Friday, 26 May 2017

Menstruasi, penting diketahui anak perempuan maupun lelaki

By: Liz Pick, Communication Specialist

Buku komik untuk anak laki-laki tentang "Apa itu Menstruasi?"
©UNICEF Indonesia/2016/Tongeng

Tanggal 28 Mei kini diperingati sebagai Hari Kebersihan Menstruasi sedunia—hari yang menyerukan adanya kesadaran lebih tinggi mengenai pentingnya manajemen kebersihan menstruasi (MKM) dalam membantu wanita dan anak-anak perempuan mewujudkan potensi dirinya.

UNICEF Indonesia telah bergabung dengan gerakan global yang mendorong agar pendidikan menstruasi diberikan tak hanya kepada anak perempuan, tetapi juga lelaki.

Lho, bukankah menstruasi hanya dialami perempuan? Untuk apa diajarkan kepada anak lelaki?”

Thursday, 18 May 2017

Memenuhi Hak Anak untuk Aris

Oleh: Dinda Veska, Fundraising Communication Officer


Aris (7) usai sembuh dari demam akibat Virus Rubella
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Demam dan Campak Jerman
Keceriaan dan aktifitasnya di sekolah terganggu tiba-tiba saja pada Februari kemarin, Aris (7 tahun) mengalami demam tinggi hingga 38 derajat celcius sepulang dari sekolah. Ibunya yang juga merupakan seorang kader kesehatan memberikan Aris obat penurun demam dan mengompresnya. Hingga malam hari suhu tubuhnya tidak kunjung menurun.

Keesokan harinya Aris dibawa ke Puskesmas Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Petugas kesehatan setempat mengambil contoh darah Aris untuk diperiksakan ke laboratorium di Yogyakarta. Selang beberapa hari hasil pemeriksaan darah Aris menunjukkan bahwa

Monday, 15 May 2017

‘Semua Anak Berhak Mendapatkan Identitas’: Upaya Mendata Bayi di Flores

Oleh: Cory Rogers, Communication Officer


Maumere, Flores: Patung Yohanes Paulus II setinggi enam meter menyambut para pengunjung di gerbang masuk menuju kantor Uskup Girulfus Kherubim Pareira di Maumere, kota berpenduduk 160.000 jiwa dan pusat umat Katolik di Flores.

Kerja sosial memang berkembang dan menjadi misi utama Gereja Vatikan di bawah kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II. Visi ini terus hidup di Maumere, menciptakan kesempatan bagi UNICEF dan Pemerintah untuk terus

Friday, 12 May 2017

Orang Muda Perlu Dilibatkan dalam Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)

Oleh: Niken Larasati, Child Protection Officer


Ms. Hulshof, (belakang tengah) bergabung dengan tim UNICEF dan peserta orang muda untuk foto bersama setelah forum selesai.
©Raditya Henrile / UNICEF /2017

"Orang seringkali mendiskusikan apa yang sebaiknya dilakukan bagi para penyandang disabilitas, tetapi mereka jarang melibatkan kita dalam diskusi mereka," kata Panji Surya Sahetapy dari Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia melalui seorang interpreter.

Pesan yang ia sampaikan dalam sebuah forum pemuda tentang Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 sudah jelas - dalam diskusi tentang hak-hak disabilitas, para penyandang disabilitas perlu

Wednesday, 10 May 2017

Champions4Children Meminta Indonesia untuk Menempatkan Anak-anak pada Pusat Pembangunan

Oleh: Liz Pick, Communications Specialist


Champions4Children dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise (keempat dari kanan) foto bersama dengan Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson (ketiga dari kanan) dan lima anak perempuan muda pada acara tersebut di Jakarta Selatan.
©Raditya Henrile / UNICEF/2017 


Jakarta: Hari minggu sore di Jakarta, sebuah kota yang berpenduduk 10 juta orang, dan sepertinya kebanyakan mereka berada di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka.

"Anak-anak adalah pemimpin masa depan kita. Mereka adalah orang-orang yang akan membawa perubahan bagi Indonesia dalam 25 tahun, dalam 50 tahun," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Yohana Yembise, sambil memandang sekelompok pemimpin saat itu.

Duduk di barisan depan adalah sekelompok orang-orang ternama di Indonesia - pemimpin pemerintahan, bisnis, masyarakat sipil, pekerja seni dan akademisi - yang masing-masing memiliki komitmen untuk menggunakan pengaruh mereka dalam

Thursday, 20 April 2017

Kisah Menjadi Relawan PBB: Ilham M. Akbar

Oleh: Ilham M. Akbar, Technology, Youth & Innovation Officer

Ilham, (kanan) dalam pelatihan persiapan penugasan di Kolombo, Srianka.
Pertengahan Agustus 2016, sebuah surat elektronik bertengger di kotak masuk email yang tengah saya baca. Judulnya: “NOW HIRING: Tech Jobs for Social Good”. Ternyata, dua organisasi yang amat saya sukai, UNICEF dan CISCO, menjalin kemitraan! Tanpa berlama-lama, saya pun mengirimkan lamaran.
Ketertarikan saya berangkat dari beberapa alasan. Pertama, saya baru saja mendapatkan sertifikat Cisco untuk pengembangan jaringan komputer. Selain itu, saya memiliki minat besar untuk terjun di bidang kerelawanan. Hal ini berawal saat seorang teman meminta saya bergabung dengan

Tuesday, 18 April 2017

Di Ujung Rotan Ada Emas


Oleh: Irna G. Setyawati, STKIP Muhammadiyah Sorong

Anak sekolah menulis dalam buku dia di Papua
© Nick Baker/ UNICEF / 2015  
“Di ujung rotan ada emas”. Itulah pepatah umum di Papua.

