Annual Report

Showing posts with label air bersih dan sanitasi. Show all posts
Showing posts with label air bersih dan sanitasi. Show all posts

Wednesday, 1 August 2018

Susah Air


Oleh: Firza Daud, Fundraiser Coordinator UNICEF Indonesia

Sumba adalah salah satu pulau yang kini menjadi destinasi wajib untuk dikunjungi oleh para petualang di Indonesia.

Ironisnya di balik semua lanskap keindahan yang tersaji di pulau Sumba, masih juga ditemukan beberapa kesulitan terutama yang berhubungan dengan kebutuhan pokok hidup, yang ada di pulau yang secara administratif menjadi bagian dari wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur.

Salah 1 kesulitan yang hingga saat ini masih menjadi masalah utama di pulau Sumba adalah tentang pasokan air bersih dan sanitasi. Kedua hal ini akan sangat erat berkaitan terutama dalam kehidupan sehari-hari, karena apabila kebutuhan air bersih untuk sebuah komunitas masyarakat di suatu daerah tidak dapat tercukupi dengan baik maka bisa dipastikan sanitasi yang ada di wilayah itu secara otomatis akan ikut terkena dampaknya. Dan dampaknya  tidak bisa dipungkiri, anak-anak akan menjadi salah 1 korban yang paling dirugikan sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang ada di wilayah tersebut.

Tuesday, 9 February 2016

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Oleh Ita, Fasilitator WASH Kabupaten Sumba Timur

Perwakilan 49 Marga di Kecamatan KAHALI  melakukan Sumpah Adat untuk mempertahankan status SBS.

Katala Hamu Lingu (KAHALI) adalah salah satu dari 22 kecamatan di Sumba Timur yang menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan juga kecamatan pertama yang meraih status SBS di Sumba Timur, NTT.

Pada acara deklarasi SBS tersebut, Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI mengatakan bahwa “Program Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan kegiatan yang positif dalam mendukung Program Kecamatan KAHALI Berhias, yang menitikberatkan pada keindahan dan kebersihan. Deklarasi yang akan diwarnai sumpah adat ini merupakan janji yang sakral dari masyarakat KAHALI untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai Kecamatan bebas buang air besar sembarangan."

Monday, 4 January 2016

Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Masa Depan Vikensa Hamakonda sedikit lebih cerah. ©UNICEF Indonesia/2015/NickBaker

Vikensa Hamakonda, anak usia sepuluh bulan melihat tambahan ruangan baru untuk rumah keluarganya dengan penuh keingintahuan. Tambahan ruangan baru tersebut adalah toilet di luar rumah yang dibuat dari bambu dan seng. Akan tetapi, bangunan sederhana ini mungkin akan dapat menyelamatkan hidup Vikensa.

Di Pulau Sumba (NTT), buang air besar sembarangan merupakan praktek yang telah diterima oleh  sebagian besar orang. Banyak orang tidak mengetahui bahwa buang air besar sembarangan membahayakan kehidupan anak-anak di Indonesia.

Patogen dari kotoran di tempat terbuka dapat dengan mudah masuk ke rantai makanan dan air konsumsi masyarakat. Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, yang secara khusus mempengaruhi anak-anak.

Di Sumba, ada banyak cerita tentang anak-anak yang meninggal karena diare – yang mungkin disebabkan oleh sanitasi buruk. Buruknya sanitasi juga berdampak pada pertumbuhan anak-anak karena terkait dengan tingginya angka gizi kurang.

UNICEF mendukung sejumlah program untuk mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba. Salah satu program tersebut adalah membantu petugas kesehatan setempat untuk mengadakan "sesi pemicuan". Sesi pemicu merupakan sebuah proses merubah perilaku sanitasi dan hygiene masyarakat di setiap desa. Sesi tersebut melibatkan demonstrasi dramatis tentang bagaimana kotoran di tempat terbuka dapat menyebabkan anak sakit.

