Wednesday, 13 August 2014

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sarah Grainger

Novianti, 7 tahun, bersama ibunya Amelia di atas pantai dekat rumah mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

FUNGAFENG, Provinsi NTT, Indonesia, April 2014 - Novianti Atafan, 7 tahun, adalah salah satu anak terakhir di desanya yang mendapatkan jamban di rumah. Dia tinggal di desa Fungafeng di pinggir pantai pulau Alor di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keluarganya tinggal di sebuah rumah adat lopo yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap jerami.

Setiap pagi, Novianti dan ibu, ayah, kakek serta 5 kakaknya harus menuruni lereng di belakang rumahnya untuk buang air besar di dekat pantai.

Semua itu berubah ketika seorang sanitarian - petugas kesehatan lokal yang memiliki spesialisasi dalam sanitasi dan hygiene - mengunjungi desanya.


"Saya merasa malu tentang apa yang kami lakukan," ucap Amelia, ibunda Novianti. "Dan saya bisa melihat hubungan antara buang air di pantai dengan lalat yang mengkontaminasi makanan dan air kita."

Keluarga ini membangun jamban mereka sendiri beberapa meter dari rumah mereka, dan kini semua anggota keluarga menggunakannya.

"Sekarang kita tidak perlu membuang-buang waktu berjalan turun ke pantai setiap pagi," kata Amelia.

Pemicuan

Agnes Gale, seorang sanitarian dari Puskesmas setempat, ialah orang yang berhasil memacu keluarga Atafan untuk bertindak. Dia mengunjungi Fungafeng dan tiga desa lain untuk mencoba memicu warga untuk membangun dan menggunakan jamban, dan tidak buang air besar sembarangan (BABS).

Dia menunjukkan bagaimana tinja bisa mencemari air dan makanan. Dia juga menekankan kepada warga bahwa tetangga mereka bisa melihat ketika mereka buang air besar di tempat terbuka.

Sanitarian Agnes Gale mengunjungi Novianti dan Amelia di rumah adat lopo mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

"Dua elemen yang paling efektif dalam mengubah perilaku seseorang adalah rasa malu dan jijik," katanya.

Sebelum proses pemicuan, 90 dari 129 rumah tangga di Fungafeng memiliki jamban, dan masih ada orang yang buang air besar sembarangan. Kini penduduk mengklaim bahwa desa mereka telah bebas dari perilaku BABS. Namun beberapa orang masih sharing toilet dengan tetangga, dan ada juga yang memiliki jamban tanpa septic tank.

"Kami ingin mempromosikan peningkatan kualitas toilet yang dimiliki orang," ujar Agnes. "Tujuan kami adalah agar semua orang memiliki jamban sehat dan permanen. Jika satu orang saja kembali buang air besar di tempat terbuka, seluruh warga beresiko terkena kontaminasi."

Memantau Perkembangan

Indonesia mempunyai jumlah orang yang mempraktekkan BABS tertinggi kedua di dunia (setelah India), dan masalah ini paling akut di provinsi NTT.

Sanitasi yang buruk meningkatkan kasus penyakit diare. Tingkat diare adalah 66% lebih tinggi di antara anak-anak dari keluarga yang BABS, dibandingkan dengan rumah tangga yang memiliki toilet pribadi dan septic tank. Diare juga masih merupakan pembunuh utama anak-anak di Indonesia: Sekitar 31% kematian bayi dan 25% kematian anak-anak usia satu hingga lima tahun disebabkan oleh diare.

Bersama dengan Dinas Kesehatan, UNICEF melatih Agnes dan 9 sanitarian lainnya di Alor tentang cara penggunaan SMS untuk memantau desa-desa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Agnes Gale mengirim laporan SMSnya dari Puskesmas
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

Setiap kali Agnes mengunjungi Fungafeng, ia mencatat jenis fasilitas sanitasi yang digunakan setiap rumah tangga. Ada empat kategori - buang air besar terbuka, jamban bersama, jamban semi permanen dan jamban permanen.

Dia mengirimkan informasi ini melalui SMS ke database pusat yang dipantau oleh petugas kesehatan kabupaten. Sistem ini jauh lebih cepat daripada metode sebelumnya di mana sanitarian mengirimkan laporan perkembangan di desa-desa mereka setiap tiga bulan.

"Sekarang kami mendapatkan data secara langsung dan bisa melihat seberapa efektif upaya sanitarian kami," kata Dominggus Prakameng, Kepala Kesehatan Lingkungan di kabupaten Alor. "Ini membantu kami dalam merencanakan alokasi sumber daya ke tempat-tempat di mana sanitasi masih menjadi masalah."

Para sanitarian juga lebih memilih sistem pelaporan SMS baru ini. "Lebih cepat dan lebih mudah. Kami tidak perlu mengisi formulir, cukup mengumpulkan informasi dan mengirimkannya, "kata Agnes.

Proses pemicuan dan pemantauan tampak memiliki efek pada kesehatan di Fungafeng. Dulu desa ini mengalami wabah diare setiap tahun, namun Agnes mengatakan bahwa ini tidak terjadi lagi. 

Berkat dukungan dari Bill and Melinda Gates Foundation dan Unilever, UNICEF meluncurkan sistem pemantauan SMS ini di Sulawesi Selatan, NTT dan Papua.

No comments:

Post a Comment