Pepatah ini sangat populer di kalangan guru sekolah dasar di daerah-daerah pesisir seperti Makbon dan Sorong. Pepatah tersebut digunakan untuk membenarkan tindakan mereka dalam mendisiplinkan anak-anak dengan memukul mereka dengan sebuah tongkat.

Akhir tahun lalu, para guru kelas dan kepala sekolah di empat sekolah di Kecamatan Makbon, Sorong, mendapatkan pelatihan tentang disiplin positif.

Disiplin positif meliputi penguatan positif untuk pilihan-pilihan yang baik serta akibat kenakalan siswa. Pelatihan ini membekali guru-guru dengan alternatif hukuman badani atau fisik untuk menangani kehadiran dan perilaku siswa di dalam kelas.

Mobile Health Pilot Mendorong Imunisasi di Pulau Jawa

By Cory Rogers, Communication Officer

Karin Hulshof menyeka air mata anak balita yang akan menjalani pemeriksaan kesehatan di posyandu di Jakarta Barat. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Antrean mengular mulai dari pintu hingga ke gang. Di bawah rintik hujan pagi itu, puluhan ibu berdiri sabar sambil menimang anak mereka.

“Saya ke sana nanti, setelah agak sepi,” kata Eka* dari depan pintu rumahnya kepada UNICEF East Asia and the Pacific (EAPRO) Regional Director Karin Hulshof dalam kunjungan pertama Karin sebagai EAPRO Regional Director.

Layaknya ibu muda lain di permukiman kumuh di Jakarta Barat, Eka menanti-nantikan kehadiran layanan posyandu setiap bulan di sana. “Bedanya, saya tidak mau kehujanan,” Eka tertawa.

Thursday, 23 March 2017

Belajar bersyukur dari Caca yang ceria

Oleh Yoan Mei Dyandari A – Fundraiser UNICEF Indonesia

Saya sangat bersemangat ketika mendapat kesempatan berkunjung ke kota Mamuju di Sulawesi Barat. Saya merasa beruntung didampingi oleh tim UNICEF dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Masagena.


Para Facers disambut oleh anak-anak SDN Pantaraan ©UNICEF Indonesia/2016

Tujuan utama kami adalah Desa Pantaraan, lokasi Sekolah Satu Atap (SATAP) yang di dukung oleh UNICEF dan LSM Masagena. Perjalanan ke sekolah tersebut tidak mudah, jalanan berbatu, tidak rata, ditambah terik matahari yang menyengat. Namun hal itu

Monday, 20 March 2017

Sekolah tinggi keguruan menanam harapan PAUD di Papua

Oleh Cory Rogers, Communication Officer
 
Sorong. Hanya 15 menit ke arah timur dari pelabuhan Sorong terdapat STKIP Muhammadiyah Sorong, sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan yang berdiri tenang di atas birunya laut.
Di antara dua kolam di tengah kampus, Herman, seorang mahasiswa semester ketiga di sekolah tinggi tersebut, mengernyitkan dahi ketika menceritakan pengalamannya memulai masa sekolahnya.
“Kami sering tidak punya kertas untuk menulis [di sekolah],” katanya, satu tangannya berputar-putar di udara seakan menulis sesuatu, dan tangan yang lain menggaruk-garuk telinganya. “Jadi, kami

Wednesday, 1 March 2017

Dari Pemuda ke Pemuda: Menciptakan Pembuat-Perubahan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak-Anak

Oleh: Melania Niken Larasati - Child Protection Officer




Peserta workshop Violence Against Children di Makassar

“Kekerasan fisik bukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia selama memiliki tujuan lebih tinggi."


Mendengar pernyataan tersebut, hadirin mulai merasa tidak nyaman, sebagaimana saya bertanya-tanya: bila pandangan seperti ini dapat dengan begitu saja diungkapkan di sini, di Makassardi sebuah lokakarya yang bertujuan untuk menghapus kekerasan terhadap anak (Violence Against Children - VAC) - seberapa luas tindak kekerasan ini terjadi di antara kaum muda?

Lebih dari sekedar mainan anak

Oleh: Cory Rogers 


Beberapa Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia menyediakan fasilitas bermain perosotan, ayunan dan ring bola basket, dan sedikit dari mereka meletakannya di dalam ruangan.

"Kami harus memindahkan semua mainan itu ke dalam ruangan agar tidak dimainkan oleh orang dewasa,” kata Ibu Lastri, kepala sekolah PAUD Terpadu di Lombok barat laut, sebuah pulau dengan mayoritas penduduk Muslim yang berada di sebelah timur Pulau Bali. 

