Oleh: Dinda Veska
Masih ingatkah dengan kisah dua orang anak dari Desa Kenanga* bernama Sari* dan Dewi*? Yang hidupnya berubah dramatis setelah menikah dan melahirkan anak dari laki-laki yang sama. Sari sempat menguangkapkan bahwa ia rindu kehidupan lamanya. "Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada Ibu. Ketika saya masih sekolah, semuanya lebih baik."
Setelah ditinggalkan oleh Hazar – suaminya, Sari menyampaikan kembali keinginannya kepada sang Ibu. Keterbatasan biaya menjadi kendala utama untuk mengembalikan Sari ke sekolah. Ditambah lagi tidak mudah untuk mencari sekolah yang bersedia menerima Sari dengan kondisi sudah pernah menikah dan memiliki anak.
Showing posts with label nusa tenggara timur. Show all posts
Showing posts with label nusa tenggara timur. Show all posts
Thursday, 8 December 2016
Wednesday, 30 November 2016
Suara anak muda menginspirasi solusi di Ende
Posted by
UNICEF Indonesia
Oleh Kate Rose, Communication Specialist, UNICEF Indonesia
“Ayo, maju dan tunjukkan ide kalian” ucap Sulastri dengan senyum terkembang. Hujan turun dengan derasnya di luar tenda terpal biru, tapi itu tidak menyurutkan semangat sekitar 40 orang anak muda yang berkumpul dibawahnya. Begitu jugadengan anggota masyarakat lainnya yang mengelilingi kelompok yang penuh semangat itu, yang menonton pembukaan acara. Sindi maju dan menjelaskan kepada teman sebaya dan orangtuanya tentang rencana tangki air, usulan dari kelompoknya untuk membantu desa mereka.
Sindi dan teman-temannya telah menjadi bagian dari Lingkaran Remaja di desa mereka selama beberapa bulan. Ini adalah kelompok yang dijalankan oleh relawan fasilitator Sulastri dan merupakan kesempatan bagi semua anak untuk berkumpul, bersenang-senang, mempelajari hal baru dan terlibat dalam beragam cara. Salah satu aktivitasnya adalah kerja sama dengan UNICEF melalui mitra lokal Child Fund, yang berusaha melibatkan anak-anak untuk mencari solusi bagi masalah yang memengaruhi masyarakat mereka.
Indonesia adalah negara dengan keberagamannya, tempat bencana alam sering terjadi, mulai dari banjir lokal hingga gempa bumi yang menghancurkan segalanya. Di banyak wilayah, bencana alam terjadi dalam skala yang cukup kecil, dan seringkali sulit diduga kapan dan di mana terjadinya. UNICEF bekerja sama dengan Lingkaran Remaja, yang umumnya berada dalam Forum Anak Desa atau Kota, seperti kelompok Sulastri untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah-masalah yang memengaruhi anak-anak dan untuk mengembangkan ide-ide baru tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Ada sejumlah forum anak di Ende, Pulau Flores, semuanya dijalankan oleh relawan muda seperti Sulastri, dan semuanya diundang hari ini untuk membagikan ide yang telah mereka kembangkan.
“Ayo, maju dan tunjukkan ide kalian” ucap Sulastri dengan senyum terkembang. Hujan turun dengan derasnya di luar tenda terpal biru, tapi itu tidak menyurutkan semangat sekitar 40 orang anak muda yang berkumpul dibawahnya. Begitu jugadengan anggota masyarakat lainnya yang mengelilingi kelompok yang penuh semangat itu, yang menonton pembukaan acara. Sindi maju dan menjelaskan kepada teman sebaya dan orangtuanya tentang rencana tangki air, usulan dari kelompoknya untuk membantu desa mereka.
