Thursday, 25 January 2018

Mengubah Hidup Melalui Toleransi

Oleh: Kate Watson

“Moshi moshi, Ola ola, hello, apa kabar?” Ruang kelas itu ramai dengan murid lelaki dan perempuan yang sedang berdiri, tertawa, dan berbincang meriah. Mereka baru saja mempelajari lagu dan gerakan (“Halo, apa kabar?” dalam berbagai bahasa) yang digunakan sebagai pengantar untuk berkenalan dan mengobrol dengan teman baru.

Meski baru berjalan tiga bulan di SMA Negeri 2 Kabupaten Sorong, namun program Pendidikan Kecakapan Hidup Sehat (PKHS) sudah menunjukkan hasil positif sebagaimana tampak dari kepercayaan diri para murid.

“Semuanya menarik dan permainannya seru!” kata Dwirizki Sandola, 17 tahun. “Kami dibantu mengekspresikan diri – kami bisa mengutarakan keinginan dan meminta sesuatu hal!” tambahnya. Tidak banyak kesempatan yang diberikan pada murid-murid Indonesia untuk berpendapat di ruang kelas. Partisipasi dalam kegiatan seperti PKHS membantu mereka menemukan ‘suara’ dan merasa berdaya.

Menghadirkan serangkaian topik mengenai kecakapan hidup, PKHS mendorong anak-anak muda berdiskusi dan belajar melalui permainan, kuis, contoh kasus, dan debat. Setiap sesi mengangkat satu topik, seperti menghadapi konflik dan memahami emosi, serta topik seperti perundungan dan gender. Ada pula topik tentang risiko tertentu seperti narkoba, kehamilan yang tidak diinginkan, dan HIV.


“Sebelum ada PKHS, banyak dari kami yang bergaul dengan kelompok yang tidak baik atau berada dalam situasi negatif,” terang Dwirizki. “Tapi, PKHS menunjukkan risiko yang kami hadapi kelak.”



Pernyataan Dwirizki mewakili salah satu tujuan PKHS, yaitu mendampingi anak muda mengambil keputusan yang bisa jadi sulit dalam keseharian mereka. PKHS ingin meningkatkan rasa percaya diri, membangun kecakapan sosial dan personal, dan membantu anak muda menghadapi risiko-risiko yang ada.

“Dulu, saya sangat nakal. Saya menggunakan kekerasan,” Dwirizki bercerita. “Namun, melalui program ini, saya belajar cara mengendalikan emosi dan menahan diri.”

Meski tidak seharusnya, namun anak muda di Provinsi Papua kerap menyaksikan peristiwa kekerasan. Tidak heran apabila mereka meniru hal yang sama saat dilanda emosi. Siklus ini harus diputus agar anak-anak muda bisa mengambil kendali atas masa depan mereka.

Murid lain, Rizky Tiara Ramadani (17), juga menyadari ada perbedaan berkat pilihan-pilihan yang kini ia ambil. “Saya dulu sering dibujuk ikut-ikutan [teman],” katanya. “Mereka memaksa saya melakukan kenakalan dan saya tidak berani menolak. Saya tidak tahu caranya,” jelasnya, lalu dengan tegas menambahkan bahwa sejak mengikuti PKHS ia sekarang tahu persis bagaimana harus menolak. Ia telah memiliki suara.

Elemen penting lain dari program ini adalah belajar melihat dunia sekitar dari sudut pandang orang lain. Hal ini mengasah rasa empati murid sekaligus membantu mereka melihat banyak kemungkinan lain di masa depan.


Menurut teman Dwirizki, Kadek Windu Dea Atmaja yang juga berusia 17 tahun, “Bagi saya, yang paling menarik di PKHS adalah belajar tentang toleransi.” Kadek baru tiba di Sorong beberapa tahun yang lalu dari Bali. Meski sama-sama Indonesia, Bali dan Sorong dipisahkan beberapa jam waktu tempuh dengan pesawat, dan sangat berbeda dalam hal risiko serta tantangan yang dihadapi tiap kelompok budaya di negara ini.

“Mayoritas orang Bali beragama Hindu, dan saya jarang bertemu dengan orang dari latar berbeda,” kata Kadek. Ia butuh waktu lama beradaptasi di lingkungan baru dengan mayoritas penduduk Kristiani. “Di Bali, sulit membayangkan ada orang yang cara hidupnya berbeda.”

Melalui diskusi kelompok di PKHS, saat Kadek dan teman-teman sekelas saling bercerita, ia pun mulai menyadari bahwa latar belakang setiap orang berbeda dan perbedaan itu membuat suasana jadi menarik.


“Sikap saya berubah. Wawasan saya terbuka dan saya sekarang lebih toleran. Mungkin saya berbeda, tapi sekarang saya mengerti bahwa kalau ada yang mengatakan hal buruk, itu karena mereka tidak paham.”

Pengetahuan ini pun ia sampaikan pada orang lain, termasuk neneknya yang sering mengeluh tidak dimengerti tetangga. Sang nenek, dan semua anggota keluarga, menyimak penjelasan Kadek; menurutnya, informasi yang ia bawa direnungkan bersama-sama oleh keluarga.

Kelas PKHS ditutup dengan wajah semringah dan tawa sembari para remaja berjalan keluar kelas berdua atau bertiga untuk istirahat makan siang. “Saya rasa keadaan akan jauh berbeda tanpa PKHS,” kata Dwirizki. “Mengubah hal negatif menjadi positif itu hal besar! Tanpa bimbingan, kami tidak tahu ada pilihan lain, tidak tahu ke mana harus melangkah,” tambahnya. “Mungkin juga kami masih nakal sampai sekarang!”