Annual Report

Showing posts with label Klaten. Show all posts
Showing posts with label Klaten. Show all posts

Thursday, 21 January 2016

Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Kedua

Oleh: Femmy, In-House Face To Face UNICEF Surabaya

Baca blog Femmy yang sebelumnya: Hari Pertama

Hari kedua dipusatkan di Dukuh Gajihan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi.

Meeting point dilakukan di Dinas Kesehatan Klaten untuk bertemu dengan Mbak Reta yang bertugas menemani kami meninjau.

Tempat pertama yang dituju adalah kantor PKK yang sering disulap menjadi ruang serba guna. Kami kembali bertemu dengan Ibu Sri Budiati selaku bidan desa yang inspirational. Tidak salah memang jika Desa Pandes menjadi desa percontohan nasional karena banyak gebrakan dan program unik yang berjalan sampai sekarang dan didukung oleh semua pihak terkait.

Beberapa hal lain yang ada di Desa Pandes dan Klaten;

  • Sekitar 20 - 30% anak usia di bawah 20 tahun hamil, baik dikarenakan Pernikahan Dini ataupun MBA
  • GPRS (Gerakan Peduli Remaja Sehat) berfungsi untuk mempersiapkan wanita agar nanti ketika menikah dan hamil, tubuhnya dalam keadaan prima. Sehingga anak yang dikandungnya nanti tidak punya resiko terkena gizi buruk / stunting / lainnya.
  • Nenek ternyata punya andil tinggi dalam mensupport ibu memberikan ASI dan Makanan Pendamping (MP ASI)
  • Cafe Baby untuk membantu ibu-ibu yang kerepotan mempersiapkan sarapan di pagi hari. Ini adalah alternatif support untuk para ibu dan tujuannya bukan untuk profit.

Saturday, 9 August 2014

Punk Rock di Lapas – impian selepas masa tahanan di Klaten

Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Pada bulan Juli yang lalu, saya berkunjung ke Lapas Klaten untuk mengunjungi anak-anak di sana.

Saya terkesan dengan dedikasi mereka untuk belajar, meskipun guru yang dialokasikan ke sekolah lapas sering tidak datang dan pelayanan kesehatan kurang menentu. Mereka semua bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan mereka dan memiliki hidup yang produktif sebagai anggota masyarakat selepas masa tahanan mereka.

Friday, 11 July 2014

Jejak UNICEF Untuk Nutrisi Anak

by Darma, Fundraiser UNICEF Indonesia
.
Beberapa hari yang lalu saya dan team diberi kesempatan berkunjung ke Kabupaten Klaten untuk melihat langsung beberapa program UNICEF. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Posyandu Pandanaran III yang terletak di Bendungan Paseban Bayat, yang sudah dibantu oleh UNICEF sejak tahun 2007.

Sambutan hangat dan ramah dari beberapa kader kami terima di Posyandu Pandanaran ini. Banyak yang sudah berkumpul di posyandu karena kedatangan kami kebetulan bertepatan dengan jadwal rutin posyandu yang dilakukan setiap bulannya.

Setelah menyambut kedatangan kami, salah seorang kader membunyikan lonceng untuk memberitahukan warga agar segera datang ke posyandu. Tidak lama kemudian, beberapa orang ibu mulai berdatangan membawa putra-putri mereka untuk pemeriksaan kesehatan dan perkembangan.

Monday, 7 October 2013

Menjembatani kesenjangan: gizi di Indonesia

By Bohdana Szydlik, UNICEF Australia

UNICEF Australia Communication Officer Bohdana Szydlik di sebuah sawah di Klaten. © UNICEF Indonesia/2013/Estey

Setiap pagi saya melewati seorang ibu dan anaknya di sebuah jembatan penyeberangan di Jakarta. Sembari anaknya tidur, sang ibu memegang cangkir plastik untuk meminta recehan, dan bersama mereka menunggu waktu berlalu. Tak jauh dari situ adalah shopping mall berlantai marmer dengan toko-toko mewah seperti yang dapat ditemukan di Paris: Gucci, Topshop, Audi.

Sejak jatuhnya Presiden Soeharto 15 tahun yang lalu, Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Namun, dengan 50 persen populasi masih hidup dengan kurang dari US$ 1,75 per hari, sebagian besar kekayaan Indonesia masih terbatas untuk beberapa pihak saja.

Tuesday, 2 July 2013

Bagaimana seorang relawan mencegah kekerasan terhadap anak di sekolah di Jawa Tengah

Erry dalam salah satu sesi diskusi grup
tentang pencegahan kekerasan.
© UNICEF Indonesia/2012.
Mencegah kekerasan di sekolah tidaklah mudah dan membutuhkan visi yang kuat, pengetahuan khusus, serta pengalaman dan kesabaran. UNICEF tidak dapat melakukan hal ini sendirian, dan karena itu bekerja dengan pemerintah dan mitra-mitra lainnya. Selain itu, para relawan juga memainkan peran yang sangat besar.

Salah satu contoh terbaik adalah kegiatan yang dilakukan Erry Pratama Putra, seorang pria berusia 37 tahun dari Klaten, Jawa Tengah. Ia pertama kali terlibat dengan UNICEF enam tahun yang lalu, ketika menjadi relawan tanggap darurat pasca gempa di Yogyakarta dan Klaten.

"Memastikan anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, baik di rumah, sekolah atau masyarakat adalah tanggung jawab kita semua. Saya hanya bisa menawarkan jiwa, hati, pikiran, semangat dan idealisme untuk menciptakan dunia yang layak bagi anak-anak - karena masa depan mereka telah dipercayakan kepada kita."