Annual Report

Showing posts with label UNICEF. Show all posts
Showing posts with label UNICEF. Show all posts

Sunday, 14 October 2018

Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Yuda dan Ence bermain bersama di samping tenda pengungsian. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Jemari Yuda(11) menggenggam erat lengan Ence(6) adik kecilnya yang baru saja bersama-sama mengikuti kegiatan dukungan psikososial. Mereka berjalan pulang berdua, bukan ke rumah tetapi menuju tenda pengungsian, tempat di mana semua anggota keluarganya saat ini tinggal.

“Rumah kami sudah rata dengan tanah kak, sekolah juga. Kami tinggal di sini sekarang.”Ucap Yuda saat sampai di sebuah tenda terpal berwarna biru dengan ukuran lima kali tiga meter. Sore hari itu suhu udara mencapai 31 derajat celcius, sejak lumpur basah menelan rumah mereka dan seluruh Area Petobo, Yuda dan Ence tidak lagi mendapat kenyamanan untuk beristirahat apalagi bermain.

Rumah Ence dan Yuda habis ditelan lumpur di Area Petobo. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Menurut Ibu mereka, Ence masih sering menangis di malam hari ketika menjelang tidur. “Mungkin masih takut, tapi sudah dua hari ini bermain di tenda sana, dia jadi lebih banyak senyum.”Ibu Heriyanti bercerita sambil menidurkan adik Yuda yang masih bayi.

Monday, 1 October 2018

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Seorang anak di Kupang dengan HIV positif tertidur dibalik kelambu, ia terinfeksi sejak hari pertama lahir ke dunia.©Shehzad Noorani/UNICEF/2018.

Dari seberang jalan seorang ibu berperawakan besar dengan rambutnya terikat rapih ke belakang, melambaikan tangannya pada saya yang sedikit bingung menerka-nerka sosok Ibu Teresia. 

Tidak sampai 5 menit dari persimpangan Jalan Alak – Kabupaten Kupang, kami tiba di kediaman Ibu Teresia. Beliau mempersilahkan saya tetap memakai sepatu karena khawatir kaus kaki saya akan kotor oleh lantai rumahnya yang erlantaikan semen.

Tidak lama setelah masuk ke ruangan kedua setelah ruang tamu, beliau kembali keluar mengenakan kemeja berwarna kuning bertuliskan Warga Peduli AIDS di bahu sebelah kiri, senyumnya semakin manis dengan gincu merah.

Iya duduk sambil memangku Alinea (2) – anak dengan HIV positif yang belum genap satu tahun diadopsi. “Ibunya meninggal waktu saya sedang mendampingi pasien di rumah sakit.” Jelasnya, seolah paham dengan apa yang ingin segera saya tanyakan.

Ia mengaku jatuh cinta pada Alinea sejak pertama kali melihat Alinea di samping ranjang seorang perempuan dengan HIV positif yang tengah meregang nyawa. Setelah digantikan popok oleh Ibu Teresia, perempuan itu menitipkan Alinea untuk dirawat dan dibesarkan. Sesaat setelah Alinea kehilangan ibunya, Ibu Teresia mendapat persetujuan dari anak dan suami untuk mengadopsi Alinea.

Tuesday, 17 April 2018

"Saya ingin jadi polisi!" dibalik keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Gunawan (9) terinspirasi ingin menjadi poiisi berkat Gerakan Kembali ke Sekolah. Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Gunawan menangis ketika saya tanyakan ingin jadi apa kelak di masa depan, air matanya tumpah sambil kemudian menjawab "Ingin jadi polisi." Tangisannya bukan karena rasa takut seorang anak yang bertemu dengan orang baru, tapi ada cerita yang ia lanjutkan sambil mengharu biru. "Saya ingin menjadi seperti bapak polisi yang membantu saya kembali ke sekolah."