"Saya rasa mereka tidak memiliki mainan-mainan ini ketika mereka masih anak-anak!” katanya sambil tertawa.


Monday, 27 February 2017

FutbolNet: Kesempatan yang sama untuk Alya dan Reni

Oleh: Dinda Veska



Reni dan Alya, sebuah metode pendidikan inklusi memberi kesempatan untuk mereka belajar bersama
©UNICEF/Dinda Veska/2017

“Anak-anak dengan disabilitas seharusnya sekolah bersama anak-anak lainnya seperti aku. Agar bisa bermain bersama dan mendapat kesempatan yang sama.”

Alya menyampaikan pendapatnya tersebut di tengah keriuhan acara FutbolNet awal Februari kemarin. Anak perempuan berusia dua belas tahun ini dan teman-teman lainnya dari SMP Az-Zahra mendapat kesempatan untuk belajar mengenal pendidikan inklusi melalui olahraga, bersama anak-anak berkebutuhan khusus dari Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Lebak Bulus Jakarta.

Ini merupakan pengalaman pertama bagi Alya berinteraksi dan coba memahami apa yang dialami oleh Reni – anak dengan disabilitas yang ia dampingi sepanjang acara FutbolNet berlangsung.

Melindungi Yessi dari Kekerasan

Oleh: Dinda Veska


Perlindungan untuk Anak Indonesia ©UNICEF/2016


Yessi* masih berusia tiga tahun saat ditinggal kedua orang tuanya pergi menjadi buruh migran ke negara tetangga. Jauh dari harapan Sang Ayah dan Ibu yang mempercayakan anaknya dibesarkan oleh orang lain. Yessi justru tidak mendapat perlakuan baik selama hidup bersama kerabat dari Sang Ayah, ia lebih sering mengalami kekerasan.

Sejak memutuskan bekerja di luar Indonesia, orang tuanya pun tidak pernah mengunjungi Yessi, mereka berpisah di tengah perantauannya di Malaysia.

Yessi tetap kuat bertahan hidup meski kerap mendapat perlakuan buruk selama bertahun-tahun. Sayangnya ini bukan arena pertempuran untuk anak sekecil Yessi, ia hanya bisa diam dan menerima kondisi hidupnya.

Thursday, 16 February 2017

Ricky dan Kebaikan Kecilnya

Oleh: Dinda Veska

Ricky (5) dari Klaten ©UNICEF/Dinda Veska/2017 

Di tengah kemeriahan suasana taman bermain PAUD Al-Hidayah, terlihat seorang anak yang diam-diam sedang mengisi beberapa sendok pasir ke dalam kantung bibit kecil. Sementara anak-anak lainnya sangat bergembira mengikuti Bunda PAUD menari dan bernyanyi, Ricky lebih memilih untuk mengisi kantung-kantung bibit tersebut sendirian.

Ketika ditanya kenapa hanya bermain sendirian, Ricky hanya menjawab “Mau bantu Ibu Guru”

Tuesday, 7 February 2017

Mendesain Solusi untuk Anak-anak di Era Kabut Asap


©Center for International Forestry Research/2016

Oleh Cory Rogers, Petugas Layanan Komunikasi

 
Jakarta. Ketika kebakaran hutan tahunan di Indonesia mulai terjadi di setiap musim gugur, dengan menyemburkan kabut asap yang tajam ke daerah Kalimantan, Sumatra, dan mancanegara, udara yang dihisap oleh masyarakat di daerah tersebut menjadi sesuatu yang membahayakan kesehatan mereka: Sekolah ditutup, ribuan orang jatuh sakit, dan beberapa orang akan meninggal akibat penyakit pernapasan.


Ada sedikit perdebatan yang menyatakan bahwa kabut asap menyebabkan kematian, tetapi sampai saat ini solusinya belum juga terlihat, sehingga jutaan penduduk rural Indonesia tetap terekspos pada bahaya. Memang, walaupun peraturan pembakaran lahan dan hutan sudah ditetapkan setelah terjadinya kabut asap yang disebabkan oleh El Niño pada tahun 2015 (suatu studi melaporkan bahwa kejadian tersebut menyebabkan kematian dini pada 100.000 orang), kabut asap kembali terjadi di tahun 2016. Jelas, ide-ide baru sangat dibutuhkan.



Tim desain menyisir sumber materi utama mengenai hidup dengan  kabut asap ©UNICEF/Cory Rogers/2016 


Pada bulan lalu, sekelompok orang yang terdiri dari 30 desainer, kreatif teknik, serta ahli perkembangan dan pemasaran bertemu di Jakarta untuk meninjau kembali masalah kabut asap. Diselenggarakan oleh PulseLab Jakarta yang bermitra dengan UNICEF dan Reality Check Approach (RCA), workshop yang didesain bersama-sama ini berusaha menemukan berbagai cara untuk melindungi anak-anak. Sebagai langkah pertama dari perjalanan yang akan memakan waktu berbulan-bulan, workshop tersebut merupakan bagian dari komitmen UNICEF Indonesia untuk mengurangi risiko di era di mana musibah yang disebabkan oleh alam maupun manusia semakin pesat.
 

