Thursday, 1 June 2017

#IniSuaraku: Apa Pendapat Anak Muda tentang Akses Layanan Kesehatan Reproduksi

Oleh Vania Santoso, Youth Engagement Officer


Anak-anak muda sibuk dengan ponsel mereka untuk menyuarakan pendapat mereka selama Temu Nasional Remaja Indonesia © UNICEFIndonesia/2017/Achmad Rifai  

Yogyakarta: Setiap tahun, tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Orang Tua Sedunia, hari yang menekankan peran penting orang tua dalam membesarkan anak-anak. Anak-anak perlu diasuh dan dilindungi. Tidak boleh ada anak yang menjadi orang tua

Pendapat ini membuat saya mengingat kembali pengalaman saya pada Temu Nasional Remaja Indonesia di Yogyakarta pada bulan Maret 2017 yang bertujuan untuk menangani masalah kehamilan remaja yang tidak diinginkan.   

Kurang lebih 70 anak muda, yang dipilih dari 25 dari 34 provinsi di Indonesia, ikut serta dalam diskusi mendalam tentang akses kesehatan reproduksi remaja dengan perwakilan dari Pemerintah Indonesia, badan-badan PBB dan LSM.  

Sudah pasti, di "Twitter Capital of the World", diskusi menyebar luas ke media sosial. Sungguh sangat luar biasa melihat anak-anak muda dengan berani menyuarakan pendapat mereka dan memiliki pendirian yang kuat terhadap isu-isu sensitif ini, baik dalam jaringan (online) maupun di luar jaringan (offline).  

Temu Nasional Remaja Indonesia selama tiga hari tersebut diselenggarakan bersama oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), John Hopkins Center for Communication Programs (JHCCP) dan Gates Foundation. U-Report, sebuah program jajak pendapat anak muda, digunakan untuk memberikan kesempatan kepada para remaja yang tidak dapat hadir untuk didengar suara mereka.

Menjelang Temu Nasional Remaja Indonesia, U-Report mengumpulkan video dan foto dari anak-anak muda tentang aspirasi mereka. Video kompilasi ini menggambarkan beberapa impian mereka, tetapi banyak remaja tidak akan pernah bisa menggapai impian mereka karena kehamilan yang tidak diinginkan.  

U-Report mengajukan pertanyaan kepada anak-anak muda di seluruh Indonesia tentang pengetahuan dan sikap mereka terhadap kesehatan reproduksi dan juga pernikahan usia anak, yang berhubungan dengan kehamilan remaja. Jajak pendapat dari 1.380 anak muda juga menunjukkan kurangnya pengetahuan, faktor-faktor lain seperti kurangnya akses ke alat kontrasepsi, perkosaan dan kemiskinan juga berkontribusi terhadap kehamilan remaja.
  
Data U-Report yang disampaikan kepada organisasi pemuda, lembaga riset, lembaga-lembaga pemerintah dan badan-badan PBB pada Temu Nasional Remaja Indonesia tersebut memberikan kepada para peserta pandangan sekilas tentang gambaran yang lebih besar. Kontribusi U-Reporter memastikan bahwa pandangan para remaja dari seluruh Indonesia digunakan untuk menginformasikan diskusi tersebut dan mempengaruhi rekomendasi.



Diskusi Kepemimpinan dengan Melinda Gates (duduk di bagian tengah podium) dan perwakilan anak muda © UNICEFIndonesia/2017/Vania Santoso

Sejumlah pembicara tamu terkenal dan perwakilan anak muda mediskusikan isu-isu kunci, yang memberikan perspektif berbeda untuk memastikan bahwa para peserta memperoleh cukup informasi. 
 
Para pembicara antara lain Laurike Moeliono dari Johns Hopkins Center for Communications Programs, Dr. Robert Blum dari Johns Hopkins University dan Muhammad Auzan Huq dari persatuan pemuda GenRe.
  
Isaac Tri Octaviari dari Universitas Gadjah Mada menyajikan hasil penelitian kualitatif tentang kesehatan reproduksi remaja di sembilan provinsi. "Semua responden, yang terdiri dari 114 pasangan orang tua dan 432 remaja, mengatakan bahwa kesehatan reproduksi dianggap sebagai hal yang tabu, sedangkan sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa tidak ada layanan kesehatan reproduksi bagi para remaja dalam masyarakat mereka," katanya.
 