Dua tahun lalu neneknya meninggal dunia, satu-satunya orang yang mendukung dan mengusahakan agar Gunawan dapat tetap bersekolah. "Nenek sudah tidak ada, jadi saya tidak bisa terus belajar lagi di sekolah, rumah saya juga jauh." Cerita Gunawan yang setiap hari harus berjalan kaki dari rumah hampir 4 kilometer untuk sampai ke sekolah. Jika pendidikan adalah eskalator untuk seorang anak memperbaiki nasibnya, maka pupuslah harapan Gunawan di hari ia putus sekolah. Keinginannya untuk membuat bangga sang nenek pun menjadi mustahil, karena satu-satunya pilihan di depan mata saat itu adalah menganggur.

November 2017, Gerakan Kembali Bersekolah yang merupakan tindak lanjut dari program SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat) kembali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju. Lebih dari 3200 anak telah dijangkau dan dikembalikan ke sekolah. Gunawan dan beberapa anak lainnya dijangkau oleh pihak kepolisian setempat - yang telah mendapat pelatihan dari UNICEF Indonesia untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan membantu setiap anak agar kembali mendapatkan haknya atas pendidikan.

Wednesday, 20 December 2017

Obat Gizi untuk Ulang Tahun Pertama Julriska

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer


Julriska (1) Berhasil melewati masa kritisnya akibat kondisi sangat kurus.
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Beberapa minggu sebelum hari ulang tahun pertamanya, Julriska mengalami demam disertai dengan gatal-gatal di badan dan juga kehilangan nafsu makan. Ketika diperiksakan ke Puskesmas Oelbiteno, Kupang – Nusa Tenggara Timur, dinyatakan oleh petugas kesehatan bahwa Julriska mengalami kondisi sangat kurus, saat itu berat badannya hanya mencapai 7,1 Kg.

Kondisi sangat kurus rentan terjadi pada dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Di usia tersebut kebutuhan gizi sedang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan sistem imunitas anak-anak seperti Julriska.

“Saya sangat sedih ketika dijelaskan oleh bidan tentang sakitnya Julriska.” Ungkap Ibu Vonita sambil menyuapi Obat Gizi yang berbentuk pasta kacang kepada anak perempuannya.

Monday, 21 August 2017

Imunisasi untuk Tian dan Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer

 
Jari kelingking Tian (6) dicoret dengan spidol, pertanda telah mendapat imunisasi Campak dan Rubella. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Masih terlalu pagi ketika Tian berlari dengan penuh tawa dan riang gembira menuju sekolah yang berjarak satu gang dari rumah. Akhir pekan sebelumnya ibu guru sudah memberi pengumuman bahwa hari ini sekolah akan kedatangan petugas imunisasi.

Kebanyakan anak yang bersekolah di TK Serba Guna, Tegal Sari, Surabaya ini tidak berdaya menghadapi jarum suntik. Saat petugas imunisasi tiba di sekolah, kehebohan dimulai dengan jeritan anak perempuan dan tangisan beberapa anak laki-laki.

Tetapi tidak dengan Tian, ketika Petugas Imunisasi tengah sibuk menyiapkan peralatannya, Tian justru

Thursday, 8 June 2017

1000 Hari Pertama yang menentukan


 Oleh: Dinda Veska

Rinayah digendong ibunya setelah menangis hampir selama 15 menit ©UNICEF/Dinda Veska/2017
Berjarak satu jam dari kota besar Yogyakarta, seorang anak tidak dapat menjalani hari-harinya dengan ceria seperti anak-anak lainnya. Ia mengalami gizi buruk, sehingga sering kali mudah lelah ketika bermain atau belajar. Sang Ibu menamainya Rinayah, balita berusia 2 tahun ini hanya memiliki berat badan 8 kilogram, masih kurang 3 kilo dari berat badan normal.
Anak-anak seperti Rinayah yang tidak terpenuhi kebutuhan gizinya pada 1000 hari pertama kehidupannya akan mengalami hambatan pertumbuhan.  Kemampuan kognitifnya tidak dapat berkembang secara optimal, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan ia mudah sakit. Selain itu Rinayah juga terancam tidak dapat mencapai potensi maksimalnya karena mengalami kekurangan gizi pada periode emas ini.

