Friday, 23 May 2014

Kekerasan Terhadap Anak di Indonesia

- Oleh: Marc Lucet, Deputy Representative UNICEF Indonesia -

Minggu lalu saya mendapat kehormatan untuk mewakili UNICEF pada konferensi pers yang diberikan oleh Menteri Sosial, Salim Segaf al Jufri, tentang isu kekerasan terhadap anak di Indonesia. Konferensi pers juga dihadiri oleh BAPPENAS , Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Komisi Nasional Perlindungan Anak. Mengingat banyaknya laporan tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia dalam beberapa pekan terakhir, banyak wartawan yang hadir, baik dari media nasional maupun internasional.

Bapak Menteri Segaf al Jufri menyerukan perlunya gerakan nasional untuk mengalahkan kekerasan terhadap anak. Sebagai organisasi global, UNICEF berada di barisan depan dari upaya internasional untuk mencegah anak-anak dari penderitaan kekerasan dan pelecehan, dan jadi kami sangat menyambut inisiatif ini. Ini adalah persis apa yang perlu dilakukan.

Setiap orang memiliki peran dalam gerakan nasional ini. Tidak hanya Pemerintah Indonesia, tetapi semua guru, tenaga kesehatan, pekerja sosial dan orang tua juga harus terlibat dalam ide ini. Kita harus mengambil tindakan dengan menawarkan dukungan langsung kepada para korban kekerasan terhadap anak. Dan kita harus bekerja keras untuk mencegahnya dengan mendeteksi kasus dan penanggulangan lebih awal.

Tidak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa anak-anak sendiri juga mengambil bagian dalam gerakan ini. Kita tahu anak-anak yang telah menjadi korban kekerasan lebih mungkin untuk berbicara tentang apa yang telah terjadi kepada rekan-rekan mereka dibandingkan orang dewasa. Namun, kita harus menemukan cara untuk membantu anak-anak ini mendapatkan akses kepada dukungan psikologis profesional. Dan kita harus memberikan mereka kesempatan untuk memberitahu apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kekerasan dan pelecehan dengan lebih baik.

Tingkat keberhasilan gerakan ini akan meningkat jika berdasarkan data, dan Pemerintah Indonesia perlu dipuji atas upaya mereka untuk menanggapi kurangnya bukti komprehensif tentang tingkat kekerasan terhadap anak dengan melakukan survei nasional pertama tentang masalah ini. Studi tentang prevalensi kekerasan fisik, emosional dan seksual terhadap anak laki-laki dan perempuan akan menyajikan informasi tentang besarnya masalah dan dampaknya terhadap kesehatan anak-anak, serta memberitahu apakah anak-anak mencari bantuan atau tidak, dan mengapa.

Berbicara tentang kekerasan terhadap anak, dan pelaporan kasus-kasus pelecehan, dapat menjadi sulit ketika masalah ini dianggap tabu. Gerakan nasional ini harus membawa kekerasan terhadap anak-anak keluar ke tempat terbuka sehingga tidak ada anak yang merasa terlalu malu untuk memberitahu orang tua, guru atau teman bahwa mereka telah mengalami pelecehan.

Kita harus membuat yang tak terlihat jadi terlihat !


Media merupakan mitra penting dalam memecahkan tabu ini. Dan juga dalam membentuk opini publik dan membangun dukungan untuk gerakan ini. Tapi wartawan dan editor perlu dibimbing oleh kepentingan terbaik anak. Mereka seharusnya jangan pernah mengungkapkan identitas anak korban kekerasan atau pelecehan. Setiap anak memiliki hak untuk menjaga martabat mereka.

Setiap kasus pelecehan terhadap anak, setiap kali seorang anak menjadi korban kekerasan, adalah satu kali terlalu banyak. Mari kita bersama-sama melibatkan diri dalam gerakan nasional untuk mengalahkan kekerasan terhadap anak di Indonesia. Mari kita buat yang tak terlihat jadi terlihat dan berkomitmen untuk memecah keheningan dan segera bertindak.

No comments:

Post a Comment