Annual Report

Showing posts with label Makassar. Show all posts
Showing posts with label Makassar. Show all posts

Wednesday, 20 May 2015

Peraturan Baru, Harapan Besar: Peradilan Pidana Anak di Makassar

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Akmal berada di sekolah, bukan di sel penjara Makassar ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Akmal* yang berusia 14 tahun duduk di koridor kantor pemerintah yang besar di Makassar. Dia tampak gugup – memainkan ritsleting ranselnya, terus-menerus membenarkan seragam sekolahnya. Ini bisa dimengerti mengingat lingkungan di sekitarnya. “Aku baik-baik saja,” katanya lirih. “Ini lebih baik daripada penjara.”

Beberapa bulan yang lalu, Akmal sedang berjalan-jalan dengan seorang temannya. Temannya memutuskan untuk membuktikan keberaniannya dengan mencuri tabung gas dari toko terdekat. Ternyata yang terjadi tidak berjalan sesuai rencana dan kedua anak ini ditangkap oleh polisi.

Sebuah hukuman penjara untuk kejahatan kecil sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia. Meskipun Akmal tidak terlibat langsung dalam pencurian tabung gas tersebut, tahanan di penjara adalah hal yang biasanya harus dijalani. Namun begitu, berkat hukum sistem peradilan pidana anak baru yang mulai berlaku sejak Agustus 2014, kisah Akmal dapat menjadi sangat berbeda.

Friday, 29 August 2014

Bekerja sama untuk menyelamatkan ibu dan bayi di Sulawesi

Ratna dan anaknya, Ralvin, di Puskesmas Galesong
©UNICEF Indonesia/2014/Ramadana

GALESONG, Sulawesi Selatan, Agustus 2014 - Ratna Adam mulai merasakan nyeri persalinan sekitar pukul sepuluh malam. Dia sedang berada di rumahnya di desa Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Suaminya yang seorang nelayan sedang bekerja di Kalimantan, sehingga orang pertama yang dipanggilnya adalah seorang dukun bersalin bernama Basse Cama.

Ibu Basse telah membantu para ibu di Galesong melahirkan selama 33 tahun dan sangat dihormati masyarakat. Dia tinggal sekitar lima menit jalan kaki dari rumah Ratna. Ia pun bergegas untuk membantunya.

Friday, 20 June 2014

Anak-anak Makassar Angkat Bicara Tentang Kekerasan


Oleh Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Michelin, 17 tahun, adalah ketua Forum Anak di Makassar. Saya bertemu dengannya pada bulan Mei yang lalu ketika mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya, bersama dengan para anggota Forum lainnya, dan saya bertanya pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak di kota tersebut.

Dia percaya bahwa kekerasan terhadap anak, khususnya perdagangan anak dan kekerasan seksual terhadap mereka yang hidup dan bekerja di jalanan menjadi kekhawatiran utama bagi anak-anak Makassar.

"Upaya-upaya untuk memecahkan masalah ini masih belum cukup," katanya.

Monday, 27 May 2013

Mengintip Proyek UNICEF di Rappocini, Makassar.

Ditulis oleh Dorkas, anggota tim penggalang dana di UNICEF Indonesia.

Tempat yang kami tuju untuk field trip UNICEF tidak seperti dugaanku. Bukan di tempat terpencil yang jauh dari kota, tapi ada di dalam kotanya sendiri, yang menunjukkan kompleksitas dari keragaman ekonomi penduduknya. Kota ini indah namun di dalamnya masih banyak ibu dan anak-anak yang masih kurang dari standarisasi hidup layak dan sejahtera.

Proyek kali ini adalah tentang proyek Urban WASH (Water, Sanitation and Hygiene). Sebelum pergi ke lokasi proyek, mitra UNICEF menjelaskan kepada kami tentang gaya hidup warga yang akan kami kunjungi, keadaan mereka, dan mengapa mereka yang dijadikan sasaran dari proyek ini.

Namun, yah.. sekedar teori bagi telinga tidak akan begitu berarti bukan kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Monday, 15 April 2013

Bebas malaria juga akan menguntungkan industri pariwisata

"Saya sangat paham tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan malaria", ucap Pak Thamrin Wata, seorang pejabat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan. "Pengetahuan tentang penyakit ini sangat penting untuk pekerjaan saya, karena kita harus melindungi daerah wisata dari malaria agar lebih menarik bagi wisatawan. Sebelum saya bergabung dengan POKJA (kelompok kerja) malaria ini, saya pikir pariwisata hanya bersangkutan dengan penyakit menular seksual dan infeksi HIV. Tapi sekarang saya sadar bahwa malaria juga berperan."

Seorang bayi tidur di bawah kelambu di kabupaten Selayar
© UNICEF Indonesia / 2012 / Asri
Pak Thamrin Wata telah bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1990. Selama ini, ia tidak pernah menerima informasi yang jelas tentang malaria sehingga ia tidak menganggap malaria penyakit serius yang perlu ditakuti.

Pada bulan Oktober 2012, Pak Thamrin Wata menghadiri lokakarya tentang malaria di Makassar, yang disponsori oleh UNICEF bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam lokakarya ini ia belajar bahwa malaria adalah penyakit yang berbahaya, terutama bagi anak-anak dan wanita hamil, jika tidak dikelola dengan benar oleh petugas kesehatan. Ini juga merupakan masalah untuk tempat-tempat tujuan wisata, karena wisatawan, terutama dari luar negri, takut terinfeksi malaria dan lebih memilih untuk bepergian ke daerah-daerah yang bebas dari malaria. Karena hal ini berkaitan secara langsung dengan pekerjaannya di Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan, Pak Thamrin Wata memutuskan untuk menjadi anggota POKJA malaria.