Tuesday, 3 December 2013

Mengakhiri Kekerasan di Sekolah Lewat Disiplin Positif

Devi Asmarani


Setahun setelah memulai program Disiplin Positif, suasana di kelas telah berubah total. Siswa tidak takut guru mereka lagi. ©UNICEFIndonesia/2013/Esteve.

Selama 24 tahun mengajar, guru kelas 5 Darius Naki Sogho sering menggunakan tangan atau tongkat rotan untuk menghukum murid-muridnya.

“Saya dulu sering memukul murid-murid saya kalau mereka nakal atau tidak memperhatikan saya di kelas,” ujar Bapak Darius.

Namun setahun terakhir ini, Bapak Darius telah belajar untuk menguasai emosinya di kelas, dan berusaha mengajar dengan cara yang tidak menyakiti atau menakutkan murid-muridnya.

Ia melakukan ini melalui pendekatan Disiplin Positif, metode pengajaran yang sedang dilatih untuk sekelompok guru di Papua sebagai bagian dari kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah untuk mengakhiri kekerasan di sekolah.

Tuesday, 26 November 2013

Blog dari Tacloban: Gadis kecil bergaun putih

Sepasang boneka di antara puing-puing di kota Tacliban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Oleh Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina

Dua hari yang lalu, bersama dengan beberapa orang wartawan, kami mengunjungi salah satu pemukiman yang paling terpukul topan Haiyan di kota Tacloban. Pemukiman tempat ribuan orang tinggal ini terletak sekitar 200 meter dari pesisir pantai dan cukup kumuh.

Namun sudah tidak ada lagi yang tersisa. Daerah ini terkena kekuatan penuh topan super Haiyan, dan semua rumah pun tersapu oleh topan, gelombang badai, dan angin kencang.  

Barang-barang dan keperluan rumah tangga sehari-hari berserakan di mana-mana. Sebuah boneka di sini, sepotong baju di sana, remote control TV di satu sisi, dan foto album keluarga di seberangnya.

Saat sedang menyelesaikan pekerjaan kami, saya memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekitar 75 meter kemudian, saya melihat dua jenazah. Satu di antaranya tampak seperti seorang pemuda, dan yang satunya adalah seorang gadis kecil bergaun putih, usianya sekitar enam tahun.


Friday, 22 November 2013

Indonesia meluncurkan kampanye anti kekerasan terhadap anak (#ENDviolence)

Oleh: Michael Klaus


Direktur Kesejahteraan Sosial Anak di Kementerian Sosial, Edi Suharto (kiri), menghubungi helpline TeSA 129 untuk mencari tahu tentang jenis masalah yang sering dilaporkan anak. ©UNICEF Indonesia/2013/Dionisio 

JAKARTA, 20 November 2013 - Pada Hari Anak Universal, Indonesia bergabung dengan inisiatif global yang dinamakan #ENDviolence against Children.

"Peluncuran kampanye hari ini hanyalah awal dari sebuah proses yang panjang. Kami telah berhasil membentuk aliansi yang kuat untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak kekerasan pada anak-anak dan untuk memperkuat pencegahan dan sistem respon. Selama beberapa bulan mendatang, kami akan bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak mitra lagi," ucap Deputi Perwakilan UNICEF Indonesia Marc Lucet pada acara yang diselenggarakan bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Komisi Perlindungan Anak.

Sejauh ini, Indonesia tidak memiliki data nasional tentang kekerasan terhadap anak. Pemerintah dengan dukungan dari US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan UNICEF tengah melakukan survei nasional tentang prevalensi kekerasan fisik, emosional dan seksual terhadap anak laki-laki dan perempuan di 25 dari 33 provinsi. Hasil dan rekomendasi survey ini akan dipublikasikan tahun depan.

Wednesday, 20 November 2013

Foto: Topan Haiyan, Filipina



UNICEF mengirimkan pasokan darurat ke daerah-daerah di Filipina yang dilanda topan Haiyan pada tanggal 8 November. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa hingga 5 juta anak-anak terdampak oleh bencana ini.

Anda dapat menyumbang lewat: www.supportunicefindonesia.org

Untuk melihat keterangan foto, tampilkan galeri pada layar penuh dan klik 'show info' di sudut kanan atas.

