadi, dan mencoba untuk mencapai kesepakatan tentang hukuman untuk para pelaku. Pada akhirnya, keluarga dari tiga anak laki-laki tersebut setuju untuk membayar biaya pengobatan korban dalam waktu sepuluh hari, atau menghadapi kasus pengadilan. Ketiga anak itu kemudian dilepaskan.

Sepuluh tahun yang lalu, polisi tidak memiliki mandat untuk memfasilitasi mediasi seperti ini. Pelaku anak-anak menghadapi percobaan dan hukuman penjara maksimal lima tahun. Mereka diperlakukan selayaknya orang dewasa ketika dituduh melakukan pelanggaran hukum atau kejahatan. Namun setelah tsunami melanda daerah itu pada tanggal 26 Desember 2004, Provinsi Aceh telah mengambil langkah besar dalam berurusan dengan anak-anak yang memiliki masalah hukum.

Saturday, 20 December 2014

Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”


Para siswa SD Muhammadiyah 1 Banda Aceh menggunakan tandu untuk mengangkat seorang 'korban' dalam latihan untuk menghadapi gempa. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

BANDA ACEH, Indonesia, October 2014 – Bayangkan situasi ini: Minggu pagi di akhir bulan Desember di Banda Aceh, Anda dibangunkan oleh gempa bumi besar.

Tak lama kemudian Anda berlari menyelamatkan diri dari sapuan air bah tsunami,yang meratakan hampir semua yang dilewatinya. Anda tidak tahu di mana anggota keluarga Anda berada, hanya bagaimana menyelamatkan diri dengan mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang ada di benak Anda. Akhirnya Anda mencapai puncak sebuah bukit, bersama dengan orang-orang lain yang telah terluka dalam perjuangan mereka untuk melarikan diri dari tsunami.

Di atas bukit tersebut Anda melihat kehancuran yang dialami kota Banda Aceh. Pohon, rumah dan jalanan tersapu bersih. Reruntuhan, potongan besi, dahan-dahan pohon… serta mayat berserakan dimana-mana. Anda telah kehilangan segalanya, dan bahkan tidak tahu apabila keluarga Anda selamat. Semua infrastruktur hilang. Ketika Anda mulai menyadari apa yang telah terjadi, Anda berpikir: Meskipun saya selamat, bisakah saya mendapatkan makanan dan minuman? Di mana saya akan tidur?

Monday, 15 December 2014

Selamat dari tsunami, menciptakan masa depan lebih baik

Hamil 17 minggu dan membawa putrinya yang baru berusia tiga tahun pada waktu itu, Rosna merasa keselamatannya adalah berkat program TV tentang tsunami yang memberinya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi setelah gempa besar. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

JANTHO, Indonesia, Oktober 2014 - Rosna terselamatkan dari tsunami oleh televisi. Berkat acara TV tentang gempa bumi, gunung berapi dan aktivitas seismik bumi yang ia telah saksikan sebelumnya, ketika gempa bumi mengguncang pada 26 Desember 2004, yang menyebabkan tsunami di Samudra India, dia menyadari apa yang akan terjadi.

Dalam kehamilan yang berusia 17 minggu dan sambil menggendong putrinya Cut Rachmina, yang saat itu berusia tiga tahun, Rosna berlari meninggalkan rumahnya di Banda Aceh. Meskipun beberapa kali dihempas oleh air, dia berhasil mencapai daerah yang lebih tinggi tanpa cidera atau luka-luka dan akhirnya bisa dipersatukan kembali dengan suaminya Johansyah, yang juga selamat dari terjangan ombak raksasa.

Bencana itu telah menghabisi sebagian besar Banda Aceh, dan keluarga Rosna termasuk yang beruntung bisa selamat. Namun rumah mereka habis ditelan ombak. Mereka tak memiliki air minum, makanan, dan seluruh harta benda mereka dirusakkan oleh bencana tersebut. Dalam waktu beberapa jam, status mereka berubah dari pemilik rumah menjadi pengungsi. Tenda pengungsian menjadi rumah mereka.

Monday, 8 December 2014

Guru Relawan yang tinggal dan membangun masyarakat setempat

Elvi Zarahah Siregar kini mengajar di SMK Negeri 1 Calang, Aceh Jaya. Sepuluh tahun yang lalu, ia adalah anggota dari kelompok guru relawan pertama yang dikirim ke Aceh setelah tsunami. © UNICEF Indonesia / 2014 / Achmadi


CALANG, Indonesia, Oktober 2014 – Dian Permata Sari berusia enam tahun ketika tsunami lautan India menghancurkan rumahnya di Calang, sekitar 100 kilometer bagian selatan Banda Aceh di Sumatra.

