Annual Report

Showing posts with label inovasi. Show all posts
Showing posts with label inovasi. Show all posts

Sunday, 23 October 2016

Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Oleh: M. Ilham Akbar Junior

Pertemuan lima tahunan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang aktif di satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) tingkat nasional akan digelar pada 17-23 Oktober 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Serut, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dalam bentuk perkemahan bakti ini  disebut Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Bakti Husada Tingkat Nasional ke V (PERTINAS SBH 2016).

Pada kegiatan perkemahan ini UNICEF ikut andil dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dalam beberapa segmen: pendirian booth informasi kerjasama, dukungan material peraga untuk pendalaman krida Bina Lingkungan Sehat dalam platform WASH dan pendalaman krida Bina Gizi Sehat dalam platform Adolescent Nutrition. Dimana seluruh kerjasama ini didasarkan oleh cita-cita pengabdian yang selaras antara Gerakan Pramuka dan UNICEF, diharapkan melalui kerjasama ini potensi kemanfaatan dari kedua organisasi tersebut dapat tercapai. Dengan tagline “Pramuka adalah sebagai agen perubahan” diharapkan setiap pribadi Pramuka bisa menjadi contoh yang bagus di masyarakat untuk turut mensukseskan program-program UNICEF yang memiliki pengaruh positif dan perubahan pada masyarakat.

PERTINAS SBH 2016 dibuka oleh Wakil Gurbernur Gus Ipul dan Bupati Blitar Bpk. Krijanto.

Pada hari pertama pelaksanaan PERTINAS SBH 2016, sejak pagi hari sudah terlihat aktivitas pada booth UNICEF, dari divisi Nutrition UNICEF melakukan kegiatan pre-test material dari modul nutrition dengan mengundang kakak-kakak Pramuka untuk berdiskusi mengenai materi yang terkandung dalam modul pelatihan gizi untuk pramuka yang direncanakan akan digunakan pada aktivitas follow up pasca Pertinas SBH 2016. Diskusi tersebut dilakukan dengan proses reading materi oleh Pramuka, lalu dari pihak Pramuka akan memberikan opini dari sudut pandang mereka masing masing. Dari diskusi tersebut didapatkan beberapa point yang bisa digunakan sebagai bahan improvement untuk materi Nutrition kedepannya.

Thursday, 23 June 2016

Laporan baru menyoroti perspektif orang muda mengenai Mutilasi Genital Perempuan


Hampir separuh dari orang muda yang berusia antara 13 dan 24 tahun di  Indonesia menganggap bahwa mutilasi genital perempuan (FGM) harus dilarang, menurut sebuah jajak pendapat online yang dilakukan oleh UNICEF melalui platform media sosial U-Report.

Laporan menemukan bahwa 44 persen responden menganggap bahwa praktek tersebut harus dihentikan dan 22 persen menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia atau dapat  mengakibatkan konsekuensi kesehatan negatif. Lebih dari separuh responden (54 persen) menganggap bahwa FGM adalah suatu praktek keagamaan atau budaya.

“Kami menganggap bahwa temuan ini adalah indikasi penting bahwa anak-anak dan orang muda tertarik untuk membicarakan topik ini lebih lanjut dan sejumlah signifikan peserta mengharapkan bahwa para pelaku seperti kita semua membantu untuk mengakhiri praktek tersebut,” kata Lauren Rumble, Deputi Wakil UNICEF Indonesia. “Kami dapat menganggapnya sebagai panggilan untuk bertindak dari orang muda sendiri, bekerja sama dengan para tokoh agama dan budaya serta pelaku lainnya."

Lebih dari 3,000 tanggapan telah diterima dari orang yang sebagian besar tinggal di kota urban yang mengambil bagian dalam penelitian. Responden menjawab pertanyaan melalui platform polling @Ureport_ID berbasis Twitter dari UNICEF Indonesia.

Laporan tersebut merekomendasikan untuk meningkatkan jumlah informasi kepada orang muda beserta orang tua mengenai FGM, melakukan kampanye informasi publik mengenai praktek tersebut, serta melibatkan tokoh agama dan para pemimpin masyarakat maupun orang muda untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini.

