Annual Report

Wednesday, 13 November 2013

Diary topan Haiyan: "Tidak ada tempat untuk pergi"

Oleh Christopher de Bono (Regional Chief of Communication, UNICEF East Asia and Pacific)

Seorang ibu menggendong anaknya di Tacloban, Leyten, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Saya baru saja berbicara di telepon dengan Leon Dominador Fajardo, atau sering dipanggil 'Nonoy', UNICEF Emergency Specialist di kota Tacloban. Ia adalah seorang profesional yang berpengalaman dalam menghadapi bencana, namun suaranya terdengar bergetar. "Orang-orang, keluarga dan anak-anak berjalan sepanjang jalanan yang hancur," ucapnya. "Saya tidak tahu mereka berjalan ke mana - tidak ada tempat untuk pergi."

Ia membutuhkan waktu satu jam hanya untuk keluar dari bandara karena puing-puing yang berserakan. Beberapa staf UNICEF lainnya terjebak di bandara selama semalam. Jalan-jalan hampir tidak bisa dilalui pada malam hari yang gelap gulita dan resiko kecelakaan sangat tinggi, bukan hanya untuk pengemudi dan pengendara tapi terutama untuk orang-orang yang berkemah di jalanan.

Wednesday, 16 October 2013

Hari Anak Perempuan Internasional (#DayofTheGirl); Saat Seorang Anak Perempuan Berbicara Tentang Kebahagiaan.


Ramonah bernyanyi di bus MetroMini
11 Oktober adalah Hari Anak Perempuan Internasional. Waktu untuk anak perempuan mendeklarasikan apa yang mereka inginkan, menyampaikan kepada dunia tentang hak-hak yang mereka miliki dan untuk membuktikan bahwa mereka mampu untuk melakukan apapun yang mereka inginkan melalui perhatian dan cara yang baik. Di hari itu, semua gadis mengharapkan keadilan dan kebahagiaan. Sama seperti Ramonah, anak perempuan berusia 8 tahun yang bekerja sebagai pengamen jalanan.

Saat itu, siang hari di daerah Jakarta Selatan. Saya sedang di perjalanan untuk kembali ke rumah. Di dalam bus, saya melihat seorang anak perempuan bernyanyi untuk menghibur para penumpang dan mencari uang. Karena saya tertarik dengan kehidupan anak perempuan itu, saya  mengikutinya keluar dari bus dan mengajaknya makan siang. Inilah sedikit percakapan saya dengannya.


Monday, 7 October 2013

Menjembatani kesenjangan: gizi di Indonesia

By Bohdana Szydlik, UNICEF Australia

UNICEF Australia Communication Officer Bohdana Szydlik di sebuah sawah di Klaten. © UNICEF Indonesia/2013/Estey

Setiap pagi saya melewati seorang ibu dan anaknya di sebuah jembatan penyeberangan di Jakarta. Sembari anaknya tidur, sang ibu memegang cangkir plastik untuk meminta recehan, dan bersama mereka menunggu waktu berlalu. Tak jauh dari situ adalah shopping mall berlantai marmer dengan toko-toko mewah seperti yang dapat ditemukan di Paris: Gucci, Topshop, Audi.

Sejak jatuhnya Presiden Soeharto 15 tahun yang lalu, Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Namun, dengan 50 persen populasi masih hidup dengan kurang dari US$ 1,75 per hari, sebagian besar kekayaan Indonesia masih terbatas untuk beberapa pihak saja.

Tuesday, 24 September 2013

Kisah Si Kecil Neni

By Dorian Druelle, UNICEF France

Neni (tengah) tersenyum bersama teman-teman sekelasnya karena ia sudah tidak pernah lagi terkena gejala diare
©UNICEF Indonesia/2013/Druelle

Neni adalah seorang anak perempuan berusia 10 tahun, namun ia terlihat seperti berusia 7 atau 8 tahun. Tubuhnya yang pendek dibandingkan anak-anak seusianya merujuk pada kondisi stunting (pendek menurut usia) akibat gizi buruk yang dialami oleh sebagian anak-anak balita di daerahnya dan sepertiga anak-anak di Indonesia. Namun bertentangan dengan kondisi fisiknya, Neni terlihat bersinar dengan senyumnya yang lebar dan mata yang memancarkan semangat.


Tuesday, 17 September 2013

Semakin banyak anak bertahan hidup melewati usia lima tahun

Menyelamatkan nyawa anak-anak akan menguntungkan seluruh masyarakat

By Angela Kearney, UNICEF Representative Indonesia

Kesempatan untuk menghentikan kematian anak yang dapat dicegah belum pernah sebesar yang kita miliki saat ini.

Berkat solusi-solusi yang telah teruji serta upaya-upaya di tingkat nasional dan global, nyawa 90 juta anak di dunia telah terselamatkan dalam 22 tahun terakhir; nyawa yang seharusnya hilang jika tingkat kematian anak tidak berubah sejak tahun 1990.

Jumlah anak yang meninggal pada tahun 2012 telah berkurang separuh dibandingkan pada tahun 1990, dengan menurunnya angka tahunan kematian balita dari 12,6 juta pada tahun 1990 menjadi 6,6 juta pada tahun 2012.

Indonesia pun telah mengalami kemajuan yang berarti. Pada tahun 1990 sekitar 385.000 anak balita meninggal, sedangkan kini angka tersebut telah menurun jadi 152.000. Meskipun ini adalah berita yang baik, kita juga perlu mengingat bahwa masih ada lebih dari 400 anak di Indonesia yang meninggal setiap harinya. Kita juga harus sadar bahwa meskipun tingkat kematian anak telah menurun dengan impresif, data terbaru menunjukkan bahwa penurunan ini telah melambat antara 5 hingga 10 tahun yang lalu.