![]() |
| Sindi mempresentasikan desain tangki air. © UNICEF Indonesia / 2016 |
Indonesia adalah negara dengan keberagamannya, tempat bencana alam sering terjadi, mulai dari banjir lokal hingga gempa bumi yang menghancurkan segalanya. Di banyak wilayah, bencana alam terjadi dalam skala yang cukup kecil, dan seringkali sulit diduga kapan dan di mana terjadinya. UNICEF bekerja sama dengan Lingkaran Remaja, yang umumnya berada dalam Forum Anak Desa atau Kota, seperti kelompok Sulastri untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah-masalah yang memengaruhi anak-anak dan untuk mengembangkan ide-ide baru tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
Ada sejumlah forum anak di Ende, Pulau Flores, semuanya dijalankan oleh relawan muda seperti Sulastri, dan semuanya diundang hari ini untuk membagikan ide yang telah mereka kembangkan.
Monday, 31 October 2016
Menggunakan setiap kesempatan untuk menemukan anak-anak yang sangat membutuhkan perawatan kesehatan
Posted by
UNICEF Indonesia
| Marthen sembuh dari kekurangan gizi parah akut (sangat kurus). ©UNICEF Indonesia/2016/Ha’i Raga Lawa |
Ketika seorang petugas kesehatan menemukan Marthen kecil terbaring di ruang gelap di rumah kakek dan neneknya, dia tahu Marthen sangat membutuhkan perawatan medis. Keadaan Marthen yang tidak berdaya, menyedihkan, dan sangat kurus , sangat membahayakan hidup dan kesehatan Marthen.
Marthen saat itu sedang dirawat oleh neneknya di Desa Poto di Indonesia timur. Ibunya baru saja melahirkan bayi laki-laki lagi, dan ayahnya sedang mencari uang untuk menghidupi dan merawat keluarganya.
Masalah kesehatan Marthen mulai muncul enam bulan yang lalu ketika dia baru saja berusia satu tahun. Dia terserang demam dan batuk di rumah orang tuanya. Karena kakek dan neneknya percaya bahwa penyebab penyakit Marthen adalah ilmu gaib, mereka memaksa kedua orang tua belia ini untuk mencari kelompok doa, bukan petugas kesehatan, untuk menyembuhkan Marthen.
Selama enam bulan berikutnya setelah mengunjungi beberapa kelompok doa yang berbeda, kondisi malah Marthen makin memburuk. Dia kehilangan selera makan dan berat badannya semakin menurun. Dia juga menjadi sangat lemah dan tak berdaya.
Monday, 13 June 2016
Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang
Posted by
UNICEF Indonesia
Oleh: Asrifakhru Rozi Batubara, UNICEF Fundraiser
Menjadi seorang fundraiser untuk program perbaikan gizi anak-anak Indonesia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi ada tanggung jawab dan komitmen yang digantungkan UNICEF kepada saya, di sisi lainnya menawarkan kepercayaan kepada para donatur di kota besar seperti Surabaya juga menjadi tantangan yang luar biasa. Ada beban besar yang hampir setiap hari saya rasakan.
Tetapi kemudian, beban itu menyala menjadi api semangat di 18 Februari kemarin. Ketika saya berkesempatan melihat secara langsung program perbaikan gizi buruk yang diinisiasi oleh UNICEF, tepatnya di wilayah kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Di Desa Obelo saya bertemu dengan seorang Ibu bernama Ruth Kiki. Sudah enam bulan lamanya beliau mendedikasikan diri untuk menjadi relawan di Posyandu Kesra. Tugas Ibu Ruth mungkin mudah untuk dilakukan, mulai dari menimbang berat badan dan lingkar lengan balita, kemudian konseling. Semua itu dilakukan setiap bulan untuk memastikan semua balita di lingkungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang seharusnya.
Tetapi ada hal lain yang saya pelajari dari Ibu Ruth. Motivasinya yang sangat tinggi demi membantu sekitar cukup untuk menggetarkan hati seorang pemuda kota seperti saya. Inilah yang beliau katakan: “Saya prihatin dengan kondisi balita disini,karena kurangnya pemahaman ibu mereka tentang bagaimana merawat anak dengan baik. Saya ingin sekali melihat balita disini sehat, ceria dan memiliki masa depan yang lebih baik”.