“Dari sisi inovasi, nilai suatu pertemuan yang menghadirkan peserta dari sektor-sektor berbeda di satu ruangan adalah adanya pendekatan-pendekatan berbeda pada masalah yang sama,” kata Valerie Crab, Specialis Program Inovasi UNICEF, yang berpartisipasi dalam workshop. “Hal ini medorong kami dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk keluar dari cara pemikiran yang biasa dan memertimbangkan sudut-sudut pandang yang beda.”


Filosofi “desain yang berpusat pada manusia”, yang memosisikan pengalaman orang-orang yang sedang didesain pada pusat proses desain, membuat setiap fase workshop jadi meriah –dari riset hingga brainstorming hingga pembuatan prototip.


Kliping berita sepertin ini merupakan satu dari banyak tipe sumber bukti utama yang dimasukkan ke paket informasi packets ©UNICEF/Cory Rogers/2016 

Akan tetapi, untuk mensukseskan program workshop ini dari Jakarta, diperlukan beberapa pendekatan kreatif: Pertama-tama, cerita-cerita digital yang berasal dari anak-anak dan para orang tua di Riau dan Kalimantan Barat (dua propinsi yang mengalami kerusakan paling parah) diseleksi oleh RCA. Sekumpulan peta, anekdot-anekdot asli, foto-foto dan material lainnya digunakan sebagai stimuli tambahan, sementara beberapa aktor, yang telah dipersiapkan secara teliti sebelumnya,  diminta untuk  berperan sebagai para ahli dan korban yang bisa diwawancara. Walaupun identitas mereka dirahasiakan bagi para partisipan workshop, testimoni mereka adalah berdasarkan rekaman serta wawancara asli.


Semua unsur tersebut menghasilkan suatu pandangan yang relatif transparan mengenai  kehidupan di era kabut asap.


“Metode-metode ini membantu menghidupkan proses brainstorming dengan memicu empati, membuatnya lebih terhubung dengan pengalaman dari orang-orang yang sebenarnya,” kata Richard Wecker, Spesialis Reduksi Risiko Musibah dari UNICEF Indonesia. “Idenya adalah untuk menyalakan kreativitas melalui suatu penggambaran lebih jelas tentang apa saja yang bisa dilakukan se-efektif dan se-efisien mungkin.”


Para peserta workshop menemukan bahwa bahaya kabut asap lebih dari sekadar menyebabkan penyakit pernapasan dan kematian dini, yaitu termasuk kerusakan perkembangan kognitif dan kehilangan kesempatan bersekolah. Dan, tidak ada yang pernah menduga sebelumnya, bahwa ketika sekolah ditutup akibat kabut asap, risiko anak-anak terekspos pada bahayanya justru meningkat, karena mereka cenderung menghabiskan waktu lebih lama berada di area terbuka. Banyak tim peserta yang menjelajahi paradoks ini secara lebih dalam pada sesi brainstorming.

Richard Wecker dari UNICEF berbagi ide tentang bagaimana membantu anak-anak tetap bisa belajar saat kabut asap melanda ©UNICEF/Cory Rogers/2016

Dengan tidak keluar dari pendekatan ‘desain yang berpusat pada manusia’, para peserta juga diminta untuk melakukan langkah ekstra dan mengantisipasi ekosistem di mana projek mereka dapat diberlakukan. Itu berarti, mereka harus berpikir lebih keras tentang faktor-faktor sosial-lingkungan yang bisa membatasi sisi efektivitas, serta membuat rencana untuk mengatasi hal-hal tersebut.


“Misalnya, sementara platform informasi online yang terbuka untuk anak-anak muda mungkin bisa menjadi solusi untuk menjawab masalah terputusnya penyediaan data bagi penduduk yang terkena dampak kabut asap,” menurut PulseLab Jakarta, “sejumlah faktor dapat membatasi efektivitas implementasi platform tersebut –seperti akses teknologi, kemampuan membaca data, dan tidak adanya proses validasi.” Maka, inisiatif-inisiatif pelengkap seperti informasi offline pada lokasi strategis, menjadi sangat penting bagi projek secara keseluruhan.

©UNICEF/Cory Rogers/2016

Pada akhirnya, masing-masing dari enam tim workshop bersepakat untuk memilih satu prototip, yang kemudian dibuat menjadi suatu miniatur dengan menggunakan material seperti kardus dan styrofoam –“material-material yang simpel supaya para peserta bisa lebih fokus pada konsepnya daripada estetikanya,” pemimpin desain dari PulseLab jakarta, Kautsar Anggakara, menjelaskan.


Beberapa tim desain sangat menyarankan penggunaan sistem dan ruang pembelajaran baru sebagai wacana untuk melindungi anak-anak dari kabut asap dan membuat mereka tetap bersekolah.
 
