Thursday, 8 June 2017

1000 Hari Pertama yang menentukan


 Oleh: Dinda Veska

Rinayah digendong ibunya setelah menangis hampir selama 15 menit ©UNICEF/Dinda Veska/2017
Berjarak satu jam dari kota besar Yogyakarta, seorang anak tidak dapat menjalani hari-harinya dengan ceria seperti anak-anak lainnya. Ia mengalami gizi buruk, sehingga sering kali mudah lelah ketika bermain atau belajar. Sang Ibu menamainya Rinayah, balita berusia 2 tahun ini hanya memiliki berat badan 8 kilogram, masih kurang 3 kilo dari berat badan normal.
Anak-anak seperti Rinayah yang tidak terpenuhi kebutuhan gizinya pada 1000 hari pertama kehidupannya akan mengalami hambatan pertumbuhan.  Kemampuan kognitifnya tidak dapat berkembang secara optimal, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan ia mudah sakit. Selain itu Rinayah juga terancam tidak dapat mencapai potensi maksimalnya karena mengalami kekurangan gizi pada periode emas ini.Sehari-hari Rinayah juga tidak mendapat asupan makanan yang seharusnya dikonsumsi oleh anak usia 2 tahun. Sering kali ia hanya mengkonsumsi mie instan atau nasi dengan sebutir telur, tanpa sayur dan buah.Ibu Retno – yang melahirkan Rinayah dua tahun silam – mengakui bahwa dirinya sangat jarang pergi ke posyandu sehingga tidak mengetahui dengan pasti asupan apa saja yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anaknya. “Saya pikir anaknya memang tidak suka makan sayuran, jadi tidak masalah kalau diberi mie instan saja.”


Bidan Budi di Puskesmas Desa Pandes ©UNICEF/Dinda Veska/2017

Padahal menurut Bidan Budi – salah satu bidan desa terbaik yang dimiliki Kabupaten Klaten – seorang anak akan mudah beradaptasi terhadap rasa makanan. “Coba mulai sekarang diberi makanan sayur-mayur yah bu, lama-lama pasti akan terbiasa.” Sarannya kepada Ibu Retno.

Kondisi Rinayah yang juga sering sakit menjadi salah satu dampak dari tidak diberikannya ASI ekslusif selama enam bulan. Rinayah hanya mendapat Air Susu Ibu atau ASI hingga usia 3 bulan.
ASI Eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat setelah anak usia 6 bulan menjadi faktor penting dalam tu              mbuh kembang anak, salah satunya untuk mencegah kondisi stunting atau tubuh pendek. Kabupaten Klaten yang letaknya tidak jauh dari kota besar memiliki angka stunting yang cukup tinggi. Tahun 2011 tercatat sebanyak 30% bayi lahir dengan kondisi stuntin.
Untuk mencegah terjadinya kenaikan angka tersebut, selama 2011 - 2014 UNICEF  bersama dinas kesehatan setempat melakukan program pencegahan stunting di Kabupaten Klaten. Pelatihan dan penyebaran informasi terkait 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai pada masa kehamilan, kelahiran, hingga masa awal seorang anak dilakukan agar bayi-bayi yang lahir tidak lagi mengalami stunting.

Ibu Eti bersama Alwi sepulang dari PAUD ©UNICEF/Dinda Veska/2017

Salah satu yang mendapat intervensi tersebut adalah Ibu Eti. Tahun 2013 silam, beliau mengandung seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Alwi. Sejak berada di dalam kandungan kondisi Alwi sangat diperhatikan oleh Ibu Eti, hampir setiap bulan kondisinya diperiksakan kepada Bidan Budi.
Melalui Bidan BASI (MPASI).

udi di Puskesmas Desa Pandes, Ibu Eti juga mendapat banyak informasi mengenai persiapan kelahiran, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), cara-cara merawat bayi, Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga pelatihan untuk membuat Makanan Pendamping


Alwi bermain di PAUD Desa Pandes ©UNICEF/Dinda Veska/2017

Hasilnya kini Alwi tumbuh dengan sehat dan sangat aktif. Menurut Ibu Eti, anaknya yang kini berusia 3 tahun itu jarang sekali sakit. “Kalaupun sakit hanya demam, itupun tidak sering. Sangat berbeda dengan teman-teman lainnya yang tidak mendapat ASI Ekslusif, sering kali mereka sakit.” Ungkap Ibu Eti.

Sejak usia 6 bulan Alwi diberi Makanan Pendamping ASI yang dibuat dari campuran bubur, kentang, wortel, brokoli, Ayam, dan bahan makanan bergizi lainnya. “Alwi suka makan sayur.” Teriak Alwi dengan semangat ketika ditanya makanan favoritnya.
Faktor pengetahuan Ibu pada akhirnya sangat mempengaruhi pertumbuhan dan masa depan seorang anak. Ketika seorang Ibu mengandung, saat itu pula ia harus mendapat informasi yang benar terkait kehamilannya dan kebutuhan sang anak kelak.
Meski masih ada anak-anak seperti Rinayah yang terus membutuhkan perawatan terkait kondisi gizinya, tidak dapat kita pungkiri bahwa peran serta para pemangku kepentingan telah membawa dampak baik untuk banyak anak di Kabupaten Klaten. Kini angka stunting telah menurun sebesar 6%, satu di antaranya adalah Alwi yang bebas dari ancaman stunting. Masa depannya akan lebih baik dan Alwi dapat mencapai potensi maksimalnya.