Laporan media sosial mengikuti rilis pertama mengenai data yang meneliti FGM di Indonesia, yang menunjukkan bahwa sekitar setengah dari anak perempuan berusia 11 tahun dan lebih muda telah mengalami praktek tersebut. Pemerintah Indonesia telah mengumpulkan data melalui suatu survei rumah tangga bersama UNICEF Indonesia, dalam kolaborasi dengan Kantor Pusat UNICEF di New York, telah merilis data tersebut dalam bulan Februari 2016 pada Hari International Nol Toleransi bagi FGM / C.

Untuk membaca laporan lengkap, klik di sini.

Thursday, 26 May 2016

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Wednesday, 25 May 2016

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

Oleh Kelly Wilson, Ketua, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saya belum pernah pergi ke tempat seperti ini; suatu negara dengan dua dunia yang benar-benar berbeda, dan dua dunia itu tumpang tindih satu di atas yang lainnya, bertabrakan antar ruang dan berebut sumber daya, waktu dan perhatian. Indonesia menghadapi tantangan-tantangan sebagai negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan di saat yang sama masih mencoba memecahkan masalah-masalah terkait negara dunia-ketiga. Yang mengejutkan, tampaknya tidak ada pemisah fisik antara si sangat kaya dan si miskin; daerah kumuh di samping gedung mewah, bangunan terbengkalai di samping pencakar langit yang mentereng, buang air besar di depan monumen pemerintah. Indonesia memiliki PDB ke-16 terbesar di dunia dan negara ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara, namun gelombang itu tidak mengangkat semua perahu, dan Indonesia melempar semua itu tepat ke muka Anda.

Di hari pertama, kami mengunjungi daerah kumuh yang dibangun di atas Tempat Pembuangan Akhir. Tidak ada yang dapat membuat Anda siap menghadapi kebas yang Anda rasakan karena melihat banyak sekali rumah-rumah keluarga dikelilingi oleh sampah, remaja-remaja tanpa sepatu mengetik pada telepon seluler terbaru dan anak-anak kecil menggaruk-garuk kepala karena kutu rambut. Dan saat kau pikir otakmu sudah terlalu penuh, seorang anak berlari ke arahmu dan mencium tanganmu. Berada di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan sampah, dia tersenyum. Dia bersama keluarganya, dan dia bahagia. Dengan manis saya teringat pada rasa kemanusiaan yang teguh dari anak-anak dan mengapa mereka berhak menerima tidak kurang dari perlindungan dan dukungan kita, tidak peduli betapa rumit penyelesaiannya.

Monday, 23 May 2016

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Oleh Casey Rotter, Pendiri Next Generation UNICEF


Untuk saya, melakukan perjalanan dengan UNICEF Indonesia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa untuk dapat melihat langsung pekerjaan hebat yang dilakukan UNICEF dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang kehidupannya telah diubah -- bahkan diselamatkan -- terima kasih pada organisasi yang hebat ini, tapi hal ini juga istimewa untuk saya sebagai anggota staf untuk menyaksikan anggota-anggota NextGen kami mengalami langsung kegiatan UNICEF untuk pertama kalinya. Melihat pendonor benar-benar menyerap sifat dan kedalaman kegiatan UNICEF dengan berada di lapangan adalah istimewa adanya.  Setelah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi, anggota-anggota NextGen yang berdedikasi ini akhirnya dapat memberikan wajah dan nama mereka pada staf yang mereka dukung dan anak-anak yang hidupnya telah diubah oleh usaha pengumpulan dana dan dana pribadi mereka.

Inilah maksud utama kunjungan lapangan para pendonor ini. Tidak peduli seberapa banyak yang kau pikir kau tahu tentang UNICEF, tidak ada yang lebih baik dari bertemu dengan staf yang bekerja di lapangan setiap harinya, menghabiskan hari dengan rekanan pemerintah dan benar-benar memperoleh pemahaman tentang betapa mereka mempercayai dan menghargai kata-kata dan kemitraan UNICEF, mendengarkan advokasi remaja tentang hak-hak rekan-rekannya, dan melihat ke dalam mata seorang ibu saat ia berkata bahwa jika bukan karena dukungan UNICEF untuk Posyandunya, bayi yang tersenyum di gendongannya tidak akan ada di sini hari ini.

Melihat sang ibu menahan air matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, dan adalah sesuatu yang menggerakkan kami agar bekerja lebih baik lagi untuk UNICEF. Untuk semua pengalaman ini, kami selamanya berterima kasih. Jadi, TERIMA KASIH untuk UNICEF Indonesia, rekan UNICEF di negara ini, semua sukarelawan luar biasa yang kami temui dan seluruh keluarga NextGen yang mendukung kegiatan luar biasa ini.

