Friday, 20 June 2014

Anak-anak Makassar Angkat Bicara Tentang Kekerasan


Oleh Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Michelin, 17 tahun, adalah ketua Forum Anak di Makassar. Saya bertemu dengannya pada bulan Mei yang lalu ketika mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya, bersama dengan para anggota Forum lainnya, dan saya bertanya pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak di kota tersebut.

Dia percaya bahwa kekerasan terhadap anak, khususnya perdagangan anak dan kekerasan seksual terhadap mereka yang hidup dan bekerja di jalanan menjadi kekhawatiran utama bagi anak-anak Makassar.

"Upaya-upaya untuk memecahkan masalah ini masih belum cukup," katanya.

Forum Anak ini didirikan oleh UNICEF dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk memberikan anak-anak kesempatan berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

Menurut Michelin, banyak anak-anak yang merasa bahwa mereka harus bekerja, bahwa mereka memiliki kewajiban untuk menghidupi keluarga mereka, padahal mereka seharusnya belajar dan bermain. Kekerasan seksual khususnya adalah masalah nyata untuk mereka, katanya, karena tidak ada yang melindungi mereka dari kekerasan orang dewasa. Dan hanya ada beberapa pelayanan kesehatan dan hukum bagi korban anak di Makassar; sehingga sulit bagi anak-anak untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, terutama di daerah pedesaan.

"Kita tahu pemerkosaan terjadi, tapi tidak ada yang membicarakannya karena dianggap tabu. Tapi itu bukan hanya tabu, itu realitas kita," katanya.

Dari kiri ke kanan: Treatment, Auzain dan Michelin dari Forum Anak Makassar.
© UNICEF Indonesia/2014/Lauren Rumble

Michelin percaya hanya ada satu cara untuk membantu anak-anak miskin yang disuruh keluarga mereka bekerja, sehingga mengekspos mereka terhadap kekerasan. Menurutnya pemerintah harus mempromosikan praktik pengasuhan anak secara positif dan menyebarkan pengetahuan dan informasi tentang hak-hak anak di desa-desa dan masyarakat setempat.

Namun, dia menekankan bahwa mengkomunikasikan informasi ini perlu dilakukan dengan cara yang dirancang oleh anak-anak, untuk anak-anak. Jika kampanye terlalu rumit, anak-anak yang merupakan target utama bisa tidak mengerti pesan-pesan yang disampaikan.

Treatment, yang juga berusia 17 tahun dan di sekolah yang sama dengan Michelin, setuju.

"Saya berharap pemerintah dan UNICEF bisa memulai kampanye penanggulangan kekerasan terhadap anak yang sifatnya dari-anak-untuk-anak," katanya.

"Ini artinya anak-anaklah yang membawa pesan perdamaian dan dukungan untuk satu sama lain, saling membantu dan mengajar apa yang harus dilakukan jika mereka menghadapi risiko kekerasan."

Auzain, temannya di Forum Anak, berpikir bahwa pemerintah juga harus melakukan sesuatu tentang kekerasan remaja di Makassar.

"Terlalu banyak anak laki-laki usia saya yang takut diserang geng pemuda di jalanan dengan panah, batu dan pisau. Perkelahian antar anak-anak semuda 13 tahun sering dilaporkan di media, namun tidak ada yang bertindak," katanya.

Menurut mereka pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk mencegah dan menanggapi kekerasan terhadap anak, dalam segala bentuknya.

Mereka ingin agar kurikulum sekolah melingkupi pesan-pesan tentang di mana dan bagaimana anak-anak bisa melaporkan kekerasan. Mereka ingin dukungan dari dalam masyarakat untuk anak korban kekerasan, termasuk akses cepat ke layanan kesehatan, dan dukungan keluarga untuk mencegah anak-anak mencari pekerjaan dalam kondisi yang tidak aman.

Mereka ingin pemerintah untuk memprioritaskan anak-anak dalam anggaran nasional. "Pemerintah punya banyak uang, tapi itu sebetulnya bukan milik mereka," kata Auzain. "Uang itu sedang dipinjam dari kami, anak-anak."

Yang paling penting, ucap Michelin, Treatment dan Auzain, adalah orangtua perlu menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka.

"Saya berharap orang tua mau menghabiskan sedikit waktu untuk menyayangi dan bermain dengan anak-anak mereka setiap hari. Prioritas nomor satu anak-anak adalah kasih sayang, tetapi seringkali ini tidak terlihat," kata mereka.

Mereka mungkin benar. Secara global, dukungan bagi keluarga yang mempromosikan keselamatan dan kesejahteraan anak semakin diakui sebagai strategi yang berhasil dalam mencegah kekerasan terhadap anak.
UNICEF di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, bekerja untuk mendukung pemerintah dan mitra lainnya untuk merancang program sesuai dengan budaya setempat yang membantu orang tua untuk memperkuat hubungan dengan anak-anak mereka dan mengelola perilaku anak dengan cara yang positif.

Investasi dini dalam melindungi anak dari kekerasan membantu anak-anak tumbuh sehat dan aman. Ini juga merupakan investasi cerdas bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan. Kekerasan, terutama kekerasan seksual dan pelecehan, memiliki dampak jangka panjang untuk semua anak yang menjadi korban kejahatan tersebut. Kekerasan juga menempatkan beban sosial dan keuangan yang besar bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pencegahan kekerasan merupakan investasi penting bagi Pemerintah demi masa depan negara mereka.

Di Makassar, UNICEF dan Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan sekolah-sekolah, pemuka agama dan pekerja sosial untuk meluncurkan materi pelatihan khusus yang berfokus pada strategi non-kekerasan untuk membesarkan anak-anak di rumah, di sekolah dan di masyarakat.

Pada saat yang sama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berinvestasi pada telepon hotline bebas pulsa agar anak-anak bisa melaporkan kasus kekerasan dan pelecehan pada tingkat provinsi dan kabupaten, yang disertai layanan terpadu bagi korban kekerasan agar bisa menerima konseling dan perawatan.

Namun masih banyak yang harus dilakukan. Kekerasan adalah kenyataan sehari-hari untuk terlalu banyak anak di Indonesia, seperti yang akan segera diungkapkan oleh survei kekerasan pertama yang dilakukan Pemerintah negara ini. Para korban berhak mendapatkan bantuan, namun tidak banyak yang mencarinya.  Dan terlalu sering, seperti di Makassar, anggaran pemerintah yang tersedia untuk pekerjaan perlindungan anak terbatas dan tidak sesuai dengan skala kebutuhan.

Saya akan mengunjungi Makassar lagi setelah RPJMN 2015-2019 diadopsi; dengan harapan bahwa perlindungan anak merupakan prioritas bagi semua. Ini berarti penyediaan layanan untuk korban di setiap kabupaten, penegakan hukum yang melindungi anak-anak, serta pendanaan upaya-upaya berbasis masyarakat untuk menghentikan kekerasan terhadap anak sepenuhnya - seperti yang telah disarankan Michelin dan teman-temannya.

Forum Anak di Makassar optimis bahwa ini adalah mungkin. Begitu juga saya.

No comments:

Post a Comment