Tuesday, 19 November 2013

Stop Kekerasan Terhadap Anak! #ENDviolence



Setiap hari, meskipun tidak semuanya tampak, anak-anak menjadi sasaran kekejaman dan pelecehan. Hal ini terjadi di seluruh dunia dan di seluruh lingkungan - publik dan swasta, perkotaan dan pedesaan, bahkan di dalam keluarga. Bergabunglah dengan kami untuk sorot yang tidak terlihat. Kunjungi http://www.unicef.org/endviolence untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Terkait:

Monday, 18 November 2013

Topan Haiyan: Kisah Jhana dan Gwendolyn

Oleh: Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina


Jhana dan perlengkapan kebersihan UNICEF di Tacloban
© UNICEF Philippines/2013/Kent Page

Gereja Our Lady of Perpetual Help di Tacloban telah menjadi rumah darurat bagi 300 keluarga yang rumahnya musnah oleh Topan Haiyan. Di antara mereka adalah Jhana, seorang ibu berusia 20 tahun dan putrinya yang baru lahir, Gwendolyn.

Gwendolyn lahir hanya satu minggu sebelum Haiyan melanda. "Topan menghanyutkan rumah kami" ucap Jhana sambil menyusui Gwendolyn di antara ratusan orang lain yang berlindung di gereja. "Tapi dia adalah malaikat saya dan saya akan melakukan segalanya untuk memastikan kesejahteraan hidupnya."

Thursday, 14 November 2013

Diary topan Haiyan: Lumpur dan reruntuhan di Tacloban

Nonoy Fajardo (Disaster Risk Reduction and Emergency Specialist)

Seorang anak yang terlantar akibat topan Haiyan di kota Tacloban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem
Saya telah bekerja di bidang kedaruratan selama lebih dari 15 tahun, dan saya benar-benar berpikir bahwa saya sudah pernah melihat semuanya. Tapi ketika saya sampai di Tacloban pada hari Senin sebagai anggota tim assessment PBB, saya sangat terkejut. Saat pesawat berjalan di landasan pendaratan, saya melihat lumpur dan reruntuhan - hanya lumpur dan reruntuhan - di mana tadinya ada banyak pohon, bangunan dan semua tanda-tanda kehidupan yang normal.

Segala sesuatu yang dulunya di dalam bangunan terminal bandara kini berada di luar, dan apa yang tadinya di luar menjadi berada di dalam, termasuk sebuah tangga eskalator. Kami diberitahu agar menghindari bagian bangunan yang hancur karena masih ada mayat di reruntuhan, di mana para karyawan bandara mencari perlindungan.

Diary topan Haiyan: Bantuan telah sampai

Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)

Seorang anak pengungsi akibat topan Haiyan di pusat evakuasi di Tacloban
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Empat hari telah berlalu sejak topan Haiyan terjadi, dan berita baiknya adalah bantuan telah mencapai para korban. Saya pun bangga untuk mengatakan bahwa pasokan air dan sanitasi UNICEF telah sampai di Tacloban, yang akan membantu mencegah terjadinya wabah tifus dan kolera. Organisasi lainnya tengah mengendalikan bantuan makanan, tempat perlidungan dan obat-obatan.

Berita buruknya adalah pasokan yang sampai masih kurang dari cukup. Meskipun Pemerintah dan tentara Filipina serta rekan-rekan di bidang kemanusiaan berupaya sekuat tenaga, kami masih belum mencapai semua orang yang membutuhkan bantuan.

Wednesday, 13 November 2013

Diary topan Haiyan: "Tidak ada tempat untuk pergi"

Oleh Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)

Seorang ibu menggendong anaknya di Tacloban, Leyten, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Saya baru saja berbicara di telepon dengan Leon Dominador Fajardo, atau sering dipanggil 'Nonoy', UNICEF Emergency Specialist di kota Tacloban. Ia adalah seorang profesional yang berpengalaman dalam menghadapi bencana, namun suaranya terdengar bergetar. "Orang-orang, keluarga dan anak-anak berjalan sepanjang jalanan yang hancur," ucapnya. "Saya tidak tahu mereka berjalan ke mana - tidak ada tempat untuk pergi."

Ia membutuhkan waktu satu jam hanya untuk keluar dari bandara karena puing-puing yang berserakan. Beberapa staf UNICEF lainnya terjebak di bandara selama semalam. Jalan-jalan hampir tidak bisa dilalui pada malam hari yang gelap gulita dan resiko kecelakaan sangat tinggi, bukan hanya untuk pengemudi dan pengendara tapi terutama untuk orang-orang yang berkemah di jalanan.

Wednesday, 16 October 2013

Hari Anak Perempuan Internasional (#DayofTheGirl); Saat Seorang Anak Perempuan Berbicara Tentang Kebahagiaan.