Monday, 4 April 2016
Memberantas Gizi Buruk di Indonesia: ‘Anak-anak saya menangis untuk hidup – bukan mati’
Posted by
UNICEF Indonesia
Beberapa bulan yang lalu, si kembar Randy dan Rendy Tabun yang berusia dua tahun tampak rapuh, mengalami penurunan kesadaran dan terlihat sangat kurus. Mereka mengalami kekurangan gizi dan terus berbaring di atas pangkuan ibu mereka, tidak mampu berdiri atau berjalan sendiri.
Seorang perawat di desa mereka, yaitu desa Nitneo di Kabupaten Kupang, mendengar tentang hal tersebut, dan menjadikan kedua anak itu dua pasien pertama sebuah program baru untuk menangani balita sangat kurus.
Di Indonesia, kekurangan gizi yang dialami balita sangat kurus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius. Lebih dari 12 persen adalah balita kurus. Terdapat 1,3 juta balita sangat kurus di Indonesia, sementara 1,6 juta balita masuk kategori kurus (moderat). Dengan angka ini, Indonesia berada pada peringkat ke-empat dunia dalam jumlah balita kurus.
Monday, 11 January 2016
Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba
Posted by
UNICEF Indonesia
Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer
Seorang pendeta setempat di desa Kadahang, Sumba (NTT) akan menyampaikan khotbah yang paling sulit, yaitu tentang buang air besar. Hari ini, Pendeta Charles Detha tidak akan berbicara kepada jemaatnya tentang kesucian atau amal. Tetapi, ia akan berbicara tentang buang air besar.
Indonesia berada dalam cengkeraman krisis buang air besar sembarangan. Lebih dari 51 juta orang tidak menggunakan toilet. Angka ini merupakan angka tertinggi kedua di dunia setelah India. Pengaruhnya terhadap masyarakat dan terutama terhadap anak-anak sangat luar biasa. Praktek tersebut menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Pulau Sumba sangat dipengaruhi oleh krisis ini. Dan isu dalam skala tersebut memerlukan solusi inovatif. Oleh karena itu, UNICEF bekerja secara langsung dengan para tokoh agama di daerah yang sangat taat ini untuk membantu menyampaikan pesan.
"Sekarang kami tahu bahwa buang air besar sembarangan berbahaya bagi kesehatan anak-anak," kata Pendeta Charles, yang telah mengikuti program-program yang difasilitasi oleh UNICEF dengan tujuan untuk mengakhiri buang air besar sembarangan. "Buang air besar sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, kami harus terlibat, kami harus bicara."
![]() |
| Pendeta Charles Detha mendidik penduduk desa tentang topik yang tidak nyaman untuk dibicarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker |
Seorang pendeta setempat di desa Kadahang, Sumba (NTT) akan menyampaikan khotbah yang paling sulit, yaitu tentang buang air besar. Hari ini, Pendeta Charles Detha tidak akan berbicara kepada jemaatnya tentang kesucian atau amal. Tetapi, ia akan berbicara tentang buang air besar.
Indonesia berada dalam cengkeraman krisis buang air besar sembarangan. Lebih dari 51 juta orang tidak menggunakan toilet. Angka ini merupakan angka tertinggi kedua di dunia setelah India. Pengaruhnya terhadap masyarakat dan terutama terhadap anak-anak sangat luar biasa. Praktek tersebut menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.
Pulau Sumba sangat dipengaruhi oleh krisis ini. Dan isu dalam skala tersebut memerlukan solusi inovatif. Oleh karena itu, UNICEF bekerja secara langsung dengan para tokoh agama di daerah yang sangat taat ini untuk membantu menyampaikan pesan.
"Sekarang kami tahu bahwa buang air besar sembarangan berbahaya bagi kesehatan anak-anak," kata Pendeta Charles, yang telah mengikuti program-program yang difasilitasi oleh UNICEF dengan tujuan untuk mengakhiri buang air besar sembarangan. "Buang air besar sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, kami harus terlibat, kami harus bicara."
Thursday, 6 November 2014
“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”
Posted by
UNICEF Indonesia
By Ermi Ndoen - Health (Malaria/EPID) Officer
Pulau Sumba, Oktober
2014 – Martinus Lende Walu (48) merasa dirinya sangat beruntung. Ia hampir
kehilangan nyawa akibat malaria seperti dua orang tetangganya, namun hanya ia
yang selamat. Sejak saat itu, ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu
melindungi dirinya dengan menggunakan kelambu nyamuk berinsektisida.