***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3

Friday, 20 May 2016

Mengapa UNICEF?

Oleh Leila Ladjevardian, Next Generation di New York 


Next Generation UNICEF adalah suatu kelompok luar biasa yang terdiri dari kaum profesional muda dengan kesempatan yang unik untuk menyumbangkan waktu, dana dan tenaga mereka untuk membantu anak-anak paling rentan di dunia. Saya telah bergabung dengan NextGen selama hampir lima tahun sekarang, dan saat ini saya bertugas sebagai Wakil Ketua New York Steering Committee.

Saya mendedikasikan banyak waktu luang saya untuk tujuan-tujuan dan langkah-langkah melalui penyelenggaraan penggalangan dana, berkontribusi dalam program kegiatan-kegiatan dan merekrut anggota baru. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah, "Mengapa UNICEF?"

Di masa lalu, jawaban saya adalah: "UNICEF adalah organisasi internasional yang menempatkan anak-anak di urutan pertama.  Tidak peduli tentang politik, tidak peduli seberapa mengerikan situasinya -- UNICEF bekerja dengan pemerintahan lokal untuk memastikan anak-anak diperhatikan. Saya adalah generasi pertama orang Iran-Amerika dan menghargai keanggotaan internasional organisasi ini. Sebagai tambahan, ibu saya telah sangat terlibat dalam UNICEF selama bertahun-tahun, yang membuat saya dapat membangun hubungan dengan organisasi ini sejak usia dini."

Thursday, 19 May 2016

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Oleh Bonner Campbell, Next Generation di Los Angeles 

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah laporan orang-pertama tentang kegiatan mereka di Indonesia. 


Hal pertama yang menyentak saya saat mendarat adalah panasnya. Bahkan di malam hari, Jakarta adalah kota yang gerah dengan suhu 80°F (27 derajat Celsius). Saya di sini selama satu minggu dengan anggota NextGen lainnya untuk melakukan kunjungan lapangan untuk program-program kegiatan UNICEF. Indonesia adalah negara pertama tempat diadakannya dua lab inovasi terpisah dari UNICEF: satu di Jakarta, ibu kota negara yang sangat sibuk, dan satu di Kupang, sebuah kota di pulau Timor.

Aku terbujuk oleh konsep sebuah "lab inovasi". Lab-lab inovasi di Indonesia berfokus pada keterlibatan remaja dan pemuda dan juga tanggap darurat. Lab-lab ini melibatkan siswa-siswa dari Global Design for UNICEF Challenge dan mengeksplorasi beragam isu seperti pencatatan kelahiran dan tanggap bencana.

Walaupun telah diperoleh kemajuan dalam hal perlawanan terhadap kemiskinan, masih banyak yang harus dilakukan dan ide-ide inovatif sangatlah penting. Saya di sini untuk melihat cara UNICEF memperluas sumber daya yang terbatas dan memastikan kami membelanjakan dana kami di area yang akan memberikan dampak terbesar. Lebih jauh lagi, bagaimana saya dapat menginspirasi orang-orang di tempat asal saya untuk mempercayai pentingnya yang terjadi di belahan bumi lainnya, bagi mereka dan masa depan mereka?

Rencana perjalanan minggu ini terdiri dari 11-jam presentasi konferensi pers yang akan dilakukan dalam beberapa hari, dari staf lokal UNICEF dan kunjungan ke lapangan dan rekanan program kegiatan. Saya sungguh menantikan kesempatan untuk terlibat secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan oleh UNICEF. Saya ingin kembali dengan membawa pemahaman budaya yang lebih baik dan ide-ide lain tentang cara UNICEF dan NextGen dapat terus memberikan dampak secara dramatis dan membangun masa depan yang lebih stabil untuk generasi muda masa kini.

Karena suhu cukup panas di Indonesia, semoga kami bisa mematangkan beberapa ide.

Wednesday, 20 April 2016

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Oleh Kristi Eaton, Communications and Knowledge Management Officer, UNICEF Indonesia


Lilis gugup. Anak laki-lakinya yang berusia 2 dan 4 tahun sedang bersiap-siap menerima vaksinasi polio, dan dia khawatir mereka mungkin menangis. Mereka merapatkan diri ke Ibu mereka saat ia berbicara di posyandu setempat di Cilincing, sebuah daerah dengan pendapatan rendah di Jakarta Utara, dan berusaha untuk menenangkannya.