Ramonah bernyanyi di bus MetroMini
11 Oktober adalah Hari Anak Perempuan Internasional. Waktu untuk anak perempuan mendeklarasikan apa yang mereka inginkan, menyampaikan kepada dunia tentang hak-hak yang mereka miliki dan untuk membuktikan bahwa mereka mampu untuk melakukan apapun yang mereka inginkan melalui perhatian dan cara yang baik. Di hari itu, semua gadis mengharapkan keadilan dan kebahagiaan. Sama seperti Ramonah, anak perempuan berusia 8 tahun yang bekerja sebagai pengamen jalanan.

Saat itu, siang hari di daerah Jakarta Selatan. Saya sedang di perjalanan untuk kembali ke rumah. Di dalam bus, saya melihat seorang anak perempuan bernyanyi untuk menghibur para penumpang dan mencari uang. Karena saya tertarik dengan kehidupan anak perempuan itu, saya  mengikutinya keluar dari bus dan mengajaknya makan siang. Inilah sedikit percakapan saya dengannya.


Monday, 7 October 2013

Menjembatani kesenjangan: gizi di Indonesia

By Bohdana Szydlik, UNICEF Australia

UNICEF Australia Communication Officer Bohdana Szydlik di sebuah sawah di Klaten. © UNICEF Indonesia/2013/Estey

Setiap pagi saya melewati seorang ibu dan anaknya di sebuah jembatan penyeberangan di Jakarta. Sembari anaknya tidur, sang ibu memegang cangkir plastik untuk meminta recehan, dan bersama mereka menunggu waktu berlalu. Tak jauh dari situ adalah shopping mall berlantai marmer dengan toko-toko mewah seperti yang dapat ditemukan di Paris: Gucci, Topshop, Audi.

Sejak jatuhnya Presiden Soeharto 15 tahun yang lalu, Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Namun, dengan 50 persen populasi masih hidup dengan kurang dari US$ 1,75 per hari, sebagian besar kekayaan Indonesia masih terbatas untuk beberapa pihak saja.

Tuesday, 24 September 2013

Kisah Si Kecil Neni

By Dorian Druelle, UNICEF France

Neni (tengah) tersenyum bersama teman-teman sekelasnya karena ia sudah tidak pernah lagi terkena gejala diare
©UNICEF Indonesia/2013/Druelle

Neni adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun, namun ia terlihat seperti berusia 7 atau 8 tahun. Tubuhnya yang pendek dibandingkan anak-anak seusianya merujuk pada kondisi stunting (pendek menurut usia) akibat gizi buruk yang dialami oleh sebagian anak-anak balita di daerahnya dan sepertiga anak-anak di Indonesia. Namun bertentangan dengan kondisi fisiknya, Neni terlihat bersinar dengan senyumnya yang lebar dan mata yang memancarkan semangat.


Tuesday, 17 September 2013

Semakin banyak anak bertahan hidup melewati usia lima tahun

Menyelamatkan nyawa anak-anak akan menguntungkan seluruh masyarakat

By Angela Kearney, UNICEF Representative Indonesia

Kesempatan untuk menghentikan kematian anak yang dapat dicegah belum pernah sebesar yang kita miliki saat ini.

Berkat solusi-solusi yang telah teruji serta upaya-upaya di tingkat nasional dan global, nyawa 90 juta anak di dunia telah terselamatkan dalam 22 tahun terakhir; nyawa yang seharusnya hilang jika tingkat kematian anak tidak berubah sejak tahun 1990.

Jumlah anak yang meninggal pada tahun 2012 telah berkurang separuh dibandingkan pada tahun 1990, dengan menurunnya angka tahunan kematian balita dari 12,6 juta pada tahun 1990 menjadi 6,6 juta pada tahun 2012.

Indonesia pun telah mengalami kemajuan yang berarti. Pada tahun 1990 sekitar 385.000 anak balita meninggal, sedangkan kini angka tersebut telah menurun jadi 152.000. Meskipun ini adalah berita yang baik, kita juga perlu mengingat bahwa masih ada lebih dari 400 anak di Indonesia yang meninggal setiap harinya. Kita juga harus sadar bahwa meskipun tingkat kematian anak telah menurun dengan impresif, data terbaru menunjukkan bahwa penurunan ini telah melambat antara 5 hingga 10 tahun yang lalu.

Monday, 9 September 2013

Proyek SMS meningkatkan kompetensi bidan di Indonesia

Pesan Info Bidan yang pertama kali disiarkan, mengenai jarak kelahiran dan risiko dari tidak melakukannya. Lombok, 18 Juli 2012.

