Annual Report

Showing posts with label Lauren Rumble. Show all posts
Showing posts with label Lauren Rumble. Show all posts

Tuesday, 15 November 2016

Berinvestasi pada modal kapital anak-anak: Menumbuhkan daya pikir mampu menumbuhkan ekonomi di Asia Selatan dan Timur

Oleh Lauren Rumble, UNICEF Indonesia Deputy Representative

Satu miliar otak bergantung pada tindakan yang diambil pemerintah dan mitra saat ini.

Ilmuwan terbaik dunia baru-baru ini menegaskan bahwa investasi yang lebih besar dibutuhkan untuk mendukung ‘modal kapital’ anak-anak. Modal kapital merujuk pada keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari investasi dalam pengembangan daya pikir anak-anak. Peraih Nobel Laureates James Heckman mengatakan bahwa investasi awal menghasilkan keuntungan yang lebih besar: satu dolar yang dihabiskan selama prenatal dan masa kanak-kanak menghasilkan lebih dari 7% hingga 10% dari investasi di usia yang lebih tua. Selama tahun-tahun pertama kehidupan, seribu sel-sel otak terhubung setiap detik. Koneksi ini menentukan kapasitas anak untuk mempelajari dan mengatur impuls dan emosi. Koneksi-koneksi ini mempengaruhi kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Untuk memanfaatkan investasi ini kita perlu menjamin nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan juga keamanan serta keluarga yang penuh kasih sayang bagi semua anak. Jaminan ini memerlukan kepastian akan akses universal terhadap pendidikan, layanan kesehatan, sanitasi dan nutrisi serta bebas dari kemiskinan dan ketakutan untuk setiap anak.

Kebalikan dari kondisi ini juga benar. Kondisi yang merugikan berbahaya bagi perkembangan otak dan kinerja kognitif. Pengabaian kronis – seperti yang dialami oleh anak-anak dalam institusi perawatan – telah terbukti mengganggu komposisi otak. Hal ini menempatkan batas seumur hidup pada perkembangan keterampilan yang diperlukan untuk berhasil di sekolah dan masa dewasa.

Tuesday, 11 August 2015

Pesan Untuk Indonesia: Sudah Dong

Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia


Salah satu bagian terbaik dari pekerjaan saya di UNICEF Indonesia adalah bekerja dengan anak muda Indonesia. Saya beruntung untuk bisa bertemu dengan pemuda-pemuda yang berdedikasi, kreatif dan inspiratif—banyak yang betul-betul membawa perubahan di dalam komunitas mereka sendiri.

Belum lama ini saya bertemu dengan tim Sudah Dong, sebuah organisasi nirlaba yang dijalankan oleh anak muda, untuk anak muda dan fokus pada banyak upaya menangani masalah bullying.

Sudah Dong bertujuan untuk memobilisasi aksi damai dan dukungan rekan sebaya dalam mengakhiri bullying. Pada bulan Juni, Sudah Dong merilis buku manual untuk anak dan remaja pertamanya dengan judul “End Bullying,” yang diharapkan dapat tersebar ke satu juta anak di seluruh nusantara. Dalam dua minggu, 625 buku telah diungguh (anda bisa ungguh buku manual di sini)

Dirilisnya buku manual ini tepat pada waktunya: Indonesia adalah negara dengan tingkat kekerasan fisik terhadap siswa yang tertinggi di dunia (40 persen). Lebih dari 50 persen siswa telah mengalami bullying di sekolah. Sekolah, wadah belajar dan perlindungan, untuk banyak siswa, adalah tempat paling aman yang mereka punya.

Saturday, 9 August 2014

Punk Rock di Lapas – impian selepas masa tahanan di Klaten

Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Pada bulan Juli yang lalu, saya berkunjung ke Lapas Klaten untuk mengunjungi anak-anak di sana.

Saya terkesan dengan dedikasi mereka untuk belajar, meskipun guru yang dialokasikan ke sekolah lapas sering tidak datang dan pelayanan kesehatan kurang menentu. Mereka semua bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan mereka dan memiliki hidup yang produktif sebagai anggota masyarakat selepas masa tahanan mereka.

Friday, 20 June 2014

Anak-anak Makassar Angkat Bicara Tentang Kekerasan


Oleh Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Michelin, 17 tahun, adalah ketua Forum Anak di Makassar. Saya bertemu dengannya pada bulan Mei yang lalu ketika mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya, bersama dengan para anggota Forum lainnya, dan saya bertanya pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak di kota tersebut.

Dia percaya bahwa kekerasan terhadap anak, khususnya perdagangan anak dan kekerasan seksual terhadap mereka yang hidup dan bekerja di jalanan menjadi kekhawatiran utama bagi anak-anak Makassar.

"Upaya-upaya untuk memecahkan masalah ini masih belum cukup," katanya.