Setelah gempa bumi yang dahsyat mengguncang di pagi 26 Desember 2004, keluarga Dian melihat air laut surut. Mereka berhasil lari ke daerah pegunungan sebelum tsunami menghantam daratan. Selama dua hari keluarga itu berlindung di sana, menjauhi pantai.

“Ketika kami kembali, semua bangunan telah hancur, pohon-pohon tumbang, dan mayat-mayat serta sampah dan reruntuhan bercampur di mana-mana,” ujar Dian, yang sekarang berusia 16 tahun.

*

Sekitar 700 kilometer dari situ di ibukota Sumatera Utara, Medan, Elvi Zahara Siregar juga merasakan gempa bumi tersebut. Sebagai guru yang baru mendapatkan kualifikasi, Elvi, 26, masih hidup bersama orang tuanya pada saat itu.

Hari itu masih tercetak di ingatannya – gempa bumi yang menyebabkan tsunami di Aceh mengguncang rumahnya di Medan dengan dahsyat sampai dia tidak bisa berdiri selama lima menit. Air tumpah dari akuarium orang tuanya menggenangi lantai.

Selama beberapa hari ke depan, dia menyaksikan di TV betapa luar biasa dampak bencana tersebut di Provinsi Aceh.


*

Tuesday, 2 December 2014

Tsunami di Aceh 10 Tahun Kemudian

© UNICEF Indonesia / 2005 / Josh Estey

Tanggal 26 Desember 2014 adalah tepat 10 tahun sejak bencana tsunami Samudera Hindia yang melanda Indonesia, India, Thailand, Sri Lanka dan beberapa negara lainnya. Setidaknya 230.000 orang tewas, ratusan ribu lainnya kehilangan rumah dan harta mereka, dan sejumlah besar kawasan pantai habis ditelan ombak raksasa.

Di Aceh, provinsi yang paling terdampak oleh tsunami, 170.000 orang meninggal dan 500.000 orang lainnya kehilangan tempat tinggal mereka. Bencana ini juga menghancurkan kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup di daerah-daerah yang sudah miskin, menghantam lembaga-lembaga yang ada dan menyapu bersih sumber daya manusia, yang merupakan basis dari pembangunan berkelanjutan provinsi tersebut.

Dalam waktu 48 jam, UNICEF tiba di Aceh dan memulai operasi darurat terbesar dalam sejarahnya untuk memastikan tidak ada anak yang meninggal setelah bencana besar tersebut lewat kampanye imunisasi massal dan dengan merestorasi fasilitas air dan sanitasi.

Monday, 24 November 2014

UNICEF Indonesia luncurkan kampanye Tinju Tinja untuk melawan BAB sembarangan


Melanie Subono dan Aidan Cronin meluncurkan kampanye Tinju Tinja di Jakarta pada Hari Toilet Sedunia (19/11).

Jakarta, 24 November 2014 – UNICEF Indonesia dan rocker / aktivis Melanie Subono melakukan perlawanan terhadap fenomena buang air besar sembarangan (BABS) di atas ring tinju melalui kampanye Tinju Tinja yang diluncurkan pada Hari Toilet Sedunia.

Kampanye sosial media ini bertujuan untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik tentang implikasi kesehatan dari perilaku BABS, serta menekankan betapa pentingnya mengakhiri fenomena tersebut di Indonesia, melalui cara yang baru dan inovatif.

Dalam acara peluncuran ini UNICEF mengungkapkan bahwa, berdasarkan laporan Joint Monitoring Program (2014) yang diterbitkan oleh WHO dan UNICEF, 55 juta penduduk Indonesia masih melakukan BABS, atau kedua tertinggi di dunia.

Thursday, 6 November 2014

“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”

By Ermi Ndoen - Health (Malaria/EPID) Officer

 Pulau Sumba, Oktober 2014 – Martinus Lende Walu (48) merasa dirinya sangat beruntung. Ia hampir kehilangan nyawa akibat malaria seperti dua orang tetangganya, namun hanya ia yang selamat. Sejak saat itu, ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu melindungi dirinya dengan menggunakan kelambu nyamuk berinsektisida.

Desa asalnya, Kampung Langgar, adalah salah satu desa adat di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di desa ini, sekitar 200 orang tinggal bersama di 13 rumah adat di sekeliling kuburan-kuburan megalitik. Masing-masing kuburan dimiliki oleh sekelompok keluarga.