Jakarta, September 2013 - Bidan berada di garis depan pelayanan kesehatan di Indonesia dan mereka memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan pesan-pesan kunci tentang kehamilan, persalinan dan kesehatan anak kepada ibu hamil dan keluarga mereka. Namun, banyak bidan yang kurang cukup terlatih dan tidak memiliki pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk memberikan penyuluhan berkualitas, terutama di daerah pedesaan dan terpencil.

Melalui proyek percontohan berbasis SMS yang disebut Info Bidan, UNICEF terlibat dalam cara-cara inovatif untuk memperkuat kapasitas bidan di daerah pedesaan. Hasilnya positif dan UNICEF kini tengah berdiskusi dengan Departemen Kesehatan dan mitra lainnya tentang cara terbaik untuk memperkenalkan model tersebut sebagai alat pelatihan untuk semua 100.000 bidan di Indonesia.

Friday, 23 August 2013

UNICEF Indonesia dan Nahdlatul Ulama bersama memerangi stunting

Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney bersama K.H Said Aqil Siradj, Ketua PBNU

Jakarta, Agustus 2013 – UNICEF Indonesia menandatangani sebuah kemitraan dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, untuk meningkatkan segala usahanya dalam rangka memperbaiki status gizi anak dan mengurangi tingkat prevalensi balita pendek (stunting).

Kolaborasi ini fokus pada penyelesaian masalah balita pendek melalui penguatan program pemberian Dana Tunai Bersyarat pemerintah, yang dikenal dengan PKH. Model ini sedang diujicobakan di dua kabupaten: Brebes di Jawa Tengah dan Sikka di Nusa Tenggara Timur, melalui program yang bernama PKH Prestasi.

Bagi UNICEF Indonesia, kerjasama dengan organisasi Islam ini merupakan yang pertama kalinya. Dengan perkiraan jumlah pengikut sekitar 50 juta orang, Nahdlatul Ulama merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Sekitar 60% penduduk Brebes adalah pengikut, sehingga NU memiliki basis massa dan pengaruh yang kuat. NU memiliki mayoritas afiliasi dengan pesantren besar di seluruh Indonesia, termasuk di Brebes. NU juga mendanai rumah sakit dan sekolah, baik yang khusus Islam maupun umum.

Monday, 19 August 2013

Senyuman dari Wilayah Timur Indonesia

By Dita - Fundraiser UNICEF Indonesia

Betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Field Trip yang dilakukan oleh Team UNICEF pada tanggal 25 Juni 2013 yang lalu. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi Kabupaten TTS (Timur Tengah Selatan) tepatnya di kota Soe (baca: So’e). Dan pada saat itu, team UNICEF yang berangkat tidak hanya dari Jakarta saja, tetapi juga dari Perancis dan Swiss.

Kota Soe terletak cukup jauh dari Kupang. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam untuk mencapai kota tersebut. Jangan bayangkan Kota Soe sama dengan Ibu Kota-Ibu Kota yang ada di Indonesia. Kota Soe yang kami kunjungi jauh dari kesan modern. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Semua fasilitas yang ada di kota tersebut serba terbatas, terutama akses kesehatan dan pendidikan.

Untuk meningkatkan standar kesehatan dan pendidikan, salah satu upaya yang dilakukan oleh UNICEF adalah membangun fasilitas kamar kecil dan penampungan air bersih di sekolah-sekolah yang ada di Kota Soe. Hal ini dilakukan untuk menekan angka anak yang sakit akibat diare dan malaria. Kedua penyakit ini adalah penyebab utama tingginya tingkat kematian balita di Indonesia.

Dengan adanya fasilitas kamar kecil dan air bersih ini, anak-anak diperkenalkan dengan mencuci tangan dengan sabun dengan benar dan agar tidak buang air besar dan kecil sembarangan. Karena menurunnya jumlah anak yang sakit akibat diare dan malaria, anak-anak di Kota Soe dapat belajar dan masuk sekolah karena mereka lebih sehat. Dan dampaknya luar biasa, angka anak yang tinggal kelas menurun, bahkan anak-anak yang lulus dari sekolah dasar tingkat kelulusannya 100%.

Fasilitas air dan sanitasi yang dibangun UNICEF di salah satu sekolah di kota Soe
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Di sekolah dasar yang kami kunjungi, saya bisa melihat betapa lebarnya senyuman anak-anak yang ada di sana. Mereka begitu ceria menyambut kedatangan kami. Mereka sangat semangat menceritakan kemajuan-kemajuan yang mereka alami semenjak sekolah mereka memiliki kamar kecil dan penampungan air bersih. Bahkan mereka mengajari saya lagu-lagu edukasi mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan membuang sampah pada tempatnya, serta pentingnya membasmi jentik-jentik nyamuk malaria. Lewat lagu tersebutlah mereka menjadi sadar dan mempunyai kebiasaan baik untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit.

