Thursday, 8 May 2014

Keterampilan hidup: mengajar orang-orang muda di Papua tentang HIV

Yumelina bersama pengajar relawan, Nira, di lembah Baliem.
©UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown

Yumelina Tabuni adalah seorang gadis berusia 13 tahun yang percaya diri. Dia tinggal bersama keluarganya di sebuah desa kecil di lembah Baliem, daerah pegunungan terpencil di Papua. Setiap minggu ia menghadiri sesi keterampilan hidup, dimana ia dan anak-anak muda lainnya belajar bagaimana melindungi diri dari HIV dan AIDS.

"Saya tidak mengerti apa itu HIV dan mengapa orang bisa meninggal karenanya. Saya ingin belajar lebih banyak," ucap Yumelina. "Sekarang saya tahu bagaimana HIV ditularkan - melalui hubungan seks, jarum dan transfusi darah - dan juga bagaimana virus ini tidak ditularkan. Kami diajarkan tentang kondom dan bagaimana melindungi diri dari HIV. Saya senang memiliki pengetahuan ini."



Desa ini terletak di sebuah bentang alam yang indah, dengan lembah-lembah hijau dan subur di antara hutan-hutan pegunungan yang dihiasi kabut. Sederet gubuk beratap jerami memanjat bukit di atas sungai yang lebar. Beberapa perempuan berjalan menyusuri jalan, membawa karung berisi ubi dengan tali di sekitar dahi mereka. Babi ternak berkeliaran di sekeliling gubuk-gubuk.

Yumelina memiliki tiga saudara, dan bersekolah tingkat SMP di salah satu desa tetangga. Orangtuanya adalah petani. Mereka beternak babi dan bertani beberapa jenis tanaman, termasuk ubi yang merupakan makanan pokok di sana. "Saya suka pergi ke sekolah Minggu dan main sepak bola dengan teman-teman setiap sore," katanya. "Saya pemain tengah. Tim favorit saya Persiwa Wamena."

Belajar dan Berbagi


Kelompok keterampilan hidup yang dihadiri Yumelina adalah salah satu dari beberapa yang diadakan oleh World Relief, dengan dukungan dari UNICEF. Kelompok ini dipimpin oleh Nira Tabuni, seorang relawan warga setempat yang berusia 29 tahun dan memiliki passion tinggi atas pekerjaannya. Selain HIV dan AIDS, kelompok ini juga berbicara tentang kekerasan, alkohol dan narkoba.

Pada awalnya, Nira diundang ke sebuah sesi oleh seorang teman. "Saya sangat menyukai sesi itu dan ingin meneruskan informasi ke teman-teman saya di desa," jelasnya. "Kebanyakan orang di sini terlibat dalam hubungan seks tanpa kondom sehingga beresiko HIV. Saya merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan pengetahuan ini kepada saudara-saudari saya."

Yumelina dalam sesi keterampilan hidup bersama teman-teman perempuan lainnya.
© UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown
 Setiap minggu, puluhan perempuan datang untuk menghadiri sesi keterampilan hidup yang diadakan Nira. Beberapa dari mereka harus berjalan selama beberapa jam untuk sampai ke sana. Untuk mengatasi kendala medan tersebut, World Relief juga membuat siaran radio berdurasi satu jam yang berdasarkan pada sesi keterampilan hidup tersebut. Siaran ini juga disebarkan kepada orang-orang muda melalui MP3 player yang bisa dibawa ke desa mereka untuk didengarkan bersama teman-teman.

Nira juga mengajarkan anak-anak cara membuat kalung dan tas dari plastik daur ulang dan bahan-bahan alami. Mereka menjual kerajinan ini di desa-desa, memberikan mereka sumber pendapatan tambahan dan mendorong kemandirian.

Menghilangkan Mitos


Papua memiliki tingkat infeksi HIV tertinggi di Indonesia, yang kebanyakan menyebar akibat hubungan seks komersial dan berganti-ganti pasangan. Ada kurangnya kesadaran tentang metode pencegahan, hambatan budaya untuk penggunaan kondom, dan rendahnya akses kondom.

Lebih dari setengah penduduk tidak pernah mendengar tentang HIV, dan mereka yang pernah justru lebih sering percaya kepada mitos-mitos tentang penyakit ini. Jika seseorang terkena AIDS, banyak warga desa yang menganggap itu adalah sebuah kutukan, bukan karena virus HIV. Akibatnya mereka mendapatkan banyak stigma dan diskriminasi, dan sangat sedikit dukungan.

Irene Heidy dari World Relief mengatakan bahwa berbicara tentang HIV tidak begitu masalah, namun membahas seks dan kondom terkadang sulit. "Bahan ajaran UNICEF membantu kami untuk menjelaskan hal-hal ini," katanya. "Kami mengadakan sesi khusus untuk perempuan dan mencoba untuk berbicara di luar gereja. Ini membuat mereka lebih terbuka dan berani bertanya."

Selain mendukung sesi-sesi pelatihan ini, UNICEF telah mendirikan forum remaja dan mengupayakan pendidikan seks di sekolah. Di Papua Barat, kami bekerja sama dengan pemerintah provinsi untuk mengembangkan kebijakan pemuda yang meliputi berbagai masalah, termasuk kesehatan seksual .

Nira menunjukkan hasil kerajinan kelompoknya.
© UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown
Keluarga Yumelina tinggal di sebuah pondok kayu tanpa kamar. Keadaan di dalamnya sangat gelap dan berasap. Rumah ini tidak berjendela, dan memiliki perapian untuk kehangatan dan memasak di tengah-tengah. Ibunya, Darmina, berjongkok di dekat api sambil mengaduk makanan di dalam panci.

Darmina tampak bangga atas putrinya. "Saya sangat senang Yumelina sering ikut pelatihan keterampilan hidup ," katanya sambil tersenyum. "Saya percaya kepada Nira dan saya percaya bahwa apa yang dia ajarkan adalah benar. Yumelina adalah gadis yang baik dan sangat rajin, tetapi pelatihan ini membuat dia bahkan lebih baik lagi."

Berkat program ini, remaja seperti Yumelina bisa meningkatkan peluang mereka dalam kehidupan. Tapi HIV terus menimbulkan ancaman serius di seluruh Indonesia.

Penulis
Andy Brown, Communication Specialist UNICEF Asia Timur dan Pasifik