Pulau Sumba sering dikunjungi wisatawan karena rumah adat, kuburan megalitik, kain ikat, pasola (kompetisi tombak dan kuda tradisional), serta pantainya yang indah. Namun semua ini dibayangi oleh tingginya tingkat malaria di pulau tersebut. 

Tuesday, 28 October 2014

Identitas Legal Untuk Semua

By: Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist

Mamuju, Indonesia, Oktober 2014 – Hari itu adalah hari yang cerah di Mamuju. Dari jendela kamar hotel saya, terlihat Pulau Karampuang di Sulawesi Selatan, tujuan kami pada hari itu. Bagi penduduk Pulau Karampuang ini adalah hari yang istimewa: 84 pasangan, baik tua dan muda, serta lebih dari 200 anak akan mendapatkan pendaftaran resmi pernikahan dan kelahiran.

Total populasi di Karampuang adalah sekitar 3.300 orang, lebih dari 50 persen berusia di bawah 18 tahun. Banyak dari mereka yang tidak memiliki akta kelahiran karena orang tua mereka tidak menikah secara resmi[1]. Sebagian besar pernikahan di pulau ini hanya dilakukan secara agama, namun tidak terdaftarkan.

Perjalanan kami menuju Karampuang dimulai dari pelabuhan Mamuju pada pukul 8 pagi. Perjalanan 20 menit ke tepi pantai Karampuang ditempuh dengan menggunakan perahu motor. Di atas perahu, kami ditemani oleh Asisten Bupati Mamuju, Kepala Pengadilan Agama dan delapan hakim lainnya, Kepala Dinas Pendidikan, tim dari Kantor Urusan Agama, serta dari Kantor Catatan Sipil.

Monday, 1 September 2014

UNICEF Indonesia menyambut Kepala Perwakilan baru, Gunilla Olsson


Gunilla Olsson, Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia
©UNICEF/2012

JAKARTA, 1 September 2014 – Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia yang baru, Gunilla Olsson, telah memulai memulai jabatan barunya di Jakarta hari ini.

Sebelumnya, ia bekerja di New York sebagai Direktur UNICEF di bidang Tata Kelola Pemerintahan, PBB dan Multilateral.

"Ini adalah saat yang menarik untuk bekerja di Indonesia, karena negara ini baru saja menyambut Pemerintah baru," ucapnya. "Saya tak sabar untuk bekerja dengan mereka dalam merencanakan keterlibatan UNICEF di Indonesia selama lima tahun ke depan.”

Friday, 29 August 2014

Bekerja sama untuk menyelamatkan ibu dan bayi di Sulawesi

Ratna dan anaknya, Ralvin, di Puskesmas Galesong
©UNICEF Indonesia/2014/Ramadana

GALESONG, Sulawesi Selatan, Agustus 2014 - Ratna Adam mulai merasakan nyeri persalinan sekitar pukul sepuluh malam. Dia sedang berada di rumahnya di desa Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Suaminya yang seorang nelayan sedang bekerja di Kalimantan, sehingga orang pertama yang dipanggilnya adalah seorang dukun bersalin bernama Basse Cama.

Ibu Basse telah membantu para ibu di Galesong melahirkan selama 33 tahun dan sangat dihormati masyarakat. Dia tinggal sekitar lima menit jalan kaki dari rumah Ratna. Ia pun bergegas untuk membantunya.

Wednesday, 13 August 2014

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sarah Grainger

Novianti, 7 tahun, bersama ibunya Amelia di atas pantai dekat rumah mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

FUNGAFENG, Provinsi NTT, Indonesia, April 2014 - Novianti Atafan, 7 tahun, adalah salah satu anak terakhir di desanya yang mendapatkan jamban di rumah. Dia tinggal di desa Fungafeng di pinggir pantai pulau Alor di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keluarganya tinggal di sebuah rumah adat lopo yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap jerami.

Setiap pagi, Novianti dan ibu, ayah, kakek serta 5 kakaknya harus menuruni lereng di belakang rumahnya untuk buang air besar di dekat pantai.

Semua itu berubah ketika seorang sanitarian - petugas kesehatan lokal yang memiliki spesialisasi dalam sanitasi dan hygiene - mengunjungi desanya.

Saturday, 9 August 2014

Punk Rock di Lapas – impian selepas masa tahanan di Klaten

Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Pada bulan Juli yang lalu, saya berkunjung ke Lapas Klaten untuk mengunjungi anak-anak di sana.

