Wednesday, 4 February 2015

Sejuta harapan anak-anak Brebes

Firman Siregar - UNICEF Indonesia Telefundraiser

Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Brebes, kota yang terkenal sebagai penghasil telur asin dan bawang terbesar di pulau Jawa. Kesempatan untuk melihat program-program UNICEF di kota ini diberikan oleh UNICEF Indonesia kepada kami berempat (Firman, Fajar, Lina, Nurul) untuk mewakili Divisi Telefundraising.

Kunjungan pertama kami di kota Brebes yaitu kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) untuk berdialog bersama Bapak Khaerul Abidin selaku Kabid Pemsosbud BAPPEDA Brebes, Forum Anak, Forum Pendamping Anak, serta KLA (Kabupaten Layak Anak). 

Dalam dialog ini, seorang perwakilan dari Forum Anak Brebes (Fanbes) memaparkan kegiatan yang telah dilakukan selama 2 tahun belakangan ini, antara lain sosialisasi forum anak, latihan dasar kepemimpinan, advokasi tentang sekolah ramah anak, mensosialisasikan pentingnya akte kelahiran di Desa Plompong secara door to door, dan masih banyak lagi. Tujuan secara garis besar dibentuknya Forum Anak yaitu untuk menjadikan Brebes sebagai Kabupaten Layak Anak.


Para peserta dialog bersama BAPPEDA. 

Setelah dari kantor BAPPEDA, kami melanjutkan trip ke Desa Pebatan untuk melihat salah satu program UNICEF yang sedang berjalan yaitu Program Keluarga Harapan (PKH). Tingkat pengetahuan kesehatan ibu dan anak di desa ini masih terbilang minim. Oleh karena itu UNICEF bekerja sama dengan pemerintah setempat seperti Kemensos dan Kemenkes untuk meningkatkan pengetahuan mereka. 

Penyuluhan KPH di desa ini dilakukan setiap bulan, dan dipimpin oleh staf Kemensos yang telah mendapat pelatihan khusus sebagai pendamping dari UNICEF. 

Ada banyak mitos dari kakek nenek yang masih di pegang oleh masyarakat. Tugas pendamping adalah untuk merubah mitos dan perilaku yang salah dari masyarakat. 

Sebagai contoh, saat pertemuan kelompok PKH sedang berlangsung, seorang ibu menuturkan bahwa “Di kampung sebelah, kalau ibu hamil usia kandungannya sudah mencapai 10 bulan ke atas, ibu tersebut harus dimasukkan ke dalam kandang kambing/ kerbau agar bisa melahirkan." 

Sesi penyuluhan PKH bersama ibu-ibu dari Desa Pebatan.

Satu contoh lagi adalah saat ditanya apakah mereka meminum Tablet Tambah Darah yang diberikan oleh bidan ketika hamil, sekitar 70% serempak menjawab "enggak" dengan polosnya. Dan ternyata kebanyakan dari mereka pun meminumnya dengan teh atau susu, meskipun seharusnya dengan air putih.  

Begitu interakif ibu-ibu desa Pebatan ketika mendapat pengarahan dari pendamping PKH, yang menjadi tujuan utama UNICEF adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar mereka mengerti dan melakukan sehingga ada perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih baik.

Keesokan harinya, kami mengunjungi Desa Pulosari. Program UNICEF di Desa Pulosari bisa dikatakan cukup berhasil, karena posyandu mereka selalu ramai dengan ibu-ibu yang datang membawa anaknya untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya.

Mengunjungi Posyandu Desa Pulosari yang selalu ramai

Saya tidak melihat seorang anak pun yang tampak mengalami gizi kurang atau membutuhkan penanganan khusus. Semua anak tumbuh sehat. Begitu antusiasnya seorang Ibu ingin tahu tumbuh kembang si anak, dan yang membuat saya tercengang bahkan ada beberapa orang suami yang turut mengantar dan menemani sang istri datang ke Posyandu untuk melihat perkembangan anaknya sudah sejauh mana. Awesome Father, two thumbs for you!

Tidak heran bahwa Desa Pulosari adalah desa percontohan untuk desa-desa lain di Kabupaten Brebes atau bahkan di desa-desa di seluruh pelosok Indonesia. 

Yang menjadi tantangan UNICEF dan Pemerintah yaitu merubah perilaku masyarakat tersebut menjadi lebih baik. Ini bukan berbicara tugas siapa dan bukan salah siapa. Ini adalah PR kita bersama, so bangun bangsa kita mulai dari diri kita sendiri!