Desa asalnya, Kampung Langgar, adalah salah satu desa adat
di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di desa ini, sekitar 200
orang tinggal bersama di 13 rumah adat di sekeliling kuburan-kuburan megalitik.
Masing-masing kuburan dimiliki oleh sekelompok keluarga.
Pulau Sumba sering dikunjungi wisatawan karena rumah adat,
kuburan megalitik, kain ikat, pasola
(kompetisi tombak dan kuda tradisional), serta pantainya yang indah. Namun
semua ini dibayangi oleh tingginya tingkat malaria di pulau tersebut.
Tuesday, 24 September 2013
Kisah Si Kecil Neni
Posted by
UNICEF Indonesia
By Dorian Druelle, UNICEF France
Neni adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun, namun ia terlihat seperti berusia 7 atau 8 tahun. Tubuhnya yang pendek dibandingkan anak-anak seusianya merujuk pada kondisi stunting (pendek menurut usia) akibat gizi buruk yang dialami oleh sebagian anak-anak balita di daerahnya dan sepertiga anak-anak di Indonesia. Namun bertentangan dengan kondisi fisiknya, Neni terlihat bersinar dengan senyumnya yang lebar dan mata yang memancarkan semangat.
![]() |
| Neni (tengah) tersenyum bersama teman-teman sekelasnya karena ia sudah tidak pernah lagi terkena gejala diare ©UNICEF Indonesia/2013/Druelle |
Neni adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun, namun ia terlihat seperti berusia 7 atau 8 tahun. Tubuhnya yang pendek dibandingkan anak-anak seusianya merujuk pada kondisi stunting (pendek menurut usia) akibat gizi buruk yang dialami oleh sebagian anak-anak balita di daerahnya dan sepertiga anak-anak di Indonesia. Namun bertentangan dengan kondisi fisiknya, Neni terlihat bersinar dengan senyumnya yang lebar dan mata yang memancarkan semangat.
Wednesday, 15 May 2013
Oralit dan Zinc: Solusi sederhana penyelamat nyawa anak-anak.
Posted by
UNICEF Indonesia
![]() |
| Veronika sangat lemas karena kehilangan banyak cairan tubuh ©UNICEF Indonesia/2013/Rob Patmore |
Usia Veronika adalah 1,5 tahun, dan ia menjadi semakin lemah dengan setiap jam yang berlalu karena diare dan dehidrasi yang dialaminya. Teresia hanya bisa menatap sedih dan memeluk Veronika dengan erat, sambil berharap nyawa putrinya bisa diselamatkan.
"Kami sangat takut dan khawatir," kata Teresia. "Kami pernah mendengar bahwa anak-anak bisa mati dari hanya diare," tambahnya sambil melihat putrinya. Salah satu petugas kesehatan tiba dengan sebuah sachet oralit kecil. Ia juga diberi tablet zinc yang diencerkan dalam satu sendok teh air, yang akan membantunya melawan diare yang bisa mematikan ini.
Dengan setiap tegukan, hidup seolah-olah mengalir kembali ke tubuh mungil Veronika. Hebatnya, hanya dalam beberapa jam, kondisinya membaik secara dramatis dan ia pun bisa tersenyum lagi. Anda dapat membayangkan air mata kelegaan dan kebahagiaan yang mengalir di wajah Teresia saat ia sadar putrinya tidak menderita lagi.
Tuesday, 30 April 2013
Malaria, penyakit yang paling ditakuti seorang ibu
Posted by
UNICEF Indonesia
| Eta (6 tahun) dan ibunya, Deborah © UNICEF Indonesia / 2013 / Rob Patmore |
Deborah mengerti perasaan ini. Putrinya, Eta, pernah mengalami demam tinggi sampai ia gemetar. "Saya pikir dia akan mati," Deborah ingat bagaimana takutnya ia malam itu.
Eta dibawa ke Puskesmas terdekat dan diambil darahnya untuk di tes. Hasil tes menyatakan ia terkena malaria, dan salah satu jenis yang paling berbahaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)