Saya terkesan dengan dedikasi mereka untuk belajar, meskipun guru yang dialokasikan ke sekolah lapas sering tidak datang dan pelayanan kesehatan kurang menentu. Mereka semua bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan mereka dan memiliki hidup yang produktif sebagai anggota masyarakat selepas masa tahanan mereka.

Thursday, 31 July 2014

Check-list untuk hidup sehat

Nova Fransisca Silitonga, Corporate Partnership Officer, UNICEF Indonesia

Sudahkah kamu mencuci tangan dengan sabun? Makan pagi? Sikat gigi? Buang air di toilet? Membersihkan telinga?

Ini adalah beberapa pertanyaan yang harus dijawab setiap pagi oleh siswa-siswi SDN 69 di Desa Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Murid-murid diminta untuk mengisi aktifitas yang telah dan belum mereka lakukan pada sebuah tabel di dinding kelas. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong siswa agar jujur serta mengajarkan mereka tentang gaya hidup yang sehat.

Sekolah di Desa Galesong ini adalah satu dari 93 di kabupaten tersebut yang gurunya telah menerima pelatihan tentang sanitasi dan kebersihan dari UNICEF pada tahun 2011.

Tuesday, 15 July 2014

Mencegah penelantaran dan eksploitasi anak melalui pertemuan peningkatan kapasitas keluarga

Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist

Yogyakarta, Juni 2014 - Ketika saya menghadiri sebuah diskusi tentang perlindungan anak di Yogyakarta baru-baru ini, ada satu peserta yang sangat menonjol.

Ibu Prihatin adalah lulusan SMP dari Kabupaten Kulon Progo dan seorang ibu dari tiga anak dan. Dia sangat mengerti dengan baik jenis-jenis dukungan yang dibutuhkan anak-anaknya agar mereka berhasil di sekolah, dan dia sering berbicara tentang hal ini.

"Kita harus memastikan mereka sarapan setiap pagi dan seragam mereka bersih dan rapi," ucapnya ketika peserta diminta untuk mendiskusikan cara mencegah pengabaian.

Ibu Prihatin telah berpartisipasi dalam Program Keluarga Harapan (PKH) sejak tahun 2008. Melalui program ini, Pemerintah Indonesia memberikan bantuan tunai bersyarat kepada keluarga miskin untuk meningkatkan akses mereka terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Friday, 11 July 2014

Jejak UNICEF Untuk Nutrisi Anak

by Darma, Fundraiser UNICEF Indonesia
.
Beberapa hari yang lalu saya dan team diberi kesempatan berkunjung ke Kabupaten Klaten untuk melihat langsung beberapa program UNICEF. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Posyandu Pandanaran III yang terletak di Bendungan Paseban Bayat, yang sudah dibantu oleh UNICEF sejak tahun 2007.

Sambutan hangat dan ramah dari beberapa kader kami terima di Posyandu Pandanaran ini. Banyak yang sudah berkumpul di posyandu karena kedatangan kami kebetulan bertepatan dengan jadwal rutin posyandu yang dilakukan setiap bulannya.

Setelah menyambut kedatangan kami, salah seorang kader membunyikan lonceng untuk memberitahukan warga agar segera datang ke posyandu. Tidak lama kemudian, beberapa orang ibu mulai berdatangan membawa putra-putri mereka untuk pemeriksaan kesehatan dan perkembangan.

Monday, 7 July 2014

UNICEF dan Pemerintah Indonesia meminta bantuan media untuk akhiri kekerasan terhadap anak




JAKARTA, 7 Juli 2014 - Pemerintah Indonesia dan UNICEF bersama mengajak media untuk membantu mengakhiri kekerasan terhadap anak dengan meningkatkan kesadaran terhadap risiko dan dampak yang mereka derita, serta menunjukkan bagaimana mereka bisa mendapatkan bantuan.

Ajakan ini adalah bagian dari diskusi meja bundar antara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, Perwakilan UNICEF Angela Kearney, serta editor dari beberapa surat kabar, stasiun radio dan televisi di Jakarta tentang peliputan kekerasan terhadap anak.

Kyai dan Ulama Memelopori Perubahan Masyarakat untuk Menurunkan Stunting

By Iwan Hasan

Kyai Subhan di pesantrennya di Brebes, Jawa Tengah. © UNICEF Indonesia/2014/Iwan Hasan

BREBES, Indonesia, April 2014 - Subhan Makmun, atau biasa disapa Kyai Subhan, berpenampilan seperti seorang ulama tradisional biasa. Ia tinggal bersama ribuan santri-santrinya di sebuah pesantren di Brebes, Jawa Tengah. Ia selalu mengenakan sarung dan sebuah peci hitam.

