Tuesday, 10 February 2015

Kemakmuran Indonesia bergantung pada upaya peningkatan perbaikan gizi

Anak-anak dari sebuah desa adat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
©UNICEFIndonesia/2014/Hasan

Ada anggapan umum di Indonesia bahwa kebanyakan orang Indonesia bertubuh pendek disebabkan oleh faktor keturunan. Karena anggota keluarga dari generasi sebelumnya bertubuh pendek dan kecil, banyak orang beranggapan bahwa perawakan tinggi seseorang adalah faktor genetik diluar kendali kita.

Namun kajian ilmiah menemukan bahwa anggapan tersebut seringkali tidak benar. Ibu hamil yang bertubuh pendek dan kurus akan melahirkan bayi berukuran kecil dan kurang gizi, selanjutnya pertumbuhannya juga lambat karena mereka tidak bisa mengkonsumsi cukup makanan bergizi atau karena seringkali terjangkit diare atau penyakit menular lainnya. Anak ini akan tumbuh menjadi remaja perempuan dan kemudian menjadi ibu hamil bertubuh pendek dan kurus, menyebabkan siklus kurang gizi (malnutrisi) antar generasi terus berlanjut.


Saat ini hampir sembilan juta anak dibawah usia lima tahun di Indonesia memiliki tinggi badan yang lebih pendek untuk umur mereka, kondisi ini dikenal sebagai stunting. Kebanyakan dari anak-anak ini tidak akan mampu untuk berprestasi di sekolah karena zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan badan sama dengan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan otak. Seribu hari pertama kehidupan yakni dimana janin pertama kali terbentuk sampai dengan anak tersebut berusia dua tahun adalah masa terpenting untuk pertumbuhan otak, dan segala kerusakan yang terjadi pada masa ini kemungkinan akan menjadi permanen dan tidak dapat diperbaiki. Ketika mereka beranjak dewasa, mereka akan memperoleh penghasilan 20 persen lebih kecil dibandingkan dengan rekan sebaya mereka yang mendapatkan gizi baik oleh karena itu akan semakin sulit untuk mengangkat keluarga mereka dari kemiskinan. Apabila tidak ada upaya untuk memperbaiki masalah ini, anak dan cucu mereka akan menghadapi nasib yang serupa.

Laporan Gizi Global 2014 menempatkan Indonesia diantara 31 negara yang tidak akan mencapai target global untuk menurunkan angka kurang gizi di tahun 2025. Data pemerintah menunjukkan 37% anak balita menderita stunting, 12% menderita wasting (terlalu kurus untuk tinggi badan mereka) dan 12% mengalami kelebihan berat badan. Penduduk miskin di Indonesia memiliki kemungkinan menderita stunting 50 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka dari golongan menengah keatas. Namun demikian, hampir 30 persen anak Indonesia dari golongan menengah keatas juga mengalami stunting. Kesenjangan prevalensi kekurangan gizi antar provinsi dan kabupaten masih cukup lebar.

Angka-angka tersebut termasuk sangat tinggi bagi negara berpenghasilan menengah. Upaya untuk menurunkan angka kurang gizi di Indonesia sejak tahun 2007 belum menunjukkan hasil yang berarti, ini berarti jumlah anak penderita kurang gizi terus meningkat seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk.

Kegagalan untuk menanggapi isu ini akan berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi. Orang dewasa yang tumbuh dengan status kurang gizi tidak akan mampu untuk memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia karena tingkat produktivitas dan penghasilan yang lebih rendah. Faktanya, sebuah kajian ilmiah menemukan bahwa kekurangan gizi menyebabkan negara-negara di Afrika dan Asia kehilangan 11 persen dari pendapatan nasional bruto mereka.[1]

Namun permasalahan ini tidak berakhir disana. Ketika stunting dipadukan dengan pertambahan berat badan yang berlebihan ketika dewasa, risiko obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular meningkat. Situasi yang kerap kali disebut sebagai “beban ganda” masalah gizi adalah situasi dimana isu kekurangan dan kelebihan gizi terjadi pada saat yang bersamaan, realita yang semakin umum terjadi di Indonesia dimana sistem kesehatan yang ada sekarang tidak akan mampu untuk menanggulanginya. Persentase perempuan dewasa yang kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas di Indonesia berlipat ganda menjadi 33% antara tahun 2007 dan 2013, sementara diabetes dan penyakit kardiovaskular meningkat sangat pesat.