Bernyanyi lagu-lagu perilaku hidup bersih dan sehat bersama murid-murid
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Setelah kami mengunjungi dua sekolah di Kota Soe, kami bertolak ke sebuah Desa yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Kami membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan untuk tiba di Desa tersebut. Desa yang akan kami kunjungi adalah Desa Nenas. Alasan kenapa kami mengunjungi desa tersebut, karena kami ingin menilik program UNICEF yang berkaitan dengan kesehatan di sana.

Desa tesebut tidak memiliki pelayanan kesehatan. Apabila ada penduduk yang sakit ataupun Ibu yang mengandung dan akan melahirkan, mereka harus menempuh waktu 3 jam untuk bisa mendapatkan fasilitas kesehatan tersebut. Dan untuk menuju ke Desa Nenas, perjalanan tidak hanya menyita waktu, akan tetapi medan yang kami tempuh juga sangat berat. Belum lagi sepanjang perjalanan, tanah cukup becek dan licin karena hujan baru saja berhenti di siang hari. Beberapa jalanan bahkan longsor dan mengakibatkan perjalanan kami di hari itu cukup berat.

Perjalanan melalui medan yang cukup berat untuk ditempuh menuju Desa Nenas
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Setiba di Desa Nenas, hari sudah menjelang sore dan mengakibatkan team kami tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama di desa tersebut. Kami langsung dibawa ke balai desa dan diperkenalkan dengan kepala desa setempat. Setelah dari balai desa, kami dibawa ke rumah salah satu Kader di Desa Nenas. Fungsi Kader ini adalah untuk penanganan pertama bagi penduduk yang terserang penyakit dan mengedukasi penduduk di desa tersebut agar lebih peduli pada kesehatan. Sehingga penduduk setempat tidak perlu menempuh waktu berjam-jam untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Tidak hanya melatih Kader, UNICEF juga mengirimkan tim medisnya yang juga bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengunjungi Desa Nenas satu bulan sekali. Tim tersebut harus menempuh jalanan yang sulit dengan waktu yang cukup panjang untuk mengantar vaksin dan imunisasi serta memantau perkembangan kesehatan di Desa Nenas. Atas jasa merekalah angka kematian Ibu melahirkan menurun dan kesehatan penduduk setempat juga meningkat.

Bersama para pahlawan-pahlawan kesehatan dari Desa Nenas
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Saya merasa bersyukur memiliki kesempatan meninjau Kota Soe dan Desa Nenas. Dan melihat lebarnya senyum anak-anak yang saya kunjungi, membuat saya semakin bersemangat untuk mengajak masyarakat yang tinggal di kota-kota besar di seluruh Indonesia untuk turut membantu anak-anak yang berada di pelosok dan pedalaman Indonesia. Senyum yang mereka tunjukkan ketika kami mengunjungi mereka, membayar semua peluh yang harus kami hadapi selama perjalanan menuju Desa Nenas.

Senyuman gembira anak-anak, motivasi bagi kami semua
© UNICEF Indonesia/2013/Dita 

Monday, 15 July 2013

Siap kembali ke sekolah

By Nuraini Razak, UNICEF Indonesia

Yang paling diinginkan Dani, 11 tahun,
adalah kembali ke sekolah dan bermain
dengan teman-temannya.
© UNICEF Indonesia/2013/Rizal
Bener Meriah - Fitra Ramadhani, atau biasa dipanggil Dani oleh teman-temannya, adalah seorang anak berusia 11 tahun yang selalu tampak ceria. Hobi siswa kelas 6 SD ini adalah bermain sepak bola dengan teman-teman sekolahnya. Desa Cekal Baru tempat tinggal Dani terkena dampak gempa dengan cukup parah.

Ayah Dani adalah seorang petani kopi yang harus mengurus tiga anak dan tiga anggota keluarga lainnya. Belum lama ini keluarga mereka telah kehilangan nenek Dani, dan kini gempa menghantam mereka.

Di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, lebih dari 372 sekolah telah rusak parah. Dengan awal tahun ajaran baru di depan mata, para murid pun mulai bertanya-tanya cemas apakah mereka akan dapat kembali bersekolah.