Namun penampilan dapat mengecoh. Pandangan Kyai Subhan terhadap Syariah Islam sangat progresif. “Islam itu luas, tidak sempit”, ucapnya.

Berkat pengetahuannya yang luas tentang hukum Islam, Kyai Subhan adalah salah satu ulama yang paling dihormati di Jawa Tengah. Bacaanya tidak terbatas kepada buku-buku Islam klasik. Ia mengaku pernah membaca buku “Penuntun Hidup Sehat” yang diterbitkan oleh UNICEF bersama dengan beberapa badan PBB lainnya serta Kemenkes. 

Friday, 4 July 2014

Unilever memperluas dukungan untuk melawan defekasi terbuka

(c) UNICEF Indonesia/2014/Silitonga

JAKARTA, 4 Juli 2014 - Unilever Indonesia Foundation dan UNICEF semakin memperkuat kolaborasi mereka dalam mengatasi tantangan air bersih dan sanitasi di negara ini.

Setelah kontribusi pertama sebesar € 100.000 pada tahun 2013, Unilever kini menyumbangkan € 200.000 kepada program WASH UNICEF yang bertujuan untuk mengakhiri defekasi terbuka dan meningkatkan praktek-praktek higienis di Indonesia.

Monday, 30 June 2014

Meningkatkan sanitasi - Mencetak masa depan yang sehat bagi Alor

Oleh Sarah Grainger

Keluarga Ani bersama ahli sanitasi Tristiana Dewi (kanan) di depan toilet baru mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

ADANG, Provinsi NTT, Indonesia, April 2014 - Ini adalah minggu yang penting bagi keluarga Ani dari Desa Adang di pulau Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tiga hari yang lalu mereka akhirnya selesai membangun toilet baru mereka.

Jamban ini terletak di belakang rumah mereka yang terbuat dari bata dan kayu, dikelilingi oleh pohon pisang dan semak belukar. Toilet ini juga terlindung dari pandangan oleh struktur sederhana yang terbuat dari tiang kayu dan terpal plastik. Namun kakus ini termasuk yang paling mutakhir di desa.

Wednesday, 25 June 2014

Mengantarkan Layanan Kesehatan untuk Ibu Hamil di Papua

Oleh Andy Brown, Communication Specialist UNICEF East Asia and Pacific

Neli bersama kedua anaknya.
© UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown

JAYAWIJAYA, Indonesia, Juni 2014 - Neli Kogoya, 23 tahun, duduk di lantai rumah yang ia tinggali bersama dua keluarga lainnya. Dia membuai bayinya yang baru berusia dua minggu di pangkuannya, sementara seorang perawat memeriksa tekanan darahnya.

Rumah ini berada di desa Sapalek di Jayawijaya, daerah pegunungan terpencil di Papua. Neli bekerja di bidang katering, sementara suaminya tengah berkuliah. Dia memiliki dua anak - seorang anak perempuan bernama Yosiana yang usianya hampir dua tahun, dan bayi laki-laki bernama Eliup, yang lahir dua minggu lalu.

Friday, 20 June 2014

Anak-anak Makassar Angkat Bicara Tentang Kekerasan


Oleh Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Michelin, 17 tahun, adalah ketua Forum Anak di Makassar. Saya bertemu dengannya pada bulan Mei yang lalu ketika mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya, bersama dengan para anggota Forum lainnya, dan saya bertanya pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak di kota tersebut.

Dia percaya bahwa kekerasan terhadap anak, khususnya perdagangan anak dan kekerasan seksual terhadap mereka yang hidup dan bekerja di jalanan menjadi kekhawatiran utama bagi anak-anak Makassar.

"Upaya-upaya untuk memecahkan masalah ini masih belum cukup," katanya.

Monday, 16 June 2014

Ferry Salim: "Anak Indonesia Harapan Bangsa"



JAKARTA, Juni 2014 - Pada tahun ini, Ferry Salim telah menjadi Duta Nasional UNICEF Indonesia selama 10 tahun. Simak pesan-pesan dari pengalamannya selama berkarya dengan UNICEF :)

Peringatan 10 Tahun Ferry Salim Sebagai Duta UNICEF Indonesia

Oleh: Sarah Grainger

Ferry Salim ketika mengunjungi Aceh bersama UNICEF pada tahun 2012.
© UNICEF Indonesia/2012

JAKARTA, Juni 2014 – Aktor, model dan pengusaha Ferry Salim memperingati ulang tahun ke-10nya sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia.

