Annual Report

Showing posts with label pencegahan kekerasan. Show all posts
Showing posts with label pencegahan kekerasan. Show all posts

Thursday, 3 September 2015

Memutus Lingkaran Kekerasan

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Senjata yang dibuat oleh Rama (15 tahun). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Di pusat komunitas Sulawesi Selatan, Rama* (15) memperlihatkan sebuah koleksi anak panah bermata logam yang tajam. Remaja yang berbicara dengan lembut ini menjelaskan bagaimana dia membuat dan menjual anak-anak panah tersebut kepada teman-teman sebayanya. Mereka terbiasa dengan perkelahian antar kelompok yang terkadang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka. “Kekerasan ada dimana-mana,” ujarnya.

Kisah kehidupan rama sama dengan banyak anak muda di Indonesia. Dia tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kekerasan-kekerasan orang tua, guru, teman. Ketika Rama memasuki masa remajanya, kekerasan bukan hanya hal yang maklum, tetapi sebuah rutinitas hidup.

“Saya mulai berkelahi di sekolah. Saya juga akan berkelahi di jalan,” ujarnya. Hal ini merupakan lereng terjal yang harus dilalui Rama. “Suatu hari paman saya memberi pisau badik. Lalu saya berkelahi dengan pisau dan saya tertikam,” ujar Rama sambil mengangkat kaus yang dipakainya dan menunjukkan bekas luka.

Wednesday, 5 August 2015

U-Reporter Angkat Suara Untuk Kekerasan Terhadap Anak

Awis Mranani, UNICEF Indonesia Innovation Lab

Jutaan anak muda Indonesia adalah korban kekerasan. ©UNICEF Indonesia/2014

Hasil telah diterima. UNICEF baru saja menyelesaikan survei besar pertamanya menggunakan sistem pengumpulan suara U-Report Indonesia. Anak muda dari seluruh penjuru Indonesia menyampaikan pandangan mereka terhadap topik yang masih dianggap tabu, yaitu kekerasan terhadap anak.

Lebih dari 4,000 peserta, atau U-Reporter, berpartisipasi dalam survei berbasis Twitter ini. Pertanyaan yang dilayangkan terfokus pada strategi terdahulu pemerintah dalam menanggapi masalah kekerasan terhadap anak. Penemuan survei ini akan dipakai sebagai bahan masukan bagi pembaharuan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak (RAN PPKTA) untuk tahun 2015-2019.

Jawaban yang diberikan oleh pemuda Indonesia sangat penting. Mereka menegaskan bahwa pemerintah perlu menjalankan program-programnya secara lebih strategis lagi untuk menjaga keamanan anak-anak dari kekerasan. Hal ini bisa dilaksanakan melalui peningkatan kesadaran publik, kegiatan mendidik (terutama terkait undang-undang dan kebijakan) dan keterlibatan komunitas dalam topic terkait, terutama dari anak muda.

Secara kuantitatif, survei menyimpulkan bahwa selama tiga tahun terakhir, kebanyakan anak muda berumur 13-24 tahun yang telah menjadi korban kekerasan tidak menerima bimbingan terkait kekerasan dan 15 persen dari mereka tidak tahu kemana harus melaporkan kekerasan yang mereka saksikan atau alami sendiri.

Friday, 20 June 2014

Anak-anak Makassar Angkat Bicara Tentang Kekerasan


Oleh Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Michelin, 17 tahun, adalah ketua Forum Anak di Makassar. Saya bertemu dengannya pada bulan Mei yang lalu ketika mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya, bersama dengan para anggota Forum lainnya, dan saya bertanya pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak di kota tersebut.

Dia percaya bahwa kekerasan terhadap anak, khususnya perdagangan anak dan kekerasan seksual terhadap mereka yang hidup dan bekerja di jalanan menjadi kekhawatiran utama bagi anak-anak Makassar.

"Upaya-upaya untuk memecahkan masalah ini masih belum cukup," katanya.

Tuesday, 2 July 2013

Bagaimana seorang relawan mencegah kekerasan terhadap anak di sekolah di Jawa Tengah

Erry dalam salah satu sesi diskusi grup
tentang pencegahan kekerasan.
© UNICEF Indonesia/2012.
Mencegah kekerasan di sekolah tidaklah mudah dan membutuhkan visi yang kuat, pengetahuan khusus, serta pengalaman dan kesabaran. UNICEF tidak dapat melakukan hal ini sendirian, dan karena itu bekerja dengan pemerintah dan mitra-mitra lainnya. Selain itu, para relawan juga memainkan peran yang sangat besar.

Salah satu contoh terbaik adalah kegiatan yang dilakukan Erry Pratama Putra, seorang pria berusia 37 tahun dari Klaten, Jawa Tengah. Ia pertama kali terlibat dengan UNICEF enam tahun yang lalu, ketika menjadi relawan tanggap darurat pasca gempa di Yogyakarta dan Klaten.

"Memastikan anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, baik di rumah, sekolah atau masyarakat adalah tanggung jawab kita semua. Saya hanya bisa menawarkan jiwa, hati, pikiran, semangat dan idealisme untuk menciptakan dunia yang layak bagi anak-anak - karena masa depan mereka telah dipercayakan kepada kita."