Thursday, 1 June 2017

Dengan INFOBIDAN, Memberdayakan Bidan Indonesia

Oleh: Cory Rogers, Communication Officer, UNICEF Indonesia


Dua bidan menunjukkan cara mengakses informasi di situs INFOBIDAN.
website. © Cory Rogers / UNICEF / 2017  

Jawa Timur: “Dengan INFOBIDAN, data ada di tangan kita!” Sri Utami, bidan desa di Jawa Timur, berseru lantang agar suaranya bisa terdengar di antara keriuhan di sekitarnya.

Tak jauh dari tempatnya berada, tujuh perempuan memimpin yel-yel. “INFOBIDAN, yes! INFOBIDAN, yes!” Sorakan mereka hendak menggugah semangat 100 bidan lain yang berkumpul untuk mendaftar sebagai pengguna aplikasi ponsel itu.

INFOBIDAN adalah bentuk teknologi kesehatan nirkabel (mHealth tech) yang diluncurkan UNICEF dan Pemerintah Indonesia pada 2012 untuk memberdayakan bidan. Dengan memanfaatkan

Thursday, 5 January 2017

Survey di Yogyakarta ungkap tantangan dan peluang dalam memastikan ketersediaan akses air bersih dan sanitasi

Menguji kualitas air di Yogyakarta © UNICEF Indonesia / 2016/ Aidan Cronin

Oleh Aidan Cronin, Chief of WASH, Mitsunori Odagiri, UNICEF WASH Officer, dan Bheta Aryad, Social Policy Specialist, UNICEF Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengambil peran sebagai pemimpin implementasi Agenda 2030 dan Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) baik di kawasan Asia Tenggara maupun di tingkat dunia. Komitmen ini tercermin antara lain dari upaya pemerintah menyelaraskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan tujuan 6 SDG, yaitu menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi layak untuk semua pada tahun 2030. RPJMN 2015-2019 bahkan melangkah lebih ambisius dengan mencanangkan target untuk memastikan 100 persen penduduk Indonesia punya akses terhadap air minum yang aman pada akhir 2019.
Komitmen untuk menciptakan kemajuan sudah tidak diragukan lagi. Namun kurangnya data masih menjadi hambatan.

Untuk mengatasinya, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menyelenggarakan Survei Kualitas Air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada September tahun lalu bersamaan dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Itulah kali pertama kedua survei diintegrasikan.

Survei Kualitas Air di Yogyakarta hendak mendapatkan gambaran terperinci mengenai mutu air, sanitasi, dan kebersihan di tingkat rumah tangga serta menyediakan estimasi awal (baseline) mengenai kondisi kemajuan Indonesia terhadap target air dan sanitasi SDG yang ingin dicapainya. Selain itu, survei juga bertujuan mengumpulkan data mengenai mutu air minum untuk Pemerintah D.I. Yogyakarta dan pemangku kepentingan terkait.

Untuk survei ini, tim BPS Yogyakarta mendatangi hampir 1.000 rumah tangga. Sementara itu, analisis data air dilaksanakan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Kementerian Kesehatan dengan fokus mendeteksi kontaminasi kotoran yang mengandung bakteri E.coli.

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa 89 persen sampel sumber air sudah terkontaminasi E. Coli. Padahal, akses pada “sumber air yang aman” sudah cukup tinggi. Temuan ini menyiratkan bahwa sumber air minum aman pun masih sangat berisiko terkontaminasi.

Sekitar 67,1 persen sampel air minum rumah tangga, yaitu air siap minum, juga ditemukan terkontaminasi E.coli. Merebus air dapat menurunkan tingkat kontaminasi, namun tidak berarti dapat sama sekali menghilangkan sisa-sisa bakteri.
Hasil ini jelas sangat meresahkan. Telah diketahui bahwa tingginya kontaminasi kotoran baik pada sumber air maupun pada air siap minum rumah tangga berkorelasi dengan kemiskinan, kondisi perdesaan, dan tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini menegaskan bahwa intervensi yang menyasar kelompok paling rentan sangat dibutuhkan. Angka proporsi rumah tangga dengan akses pada air minum aman dan dengan sarana sanitasi layak sesuai definisi SDGs masing-masing diperkirakan sebesar 8,5 persen dan 45,5 persen.