Sekolah Dani yang lama dapat ditempuh dengan jalan kaki, tapi sekarang dia tidak tahu ke mana harus pergi. Sekolahnya telah hancur.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya di tenda pusat pembelajaran sementara UNICEF. Keinginannya sederhana, "Rumah kami sudah rusak, dan kadang-kadang aku masih kepikiran tentang gempa, tapi yang aku benar-benar ingin lakukan adalah kembali ke sekolah dan bermain dengan teman-teman," katanya.

Tuesday, 9 July 2013

Pasca gempa di Aceh - Memberikan senyuman kepada anak-anak dengan belajar dan bermain

Yusniati bermain puzzle dengan anaknya,
Liana, di tenda pusat belajar UNICEF.
© UNICEF Indonesia / 2013 / Juanda
Bener Meriah, Indonesia, 9 Juli 2013 - "Rasanya seperti kiamat", ucapYusniati (25), seorang petani kopi dari Serempah, kecamatan Ketol, ketika mengingat apa yang terjadi pada tanggal 2 Juli kemarin saat sebuah gempa berkekuatan 6,2 Richter melanda daerah Bener Meriah dan Aceh Tengah. Gempa ini telah memakan 39 korban dan melukai lebih dari 2.400 orang. "Kami sedang di perkebunan, dan kami bisa merasakan tanah bergerak naik dan turun. Suaranya sangat keras," katanya.

Sekitar 50.000 orang dari 12.000 lebih rumah tangga di 70 lokasi telah mengungsi dari rumah mereka. Banyak juga keluarga yang rumahnya tidak hancur tetapi lebih memilih untuk menunggu di luar, takut akan gempa susulan. Sekitar sepertiga dari mereka yang terkena dampak adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun.

"Setelah sekitar 5 menit getaran, saya lihat teman-teman dan tetangga berlarian. Ada juga beberapa orang yang sudah terperangkap dan menangis minta tolong. Banyak yang berdarah, tapi kami saling membantu dan akhirnya kami berhasil pindah ke area terbuka. Kami terkejut dan bingung, dan sampai sekarang pun masih," tambah Yusniati.

Sunday, 7 July 2013

Rumah Honai Markus - Rintangan akses pendidikan di Provinsi Papua

Markus meninggalkan desa asalnya
pada usia 14 tahun demi bersekolah.
© UNICEF Indonesia / 2012 / Klaus
 Megapura, Provinsi Papua, Juli 2013 - Empat tahun telah berlalu sejak Markus bertemu orang tuanya, dan paling tidak setahun lagi sebelum ia bisa pulang ke desa Kalbok yang dapat ditempuh dengan 10 hari berjalan kaki melalui dataran tinggi Papua. Remaja berusia 18 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMA ini pun sadar bahwa ia takkan pernah mengenyam bangku sekolah jika tidak meninggalkan desa asalnya.

Dalam kurun waktu itu, Markus tumbuh dengan pesat dan kini telah menjadi kepala suatu honai (gubuk tradisional) yang dijadikan rumah kos untuk 50 remaja dan orang muda di Megapura. Mereka semua bersekolah di tingkat SMA atau institusi kejuruan di kota Wamena.

"Kabupaten-kabupaten di dataran tinggi Papua memiliki indikator anak terburuk dari seluruh negara," jelas Margaret Sheehan, Kepala Kantor Lapangan UNICEF di Papua dan Papua Barat. Lebih dari 120 dari setiap 1.000 anak meninggal sebelum melewati usia lima tahun, atau lebih dari tiga kali rata-rata nasional. Hanya sepertiga penduduk memiliki akses terhadap air bersih dan kurang dari seperempat memiliki akses jamban.

Tuesday, 2 July 2013

Bagaimana seorang relawan mencegah kekerasan terhadap anak di sekolah di Jawa Tengah

Erry dalam salah satu sesi diskusi grup
tentang pencegahan kekerasan.
© UNICEF Indonesia/2012.
Mencegah kekerasan di sekolah tidaklah mudah dan membutuhkan visi yang kuat, pengetahuan khusus, serta pengalaman dan kesabaran. UNICEF tidak dapat melakukan hal ini sendirian, dan karena itu bekerja dengan pemerintah dan mitra-mitra lainnya. Selain itu, para relawan juga memainkan peran yang sangat besar.

Salah satu contoh terbaik adalah kegiatan yang dilakukan Erry Pratama Putra, seorang pria berusia 37 tahun dari Klaten, Jawa Tengah. Ia pertama kali terlibat dengan UNICEF enam tahun yang lalu, ketika menjadi relawan tanggap darurat pasca gempa di Yogyakarta dan Klaten.