Peserta membangun purwa rupa (prototype) ruang belajar bebas asap ©UNICEF/Cory Rogers/2016

“Kami telah merancang satu “sistem cadangan” yang kami namakan pembelajaran massal dari jarak jauh, berdasarkan komunitas,” kata Saras, desainer yang mencetuskan ide untuk menyediakan perpustakaan digital berisi pelajaran-pelajaran yang dapat diakses secara mobile, sehingga para pelajar dapat belajar di rumah masing-masing selama kabut asap. “Tapi untuk mengoptimalkannya, kami perlu mencari cara untuk memastikan bahwa rumah mereka juga bebas dari kabut asap,” katanya.
 

Menurut JP, seorang spesialis inovasi dari satu perusahaan solusi lingkungan yang berbasis di Hong Kong, “tidak ada peluru perak” yang bisa melindungi anak-anak dari kabut asap. Prototip yang dibuatnya, ‘Keliling Fantasi’ –suatu ruang kelas yang berkeliling selama kabut asap, dan berubah fungsi sebagai sumber data selama musim hujan tanpa kabut asap– dapat dianggap sebagai pembelajaran tentang lingkungan, bukan kurikulum nasional. Oleh karena itu, kemungkinan besar pendanaannya harus datang dari sektor swasta, katanya.


Pada bulan-bulan berikutnya, UNICEF berharap untuk dapat melihat prototip-prototip yang lebih disempurnakan melalui beberapa workshop dengan peserta dari pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, “untuk memastikan bahwa ide-ide dan pengertian pandangan yang sudah dihasilkan dapat semakin berkembang dari konsep kreatif menjadi aksi nyata untuk perubahan,” kata Richard. “Beberapa prototip menunjukkan peluang yang menjanjikan untuk menarik minat; target kami adalah mendukung pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendanai, mengeksekusi serta memerbaiki satu atau dua area yang menderita dampak kabut asap.”

‘Rumah bermain bebas asap' ©UNICEF/Cory Rogers/2016
 
“Mendapatkan komitmen dari pemimpin komunitas serta partisipasi nyata dari anak-anak muda  –hal-hal ini adalah tantangan kunci untuk projek perdana yang sukses,” tambah Valerie. Konsep yang didesain bersama-sama tersebut mungkin perlu diuji coba di daerah-daerah yang terkena dampak kabut asap. “Kami berharap dapat meluncurkan proses untuk anak muda seperti ini di Kalimantan Tengah, atau mungkin Riau,” katanya. “Suatu workshop yang didesain bersama-sama bisa sangat efektif mendorong para anak muda untuk menjadi agen perubahan.”
 

“Ketika anak-anak muda menjadi bagian yang aktif dari solusi –saat itulah Anda mendapat potensi besar untuk suatu perubahan,” tambahnya.

 

Wednesday, 25 January 2017

Tenda UNICEF untuk anak-anak di Pidie Jaya - Aceh

Oleh: Cory Rogers

Hari Rabu, saat ribuan orang keluar untuk salat subuh berjamaah, tanah di Pidie Jaya – Aceh Utara tiba-tiba terguncang. Dalam hitungan menit, 3000 rumah hancur menjadi puing-puing, jalanan di sekitar terbelah dan rusak parah.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 102 orang meninggal duni, lebih dari 300 orang terluka, dan 85.000 penduduk saat ini masih dalam pengungsian. Seperempat dari mereka yang meninggal berusia di bawah 18 tahun.

Dampak langsung dari gempa tersebut adalah puluhan ribu orang kehilangan rumahnya. Juga banyak dari mereka yang tidak memiliki akses pelayanan yang baik seperti, air yang aman, kesehatan dan sanitasi, bahkan pendidikan.

Wednesday, 18 January 2017

Sebuah Gerakan untuk Perubahan yang berpusat pada Anak Gadis

Oleh Felice Baker, JPO, Perlindungan Anak

Jakarta:”Penciptaan generasi yang kuat tidak akan tercapai jika sang ibu, yang merupakan sumber pertama pendidikan bagi seorang anak, adalah seorang gadis yang belum siap menjadi seorang ibu,” demikian perkataan Ibu Sinta Nuriyah Wahid, pendukung hak-hak perempuan dan mantan Ibu Negara (1999-2001), pada saat peluncuran Jaringan Gadis Remaja Indonesia di Jakarta.

Lokakarya dua hari ini, yang diadakan oleh UNICEF bekerjasama dengan Flamingo Social Purpose dan Rumah Kita, menghadirkan pendukung dari 28 organisasi berbasis di Indonesia, yang berfokus pada isu-isu seperti pernikahan anak, kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender. Jaringan ini didirikan untuk memungkinan para anggotanya mengkoordinasikan dan mengimplementasikan intervensi, memperbesar dan mengembangkan sinergi untuk hasil yang terbaik bagi para gadis remaja.

Chernor Bah, pendukung hak-hak gadis dan anak muda dan pendiri Jaringan Gadis Remaja Sierra Leone, memperkenalkan kepada para peserta prinsip-prinsip yang ia sebut sebagai ‘program yang terpusat pada anak gadis’, sebuah filosofi yang dimulai dengan kepercayaan bahwa “permainannya dibuat untuk mencurangi anak gadis, mereka dibuat kalah – dan jika anak gadis kalah, semua orang kalah,” ujarnya.