Namun demikian, Lilis mengetahui betapa pentingnya vaksinasi.

“Ini sangat penting untuk mereka supaya tidak sakit polio, karena kaki mereka bisa menjadi tidak berfungsi,” katanya.

Indonesia menempati urutan ke enam di dunia dalam jumlah bayi yang tidak divaksinasi atau belum divaksinasi lengkap. Setiap tahun, diperkirakan 700,000 bayi tidak menerima layanan imunisasi. Daerah perkotaan berpendapatan rendah seperti Cilincing terutama sangat beresiko untuk kurang imunisasi, membuat anak-anak rentan terhadap wabah campak, polio, dan diphtheria. UNICEF mendukung pemerintah untuk mengubah situasi ini _ memanfaatkan teknologi komunikasi baru yang memungkinkan pemantauan yang lebih baik dan intervensi yang menargetkan sistem yang gagal berfungsi.

Friday, 4 December 2015

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Jeffery Hall dan Vania Santoso dari UNICEF Indonesia Innovation Lab bicara tentang U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015 /Nick Baker 

Jakarta, INDONESIA 4 Desember 2015 - UNICEF resmi meluncurkan U-Report Indonesia: Sebuah platform inovatif baru yang memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi hidup mereka.

Ratusan anak muda Indonesia menghadiri acara peluncuran di Jakarta, dimana para anggota UNICEF Indonesia Innovation Lab menjelaskan tentang bagaimana U-Report bekerja dengan menggunakan ponsel.

U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat berbasis Twitter yang memungkinkan anak-anak muda berbagi tentang pendapat mereka tentang topik-topik penting mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pemerintahan," kata UNICEF Indonesia Innovation Lead Jeffery Hall.

Thursday, 26 November 2015

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

Oleh: Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bapak Adhyaksa Dault (keenam dari kanan), dengan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Ibu Gunilla Olsson (ketiga dari kanan), Direktur Radio Republik Indonesia Ibu Niken Widiastuti (kedua dari kanan) dan Kepala Komunikasi Bapak Michael Klaus (paling kanan) dengan Penasihat Khusus UNICEF bapak Purwanta Iskandar dan anggota Pramuka pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama 26 November 2015. (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

JAKARTA, Indonesia, 26 November 2015 – Kesibukan tampak di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menjelang acara yang sudah lama dinantikan: Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pramuka dan UNICEF Indonesia.

Perjanjian Kerja Sama (MOU), yang ditandatangani oleh Ketua Pramuka Adhyaksa Dault dan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson pada 26 November 2015 itu membuka jalan bagi kerja sama untuk memperkuat implementasi hak-hak anak di Indonesia.

Bapak Adhyaksa mengatakan ia antusias dengan kemitraan ini. “Pramuka akan menggunakan kerja sama dengan UNICEF untuk mendorong perlindungan terhadap anak serta hak mereka untuk berekspresi.”

Sunday, 22 November 2015

U-Report Indonesia: Jumlah Pengguna Terus Meningkat

Oleh Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer
 
Ribuan siswa SMA menggunakan Twitter. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

"Siapa yang punya Twitter di sini? Ayo, angkat tangannya ke atas! "tanya pembawa acara saat sesi U-Report pada Bedah Kampus Universitas Indonesia Ke-16 (BKUI16). Hampir semua peserta mengangkat tangan mereka. Tidak mengherankan, karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka pengguna Twitter tertinggi di dunia.

BKUI16 adalah acara open house selama dua hari bagi para siswa SMA untuk mengenal lebih banyak tentang Universitas Indonesia (UI). Lebih dari 16.000 siswa ikut serta dalam acara tersebut. Pengalaman-pengalaman bagi siswa meliputi Road Show ke Fakultas-Fakultas, transportasi umum UI yang terkenal, yaitu BiKun (Bis Kuning), dan Sesi Pleno dengan tokoh-tokoh seperti jurnalis ternama Najwa Shihab, ekonom dan politisi Faisal Basri, serta artis penyanyi Vadi Akbar.

Selama sesi khusus ini, para peserta belajar tentang U-Report Indonesia. U-Report merupakan sarana untuk mengirimkan pesan sosial yang dikembangkan oleh UNICEF, sehingga anak-anak muda dapat menyampaikan hak-hak anak dan isu-isu lainnya yang menjadi perhatian mereka. Informasi ini kemudian digunakan untuk melibatkan pemerintah dan mitra-mitra lainnya untuk melakukan perubahan praktis yang positif.  

