Tuesday, 26 March 2013

Seorang visioner, seorang petani - dan desa yang sehat: bagaimana Galung mengakhiri buang air besar (BAB) sembarangan


Meskipun berlokasi hanya 17 kilometer dari ibu kota kabupaten, Galung adalah desa yang belum berkembang di Kecamatan Barru, di Provinsi Sulawesi Selatan.


Jamban sederhana yang dibuat di Desa Galung
© UNICEF Indonesia / Gerber
140 dari 484 rumah tangga di desa ini sudah lama tidak memiliki akses kepada jamban yang layak, meskipun telah dilakukan upaya untuk mempromosikan kesehatan yang lebih baik. Namun, permintaan untuk sanitasi yang layak semakin tinggi, terutama disebabkan oleh frustrasi terhadap rendahnya penghasilan dibandingkan pembangunan jamban. Terlepas dari tantangan itu, Galung baru saja dinyatakan sebagai desa pertama di kabupaten yang terbebas dari BAB di tempat terbuka. 

Faktor utama keberhasilan ini adalah karena kepala desa yang sangat peduli akan sanitasi, dan adanya seorang pengusaha / pengrajin desa yang kreatif dan bisa membangun jamban yang murah.



Silinder semen dari bambu
© UNICEF Indonesia / Gerber
Kepala Desa Ahmad Suhada mengambil keputusan untuk menggunakan dana "zakat" untuk membangun jamban, setelah berkonsultasi dengan dan disepakati oleh penduduk desa. Bapak Ahmad menggunakan argumen bahwa membuat masyarakat yang sehat akan meningkatkan martabat - sebuah argumen yang didukung oleh semua penduduk.

Pak Sinar adalah salah satu penduduk desa tersebut yang berprofesi sebagai petani. Ia juga memiliki keahlian dalam kerajinan batu dan telah memproduksi pra-cor pondasi untuk rumah-rumah tradisional yang dijual ke masyarakat di sekitarnya. Dengan hal ini sebagai dasar, ia juga telah memproduksi pelat semen portabel dari bambu untuk digunakan sebagai dinding kamar mandi, serta jamban dengan harga terjangkau. Jamban-jamban ini pun cepat dibeli oleh keluarga-keluarga dari desanya dan sekitarnya. 


Jamban keramik lengkap dengan dudukan dan pipa
© UNICEF Indonesia / Gerber
Sebuah jamban yang dibuat oleh Pak Sinar dijual dengan harga 300.000 rupiah, dengan biaya instalasi seharga 100.000 rupiah. Biaya ini meliputi sebuah jamban keramik dan pipa PVC. Dua silinder semen dari bambu dengan tinggi dan lebar 75 cm, serta sebuah penutup semen bambu juga disertakan.  

Bekerja dengan pusat kesehatan setempat, dan menyusul kampanye peningkatan kesadaran di desa tentang pentingnya "sanitasi total" (yang meliputi jamban, kebersihan rumah tangga, promosi cuci tangan, dan cara yang benar untuk mengelola limbah rumah tangga dan air), kepala desa mulai mengalokasikan dana zakat untuk memungkinkan keluarga berpenghasilan rendah untuk membeli set jamban dari Pak Sinar. Sistem angsuran khusus juga dibentuk agar pembayaran lebih mudah dikelola. Ini adalah langkah kunci untuk memastikan bahwa Galung bisa menyatakan dirinya bebas dari BAB sembarangan.


Ibu Murni dengan jamban barunya
© UNICEF Indonesia / Gerber
Memiliki jamban pribadi adalah sesuatu yang disambut dengan sangat baik oleh para wanita di desa ini. Salah satu contohnya adalah Ibu Murni. Lelah dengan rasa malu dan risiko kesehatan dari menggunakan alam bebas untuk kebersihan diri, dia tidak pernah percaya bahwa memiliki jamban sendiri bisa begitu terjangkau. Kreativitas Pak Sinar dan kepemimpinan Pak Suhada ini telah membuat apa yang dulunya mimpi menjadi kenyataan.

Fasilitator kabupaten, Pak Darwis, percaya bahwa ada banyak orang lain seperti Pak Sinar di daerahnya yang kini dapat berperan serta dalam membebaskan seluruh kabupaten dari BAB sembarangan. Menurutnya, karya petani / pengrajin ini, dikombinasikan dengan kejelian pimpinan desa, telah memberikan inspirasi nyata untuk desa-desa lainnya.

No comments:

Post a Comment