Secara global, anak-anak gadis umumnya kurang sehat, kurang terdidik dan menikmati hak-hak yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak lelaki, menghadapi kemudaratan sistematik yang disebabkan norma-norma yang diskriminatif. Pada saat pubertas, anak-anak gadis menghadapi resiko diperlakukan dengan tidak pantas, harus melakukan pekerjaan domestik dan putus sekolah, menjadi terisolasi secara sosial. Bahkan menurut sebuah studi yang dilakukan di Afrika Selatan oleh Population Council, sebuah pusat pemikiran pembangunan yang berpusat di New York, pada saat pubertas, akses anak-anak gadis terhadap tempat-tempat seperti pasar, pusat kesehatan dan perpustakaan juga berkurang, sementara untuk anak lelaki akses itu bertambah. Berinvestasi pada anak-anak gadis tidak hanya menjanjikan imbalan ekonomis yang signifikan, tapi juga dampak yang besar pada hampir setiap indikator pembangunan, dari partisipasi anak-anak gadis di pasar tenaga kerja, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, hingga perbaikan kesehatan dan pendidikan untuk generasi mendatang1.

Program yang berpusat pada anak gadis membuat mereka menjadi fokus dari setiap keputusan program; hal ini termasuk menentukan siapa yang ditargetkan, kapan dan bagaimana memantau kemajuan mereka. Program seperti ini dapat menunda pernikahan, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, meningkatkan rasa percaya diri dan memperbaiki literasi keuangan.

Selama lokakarya, anggota Jaringan setuju bahwa  memberdayakan anak gadis melalui peningkatan literasi keuangan, perluasan jaringan pendukung sosial dan perbaikan pengetahuan mereka tentang kesehatan, akan menjadi misi penyatuan. Jika dikombinasikan, hal ini akan mengurangi  kerentanan anak-anak gadis, dan menciptakan pertahanan terhadap pernikahan anak, kehamilan remaja dan putus sekolah,

Dengan menempatkan anak gadis di pusat, Jaringan Gadis Remaja Indonesia sekarang siap untuk memperkuat karya penting mereka. Anggota akan bertemu tiap bulan untuk berbagi informasi mengenai aktivitas, melakukan koordinasi riset dan intervensi bersama dan menyerahkan usulan bersama untuk pendanaan. Saat ini sedang direncanakan sebuah inisiatif bersama untuk membuat platform online, yang memungkinkan anak-anak gadis untuk berkomunikasi dengan rekan dan mentornya.

Sunday, 15 January 2017

Ayo ajak High Five!

Oleh: Dinda Veska


Seorang facers sedang mengedukasi pengunjung mall tentang program UNICEF Indonesia.
©UNICEF Indonesia/2016/Surabaya.

Fundraising atau penggalangan dana kerap kali dipandang sebagai sebuah kegiatan yang tidak menarik atau bahkan mengganggu bagi sebagian orang termasuk saya. Para penggalang dana (facers) yang ada di jalan-jalan atau di mall ini cukup menyebalkan. "Seperti sales credit card, gak sopan asal stop aja, emang gak ada cara lain untuk mintain uang? Kalau bisa dihindari, mending menghindar aja." Dan masih banyak lagi komentar negatif lainnya.

Selama satu pekan kemarin saya mendapat kesempatan bekerja sama dengan mereka untuk pembuatan beberapa video story di Kabupaten Mamuju. Kesan pertama yang ditimbulkan oleh keempat facers ini adalah sangat aktif dan banyak bicara. Wajar saya pikir karena itulah yang menjadi alat utama untuk mereka bergerilya mengumpulkan banyak donasi selama ini.

Saat mendapat kesempatan untuk rapat persiapan dengan organisasi lokal di Mamuju, keempat facers ini banyak bertanya hal-hal yang di luar ekspetasi saya tentang mereka. Pertanyaan mereka cukup dalam dan jauh dari ranah permukaan. Secara bergantian dengan sangat antusias mereka menanyakan data dan fakta yang terjadi di lapangan.

Seketika ingatan saya melayang ke beberapa waktu lalu saat dicegat oleh seorang facers di sebuah pusat perbelanjaan. Alih-alih meminta donasi, facers itu lebih banyak bercerita mengenai program-program yang dilakukan oleh UNICEF dan bagaimana kondisi anak-anak Indonesia yang hidup dengan banyak keterbatasan.

Pantas saja mereka benar-benar memahami kondisi anak-anak yang diceritakan ketika menggalang donasi. Proses pengumpulan informasinya ternyata tidak sembarangan, seperti yang dilakukan saat itu. Mereka harus berkunjung ke daerah yang di mana program UNICEF sedang berlangsung, untuk memastikan donasi yang digalang akan terserap dengan benar dan tepat sasaran. Selain itu juga untuk benar-benar memahami data dan fakta yang ada mereka bertemu langsung dengan anak-anak di sana.