Monday, 19 October 2015

Telpon genggam yang menyelamatkan kehidupan


Bidan Maena Nhur Desita memberikan vaksin. ©UNICEF Indonesia/2015

Kedoya Utara merupakan salah satu daerah miskin di Jakarta. Kedoya Utara berada di antara sederetan megamall dan gedung pencakar langit sehingga daerah ini harus berjuang dengan kondisi hidup seadanya, saluran air yang kotor dan listrik yang tidak memadai.

Salah satu yang menjadi perhatian khusus di Kedoya Utara adalah tingkat imunisasi anak-anak yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan mereka beresiko menderita penyakit yang mengancam jiwa seperti campak dan difteri.

"Terjadi kesenjangan ketidakadilan di Jakarta dan seluruh Indonesia. Anak dari keluarga miskin, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah kumuh, tidak terjangkau secara tetap untuk menerima dosis vaksinasi lengkap," kata Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia Dr. Kenny Peetosutan.

Thursday, 10 September 2015

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

By Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer

Upacara kelulusan We Are Siblings. ©UNICEF Indonesia/2015

"Dulu aku sudah berkali-kali hampir menyerah.Tapi sekarang aku bahagia karena tidak jadi melakukannya."

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Cynthia Andriani, anggota We Are Siblings, saat proyek percontohan (pilot project) mereka berakhir di Bogor ini membuatku meneteskan air mata. Cynthia telah merangkum jerih payah dan kesuksesan yang dirasakan bersama para inovator muda lainnya dalam beberapa bulan terakhir.

We Are Siblings adalah proyek mentoring tentang anti-bullying (perundungan) yang dikembangkan oleh mahasiswa Intitut Pertanian Bogor (IPB). Proyek ini memenangi Kompetisi Global Design for UNICEF Challenge pada awal tahun ini sehingga mendapatkan dana hibah 2.500 dolar Amerika dari UNICEF untuk mengimplementasikan inisiatif mereka.

Proyek ini diawali dari enam mentor We are Siblings yang mendampingi 29 anak untuk menemukan cara-cara inovatif dalam mengatasi perundungan, baik secara tatap muka maupun online. Sesi tatap muka melibatkan satu mentor yang langsung terjun mendampingi sekelompok anak melalui modul anti-penindasan; Sementara sesi online menjadi sarana pendukung, menjalin komunikasi sehari-hari lewat SMS dan aplikasi pengirim pesan lainnya.

Tuesday, 7 July 2015

Dukungan melawan bullying

Tim We Are Siblings menggunakan cara-cara yang inovatif pada lokakarya anti-bullying yang mereka selenggarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

Secara mengejutkan 50 persen dari siswa berusia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying di sekolah. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Anak-anak ini dapat mengalami bekas luka emosional yang dalam seumur hidupnya. Hal ini mendorong sekelompok mahasiswa untuk memutuskan bahwa sudah saatnya untuk bertindak.

Tahun lalu, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengikuti kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF dengan kegiatan yang difokuskan untuk mengatasi bullying di Indonesia. Kompetisi ini mengundang anak-anak muda di seluruh dunia untuk mengatasi isu-isu lokal yang mendesak dengan memberikan solusi yang inovatif.

Para mahasiswa ini memiliki nasib yang sangat mirip dekat dengan subjek mereka. Salah satu anggota tim Aldila Setiawati pernah mengalami bullying yang parah semasa bersekolah. "Untungnya saya memiliki keluarga yang mendukung saya. Namun saya sering berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat dukungan?" ujarnya.

Tuesday, 9 June 2015

Remaja Indonesia bersiap menghadapi bencana (dengan cara yang kreatif)

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Siswa SMP pada Lokakarya uji coba Paket untuk Remaja Berekspresi dan Berinovasi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker. 

Sebuah ruang kelas di daerah Jakarta Timur riuh dengan kegiatan. Sekitar 20 remaja merangkai berbagai kata, bentuk dan pola pada secarik kertas putih berukuran besar. Suasananya begitu hidup, namun topiknya tidak main-main: banjir dahsyat yang akan datang.

