Saturday, 7 June 2014

Kekerasan terhadap Anak Dapat terjadi Pada Siapapun

Oleh: Ali Aulia Ramly, Child Protection Specialist UNICEF Indonesia 

Minggu lalu di hadapan lebih dari 100 akademisi, pejabat pemerintah, politisi dan ahli dari berbagai negara, seorang perempuan – yang adalah seorang profesional yang memegang posisi penting – yang menjadi pembicara, mengakhiri presentasinya dengan menyampaikan bahwa ketika kecil ia mengalami kekerasan seksual.

Saya, dan setiap orang di ruangan pertemuan, terkejut menyadari bahwa salah satu dari kami pernah mengalami kekerasan seksual dan mendengar langsung penuturan tersebut dihadapan kolega-kolega kami.

Kami semua, ahli dan praktisi dalam bidang perlindungan anak, hadir dalam pertemuan tiga hari bertajuk ‘Pertemuan Global tentang Kekerasan terhadap Anak: Dari Riset ke Tindakan, Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak’ di Ezulwini, Swaziland. Tapi kami tidak pernah menyangka bahwa salah satu dari kami adalah korban kekerasan yang terjadi di masa kanak-kanak.

Dia berkata bahwa dia adalah seorang penyintas, seorang yang menjadi korban tetapi pulih dan kembali menjalani hidup, dan dia berterima kasih kepada para peserta yang hadir karena terlibat dalam pencegahan kekerasan terhadap anak. Ia mengatakan betapa beruntung dirinya karena mendapat bantuan dan dukungan untuk menghadapi apa yang terjadi, dan dia dapat melewatinya. Ruangan kemudian dipenuhi tepuk tangan kekaguman dan penghargaan untuk perempuan tersebut.

Saya telah bekerja dalam bidang perlindungan anak 15 tahun dan tidak pernah mendengar hal seperti ini dari sejawat yang berkedudukan tinggi. Tapi apa yang dia sampaikan mengikatkan saya dan kami semua mengapa kami bekerja untuk perlindungan anak.  

Pertemuan yang kami hadiri merupakan pertemuan global pertama – sebuah konferensi dimana ahli dan pratisi dari berbagai negara seperti Zimbabwe, Kenya, Tanzania dan Kamboja berbagi informasi tentang bagaimana mereka menangani kekerasan terhadap anak. Di beberapa negara, UNICEF memberikan dukungan untuk pelaksanaan survei untuk memahami persoalan kekerasan terhadapa anak, faktor resiko dan apa yang dapat dilakukan untuk lebih baik lagi melindungi anak dari perlakukan salah dan kekerasan.  Data-data tersebut dibutuhkan untuk dapat mendapatkan cara terbaik untuk menangani persoalan yang dihadapi.

Hasil dari berbagai survei kekerasan terhadap anak di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa kekerasan adalah hal yang biasa dalam kehidupan anak-anak, dan banyak anak yang menjadi korban kekerasan tidak mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan.

Namun demikian,  peserta dalam pertemuan tersebut juga berbagi informasi mengenai apa yang dapat dilakukan untuk sedari awal mencegah  terjadinya kekerasan – misalnya dengan keterlibatan laki-laki dan para ayah, peran penting sekolah dan lembaga pendidikan, termasuk dengan menggunakan bentuk-bentuk disiplin tanpa kekerasan agar anak tetap aman dan termotivasi.

Pembicara yang mewakili pemerintah Indonesia menjelaskan bahwa hasil survei nasional kekerasan terhadap anak yang pertama kali dilakukan di Indonesia akan segera dipublikasikan. Pembicara tersebut menekankan bahwa perlindungan anak merupakan prioritas dalam rencana pembangunan nasional.

Saya yakin bahwa Pemerintah Indonesia bergerak ke arah yang tepat. Merupakan tugas saya untuk memastikan agar Pemerintah Indonesia menggunakan data dan mengembangkan kebijakan untuk menangani persoalan perlindungan anak . Seperti saya biasa berkata kepada anak saya – yang ayah kerjakan adalah memastikan bahwa dirinya, sepupu-sepupunya dan semua anak di Indonesia dapat bebas dari kekerasan.