Belum selesai sampai disitu, motivasi dan semangat mereka juga sangat menginspirasi saya. Seperti Mey yang ternyata memilih pekerjaan ini karena ingin membayar rasa bersalahnya kepada sang adik yang meninggal di usia anak. "Mungkin ini memang kesempatannya mbak untuk melakukan sesuatu untuk adikku, ya meskipun gak untuk dia langsung tapi setidaknya aku lega karena melakukan hal baik untuk anak-anak. Waktu lihat banner UNICEF di job fair tuh aku langsung inget adikku, waktu dia meninggal aku tuh gak ada di sampingnya mbak." Ungkap Mey

Memahami sebelum membenci, mungkin itu yang sebaiknya kita lakukan. Meskipun terkadang menyebalkan ketika sedang tergesa-gesa masih harus menanggapi mereka di jalan. Satu hal yang akhirnya saya pahami, kebaikan yang mereka lakukan tidak seharusnya dihindari. Proses panjang yang mereka usahakan mulai dari pengumpulan informasi hingga penggalangan donasi sudah saatnya mendapat apresiasi.

Saya mengajak siapapun yang akhirnya membaca tulisan ini untuk ikut memberi apresiasi kepada para facers. Ayo ajak High Five! Dan katakan "SEMANGAT" pada mereka!

“Not all of us can do great things. But we can do small things, with great love.” Mother Teresa


Kegiatan Facers bersama anak-anak di sekolah.
©UNICEF Indonesia/2016/Mamuju.


Tuesday, 10 January 2017

Ayo Kembali ke Sekolah di Pidie Jaya

Oleh Cory Rogers, Communication Officer





Para siswa kelas 2 belajar di tenda pendidikan yang didirikan beberapa hari setelah gempa berkekuatan 6,5m terjadi di tiga kabupaten, yang menewaskan ratusan orang dan mengakibatkan ribuan orang terlantar di kawasan barat laut Provinsi Aceh © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers.


Pidie Jaya, Aceh:
Mula-mula terjadi retakan di dekat pintu, kemudian dinding belakang terbelah melalui ubin berdebu, yang berjarak kira-kira enam atau tujuh meter.

Mengingat reruntuhan yang jaraknya sangat dekat – dimana rumah-rumah hancur, sekolah-sekolah tinggal tumpukan puing – kejadian tersebut, yang digambarkan oleh guru di MIN Pangwa sebagai kerusakan terparah oleh gempa, tampaknya dianggap sebagai hal yang tidak penting.


Tetapi bagi Rajwa, 10 tahun, siswa kelas lima, kejadian tersebut merupakan semacam pemicu - pengingat yang menakutkan tentang peristiwa yang menewaskan dua teman sekelasnya dan mengakibatkan keluarganya meninggalkan rumah mereka selama beberapa minggu.
Rajwa di luar MIN Pangwa © UNICEF Indonesia / 2017/ Cory Roger
"Saya tidak ingin gempa terjadi lagi," kata Rajwa. "Saya tidak ingin melihat kejadian itu, saya tidak ingin masuk ke sana."

Berkat bantuan tenda yang diberikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tanggal 27 Desember, kini Rajwa tidak perlu merasa takut.

Seperti siswa-siswa di hampir 200 sekolah di tiga kabupaten yang terkena dampak, Rajwa akan menggunakan tenda tersebut sebagai ruang belajar sambil menanti perbaikan ruang kelasnya. Kegiatan ini merupakan inisiatif pemulihan dengan keyakinan bahwa pada saat terjadi bencana, pendidikan menjadi semakin penting.

 Seorang guru membantu anak di salah satu tenda yang diberikan oleh BNPB sehingga para siswa dapat terus belajar karena kelas mereka yang rusak sedang diperbaiki. © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers 

 "Anak-anak tidak membutuhkan pendidikan bahkan dalam keadaan darurat. Mereka membutuhkan pendidikan khususnya dalam keadaan darurat, '' kata Executive Director UNICEF Anthony Lake. Penelitian menunjukkan bahwa pada saat krisis, sekolah memberikan struktur dan kegiatan rutin untuk membantu anak-anak mengatasi rasa takut, kehilangan atau stres.

Berdasarkan pandangan seperti ini, Pemerintah – melalui kemitraan dengan berbagai organisasi, termasuk UNICEF - telah mencanangkan kampaye "Ayo Kembali Ke Sekolah", yang berupaya untuk mencapai kehadiran siswa secara penuh di sekolah pada awal Januari. Di MIN Pangwa, para guru menyatakan bahwa kehadiran siswa telah mencapai kira-kira 70 persen.   

Akan tetapi, sepanjang jalan di SDN Peulandok Tunong, para guru mengatakan bahwa para siswa telah hadir selama beberapa minggu.

"Semua kecuali dua dari 93 siswa kembali ke sekolah hari ini," kata Ibu Wardiah, wakil kepala sekolah SDN Peulandok Tunong. Sekelompok siswa kelas dua berlatih membaca jam yang ada di belakangnya, pada pelajaran terakhir mereka hari itu.

Terletak tiga kilometer di sepanjang jalan yang sempit dengan pinggiran pohon-pohon padi, SDN Peulandok Tunong roboh pada saat terjadi gempa. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang pertama menerima tenda pada tanggal 11 Desember dari Kementerian Pendidikan. Setelah itu, tenda kedua didirikan oleh BNPB sebagai tempat untuk kegiatan-kegiatan belajar.   

