Tuesday, 2 December 2014

Tsunami di Aceh 10 Tahun Kemudian

© UNICEF Indonesia / 2005 / Josh Estey

Tanggal 26 Desember 2014 adalah tepat 10 tahun sejak bencana tsunami Samudera Hindia yang melanda Indonesia, India, Thailand, Sri Lanka dan beberapa negara lainnya. Setidaknya 230.000 orang tewas, ratusan ribu lainnya kehilangan rumah dan harta mereka, dan sejumlah besar kawasan pantai habis ditelan ombak raksasa.

Di Aceh, provinsi yang paling terdampak oleh tsunami, 170.000 orang meninggal dan 500.000 orang lainnya kehilangan tempat tinggal mereka. Bencana ini juga menghancurkan kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup di daerah-daerah yang sudah miskin, menghantam lembaga-lembaga yang ada dan menyapu bersih sumber daya manusia, yang merupakan basis dari pembangunan berkelanjutan provinsi tersebut.

Dalam waktu 48 jam, UNICEF tiba di Aceh dan memulai operasi darurat terbesar dalam sejarahnya untuk memastikan tidak ada anak yang meninggal setelah bencana besar tersebut lewat kampanye imunisasi massal dan dengan merestorasi fasilitas air dan sanitasi.


© UNICEF Indonesia / 2005 / Josh Estey

Tsunami merusak 91 persen dari infrastruktur sanitasi dan 85 persen dari jaringan pipa air, pabrik pengolahan air dan fasilitas terkait lainnya di Aceh dan Sumatera. Di masa-masa awal setelah bencana, UNICEF menyediakan tenaga ahli dan mengkoordinir distribusi air bersih ke para pengungsi. Setidaknya 22 fasilitas permanen purifikasi air telah dibangun di daerah-daerah yang terdampak maupun yang tidak terdampak tsunami.

Untuk mengatasi kebutuhan darurat medis dan kesehatan, UNICEF mendukung penempatan dokter dan paramedis ke kawasan-kawasan terpencil seperti Pulau Simeuleu, mendirikan layanan darurat kebidanan dan neonatal, dan melengkapi rumah sakit-rumah sakit lokal dengan peralatan standar dan ambulans. UNICEF juga menyelenggarakan pelatihan kelahiran normal, kemampuan menyelamatkan nyawa, dan layanan darurat kebidanan dan neonatal bagi para rekrutmen baru.


Posyandu Plus – pendekatan baru pada layanan kesehatan


Selain itu, UNICEF juga mendukung pengembangan layanan kesehatan berbasis masyarakat yang terintegrasi, yang dikenal sebagai pendekatan Posyandu Plus, yang telah diaplikasikan dan direplikasi di seluruh Indonesia. Kampanye vaksinasi campak darurat selanjutnya telah diperluas dengan cakupan nasional, sehingga mendorong terjadinya pengurangan pada angka kasus campak tingkat nasional.

© UNICEF Indonesia / 2005 / Josh Estey

Dari seluruh negara-negara yang terdampak tsunami, Indonesia memiliki jumlah anak-anak yang kehilangan orang tua atau terpisah dari orang tua mereka, yang jumlahnya mencapai sekitar 3.000 anak. UNICEF membantu mendirikan pusat penampungan anak yang menampung 2.000 anak. Pusat-pusat tersebut melakukan pelacakan keluarga dan telah berhasil mempersatukan seperlima dari anak-anak ini dengan anggota keluarga mereka yang masih hidup. Pusat-pusat penampungan anak ini juga menyediakan dukungan psikologis dan sosial, serta mengadakan kegiatan rekreasi bagi anak-anak dan remaja.

UNICEF juga membangun 1.000 tenda kelas sementara dan mendukung rekrutmen 1.110 guru sementara, serta membagikan 230.000 buku pelajaran dan sekitar 7.000 alat bantu “School in a Box” (Sekolah dalam Kotak) untuk lebih dari setengah juta anak-anak. Kampanye Kembali ke Sekolah ini mengembalikan rasa normal kepada anak-anak untuk membantu mereka bangkit dari pengalaman yang membuat mereka trauma.


Membangun kembali dengan lebih baik


Setelah tahap awal bantuan kemanusiaan berakhir, UNICEF memfokuskan diri pada pemulihan dan rekonstruksi berdasarkan prinsip “membangun dengan lebih baik” untuk mengurangi risiko bencana pada anak-anak dan masyarakat di masa mendatang.

Komponen utama dari membangun dengan lebih baik adalah pembangunan 345 sekolah tahan gempa dan ramah anak. Setelah itu, UNICEF beralih fokus ke peningkatan kualitas pendidikan di provinsi tersebut. Lebih lanjut UNICEF memperkenalkan program pelatihan Perkembangan Anak Usia Dini di daerah pedesaan, yang meningkatkan angka partisipasi pra-sekolah dua kali lipat di Aceh.

© UNICEF Indonesia / 2007 / Josh Estey

Sejumlah inisiatif yang dipimpin oleh UNICEF ditujukan untuk menguatkan perlindungan legal dan sosial anak-anak di Aceh, salah satu intervensi kunci setelah tsunami. Advokasi UNICEF berhasil mendorong pemerintah untuk melarang anak-anak Aceh yang kehilangan atau terpisah dari orang tua mereka dibawa keluar dari Aceh. UNICEF juga membentuk Bagian Perempuan dan Anak di kantor polisi di daerah-daerah yang terdampak tsunami, dan memberikan bantuan legal dan medis pada perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan domestik.

Inisiatif-inisiatif tersebut mendorong terbentuknya Pengadilan Remaja yang ramah anak di Banda Aceh, dan dikeluarkannya Qanun Perlindungan Anak oleh DPR Provinsi Aceh pada tahun 2008.

Belajar dari pengalaman tsunami, Indonesia telah menjadi pemimpin di Asia dalam Pengurangan Risiko Bencana melalui komitmen yang konsisten untuk membangun sistem dan struktur, yang mencakup kesiapan menghadapi kondisi darurat, pengurangan risiko bencana dan pembangunan ketahanan di dalam dan luar negeri.

Anak-anak yang terdampak oleh tsunami 2004 sekarang telah berusia 10 tahun lebih tua. Berkat upaya UNICEF dan organisasi-organisasi lainnya, anak-anak ini memiliki peluang yang lebih baik dalam hidup mereka sekarang. Mereka memiliki kesempatan untuk hidup lebih sehat, untuk bersekolah dan untuk terlindungi dari kekerasan.


Untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang kemajuan dan pelajaran yang dipetik dari upaya penanganan darurat, rehabilitasi serta pemulihan di Aceh, silahkan dilihat di sini.

No comments:

Post a Comment