Tuesday, 4 June 2013

Yang penting adalah abilitasnya - UNICEF Indonesia meluncurkan laporan Situasi Anak di Dunia 2013 tentang anak dengan disabilitas

Bersama beberapa pemenang medali emas Olimpiade Khusus dan aktivis-aktivis hak penyandang disabilitas, UNICEF Indonesia meluncurkan laporan State of the World's Children (Situasi Anak di Dunia), bersama dengan Kementerian Sosial dan mitra pemerintah lainnya pada tanggal 30 Mei 2013 kemarin.

"Ketika berbicara tentang anak-anak dengan kebutuhan khusus, kita sering lebih berpikir tentang apa yang mereka TIDAK bisa lakukan, daripada melihat apa yang mereka BISA berikan sebagai kontribusi kepada masyarakat," ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney dalam acara yang berlangsung di gedung Kementerian Sosial, Jakarta.

"Hal ini perlu diubah. Seperti di banyak negara lain, anak dengan disabilitas termasuk anak-anak yang paling terpinggirkan dan tak terlihat di Indonesia. Seringkali orangtua hanya menyembunyikan mereka, karena malu atau tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka."

Angela Kearney dengan Adi (kiri) dan Stephanie (kanan), para pemenang medali emas di Special Olympics© UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Memang, tidak mudah untuk menemukan data tentang anak-anak penyandang disabilitas di Indonesia. Menurut RISKESDAS dan Sensus Nasional 2010, antara dua hingga empat persen anak di Indonesia menyandang suatu bentuk disabilitas. Dengan kata lain, sekitar 1,5 - 3 juta anak berusia 0 - 18 tahun adalah penyandang disabilitas.

Bahkan lebih sulit adalah mendapatkan informasi tentang kondisi hidup mereka, misalnya tingkat pendaftaran, kehadiran dan prestasi dalam pendidikan dasar. Menurut World Report on Disability (Laporan Dunia tentang Disabilitas)yang diterbitkan oleh World Health Organization dan World Bank pada tahun 2011, ada kesenjangan dalam tingkat kehadiran sekolah pada anak dengan disabilitas adalah 60 persen lebih rendah dibandingkan anak lainnya. Laporan UNICEF tentang Out of school Children (OOSC) dari tahun 2012 juga menyoroti disabilitas sebagai kendala utama dalam partisipasi sekolah.

"Peluncuran laporan State of the World's Children ini adalah ajakan untuk para mitra pemerintah serta peneliti dan akademisi untuk melihat situasi anak-anak penyandang disabilitas secara lebih mendalam," kata Angela Kearney. "Kita sekarang tahu bahwa kita hanya akan bisa mencapai kemajuan yang signifikan terhadap MDGs, jika kita fokus pada anak-anak yang paling terabaikan dan terkucilkan. Sebagai salah satu kelompok yang paling rentan, anak-anak dengan disabilitas perlu mendapatkan perhatian yang lebih tinggi dari kita. UNICEF siap untuk mendukung pemerintah sepenuhnya dalam hal ini."

Penyerahan simbolis laporan Situasi Anak di Dunia 2013 dari Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney kepada Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufrie. © UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufrie menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan peluang anak-anak penyandang disabilitas secara signifikan agar dapat tumbuh sehat dan mengembangkan potensi penuh mereka.

"Ini merupakan tanggung jawab bersama keluarga, masyarakat sipil dan pemerintah," ucap Pak Menteri. Rencana Aksi Nasional Penyandang Cacat Indonesia yang mulai berlaku pada awal tahun depan, akan menempatkan penekanan khusus pada anak-anak. Ia juga mengumumkan penyelenggaraan forum keluarga di hampir semua provinsi untuk membahas kebutuhan keluarga yang memiliki anak dengan disabilitas.

Pemerintah menandatangani Konvensi Hak Penyandang Cacat di awal tahun 2007, tak lama setelah konvensi tersebut ditetapkan oleh Majelis Umum PBB. Pada tahun 2011, Konvensi ini telah diratifikasi dan dimasukkan sebagai hukum domestik.

Dr Vivi Yulaswati, Direktur Perlindungan Sosial dan Kesejahteraan di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menekankan bahwa cakupan layanan bagi anak-anak penyandang disabilitas masih sangat terbatas dan bahwa guru dan pekerja sosial seringkali kurang terlatih. "Kita juga membutuhkan perubahan pola pikir untuk menjauh dari institusionalisasi tradisional, dan menuju perawatan berbasis keluarga," ucap Dr Yulaswati.

UNICEF telah diundang untuk bergabung dalam pengembangan Rencana Aksi Nasional sejak tahap awal.

Adi dan ibunya dengan bangga menunjukkan medali-medali yang dimenangkan di Special Olympics. © UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Dua ibu yang anaknya lahir dengan Down Syndrome juga hadir dan berbicara tentang kisah-kisah sukses anak mereka. Keduanya adalah peraih medali emas di Olimpiade Khusus. Maria Yustina, ibu dari Stephanie Handojo yang memenangkan medali emas cabang renang gaya dada di Athena pada tahun 2011, menjelaskan bagaimana putrinya berhasil meraih prestasinya berkat stimulasi khusus, dukungan secara penuh, dan melalui kasih sayang dan persahabatan dengan anak-anak lain di lingkungannya.

Dengan dukungan dari keluarganya, Stephanie sekarang berharap untuk mendirikan sebuah usaha laundry, membangun apa yang ia telah pelajari selama pelatihan kejuruannya di sebuah hotel.

Ernim Ilyas, ibunda Adi yang memenangkan medali emas cabang lompat jauh di Olimpiade Khusus, mengimbau kepada semua orang tua: "Jika anak Anda memiliki disabilitas, jangan sembunyikan dia. Dibalik disabilitas mereka adalah abilitas yang Anda bisa dan harus bantu tumbuhkan."

###

Rangkuman eksekutif laporan Situasi Anak di Dunia 2013 dapat dibaca di sini.

Lihat foto-foto lain dari acara peluncuran ini di halaman Facebook kami.