UNICEF mendekati Ferry pada bulan Juni 2004, dan menanyakan apakah ia berkenan untuk mengadvokasikan hak-hak anak.

Sebagai seorang bapak dari tiga anak, ia langsung menyetujuinya.

Enam bulan kemudian, tsunami Samudra Hindia menghantam Sumatra Utara dan Thailand, Sri Lanka, India, serta banyak negara lainnya, memakan sekitar 230.000 korban jiwa.

Wednesday, 11 June 2014

Galeri Foto: Olahraga untuk Perkembangan

Monday, 9 June 2014

Memberikan awal hidup yang bergizi untuk bayi di Klaten

Desa Pandes, Jawa Tengah, Mei 2014 - Sebagai kepala bagian penggalangan dana dan kemitraan swasta UNICEF Indonesia, saya menghabiskan banyak waktu saya di kantor – baik di meja saya, dalam rapat ataupun di telepon. Namun pada awal Mei, saya menemukan diri saya bersila di lantai sebuah rumah bambu di desa Pandes, Jawa Tengah, menyaksikan sekelompok ibu hamil bermain permainan memancing.

Saya datang dengan beberapa rekan untuk melihat salah satu program UNICEF dalam aksi. Bersama Pemerintah Indonesia, kami telah membantu perlatihan bidan setempat dan beberapa relawan, atau dikenal sebagai kader, untuk mengajarkan perempuan tentang nutrisi yang baik selama kehamilan dan setelah bayi mereka lahir. Para kader juga bekerja sama dengan ayah dan anggota masyarakat senior supaya mereka bisa mendukung para ibu baru.

Saturday, 7 June 2014

Kekerasan terhadap Anak Dapat terjadi Pada Siapapun

Oleh: Ali Aulia Ramly, Child Protection Specialist UNICEF Indonesia 

Minggu lalu di hadapan lebih dari 100 akademisi, pejabat pemerintah, politisi dan ahli dari berbagai negara, seorang perempuan – yang adalah seorang profesional yang memegang posisi penting – yang menjadi pembicara, mengakhiri presentasinya dengan menyampaikan bahwa ketika kecil ia mengalami kekerasan seksual.

Saya, dan setiap orang di ruangan pertemuan, terkejut menyadari bahwa salah satu dari kami pernah mengalami kekerasan seksual dan mendengar langsung penuturan tersebut dihadapan kolega-kolega kami.

Kami semua, ahli dan praktisi dalam bidang perlindungan anak, hadir dalam pertemuan tiga hari bertajuk ‘Pertemuan Global tentang Kekerasan terhadap Anak: Dari Riset ke Tindakan, Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak’ di Ezulwini, Swaziland. Tapi kami tidak pernah menyangka bahwa salah satu dari kami adalah korban kekerasan yang terjadi di masa kanak-kanak.

Monday, 26 May 2014

Kebijakan Pemuda di Papua Barat - Mendengarkan Generasi Baru

Oleh Sarah Grainger

Melan, 24, dan ibunya, Elvi, seorang guru biologi di Manokwari, Papua Barat
© UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown

MANOKWARI, Provinsi Papua Barat, Indonesia, Mei 2014 - Ketika Melan mulai kuliah beberapa tahun yang lalu, ia mendapat sebuah kejutan .

Keluarga Melan selalu berbicara secara terbuka tentang hal-hal seperti hubungan seks yang aman dan pencegahan HIV / AIDS. Berkat itu, pemudi berusia 24 tahun ini merasa terbekali sebelum memasuki masa kuliahnya. Namun dia segera menyadari bahwa tidak semua teman-temannya telah mendapatkan dukungan yang sama.

"Saya mulai melihat betapa sedikit informasi yang mereka punya tentang keterampilan hidup," katanya. "Beberapa teman saya sangat terbuka dan saya sering mendengar tentang masalah mereka. Tidak begitu banyak masalah narkoba, tetapi lebih pada alkohol dan kehamilan. Ada juga yang mengalami kekerasan dalam hubungan mereka."

Friday, 23 May 2014

Kekerasan Terhadap Anak di Indonesia

- Oleh: Marc Lucet, Deputy Representative UNICEF Indonesia -

Minggu lalu saya mendapat kehormatan untuk mewakili UNICEF pada konferensi pers yang diberikan oleh Menteri Sosial, Salim Segaf al Jufri, tentang isu kekerasan terhadap anak di Indonesia. Konferensi pers juga dihadiri oleh BAPPENAS , Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Mengingat banyaknya laporan tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir, banyak wartawan yang hadir, baik dari media nasional maupun internasional.

