Thursday, 29 January 2015

Empat tim Indonesia menjadi finalis Global Design for UNICEF Challenge

JAKARTA, 29 Januari 2015 - Sebuah layanan SMS untuk mempermudah evakuasi bencana. Sebuah aplikasi untuk mendorong kedekatan masyarakat. Sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang kekerasan anak. Sebuah detektor gas yang bisa memantau tinja.

Ini adalah empat ide-ide inovatif yang dikembangkan oleh mahasiswa Indonesia yang lolos ke babak final Global Design for UNICEF Challenge 2014.

Proyek-proyek finalis Global Design for UNICEF Challenge 2014 dari Indonesia. ©UNICEFIndonesia/2015


Global Design for UNICEF Challenge adalah sebuah kompetisi online untuk menggerakkan kolaborasi dan pemecahan masalah-masalah internasional dalam kapasitas lokal.

Lebih dari 130 mahasiswa Indonesia dari dua universitas mitra UNICEF: ITB Bandung dan IPB Bogor bergabung dalam 33 tim dan mengajukan ide-ide untuk kompetisi tersebut. Mereka yang lolos ke babak final kini mewakili empat dari total lima finalis.


Peluncuran Global Design for UNICEF Challenge 2014 di Institut Pertanian Bogor. ©UNICEFIndonesia/2015

Innovation Lab UNICEF Indonesia memulai kemitraan dengan kedua universitas tersebut pada awal tahun 2014 untuk melibatkan mahasiswa terbaik mereka dalam berinovasi untuk anak-anak Indonesia.

Para mahasiswa berfokus pada pengembangan pendekatan inovatif dalam menghadapi tantangan-tantangan terbesar di negara ini, seperti rendahnya tingkat pencatatan kelahiran, pengurangan risiko bencana alam, serta masalah buang air besar di tempat terbuka. 


Para mahasiswa Institut Teknologi Bandung yang berpartisipasi dalam Global Design for UNICEF Challenge 2014. ©UNICEFIndonesia/2015


Tim pengembang ODEYES (Open Defecation Eyes) membuat sebuah detektor gas amonia yang dapat memantau praktek buang air besar di tempat terbuka. Mereka berharap ide mereka akan membantu masyarakat untuk menangani topik yang sensitif ini dan mendorong warga untuk membangun dan menggunakan jamban di rumah dan lingkungan mereka.

"Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, dan pada saat yang sama, kesehatan lingkungan itu sendiri," cetus mereka.

Tim pemenang akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan UNICEF dan jaringan mitranya untuk mengembangkan proyek mereka lebih lanjut.

Beberapa contoh proyek pemenang Global Design Challenge yang lalu adalah sistem akta kelahiran elektronik di Tanzania, strategi distribusi suplemen zat besi untuk Uganda, serta alat pemurni air yang dapat digunakan di negara-negara berkembang.

Proyek-proyek ini dapat dilihat di unicefchallenge.com

No comments:

Post a Comment