Stunting dan bentuk kekurangan gizi lainnya bukan kondisi yang tidak dapat dicegah. Investasi untuk menanggapi masalah ini dapat memberikan hasil yang sangat menguntungkan. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa upaya-upaya untuk mengurangi stunting di Indonesia akan menghasilkan 48 juta rupiah untuk setiap investasi 1 juta rupiah.[2]

Pemerintah Indonesia serius untuk mengurangi angka kurang gizi. Faktanya, stunting pada balita adalah salah satu dari indikator pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk 2015-19. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa mereka tidak dapat mencapai hasil ini tanpa adanya upaya bersama dari seluruh pemangku kepentingan termasuk seluruh rumah tangga dan masyarakat.

Gerakan Seribu Hari Pertama Kehidupan yang juga dikenal dengan Scaling Up Nutrition (SUN) Movement  menyediakan kesempatan emas untuk memanfaatkan investasi dari pemerintah, lembaga PBB, donor, organisasi masyarakat dan sektor swasta secara lebih efektif. Hal ini telah meningkatkan bobot politik isu masalah gizi di tingkat nasional. Sekarang semua kabupaten/kota di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan akses bagi anak-anak, perempuan dan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan-pelayanan penting yang dapat mengurangi permasalahan gizi. Kemajuan dalam upaya perbaikan gizi perlu diukur; dan pihak pemerintah daerah kabupaten/kota perlu bertanggung jawab untuk hal ini.

Badan PBB UNICEF, World Food Programme, World Health Organization dan Food and Agriculture Organization dengan bangga mendukung Gerakan SUN.

Kami bekerja bersama dengan pemerintah untuk memastikan bahwa keluarga di Indonesia memiliki akses untuk informasi dan konseling menyusui bagi anak mereka, untuk menyediakan vitamin dan mineral bagi perempuan dan anak-anak, dan untuk mengatasi kurang gizi ketika upaya pencegahan gagal. Selain itu, kami juga membantu upaya-upaya untuk mencegah dan mengobati penyakit yang menyebabkan kurang gizi, terutama diare, malaria, dan HIV.

Kami juga sangat prihatin dengan tingginya angka kehamilan usia remaja – 500,000 per tahun di Indonesia – karena kehamilan di usia remaja sangat berbahaya bagi pertumbuhan dan kesehatan ibu dan bayinya.

Namun demikian perbaikan masalah gizi membutuhkan upaya dari banyak sektor.

Keluarga miskin kerap kali menderita kurang gizi, oleh karena itu kita berusaha untuk memperbaiki dampak terhadap status gizi dengan program-program perlindungan sosial. Kita bekerja sama dengan sektor pertanian, kelautan serta perdagangan untuk meningkatkan penyediaan sumber makanan yang bergizi dan aman, dan untuk menyediakan air bersih dan sanitasi. Sektor swasta didorong untuk turut memperbaiki status gizi dan memasarkan makanan dan minuman secara bertanggung jawab, terutama ketika makanan tersebut ditujukan untuk bayi dan anak balita.

Gizi baik adalah kepentingan kita bersama dan kita perlu lebih banyak tokoh panutan di setiap lapisan masyarakat  – kepala desa, tenaga kesehatan, tokoh agama, pemilik industri, selebriti, politikus dan lainya – untuk membantah pernyataan bahwa masyarakat Indonesia ditakdirkan untuk bertubuh pendek.

Dengan upaya bersama seluruh bangsa, semua anak Indonesia dapat tumbuh sehat, kuat dan cerdas sebagaimana layaknya mereka tumbuh.


(Gunilla Olsson, Perwakilan UNICEF, Anthea Webb, Perwakilan WFP, Dr Khanchit Limpakarnjanarat, Perwakilan WHO and Mark Smulders, Perwakilan FAO)





[1] Horton, S & Steckel, R H 2011. Malnutrition: Global economic losses attributable to malnutrition 1900-2000 and projections to 2050. Copenhagen: Copenhagen Consensus on Human Challenges
[2] Hoddinott, J, Alderman, H, Behrman, J R, Haddad, L & Horton, S 2013. The economic rationale for investing in stunting reduction. Maternal & Child Nutrition, 9, 69-82