Dalam proses pengambilan data, tim survei dituntut untuk dapat melakukan tugas tambahan, termasuk melengkapi kuesioner kualitas air serta mengambil sampel dari sumber air dan dari air siap minum rumah tangga. Mereka pun harus mengantarkan sampel ke laboratorium dalam kurun 4 hingga 6 jam. Semua upaya ini turut menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara yang berkomitmen menetapkan pengetahuan dasar mengenai keamanan air di negaranya. Atas inisiatif ini, Pemerintah layak mendapat apresiasi tinggi.

Diluncurkan oleh Menteri BAPPENAS Bambang Brodjonegoro, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, dan Perwakilan UNICEF Gunilla Olsson, laporan survei merekomendasikan agar survei serupa dilaksanakan di provinsi lain dan menyarankan agar pemerintah daerah menyelenggarakan uji mutu air secara teratur. Laporan juga menyatakan pentingnya pemerintah pusat dan daerah berkoordinasi lebih baik agar dapat meraih peluang untuk mencapai kemajuan-kemajuan yang sudah ditetapkan. 

UNICEF merasa bangga dapat turut menyediakan dukungan teknis untuk upaya yang luar biasa penting ini karena air aman adalah penyumbang utama kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Kita tahu bahwa lebih dari 40 persen kematian balita, misalnya, disebabkan oleh dua hal utama: diare dan pneumonia. Kita juga tahu bahwa air, sanitasi, dan kebersihan—terutama kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah menggunakan toilet—dapat secara drastis menurunkan angka ini. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa peningkatan mutu air dapat menurunkan angka kejadian diare sampai dengan 30 persen.

Selain itu, telah diketahui bahwa air, sanitasi, dan kebersihan punya peran besar dalam mengurangi angka gizi buruk. Indonesia sendiri masih menghadapi kasus anak bertubuh pendek (stunting) yang serius, dengan angka balita stunting atau dengan tinggi badan tidak sesuai untuk usianya mencapai 37 persen. Dua hal ini dapat menghambat perkembangan kecerdasan dan produktivitas mereka kelak. Studi UNICEF baru-baru ini menunjukkan bahwa anak dari keluarga yang minim akses pada air minum aman dan sarana sanitasi layak memiliki risiko stunting yang lebih tinggi.

“Dalam periode MDG (2000-2015), Indonesia berhasil menurunkan angka proporsi penduduk yang kekurangan akses pada sumber air aman sampai lebih dari setengahnya. Pencapaian ini luar biasa. Kini, Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) mengubah fokus dari sumber menjadi keamanan air. Pergeseran ini membuka peluang baru untuk melangkah maju mengingat pencapaian tujuan SDG dianggap berhasil hanya jika telah menjangkau semua orang di semua tempat.”


Survei kualitas air membuktikan bahwa kita tahu cara untuk terus merintis langkah ke depan walau mungkin ada perjalanan panjang yang menanti. 

Saturday, 20 December 2014

Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”


Para siswa SD Muhammadiyah 1 Banda Aceh menggunakan tandu untuk mengangkat seorang 'korban' dalam latihan untuk menghadapi gempa. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

BANDA ACEH, Indonesia, October 2014 – Bayangkan situasi ini: Minggu pagi di akhir bulan Desember di Banda Aceh, Anda dibangunkan oleh gempa bumi besar.

Tak lama kemudian Anda berlari menyelamatkan diri dari sapuan air bah tsunami,yang meratakan hampir semua yang dilewatinya. Anda tidak tahu di mana anggota keluarga Anda berada, hanya bagaimana menyelamatkan diri dengan mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang ada di benak Anda. Akhirnya Anda mencapai puncak sebuah bukit, bersama dengan orang-orang lain yang telah terluka dalam perjuangan mereka untuk melarikan diri dari tsunami.