 Jakarta terkenal karena banjir musimannya yang parah. Dan wilayah di bagian timur Jakarta sering menanggung beban ini setiap musim hujan. Sebagian besar remaja yang mengikuti lokakarya ini memilki koleksi cerita yang memilukan tentang banjir. Beberapa bahkan memiliki pengalaman yang nyaris merenggut nyawa mereka.

“Saya mengalami banjir yang sangat parah pada tahun 2007,” cerita Vicka, peserta yang berusia 14 tahun, “Waktu itu sekitar pukul dua pagi ketika banjir datang. Sebentar saja air sudah mencapai langit-langit rumah. Suasana gelap gulita dan seluruh keluarga saya sangat ketakutan.”

“Ayah saya menenangkan kami semua dan membawa kami ke atap rumah untuk mencari pertolongan. Akhirnya perahu penyelamat datang. Kami harus lompat ke perahu dari atap rumah. Saya sangat takut, namun beruntung kami semua baik-baik saja. Bagian yang paling mencemaskan adalah ibu saya sedang mengandung pada saat itu. Akhirnya dia melahirkan adik perempuan saya keesokan harinya.”

Paket Remaja untuk Berekspresi dan Berinovasi sedang diujicobakan di Indonesia dan di Sudan Selatan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Thursday, 29 January 2015

Empat tim Indonesia menjadi finalis Global Design for UNICEF Challenge

JAKARTA, 29 Januari 2015 - Sebuah layanan SMS untuk mempermudah evakuasi bencana. Sebuah aplikasi untuk mendorong kedekatan masyarakat. Sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang kekerasan anak. Sebuah detektor gas yang bisa memantau tinja.

Ini adalah empat ide-ide inovatif yang dikembangkan oleh mahasiswa Indonesia yang lolos ke babak final Global Design for UNICEF Challenge 2014.

Proyek-proyek finalis Global Design for UNICEF Challenge 2014 dari Indonesia. ©UNICEFIndonesia/2015


Global Design for UNICEF Challenge adalah sebuah kompetisi online untuk menggerakkan kolaborasi dan pemecahan masalah-masalah internasional dalam kapasitas lokal.

Lebih dari 130 mahasiswa Indonesia dari dua universitas mitra UNICEF: ITB Bandung dan IPB Bogor bergabung dalam 33 tim dan mengajukan ide-ide untuk kompetisi tersebut. Mereka yang lolos ke babak final kini mewakili empat dari total lima finalis.

Friday, 25 April 2014

Indonesia merayakan hak-hak anak dengan solusi inovatif terhadap tantangan pembangunan



Anies Baswedan membawa pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat pedesaan Indonesia melalui gerakan sosial dengan orang-orang muda. © UNICEF Indonesia/2014/Harimawan


JAKARTA , 24 April 2014 - UNICEF Indonesia mempertemukan sejumlah inovator terkemuka di sebuah acara di Erasmus Huis, Jakarta, hari Rabu yang lalu untuk mempresentasikan ide mereka tentang mengatasi tantangan-tantangan utama yang masih dihadapi anak-anak di tengah ekonomi Asia Tenggara yang berkembang pesat ini.

Acara dengan konsep seperti TED yang bernama 'ACTIVATE talks’ ini merupakan bagian dari perayaan peringatan 25 tahun Konvensi Hak Anak (CRC) . UNICEF juga telah menyatakan 2014 sebagai "Tahun Inovasi dan Kesetaraan".

Monday, 9 September 2013

Proyek SMS meningkatkan kompetensi bidan di Indonesia

Pesan Info Bidan yang pertama kali disiarkan, mengenai jarak kelahiran dan risiko dari tidak melakukannya. Lombok, 18 Juli 2012.

Jakarta, September 2013 - Bidan berada di garis depan pelayanan kesehatan di Indonesia dan mereka memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan pesan-pesan kunci tentang kehamilan, persalinan dan kesehatan anak kepada ibu hamil dan keluarga mereka. Namun, banyak bidan yang kurang cukup terlatih dan tidak memiliki pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk memberikan penyuluhan berkualitas, terutama di daerah pedesaan dan terpencil.

Melalui proyek percontohan berbasis SMS yang disebut Info Bidan, UNICEF terlibat dalam cara-cara inovatif untuk memperkuat kapasitas bidan di daerah pedesaan. Hasilnya positif dan UNICEF kini tengah berdiskusi dengan Departemen Kesehatan dan mitra lainnya tentang cara terbaik untuk memperkenalkan model tersebut sebagai alat pelatihan untuk semua 100.000 bidan di Indonesia.