Ibu Wardiah, (paling kiri) dan sesama guru SDN Peulandok Tunong berkumpul di luar tenda yang diberikan oleh UNICEF kepada Kementerian Pendidikan. Sekolah mereka merupakan sekolah pertama untuk berkumpul kembali pada hari-hari awal setelah gempa. © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers  

Kelompok guru sekolah ini melihat bahwa tenda-tenda tersebut merupakan kunci untuk membantu memulihkan anak-anak, sehingga mereka mencoba untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan permainan-permainan dengan bantuan LSM setempat. Pada suatu sore yang mengesankan, para relawan datang untuk mengajar lagu kepada anak-anak tentang menyelamatkan diri dari gempa, sebuah lagu yang kini mereka hafal.

"Ini desa saya, dan ini anak-anak saya," kata Ibu Wardiah, yang telah mengajar di sekolah tersebut selama lebih dari 30 tahun. "Kami tidak tahu apakah sekolah-sekolah lain juga seperti ini, tetapi kami tahu bahwa sekolah kami seperti ini," katanya dengan bangga.

Baru pada tanggal 2 Januari para guru mulai menggunakan kurikulum resmi, "karena pada akhirnya, membaca, menghitung dan menulis merupakan hal-hal sangat penting yang harus kami ajarkan kepada anak-anak kami," jelas Ibu Wardiah.

Di lokasi-lokasi dimana sekolah mengalami kerusakan dan belum diperbaiki, bangunan-bangunan semi permanen seperti bangunan ini di SDN Peulandok Tunong sedang dibangun oleh kontraktor pemerintah untuk mengganti tenda. Ruang kelas yang bersifat sementara ini akan memungkinkan anak-anak untuk belajar dalam lingkungan yang lebih aman dan nyaman sementara mereka menunggu pembangunan fasilitas permanen mereka © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers.

Menurut Kepala Dinas Dinas Pendidikan Pidie Jaya, Pak Saiful, sekolah-sekolah lain telah berupaya untuk meniru keberhasilan SDN Peulandok Tunong dalam kehadiran siswa, sebagian karena orang tua masih khawatir tentang keselamatan. Hal ini tidak mereka lupakan. Beliau mengatakan bahwa sekolah mengalami beberapa kerusakan paling parah.


"Kami harus memastikan bahwa sekolah-sekolah baru tahan gempa," katanya. Ia menyalahkan desain dan konstruksi yang buruk. "Hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi."


Konstruksi yang buruk mengakibatkan kerusakan seperti ini di SDN Peulandok Tunong, terlihat di sini hanya beberapa hari setelah gempa. © UNICEF Indonesia / 2017 / Yusra Tebe  

Menurut Programme Assistant UNICEF Indonesia, Said Ikram, "Di Aceh, mereka masih beruntung karena gempa besar terjadi sebelum anak-anak tiba di sekolah dan setelah mereka pulang. Gempa ini telah membuka mata orang-orang di Pidie Jaya untuk membangun sekolah-sekolah yang lebih aman."

Dengan bantuan UNICEF, pihak yang berwenang masih menentukan berapa banyak sekolah yang harus dibangun kembali. Sementara itu, pemberian tenda dan pembangunan raung kelas semi permanen akan tetap menjadi prioritas utama Pak Saiful.

"Kami masih memerlukan 37 tenda [pada tanggal 3 Januari]," katanya. "Fokus saya bulan ini adalah mengupayakan sebanyak mungkin siswa untuk kembali ke sekolah sehingga mereka tidak ketinggalan ujian nasional," katanya. Ujian tersebut, yang dijadwalkan pada musim semi, akan menentukan apakah siswa dapat naik ke kelas berikutnya.

Terlepas dari pentingnya ujian tersebut, guru-guru di MIN Pangwa mengatakan bahwa sangat penting untuk mengupayakan para siswa kembali pada keadaan normal dengan langkah mereka sendiri.

"Misalnya, kami biasanya mengijinkan siswa pulang pukul 12 siang, tetapi hari ini mari kita lihat apa yang terjadi," kata salah satu guru yang tidak mau disebutkan namanya. "Banyak anak masih mengalami trauma, sehingga sangat penting bagi kami untuk tidak memaksa mereka. Kami tetap fleksibel," tambahnya.

Sementara itu, Rajwa mengatakan bahwa ia sangat bersemangat untuk mulai belajar lagi, terlepas dari adanya kejadian yang menakutkan. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang tentara Angkatan Darat, dan ia mengatakan bahwa sekolah akan membantunya untuk mewujudkan cita-citanya.

"Kami sudah lama berada di luar sekolah," katanya, dengan mata berkedip memandang ke tanah yang ada di depannya. "Kadang-kadang saya masih merasa takut, tetapi kedatangan ke sini membuat saya senang."   
Siswa-siswa MIN Pangwa antri untuk membeli sosis daging sapi murah pada saat istirahat siang © UNICEF Indonesia / 2017 / Cory Rogers