"Memastikan anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, baik di rumah, sekolah atau masyarakat adalah tanggung jawab kita semua. Saya hanya bisa menawarkan jiwa, hati, pikiran, semangat dan idealisme untuk menciptakan dunia yang layak bagi anak-anak - karena masa depan mereka telah dipercayakan kepada kita."

Tuesday, 4 June 2013

Yang penting adalah abilitasnya - UNICEF Indonesia meluncurkan laporan Situasi Anak di Dunia 2013 tentang anak dengan disabilitas

Bersama beberapa pemenang medali emas Olimpiade Khusus dan aktivis-aktivis hak penyandang disabilitas, UNICEF Indonesia meluncurkan laporan State of the World's Children (Situasi Anak di Dunia), bersama dengan Kementerian Sosial dan mitra pemerintah lainnya pada tanggal 30 Mei 2013 kemarin.

"Ketika berbicara tentang anak-anak dengan kebutuhan khusus, kita sering lebih berpikir tentang apa yang mereka TIDAK bisa lakukan, daripada melihat apa yang mereka BISA berikan sebagai kontribusi kepada masyarakat," ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney dalam acara yang berlangsung di gedung Kementerian Sosial, Jakarta.

"Hal ini perlu diubah. Seperti di banyak negara lain, anak dengan disabilitas termasuk anak-anak yang paling terpinggirkan dan tak terlihat di Indonesia. Seringkali orangtua hanya menyembunyikan mereka, karena malu atau tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka."

Angela Kearney dengan Adi (kiri) dan Stephanie (kanan), para pemenang medali emas di Special Olympics© UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Monday, 27 May 2013

Mengintip Proyek UNICEF di Rappocini, Makassar.

Ditulis oleh Dorkas, anggota tim penggalang dana di UNICEF Indonesia.

Tempat yang kami tuju untuk field trip UNICEF tidak seperti dugaanku. Bukan di tempat terpencil yang jauh dari kota, tapi ada di dalam kotanya sendiri, yang menunjukkan kompleksitas dari keragaman ekonomi penduduknya. Kota ini indah namun di dalamnya masih banyak ibu dan anak-anak yang masih kurang dari standarisasi hidup layak dan sejahtera.

Proyek kali ini adalah tentang proyek Urban WASH (Water, Sanitation and Hygiene). Sebelum pergi ke lokasi proyek, mitra UNICEF menjelaskan kepada kami tentang gaya hidup warga yang akan kami kunjungi, keadaan mereka, dan mengapa mereka yang dijadikan sasaran dari proyek ini.

Namun, yah.. sekedar teori bagi telinga tidak akan begitu berarti bukan kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Wednesday, 15 May 2013

Oralit dan Zinc: Solusi sederhana penyelamat nyawa anak-anak.



Veronika sangat lemas karena
kehilangan banyak cairan tubuh
©UNICEF Indonesia/2013/Rob Patmore
Hari masih cukup pagi di Tambolaka, Sumba, ketika Teresia dan suaminya bergegas membawa putri mereka untuk diobati. Veronika dalam keadaan sangat lemah, dan telah kehilangan banyak cairan tubuh. Ketika ia mulai muntah-muntah dan mencret, seorang supir Angkot segera mengantarkan mereka ke Puskesmas setempat.

Usia Veronika adalah 1,5 tahun, dan ia menjadi semakin lemah dengan setiap jam yang berlalu karena diare dan dehidrasi yang dialaminya. Teresia hanya bisa menatap sedih dan memeluk Veronika dengan erat, sambil berharap nyawa putrinya bisa diselamatkan.

"Kami sangat takut dan khawatir," kata Teresia. "Kami pernah mendengar bahwa anak-anak bisa mati dari hanya diare," tambahnya sambil melihat putrinya. Salah satu petugas kesehatan tiba dengan sebuah sachet oralit kecil. Ia juga diberi tablet zinc yang diencerkan dalam satu sendok teh air, yang akan membantunya melawan diare yang bisa mematikan ini.

Dengan setiap tegukan, hidup seolah-olah mengalir kembali ke tubuh mungil Veronika. Hebatnya, hanya dalam beberapa jam, kondisinya membaik secara dramatis dan ia pun bisa tersenyum lagi. Anda dapat membayangkan air mata kelegaan dan kebahagiaan yang mengalir di wajah Teresia saat ia sadar putrinya tidak menderita lagi.