Belakangan ini, sesi pemicu diadakan di desa Vikensa. Ayah Vikensa, Letu, mengikuti sesi tersebut. "Ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa," katanya." Saya belajar bagaimana kuman dari kotoran dari luar rumah bisa hinggap di makanan keluarga saya." Pesan terakhirnya sederhana: bangun dan gunakan toilet.

Program ini menimbulkan dampak berkelanjutan terhadap Letu. Sebelumnya, keluarga Letu buang air besar di area terbuka di belakang rumah mereka. Tetapi sekarang tidak lagi. Letu sudah membangun toilet. Dan banyak penduduk desa lainnya melakukan hal yang sama.

Ini berarti anak-anak seperti Vikensa akan terbantu dalam memperoleh awal kehidupan  yang terbaik bagi mereka.

Monday, 30 March 2015

Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer

Sanitarian Dangga Mesa menghadiri sebuah rapat desa di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah pagi yang luar biasa sibuk di desa Matapywu di pulau Sumba (NTT). Semua kepala keluarga telah diajak berkumpul untuk sebuah pertemuan penting. Kursi-kursi diduduki, kopi disajikan, dan topik pertemuan pun diumumkan: toilet.

Pertemuan tentang topik yang tidak biasa ini sekarang cukup umum di sekitar pulau tersebut. Matapywu hanyalah satu dari banyak desa yang baru-baru ini menjalani sesi pemicuan yang didukung oleh UNICEF. Lokakarya ini bertujuan untuk mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.

Sekarang adalah saatnya untuk mengecek perkembangan. Seorang sanitarian, Dangga Mesa, membahas kemajuan sejak ia mengadakan sesi pemicuan beberapa bulan yang lalu. Dangga tampak senang dengan hasilnya.

Saturday, 20 December 2014

Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”


Para siswa SD Muhammadiyah 1 Banda Aceh menggunakan tandu untuk mengangkat seorang 'korban' dalam latihan untuk menghadapi gempa. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

BANDA ACEH, Indonesia, October 2014 – Bayangkan situasi ini: Minggu pagi di akhir bulan Desember di Banda Aceh, Anda dibangunkan oleh gempa bumi besar.

Tak lama kemudian Anda berlari menyelamatkan diri dari sapuan air bah tsunami,yang meratakan hampir semua yang dilewatinya. Anda tidak tahu di mana anggota keluarga Anda berada, hanya bagaimana menyelamatkan diri dengan mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang ada di benak Anda. Akhirnya Anda mencapai puncak sebuah bukit, bersama dengan orang-orang lain yang telah terluka dalam perjuangan mereka untuk melarikan diri dari tsunami.

Di atas bukit tersebut Anda melihat kehancuran yang dialami kota Banda Aceh. Pohon, rumah dan jalanan tersapu bersih. Reruntuhan, potongan besi, dahan-dahan pohon… serta mayat berserakan dimana-mana. Anda telah kehilangan segalanya, dan bahkan tidak tahu apabila keluarga Anda selamat. Semua infrastruktur hilang. Ketika Anda mulai menyadari apa yang telah terjadi, Anda berpikir: Meskipun saya selamat, bisakah saya mendapatkan makanan dan minuman? Di mana saya akan tidur?

Tuesday, 24 September 2013

Kisah Si Kecil Neni

By Dorian Druelle, UNICEF France

Neni (tengah) tersenyum bersama teman-teman sekelasnya karena ia sudah tidak pernah lagi terkena gejala diare
©UNICEF Indonesia/2013/Druelle

Neni adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun, namun ia terlihat seperti berusia 7 atau 8 tahun. Tubuhnya yang pendek dibandingkan anak-anak seusianya merujuk pada kondisi stunting (pendek menurut usia) akibat gizi buruk yang dialami oleh sebagian anak-anak balita di daerahnya dan sepertiga anak-anak di Indonesia. Namun bertentangan dengan kondisi fisiknya, Neni terlihat bersinar dengan senyumnya yang lebar dan mata yang memancarkan semangat.