Di atas bukit tersebut Anda melihat kehancuran yang dialami kota Banda Aceh. Pohon, rumah dan jalanan tersapu bersih. Reruntuhan, potongan besi, dahan-dahan pohon… serta mayat berserakan dimana-mana. Anda telah kehilangan segalanya, dan bahkan tidak tahu apabila keluarga Anda selamat. Semua infrastruktur hilang. Ketika Anda mulai menyadari apa yang telah terjadi, Anda berpikir: Meskipun saya selamat, bisakah saya mendapatkan makanan dan minuman? Di mana saya akan tidur?

Monday, 15 December 2014

Selamat dari tsunami, menciptakan masa depan lebih baik

Hamil 17 minggu dan membawa putrinya yang baru berusia tiga tahun pada waktu itu, Rosna merasa keselamatannya adalah berkat program TV tentang tsunami yang memberinya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi setelah gempa besar. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

JANTHO, Indonesia, Oktober 2014 - Rosna terselamatkan dari tsunami oleh televisi. Berkat acara TV tentang gempa bumi, gunung berapi dan aktivitas seismik bumi yang ia telah saksikan sebelumnya, ketika gempa bumi mengguncang pada 26 Desember 2004, yang menyebabkan tsunami di Samudra India, dia menyadari apa yang akan terjadi.

Dalam kehamilan yang berusia 17 minggu dan sambil menggendong putrinya Cut Rachmina, yang saat itu berusia tiga tahun, Rosna berlari meninggalkan rumahnya di Banda Aceh. Meskipun beberapa kali dihempas oleh air, dia berhasil mencapai daerah yang lebih tinggi tanpa cidera atau luka-luka dan akhirnya bisa dipersatukan kembali dengan suaminya Johansyah, yang juga selamat dari terjangan ombak raksasa.

Bencana itu telah menghabisi sebagian besar Banda Aceh, dan keluarga Rosna termasuk yang beruntung bisa selamat. Namun rumah mereka habis ditelan ombak. Mereka tak memiliki air minum, makanan, dan seluruh harta benda mereka dirusakkan oleh bencana tersebut. Dalam waktu beberapa jam, status mereka berubah dari pemilik rumah menjadi pengungsi. Tenda pengungsian menjadi rumah mereka.

Friday, 20 June 2014

Anak-anak Makassar Angkat Bicara Tentang Kekerasan


Oleh Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia

Michelin, 17 tahun, adalah ketua Forum Anak di Makassar. Saya bertemu dengannya pada bulan Mei yang lalu ketika mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya, bersama dengan para anggota Forum lainnya, dan saya bertanya pendapat mereka tentang kekerasan terhadap anak di kota tersebut.

Dia percaya bahwa kekerasan terhadap anak, khususnya perdagangan anak dan kekerasan seksual terhadap mereka yang hidup dan bekerja di jalanan menjadi kekhawatiran utama bagi anak-anak Makassar.

"Upaya-upaya untuk memecahkan masalah ini masih belum cukup," katanya.

Tuesday, 25 March 2014

Indonesia: Kesembuhan seorang anak dan kemenangan sebuah pulau dari malaria

Oleh Nuraini Razak

Sebuah pulau yang pernah tercatat memiliki jumlah kasus malaria tertinggi, telah berhasil memberantas semua kasus malaria lokal, yang merupakan salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak-anak balita.


SABANG, Indonesia , 19 Maret 2014 - Saat demam Adelia tidak kunjung turun , ia ternyata positif terkena salah satu jenis malaria paling umum, yaitu parasite malaria vivax.  Saat itu tahun 2011, berkat pengobatan yang segera dan efektif, Adelia, yang kini berusia 9 tahun, berhasil sembuh. Tapi banyak orang lain yang tidak beruntung.

