Showing posts with label donasi topan haiyan. Show all posts
Showing posts with label donasi topan haiyan. Show all posts
Wednesday, 20 November 2013
Foto: Topan Haiyan, Filipina
Posted by
UNICEF Indonesia
UNICEF mengirimkan pasokan darurat ke daerah-daerah di Filipina yang dilanda topan Haiyan pada tanggal 8 November. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa hingga 5 juta anak-anak terdampak oleh bencana ini.
Anda dapat menyumbang lewat: www.supportunicefindonesia.org
Untuk melihat keterangan foto, tampilkan galeri pada layar penuh dan klik 'show info' di sudut kanan atas.
Monday, 18 November 2013
Topan Haiyan: Kisah Jhana dan Gwendolyn
Posted by
UNICEF Indonesia
Oleh: Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina
Gereja Our Lady of Perpetual Help di Tacloban telah menjadi rumah darurat bagi 300 keluarga yang rumahnya musnah oleh Topan Haiyan. Di antara mereka adalah Jhana, seorang ibu berusia 20 tahun dan putrinya yang baru lahir, Gwendolyn.
Gwendolyn lahir hanya satu minggu sebelum Haiyan melanda. "Topan menghanyutkan rumah kami" ucap Jhana sambil menyusui Gwendolyn di antara ratusan orang lain yang berlindung di gereja. "Tapi dia adalah malaikat saya dan saya akan melakukan segalanya untuk memastikan kesejahteraan hidupnya."
| Jhana dan perlengkapan kebersihan UNICEF di Tacloban © UNICEF Philippines/2013/Kent Page |
Gereja Our Lady of Perpetual Help di Tacloban telah menjadi rumah darurat bagi 300 keluarga yang rumahnya musnah oleh Topan Haiyan. Di antara mereka adalah Jhana, seorang ibu berusia 20 tahun dan putrinya yang baru lahir, Gwendolyn.
Gwendolyn lahir hanya satu minggu sebelum Haiyan melanda. "Topan menghanyutkan rumah kami" ucap Jhana sambil menyusui Gwendolyn di antara ratusan orang lain yang berlindung di gereja. "Tapi dia adalah malaikat saya dan saya akan melakukan segalanya untuk memastikan kesejahteraan hidupnya."
Thursday, 14 November 2013
Diary topan Haiyan: Lumpur dan reruntuhan di Tacloban
Posted by
UNICEF Indonesia
Nonoy Fajardo (Disaster Risk Reduction and Emergency Specialist)
Saya telah bekerja di bidang kedaruratan selama lebih dari 15 tahun, dan saya benar-benar berpikir bahwa saya sudah pernah melihat semuanya. Tapi ketika saya sampai di Tacloban pada hari Senin sebagai anggota tim assessment PBB, saya sangat terkejut. Saat pesawat berjalan di landasan pendaratan, saya melihat lumpur dan reruntuhan - hanya lumpur dan reruntuhan - di mana tadinya ada banyak pohon, bangunan dan semua tanda-tanda kehidupan yang normal.
Segala sesuatu yang dulunya di dalam bangunan terminal bandara kini berada di luar, dan apa yang tadinya di luar menjadi berada di dalam, termasuk sebuah tangga eskalator. Kami diberitahu agar menghindari bagian bangunan yang hancur karena masih ada mayat di reruntuhan, di mana para karyawan bandara mencari perlindungan.
| Seorang anak yang terlantar akibat topan Haiyan di kota Tacloban, Filipina. © UNICEF Philippines/2013/JMaitem |
Segala sesuatu yang dulunya di dalam bangunan terminal bandara kini berada di luar, dan apa yang tadinya di luar menjadi berada di dalam, termasuk sebuah tangga eskalator. Kami diberitahu agar menghindari bagian bangunan yang hancur karena masih ada mayat di reruntuhan, di mana para karyawan bandara mencari perlindungan.