Bapak Menteri Segaf al Jufri menyerukan perlunya gerakan nasional untuk mengalahkan kekerasan terhadap anak. Sebagai organisasi global, UNICEF berada di barisan depan dari upaya internasional untuk mencegah anak-anak dari penderitaan kekerasan dan pelecehan, dan jadi kami sangat menyambut inisiatif ini. Ini adalah persis apa yang perlu dilakukan.

Sunday, 18 May 2014

UNICEF dan Uni Eropa Perangi Masalah Gizi di Indonesia



Salah satu program kerjasama UNICEF dan Uni Eropa dalam meningkatkan situasi gizi anak Indonesia, yaitu dengan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang praktik hidup sehat yang bisa menyelamatkan nyawa dan mengoptimalkan asupan gizi ibu dan anak.

Thursday, 8 May 2014

Keterampilan hidup: mengajar orang-orang muda di Papua tentang HIV

Yumelina bersama pengajar relawan, Nira, di lembah Baliem.
©UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown

Yumelina Tabuni adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang percaya diri. Dia tinggal bersama keluarganya di sebuah desa kecil di lembah Baliem, daerah pegunungan terpencil di Papua. Setiap minggu ia menghadiri sesi keterampilan hidup, dimana ia dan anak-anak muda lainnya belajar bagaimana melindungi diri dari HIV dan AIDS.

"Saya tidak mengerti apa itu HIV dan mengapa orang bisa meninggal karenanya. Saya ingin belajar lebih banyak," ucap Yumelina. "Sekarang saya tahu bagaimana HIV ditularkan - melalui hubungan seks, jarum dan transfusi darah - dan juga bagaimana virus ini tidak ditularkan. Kami diajarkan tentang kondom dan bagaimana melindungi diri dari HIV. Saya senang memiliki pengetahuan ini."

Friday, 2 May 2014

Foto Galeri: Perjuangan Anak-anak Papua Demi Pendidikan

UNICEF Indonesia memberikan pelatihan bagi para guru di sekolah-sekolah terpencil di provinsi Papua. Para guru diperlihatkan bagaimana menggunakan pendekatan yang ramah anak untuk membuat belajar lebih interaktif dan menyenangkan bagi anak-anak. Program ini juga berfokus pada kesehatan dan kebersihan para murid, serta mencegah kekerasan.


Tuesday, 29 April 2014

Activate Talks Indonesia: Highlights



Highlights acara Activate Talks di Indonesia, dengan Anies Baswedan, Tri Mumpuni, Mia Sutanto, Dr. Ahmad Aziz, dan Toshi Nakamura.

Friday, 25 April 2014

Indonesia merayakan hak-hak anak dengan solusi inovatif terhadap tantangan pembangunan



Anies Baswedan membawa pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat pedesaan Indonesia melalui gerakan sosial dengan orang-orang muda. © UNICEF Indonesia/2014/Harimawan


JAKARTA , 24 April 2014 - UNICEF Indonesia mempertemukan sejumlah inovator terkemuka di sebuah acara di Erasmus Huis, Jakarta, hari Rabu yang lalu untuk mempresentasikan ide mereka tentang mengatasi tantangan-tantangan utama yang masih dihadapi anak-anak di tengah ekonomi Asia Tenggara yang berkembang pesat ini.

Acara dengan konsep seperti TED yang bernama 'ACTIVATE talks’ ini merupakan bagian dari perayaan peringatan 25 tahun Konvensi Hak Anak (CRC) . UNICEF juga telah menyatakan 2014 sebagai "Tahun Inovasi dan Kesetaraan".

Monday, 14 April 2014

Sekolah-sekolah terpencil: menginspirasi anak-anak Papua untuk mengenyam pendidikan

Oleh Sarah Grainger

Lima menggunakan sempoa di sekolahnya di daerah rural Wamena, Papua. © UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown.

Desa Maima, Papua, April 2014 - Udara terasa sejuk dan matahari baru saja terbit ketika Tolaka (8 tahun) dan adiknya Lima (7 tahun) berangkat menuju sekolah pada pukul 06:00. Jarak yang harus ditempuh adalah 1 jam dari rumah mereka, di dekat tepi sungai Baliem di Kecamatan Asolokobal, Papua.

Rute yang harus ditempuh menuju SD Advent Maima meliputi padang-padang rumput yang tergenang air dan hutan-hutan penuh lumpur.

