Awis Mranani, UNICEF Indonesia Innovation Lab
 |
| Jutaan anak muda Indonesia adalah korban kekerasan. ©UNICEF Indonesia/2014 |
Hasil telah diterima. UNICEF baru saja menyelesaikan survei besar pertamanya menggunakan sistem pengumpulan suara U-Report Indonesia. Anak muda dari seluruh penjuru Indonesia menyampaikan pandangan mereka terhadap topik yang masih dianggap tabu, yaitu kekerasan terhadap anak.
Lebih dari 4,000 peserta, atau U-Reporter, berpartisipasi dalam survei berbasis Twitter ini. Pertanyaan yang dilayangkan terfokus pada strategi terdahulu pemerintah dalam menanggapi masalah kekerasan terhadap anak. Penemuan survei ini akan dipakai sebagai bahan masukan bagi pembaharuan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak (RAN PPKTA) untuk tahun 2015-2019.
Jawaban yang diberikan oleh pemuda Indonesia sangat penting. Mereka menegaskan bahwa pemerintah perlu menjalankan program-programnya secara lebih strategis lagi untuk menjaga keamanan anak-anak dari kekerasan. Hal ini bisa dilaksanakan melalui peningkatan kesadaran publik, kegiatan mendidik (terutama terkait undang-undang dan kebijakan) dan keterlibatan komunitas dalam topic terkait, terutama dari anak muda.
Secara kuantitatif, survei menyimpulkan bahwa selama tiga tahun terakhir, kebanyakan anak muda berumur 13-24 tahun yang telah menjadi korban kekerasan tidak menerima bimbingan terkait kekerasan dan 15 persen dari mereka tidak tahu kemana harus melaporkan kekerasan yang mereka saksikan atau alami sendiri.