Diary topan Haiyan: Bantuan telah sampai
Posted by
UNICEF Indonesia
Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)
Empat hari telah berlalu sejak topan Haiyan terjadi, dan berita baiknya adalah bantuan telah mencapai para korban. Saya pun bangga untuk mengatakan bahwa pasokan air dan sanitasi UNICEF telah sampai di Tacloban, yang akan membantu mencegah terjadinya wabah tifus dan kolera. Organisasi lainnya tengah mengendalikan bantuan makanan, tempat perlidungan dan obat-obatan.
Berita buruknya adalah pasokan yang sampai masih kurang dari cukup. Meskipun Pemerintah dan tentara Filipina serta rekan-rekan di bidang kemanusiaan berupaya sekuat tenaga, kami masih belum mencapai semua orang yang membutuhkan bantuan.
| Seorang anak pengungsi akibat topan Haiyan di pusat evakuasi di Tacloban © UNICEF Philippines/2013/JMaitem |
Empat hari telah berlalu sejak topan Haiyan terjadi, dan berita baiknya adalah bantuan telah mencapai para korban. Saya pun bangga untuk mengatakan bahwa pasokan air dan sanitasi UNICEF telah sampai di Tacloban, yang akan membantu mencegah terjadinya wabah tifus dan kolera. Organisasi lainnya tengah mengendalikan bantuan makanan, tempat perlidungan dan obat-obatan.
Berita buruknya adalah pasokan yang sampai masih kurang dari cukup. Meskipun Pemerintah dan tentara Filipina serta rekan-rekan di bidang kemanusiaan berupaya sekuat tenaga, kami masih belum mencapai semua orang yang membutuhkan bantuan.
Wednesday, 13 November 2013
Diary topan Haiyan: "Tidak ada tempat untuk pergi"
Posted by
UNICEF Indonesia
Oleh Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)
Saya baru saja berbicara di telepon dengan Leon Dominador Fajardo, atau sering dipanggil 'Nonoy', UNICEF Emergency Specialist di kota Tacloban. Ia adalah seorang profesional yang berpengalaman dalam menghadapi bencana, namun suaranya terdengar bergetar. "Orang-orang, keluarga dan anak-anak berjalan sepanjang jalanan yang hancur," ucapnya. "Saya tidak tahu mereka berjalan ke mana - tidak ada tempat untuk pergi."
Ia membutuhkan waktu satu jam hanya untuk keluar dari bandara karena puing-puing yang berserakan. Beberapa staf UNICEF lainnya terjebak di bandara selama semalam. Jalan-jalan hampir tidak bisa dilalui pada malam hari yang gelap gulita dan resiko kecelakaan sangat tinggi, bukan hanya untuk pengemudi dan pengendara tapi terutama untuk orang-orang yang berkemah di jalanan.
| Seorang ibu menggendong anaknya di Tacloban, Leyten, Filipina. © UNICEF Philippines/2013/JMaitem |
Saya baru saja berbicara di telepon dengan Leon Dominador Fajardo, atau sering dipanggil 'Nonoy', UNICEF Emergency Specialist di kota Tacloban. Ia adalah seorang profesional yang berpengalaman dalam menghadapi bencana, namun suaranya terdengar bergetar. "Orang-orang, keluarga dan anak-anak berjalan sepanjang jalanan yang hancur," ucapnya. "Saya tidak tahu mereka berjalan ke mana - tidak ada tempat untuk pergi."
Ia membutuhkan waktu satu jam hanya untuk keluar dari bandara karena puing-puing yang berserakan. Beberapa staf UNICEF lainnya terjebak di bandara selama semalam. Jalan-jalan hampir tidak bisa dilalui pada malam hari yang gelap gulita dan resiko kecelakaan sangat tinggi, bukan hanya untuk pengemudi dan pengendara tapi terutama untuk orang-orang yang berkemah di jalanan.
Subscribe to:
Posts (Atom)