Monday, 13 June 2016

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Oleh: Asrifakhru Rozi Batubara, UNICEF Fundraiser 

Menjadi seorang fundraiser untuk program  perbaikan gizi anak-anak Indonesia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi ada tanggung jawab dan komitmen yang digantungkan UNICEF kepada saya, di sisi lainnya menawarkan kepercayaan kepada para donatur di kota besar seperti Surabaya juga menjadi tantangan yang luar biasa. Ada beban besar yang hampir setiap hari saya rasakan.

Tetapi kemudian, beban itu menyala menjadi api semangat di 18 Februari kemarin. Ketika saya berkesempatan melihat secara langsung program perbaikan gizi buruk yang diinisiasi oleh UNICEF, tepatnya di wilayah kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di Desa Obelo saya bertemu dengan seorang Ibu bernama Ruth Kiki. Sudah enam bulan lamanya beliau mendedikasikan diri untuk menjadi relawan di Posyandu Kesra. Tugas Ibu Ruth mungkin mudah untuk dilakukan, mulai dari menimbang berat badan dan lingkar lengan balita, kemudian konseling. Semua itu dilakukan setiap bulan untuk memastikan semua balita di lingkungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang seharusnya.

Tetapi ada hal lain yang saya pelajari dari Ibu Ruth. Motivasinya yang sangat tinggi demi membantu sekitar cukup untuk menggetarkan hati seorang pemuda kota seperti saya. Inilah yang beliau katakan: “Saya prihatin dengan kondisi balita disini,karena kurangnya pemahaman ibu mereka tentang bagaimana merawat anak dengan baik. Saya ingin sekali melihat balita disini sehat, ceria dan memiliki masa depan yang lebih baik”.


Ada keyakinan yang tumbuh di dalam diri saya setelah mendengar ucapan Ibu Ruth. Bahwa program pelatihan yang difasilitasi oleh UNICEF dan Action Contre La Faim (ACF) ini tidak hanya memberi manfaat-manfaat teknis. Seperti peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI. Tetapi juga ada hal-hal di luar teknis yang jauh lebih berdampak pada perubahan prilaku masyarakat. Saya yakin, ke depan akan ada Ibu Ruth lainnya yang kemudian juga termotivasi untuk menjadi relawan di Posyandu.

Sayangnya, perbaikan gizi buruk menjadi tugas yang tidak mudah bagi relawan di Kupang. Mengingat data survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim  ( ACF ) menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut ( sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka). Ditambah lagi, menurut Ibu Kepala Puskesmas Baktate di Pos PGBM (Penanganan Gizi Buruk Berbasis Masyarakat). Ada beberapa kendala yang menyebabkan program ini belum berjalan maksimal, di antaranya:

  • Latar belakang pendidikan orang tua masih rendah
  • Usia pernikahan yang sangat muda 
  • Kesadaran dan prilaku masyarakat akan kesehatan masih rendah

Di PUSTU (Puskesmas Pembantu) Nitneo yang berjarak 30 menit dari Batakte, saya berjumpa dengan dua balita kembar penderita gizi buruk yang sedang dalam pengawasan UNICEF dan pihak puskesmas sejak November 2015. Selama kurun waktu 3 bulan Randi dan Rendi diberikan eeZeepaste, adalah makanan pengganti berisi kandungan gizi yang dibutuhkan balita. Saat ini mereka mengalami perkembangan yang cukup baik, terlihat dari penambahan berat badannya.

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth menjadi penyala untuk saya tetap bersemangat melakukan fundraising. Mereka akan menjadi terang untuk saya menemukan tangan-tangan baik berikutnya di Surabaya. Semoga salah satunya adalah anda.