Monday, 7 October 2013

Menjembatani kesenjangan: gizi di Indonesia

By Bohdana Szydlik, UNICEF Australia

UNICEF Australia Communication Officer Bohdana Szydlik di sebuah sawah di Klaten. © UNICEF Indonesia/2013/Estey

Setiap pagi saya melewati seorang ibu dan anaknya di sebuah jembatan penyeberangan di Jakarta. Sembari anaknya tidur, sang ibu memegang cangkir plastik untuk meminta recehan, dan bersama mereka menunggu waktu berlalu. Tak jauh dari situ adalah shopping mall berlantai marmer dengan toko-toko mewah seperti yang dapat ditemukan di Paris: Gucci, Topshop, Audi.

Sejak jatuhnya Presiden Soeharto 15 tahun yang lalu, Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Namun, dengan 50 persen populasi masih hidup dengan kurang dari US$ 1,75 per hari, sebagian besar kekayaan Indonesia masih terbatas untuk beberapa pihak saja.


Minggu lalu saya mengunjungi Kabupaten Klaten, sekitar satu jam dari Yogyakarta di Jawa Tengah. Saya bertemu dengan seorang kader kesehatan di desa Dukuh. Ibu Nanai memainkan peran penting dalam sistem kesehatan Indonesia, bertindak sebagai konselor dan sumber pengetahuan untuk para perempuan di komunitasnya. Setiap pagi ia bekerja sebagai pengrajin batik. Setiap batik yang dibuatnya membutuhkan waktu satu hari, dan menghasilkan 3.500 rupiah.

Kerajinan batik yang dibuat Nanai. Ia membuat dan menjual kerajinan ini di pagi hari, lalu mengunjungi rumah-rumah sebagai kader di sore hari. ©UNICEF Indonesia/2013/Estey.

Setelah bekerja, Nanai mengunjungi ibunya di desanya. Saya menemaninya saat ia mengunjungi Solina dan anaknya Amita yang berusia dua tahun. Nanai duduk di teras depan dan mengobrol dengan Solina tentang kesehatan putrinya. "Biasanya makan malam pakai apa?", tanyanya." Ia mengundang kami ke dalam rumahnya dan menunjukkan tempe dan sayuran yang telah ia masak untuk keluarganya. Saya mengobrol dengan ibu mertuanya tentang makanan yang diberikan untuk anaknya. "Nasi dengan gula merah", sebutnya sambil tertawa, pertanda ia mengerti bahwa makanan tersebut memiliki sedikit nilai gizi.

Satu dari tiga anak di Indonesia pertumbuhannya terhambat (stunting), suatu kondisi yang mempengaruhi perkembangan otak dan tubuh anak jika mereka tidak mendapatkan gizi cukup dalam dua tahun pertama. Anak yang mengalami stunting tidak hanya lebih pendek. Mereka juga lebih rentan terkena penyakit dan otak mereka tidak berkembang secara optimal, sehingga mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar.

Para kader menimbang anak saat pengunjungan sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan untuk memastikan anak-anak memiliki berat yang ideal. © UNICEF Indonesia/2013/Estey.

Nanai hanyalah satu dari banyak perempuan inspiratif di Indonesia yang menjembatani kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Seperti yang dikatakan Kofi Annan, "Pengetahuan adalah kekuatan. Informasi adalah pembebasan. Pendidikan adalah premis kemajuan, di setiap masyarakat, di setiap keluarga."

UNICEF membantu pelatihan untuk para kader seperti Nanai tentang menyusui serta pemberian makan bayi dan anak. Dalam pelatihan tersebut, para kader diajarkan bagaimana cara menyiapkan berbagai makanan sehat dengan karbohidrat, protein, sayuran dan kacang-kacangan.

Sebagian besar kader adalah relawan. UNICEF memfasilitasi kursus pelatihan untuk para kader untuk belajar tentang gizi dan menyusui. Para kader kemudian menjadi sumber kunci informasi kesehatan di komunitas mereka. © UNICEF Indonesia/2013/Estey. 

Nanai menghadiri kursus pelatihan ini hampir dua tahun yang lalu, dan sejak itu telah melihat perubahan di desanya.

"Banyak ibu yang datang ke saya untuk cari informasi. Mereka ingin tahu bagaimana menyiapkan makanan untuk anak mereka dan kapan mereka perlu mulai memberikan makanan padat", ucapnya.

"Tadinya ibu-ibu sering beli bubur instan dari pasar. Saya coba nasihatkan mereka untuk memberikan makanan biasa seperti nasi, tempe, tahu, sayuran dan buah-buahan. Kini bahkan para ibu dari keluarga berpenghasilan tinggi membeli makanan segar untuk keluarga dan anak mereka."

Sebuah buku produksi UNICEF yang diberikan kepada para kader untuk membantu menjelaskan pentingnya menyusui dan praktek makan yang sehat kepada orang tua. © UNICEF Indonesia/2013/Estey.

Dengan memberikan pengetahuan kepada para ibu, mulai dari nasihat menyusui hingga cara memasak makanan bergizi, para kader dan perempuan seperti Nanai memberdayakan para ibu, keluarga dan masyarakat untuk memerangi kekurangan gizi.

No comments:

Post a Comment