Tuesday, 30 April 2013

Malaria, penyakit yang paling ditakuti seorang ibu


Eta (6 tahun) dan ibunya, Deborah
© UNICEF Indonesia / 2013 / Rob Patmore
Tidak ada perasaan yang lebih sedih bagi seorang ibu daripada berpikir bahwa ia akan kehilangan anaknya.  Namun, di Sumba, salah satu pulau di Indonesia di Nusa Tenggara Timur, terlalu banyak ibu telah menyaksikan anak-anak mereka meninggal  dunia akibat malaria. Malaria terinfeksi melalui gigitan nyamuk yang endemik di pulau Sumba.

Deborah mengerti perasaan ini. Putrinya, Eta, pernah mengalami demam tinggi sampai ia gemetar. "Saya pikir dia akan mati," Deborah ingat bagaimana takutnya ia malam itu.

Eta dibawa ke Puskesmas terdekat dan diambil darahnya untuk di tes. Hasil tes menyatakan ia terkena malaria, dan salah satu jenis yang paling berbahaya.

Monday, 15 April 2013

Bebas malaria juga akan menguntungkan industri pariwisata

"Saya sangat paham tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan malaria", ucap Pak Thamrin Wata, seorang pejabat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan. "Pengetahuan tentang penyakit ini sangat penting untuk pekerjaan saya, karena kita harus melindungi daerah wisata dari malaria agar lebih menarik bagi wisatawan. Sebelum saya bergabung dengan POKJA (kelompok kerja) malaria ini, saya pikir pariwisata hanya bersangkutan dengan penyakit menular seksual dan infeksi HIV. Tapi sekarang saya sadar bahwa malaria juga berperan."

Seorang bayi tidur di bawah kelambu di kabupaten Selayar
© UNICEF Indonesia / 2012 / Asri
Pak Thamrin Wata telah bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1990. Selama ini, ia tidak pernah menerima informasi yang jelas tentang malaria sehingga ia tidak menganggap malaria penyakit serius yang perlu ditakuti.

Pada bulan Oktober 2012, Pak Thamrin Wata menghadiri lokakarya tentang malaria di Makassar, yang disponsori oleh UNICEF bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam lokakarya ini ia belajar bahwa malaria adalah penyakit yang berbahaya, terutama bagi anak-anak dan wanita hamil, jika tidak dikelola dengan benar oleh petugas kesehatan. Ini juga merupakan masalah untuk tempat-tempat tujuan wisata, karena wisatawan, terutama dari luar negri, takut terinfeksi malaria dan lebih memilih untuk bepergian ke daerah-daerah yang bebas dari malaria. Karena hal ini berkaitan secara langsung dengan pekerjaannya di Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan, Pak Thamrin Wata memutuskan untuk menjadi anggota POKJA malaria.

Tuesday, 26 March 2013

Seorang visioner, seorang petani - dan desa yang sehat: bagaimana Galung mengakhiri buang air besar (BAB) sembarangan


Meskipun berlokasi hanya 17 kilometer dari ibu kota kabupaten, Galung adalah desa yang belum berkembang di Kecamatan Barru, di Provinsi Sulawesi Selatan.


Jamban sederhana yang dibuat di Desa Galung
© UNICEF Indonesia / Gerber
140 dari 484 rumah tangga di desa ini sudah lama tidak memiliki akses kepada jamban yang layak, meskipun telah dilakukan upaya untuk mempromosikan kesehatan yang lebih baik. Namun, permintaan untuk sanitasi yang layak semakin tinggi, terutama disebabkan oleh frustrasi terhadap rendahnya penghasilan dibandingkan pembangunan jamban. Terlepas dari tantangan itu, Galung baru saja dinyatakan sebagai desa pertama di kabupaten yang terbebas dari BAB di tempat terbuka. 

Faktor utama keberhasilan ini adalah karena kepala desa yang sangat peduli akan sanitasi, dan adanya seorang pengusaha / pengrajin desa yang kreatif dan bisa membangun jamban yang murah.

Friday, 8 March 2013

Imunisasi untuk semua anak

Febri baru saja menerima dosis ketiga vaksin DPT di Posyandu Nusa
© UNICEF/2012/Gerber
Meskipun hujan turun di pagi hari di desa Nusa di Kabupaten Aceh Besar, sudut paling barat Provinsi Aceh di Indonesia, hal ini tidak mencegah para ibu dari membawa anak-anak mereka ke Posyandu setempat. Karena bangunan itu tidak dapat menampung terlalu banyak orang, Bidan Khairiah dan kader-kader yang membantunya menyambut para ibu dan anak-anak di teras depan, di mana mereka dengan sabar menunggu giliran masing-masing.

Friday, 25 January 2013

Bantuan Untuk Korban Banjir Jakarta


Dukung upaya UNICEF dalam memberikan bantuan kepada para keluarga korban banjir di Jakarta!