Pada sore hari, Melinda Gates, co-chair Gates Foundation, memfasilitasi diskusi panel tentang kepemimpinan dengan tiga perwakilan anak muda - Evi dari Fatayat Nahdlatul Ulama (organisasi Islam), Dwi Ayu dari Unala (klinik ramah remaja yang dikelola oleh UNFPA), dan Berli dari CIMSA (organisasi mahasiswa kedokteran).  

"Anda harus mendidik anak-anak ketika mereka masih muda, membicarakan tentang tubuh mereka dan bagaimana tubuh mereka bekerja. Setelah mereka menjadi remaja muda, Anda dapat membicarakan tentang reproduksi, menstruasi, dan banyak lagi, "kata Ibu Gates, menjawab pertanyaan tentang bagaimana ia membuka dialog tentang pendidikan seks di rumah bersama anak-anaknya.  

"Diskusi ini bukan hanya satu kali. Kita harus menangani masalah ini secara terus-menerus. Sekalipun hal ini tidak menyenangkan, Anda harus membicarakannya, khususnya pada saat anak-anak mulai berkencan, "tambahnya, sambil mendorong semua peserta untuk melakukan diksusi secara terbuka ​​dan jujur ​​dengan orang tua dan anak mereka.  

Setelah diskusi selama tiga hari, perwakilan anak muda menyelesaikan dokumen rekomendasi kebijakan yang berjudul "Rekomendasi Remaja" dengan dukungan fasilitator dari UNICEF, UNFPA, Rutgers WPF Indonesia dan organisasi organisasi lainnya yang dipimpin oleh anak muda. Rekomendasi tersebut berisi tiga bidang utama: peraturan, penjangkauan remaja, dan penjangkauan remaja yang telah menikah.  


Dari 28 rekomendasi, satu rekomendasi sangat kontroversial – yang menyediakan alat kontrasepsi kepada semua orang. Sementara satu kelompok menyatakan bahwa akses universal diperlukan untuk melindungi semua remaja yang aktif secara seksual terhadap kehamilan remaja, kelompok lain berpendapat bahwa hubungan seks seharusnya hanya untuk para pasangan yang telah menikah.

Setelah dilakukan diskusi mendalam, akhirnya tercapai kesepakatan, bahwa "semua pemangku kepentingan harus memperluas akses dan kualitas layanan kesehatan bagi para remaja, sebagai populasi kunci yang masih muda, memberikan layanan konseling dan kesehatan reproduksi khusus kepada mereka sesuai dengan kebutuhan mereka.”  

Rekomendasi tersebut juga meminta pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya untuk menjadikan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi sebagai bagian standar dari kurikulum sekolah bagi remaja usia 10-19 tahun, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Para peserta bahkan telah menyiapkan sebuah usulan struktur sebagai rujukan. 




#IniSuaraku: Untuk Temu Nasional Remaja Indonesia, U-Reporter membuat video dan foto yang mengekspresikan impian mereka © UNICEFIndonesia/2017/Vania Santoso

Ambar Rahayu, yang membidangi kesejahteraan dan pemberdayaan keluarga di BKKBN, menekankan pentingnya kerja sama untuk meningkatkan hasil kesehatan reproduksi bagi para remaja. "Kerja sama lintas kementerian, dengan LSM, masyarakat internasional dan sektor swasta merupakan kunci untuk meciptakan perubahan," katanya. "Ini bukan tentang menyalahkan atau mengabaikan pendapat yang berbeda dengan pendapat Anda. Tetapi kita harus memiliki pemahaman yang lebih baik.” 
  
Melalui penyampaian pendapat anak muda kepada para pengambil kebijakan pada Temu Nasional Remaja Indonesia tersebut, U-Report menggunakan media sosial untuk memperkuat ribuan suara anak muda. Suara-suara ini dapat memberikan masukan dalam perumusan Rekomendasi Remaja yang memastikan bahwa para pengambil kebijakan telah mendengar suara mereka dengan sungguh-sungguh dan nyata.  

Perlu diketahui bahwa hanya semudah membuka ponsel untuk membuat diri Anda didengar, setelah Anda menemukan program yang tepat. Apakah suara Anda telah didengar? Mari bergabung dengan U-Report!

*Acara ini didokumentasikan secara online melalui #livetweet oleh U-Report di sini.