Thursday, 29 June 2017

Memantau Kualitas Udara: Membidik Masalah Kabut Asap

Oleh: Vania Santoso – Innovations Adolescent and Youth Engagement Officer 


LaserEgg memberi penggunanya pembacaan kualitas udara terkini sehingga mereka dapat melindungi diri dari kabut dan polusi udara lainnya © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Apa yang akan kita lakukan jika orang yang kita percayai meminta agar tetap berada di rumah karena udara luar berbahaya untuk dihirup?

Bulan Maret lalu, saya berkunjung selama empat hari ke Palangka Raya, Kalimantan—pusat lokasi kebakaran hutan yang mengakibatkan asap di Indonesia—untuk menentukan apakah sistem pemantauan langsung kualitas udara dapat bermanfaat di sana.

Secara khusus, saya ingin menilai minat warga dalam menggunakan alat pemantauan kualitas udara berukuran kecil dan mudah dibawa, seperti LaserEgg. Alat ini dapat memberikan informasi tingkat pencemaran udara dan melindungi kesehatan penggunanya. Hasilnya, saya menemukan bahwa
kepraktisan alat untuk dibawa dan kemudahan membaca hasil pemantauan menarik bagi warga; namun, dari pengalaman terdahulu, mereka sadar bahwa teknologi hanya berguna saat digunakan dengan benar.

Sadrah dan Vivia, petugas bandar udara Tjilik Riwut, adalah dua orang pertama yang saya ajak bicara. Mereka tak bereaksi banyak saat LaserEgg menunjukkan bacaan ISPU 115 “Tidak Sehat” terhadap udara tak jauh dari landasan pesawat.

“Tidak apa-apa. Yang lebih parah pun pernah kami lihat,” kata Sadrah. “Tahun 2015, saat sebagian besar Kalimantan diselubungi asap kuning beracun, jarak pandang hanya sampai sekitar 10 meter,” ujar Vivia.


Lody (kiri) memperkenalkan alat Pemantau Kualitas Udara LaserEgg kepada Arief, Sadrah, dan Bayu  © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Esoknya, saya bertemu dengan Pak John Pieter dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejak tahun 2006, ia terlibat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan. Lody, rekan dari PulseLab Jakarta yang ikut dalam kunjungan, menanyakan pendapat Pak John mengenai potensi kegunaan alat pemantau. “Alat ini memang memberikan informasi yang perlu diketahui,” jawab Pak John, “tapi, bukan berarti akan diikuti dengan tindakan.”

Ia mengumpamakan asap dengan merokok: “Semua orang tahu rokok berbahya, tetapi tetap merokok. mereka tidak memikirkan efek jangka panjangnya.”

Anggota Relindo, kelompk relawan, menyampaikan hal serupa. Menurut Pak Joko, koordinator daerah Relindo, wilayah kota sudah dilengkapi dengan alat pemantau kualitas udara. “Dulu, waktu ISPU sudah pada level ‘bahaya’ warga masih saja pergi ke luar rumah tanpa masker.” Menurutnya, yang dibutuhkan dalam hal ini adalah upaya pemerintah untuk mengubah perilaku saat terjadi bencana asap.

Hindris, seorang anggota lain dari Relindo, mengatakan upaya menumbuhkan kesadaran amat penting. “Saat kejadian asap dulu, kami membagikan masker N95 kepada warga yang tinggal di daerah terdampak. Tapi, mereka tidak tahu cara menggunakan dan manfaat masker. Bahkan, ada yang mengeluh masker membuat mereka sulit bernapas, dan memilih menutupi mulut dengan kain biasa. Tugas kami adalah mengedukasi mereka agar mereka sadar bahaya jika tidak menggunakan masker,” terangnya.


Pak Joko, Himmam, dan Hindris dari Relindo © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Semua orang yang kami wawancarai nampaknya setuju bahwa alat pemantau udara jinjing hanyalah alat. Hal yang tak kalah penting adalah memastikan masyarakat bisa menerapkan pengetahuan mereka. “Alat pantau seperti LaserEgg memberikan informasi yang membantu warga memutuskan kapan mereka harus melindungi diri. Tapi, alat ini tidak bisa menjelaskan mengapa perlindungan diri penting,” kata Valerie Crab, UNICEF Indonesia Innovations Specialist.

“Menemukan cara yang dapat memicu perubahan perilaku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah tantangan inovasi,” tambah Valerie.

Keterangan: LaserEgg diberikan sebagai sampel kepada UNICEF Indonesia oleh Origins, distributor alat ini di Indonesia. Alat seperti LaseEgg menginformasikan saat kondisi udara di suatu tempat berada pada kondisi Baik (ISPU 0-50), Sedang (ISPU 51-100), Tidak Sehat (ISPU 101-200), Sangat Tidak Sehat (ISPU 201-300), atau Berbahaya (ISPU 301+). Keterangan pada alat diberi kode warna agar mudah dimengerti.