Monday, 27 November 2017

Bilik Jamban untuk Marlende

Oleh: Dinda Veska - PSFR Communication Officer



Marlende (12) di depan bilik toilet rumah. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Sumba, pulau yang terkenal dengan kekayaan alam, pantai-pantai dengan pasir putih dan bersih, savanna terbentang sepanjang mata memandang. Surga yan gsangat memanjakan untuk para wisatawan, tetapi tidak untuk kesehatan anak-anak yang lahir dan tumbuh besar di pulau ini.


Marlende, satu dari ratusan anak di Desa Redapada yang sejak kecil hingga usia 12 tahun melakukan buang air besar di belakang rumahnya, di tempat terbuka tanpa bilik penutup, lubang penampungan  ataupun air bersih.


Tidak jarang ia mengalami diare, panas tinggi, dan penyakit-penyakit lainnya. Selain Marlende, 7 dari 10 anak yang saya temui di SD Lolaramo - Sumba Barat Daya, mengaku sering mengalami diare sebelum mendapat akses toilet dan air bersih di sekolah. Padahal diare menjadi penyebab 1400 anak di dunia meninggal setiap harinya.
Hal ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi pemerintah daerah terutama di Sumba Barat Daya, sejak tahun 2015 setengah dari jumlah penduduk di sini masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan.


Selain itu seiring usianya bertambah sebagai anak perempuan, Marlende juga merasa malu jika harus terus buang air besar di tempat terbuka.


"Saya malu saat buang air besar, lalu dilihat tetangga." Ungkapnya.


Saat mendengarnya langsung dari Marlende, tidak terbayang bagi saya bagaimana seorang perempuan harus membuka celannya di tempat terbuka demi menghilangkan rasa tidak enak di perut. Tidak ada pilihan selain menhan rasa malu dan tidak nyaman tentunya. Alih-alih menghilangkan rasa sakit di perut, Marlende justru terancam diare - penyakit yan glebih serius dan mengancam kesehatannya.



Marlende belajar mencucu tangan bersama petugas sanitasi di Sumba Barat Daya. @Dinda Veska/Unicef Indonesia/2017

Sejak tahun 2015, UNICEF bersama Pemerintah telah melakukan upaya-upaya demi mengurangi angka Buang Air Besar Sembarangan di Indonesia. Berbagai sesi pemicuan didapatkan oleh keluarga Marlende di Sumba Barat Daya. Diantaranya penjelasan tentang bahaya Buang Air Besar Sembarangan yang akan berdampak pada kesehatan anak-anak. Masyarakat juga diajak bekerja sama untuk menyediakan toilet di setiap rumah. Edukasi tentang cara-cara cuci tangan juga diberikan, agar membuat mereka terbiasa hidup bersih dan sehat.


Saat ini Marlende tidak perlu lagi Buang Air Besar Sembarangan di belakang rumahnya. Sebuah bilik lengkap dengan persediaan air serta pipa pembuangan telah tersedia di rumah Marlende. Ia tidak perlu lagi malu dan mengalami diare hingga berhari-hari.


Apa yang dialami Marlende di Sumba, kini masih dirasakan oleh jutaan anak lainnya di penjuru Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi UNICEF, Pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya termasuk para Pendekar Anak serta pihak-pihak swasta yang selalu memberi dukungannya melalui program-program UNICEF Indonesia. Sudah saatnya Indonesia bebas dari prilaku Buang Air besar Sembarangan, demi keberlanjutan hidup dan masa depan setiap anak.


STOP BABS!