Monday, 7 July 2014

Kyai dan Ulama Memelopori Perubahan Masyarakat untuk Menurunkan Stunting

By Iwan Hasan

Kyai Subhan di pesantrennya di Brebes, Jawa Tengah. © UNICEF Indonesia/2014/Iwan Hasan

BREBES, Indonesia, April 2014 - Subhan Makmun, atau biasa disapa Kyai Subhan, berpenampilan seperti seorang ulama tradisional biasa. Ia tinggal bersama ribuan santri-santrinya di sebuah pesantren di Brebes, Jawa Tengah. Ia selalu mengenakan sarung dan sebuah peci hitam.

Namun penampilan dapat mengecoh. Pandangan Kyai Subhan terhadap Syariah Islam sangat progresif. “Islam itu luas, tidak sempit”, ucapnya.

Berkat pengetahuannya yang luas tentang hukum Islam, Kyai Subhan adalah salah satu ulama yang paling dihormati di Jawa Tengah. Bacaanya tidak terbatas kepada buku-buku Islam klasik. Ia mengaku pernah membaca buku “Penuntun Hidup Sehat” yang diterbitkan oleh UNICEF bersama dengan beberapa badan PBB lainnya serta Kemenkes. 

Buku ini berisi informasi tentang topik-topik seperti keselamatan ibu bersalin  dan menyusui, dan ditulis dalam bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh orang tua, anak muda, dan guru. Kyai Subhan mengatakan ia sering merujuk kepada buku tersebut ketika berkhotbah tentang kesehatan dan gizi.

"Setiap kali seorang bayi menyusu dari payudara ibunya, dosa si ibu selama satu hari dihapuskan." "Seorang anak harus berusia setidaknya 30 bulan sebelum sang ibu boleh hamil lagi dengan anak berikutnya." Kyai Subhan menggunakan hadis ini di khotbah-khotbahnya untuk mempromosikan gizi dan kesehatan yang baik.

Gizi yang lebih baik

Kyai Subhan adalah sosok yang paling terkemuka di antara ratusan pemimpin agama yang mempromosikan gizi dan praktik kesehatan yang baik di Brebes, kabupaten terbesar dan terpadat di Jawa Tengah dengan tingkat stunting yang tinggi. Lebih dari 35 persen anak balita Indonesia mengalami stunting –  yaitu tingkat pertumbuhan anak yang terhambat akibat kekurangan gizi. Efek dari stunting berdampak seumur hidup dan tidak dapat diubah. Anak yang mengalami stunting lebih mudah sakit, dan memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah ketika dewasa nanti.

Selama dua tahun terakhir, UNICEF dan mitra-mitra pemerintah telah merintis proyek bantuan tunai bersyarat yang berfokus pada gizi untuk mengurangi stunting di Brebes. Dalam uji coba, UNICEF telah bermitra dengan Nahdatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan 40 juta pengikut, untuk melatih lebih dari 150 pemimpin agama lokal tentang gizi dan kesehatan. Selanjutnya, mereka menyebarkan pesan-pesan gizi dan kesehatan tersebut kepada masyarakat.

Dunarso, seorang Imam di desanya. © UNICEF Indonesia/2014/Iwan Hasan

Contoh dari Kyai Subhan telah diikuti oleh kyai-kyai desa seperti Dunarso. Ia Imam desa yang biasa memimpin berbagai acara keagamaan seperti aqiqah dan empat bulanan. "Dalam acara empat bulanan, saya biasanya mengingatkan ibu untuk memberikan kolostrum kepada bayi. Ini adalah imunisasi pertama untuk melindungi bayi yang baru lahir terhadap penyakit," katanya.

"Dalam aqiqah, saya meminta orang tua untuk hanya memberi ASI selama enam bulan pertama, tanpa makanan atau minuman lainnya. Saya meminta mereka agar tidak memberikan susu formula. ASI adalah gizi paling lengkap yang mengandung protein, laktosa dan antibodi, "katanya.

Pengetahuan baru Dunarso disambut baik oleh komunitasnya. "Saya dan ibu-ibu lain di desa Siandong tidak menduga dia bisa berbicara tentang hal-hal seperti stunting dan pemberian ASI eksklusif. Kami sangat senang bisa belajar tentang hal-hal ini," aku Endang, salah satu warga desa yang menghadiri pengajian mingguan dari Dunarso.

Hampir 90 persen dari 250 juta penduduk Indonesia adalah Muslim, menjadikannya sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Kinerja UNICEF dengan para pemimpin dan organisasi keagamaan merupakan komponen kunci dalam strategi untuk mengurangi stunting, karena praktik gizi tidak hanya melibatkan ibu tapi juga ayah, keluarga besar dan masyarakat. Kemitraan UNICEF dengan NU adalah contoh yang baik bagaimana perilaku positif dan norma-norma sosial dapat dicapai dan dipertahankan.