"Saya sudah terbiasa berjalan kaki jadi saya tidak capek sama sekali," kata Tolaka. "Saya senang pergi ke sekolah. Ada banyak teman di sini, kami suka main lompat karet bersama."

Ibu Tolaka, Dimika Satai, tahu betapa pentingnya pendidikan yang baik bagi kedua putrinya. Dia menghadiri sekolah yang sama semasa kecil, tetapi terpaksa berhenti ketika orangtuanya memutuskan sudah waktunya baginya untuk menikah. Sekarang suaminya telah meninggalkannya dan ia menanam sayuran seperti jagung, kentang dan kubis untuk makanan keluarganya, dan menjual sisanya di pasar.

Tuesday, 25 March 2014

Indonesia: Kesembuhan seorang anak dan kemenangan sebuah pulau dari malaria

Oleh Nuraini Razak

Sebuah pulau yang pernah tercatat memiliki jumlah kasus malaria tertinggi, telah berhasil memberantas semua kasus malaria lokal, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak balita.


SABANG, Indonesia , 19 Maret 2014 - Saat demam Adelia tidak kunjung turun , ia ternyata positif terkena salah satu jenis malaria paling umum, yaitu parasite malaria vivax.  Saat itu tahun 2011, berkat pengobatan yang segera dan efektif, Adelia, yang kini berusia 9 tahun, berhasil sembuh. Tapi banyak orang lain yang tidak beruntung.

"Di pulau Sabang, pada dasarnya hampir setiap orang pernah terkena malaria pada satu titik dalam hidup mereka. Kami sangat terbiasa dengan hal itu," ujar Rahmawati, ibu dari Adelia. "Tapi ketika itu terjadi pada salah satu dari anak-anak kita sendiri, saya sangat khawatir."

"Pada tahun 2008, kami mulai bekerja dengan UNICEF untuk memberantas malaria," kata Dr Titik Yuniarti, Kepala Pengendalian Penyakit Menular di Dinas Kesehatan Sabang. "Dan hari ini, kita bisa mengklaim bahwa kita tidak lagi memiliki kasus malaria lokal disini."

Dulu di Batee Shok, desa dimana Adelia dan keluarganya tinggal, pernah memecahkan rekor karena memiliki jumlah kasus malaria yang tertinggi pada suatu desa di Sabang.

Thursday, 20 February 2014

Indonesia meluncurkan Studi Keamanan Digital

 "Anak-anak dapat terkena risiko yang sama seperti di dunia fisik, seperti kekerasan dan pelecehan, termasuk eksploitasi seksual  dan perdagangan." ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Angela Kearney.

Sejalan dengan peningkatan pesat akan akses penggunaan teknologi dan meningkatnya penggunaan perangkat mobile, Pemerintah Indonesia berkerja sama dengan UNICEF untuk memastikan bahwa anak-anak dapat menggunakan internet sebaik-baiknya dan pada saat yang sama meminimalkan risiko yang mungkin mereka hadapi selama mereka online.

Salah satu langkah utama adalah rampungnya studi mengenai "Digital Citizenship and Safety among Children and Adolescents in Indonesia", yang hasilnya dipaparkan pada tanggal 18 Februari di Jakarta.  Acara ini juga didukung oleh oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan, perwakilan dari LSM dan organisasi anak-anak.  Penelitian ini ditugaskan oleh UNICEF sebagai bagian dari proyek multi-negara pada Digital Citizenship & Safety yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Studi ini meliputi kelompok usia 10 sampai 19 tahun, atau sekitar 43,5 juta anak-anak dan remaja.

Monday, 13 January 2014

Topan Haiyan: Bagaimana UNICEF menanggapi kebutuhan kesehatan anak-anak

Seorang relawan mengukur lingkar lengan atas seorang anak, untuk mengukur status gizinya. © UNICEF/Dianan Valcarcel Silvela
Saya baru saja kembali dari Tacloban. Saya seorang spesialis kesehatan UNICEF dan ditugaskan di sana sebagai bagian dari dukungan global UNICEF untuk membantu memulihkan sistem kesehatan yang melindungi anak-anak pasca Topan Haiyan.

Meskipun telah kembali ke rumah saya di Bangkok, saya masih tercengang oleh kehancuran yang diakibatkan oleh serangan Topan Haiyan. Saya juga terkesan dengan kekuatan dan semangat warga yang terdampak. Di antara tumpukan puing-puing, ada tanda-tanda yang bertuliskan "kita akan bangkit kembali" dan "tidak berumah, tidak beratap tapi tidak putus asa".