"Di pulau Sabang, pada dasarnya hampir setiap orang pernah terkena malaria pada satu titik dalam hidup mereka. Kami sangat terbiasa dengan hal itu," ujar Rahmawati, ibu dari Adelia. "Tapi ketika itu terjadi pada salah satu dari anak-anak kita sendiri, saya sangat khawatir."

"Pada tahun 2008, kami mulai bekerja dengan UNICEF untuk memberantas malaria," kata Dr Titik Yuniarti, Kepala Pengendalian Penyakit Menular di Dinas Kesehatan Sabang. "Dan hari ini, kita bisa mengklaim bahwa kita tidak lagi memiliki kasus malaria lokal disini."

Dulu di Batee Shok, desa dimana Adelia dan keluarganya tinggal, pernah memecahkan rekor karena memiliki jumlah kasus malaria yang tertinggi pada suatu desa di Sabang.

Friday, 23 August 2013

UNICEF Indonesia dan Nahdlatul Ulama bersama memerangi stunting

Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney bersama K.H Said Aqil Siradj, Ketua PBNU

Jakarta, Agustus 2013 – UNICEF Indonesia menandatangani sebuah kemitraan dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, untuk meningkatkan segala usahanya dalam rangka memperbaiki status gizi anak dan mengurangi tingkat prevalensi balita pendek (stunting).

Kolaborasi ini fokus pada penyelesaian masalah balita pendek melalui penguatan program pemberian Dana Tunai Bersyarat pemerintah, yang dikenal dengan PKH. Model ini sedang diujicobakan di dua kabupaten: Brebes di Jawa Tengah dan Sikka di Nusa Tenggara Timur, melalui program yang bernama PKH Prestasi.

Bagi UNICEF Indonesia, kerjasama dengan organisasi Islam ini merupakan yang pertama kalinya. Dengan perkiraan jumlah pengikut sekitar 50 juta orang, Nahdlatul Ulama merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Sekitar 60% penduduk Brebes adalah pengikut, sehingga NU memiliki basis massa dan pengaruh yang kuat. NU memiliki mayoritas afiliasi dengan pesantren besar di seluruh Indonesia, termasuk di Brebes. NU juga mendanai rumah sakit dan sekolah, baik yang khusus Islam maupun umum.

Monday, 15 July 2013

Siap kembali ke sekolah

By Nuraini Razak, UNICEF Indonesia

Yang paling diinginkan Dani, 11 tahun,
adalah kembali ke sekolah dan bermain
dengan teman-temannya.
© UNICEF Indonesia/2013/Rizal
Bener Meriah - Fitra Ramadhani, atau biasa dipanggil Dani oleh teman-temannya, adalah seorang anak berusia 11 tahun yang selalu tampak ceria. Hobi siswa kelas 6 SD ini adalah bermain sepak bola dengan teman-teman sekolahnya. Desa Cekal Baru tempat tinggal Dani terkena dampak gempa dengan cukup parah.

Ayah Dani adalah seorang petani kopi yang harus mengurus tiga anak dan tiga anggota keluarga lainnya. Belum lama ini keluarga mereka telah kehilangan nenek Dani, dan kini gempa menghantam mereka.

Di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, lebih dari 372 sekolah telah rusak parah. Dengan awal tahun ajaran baru di depan mata, para murid pun mulai bertanya-tanya cemas apakah mereka akan dapat kembali bersekolah.

Sekolah Dani yang lama dapat ditempuh dengan jalan kaki, tapi sekarang dia tidak tahu ke mana harus pergi. Sekolahnya telah hancur.

Sekarang ia menghabiskan hari-harinya di tenda pusat pembelajaran sementara UNICEF. Keinginannya sederhana, "Rumah kami sudah rusak, dan kadang-kadang aku masih kepikiran tentang gempa, tapi yang aku benar-benar ingin lakukan adalah kembali ke sekolah dan bermain dengan teman-teman," katanya.

Sunday, 7 July 2013

Rumah Honai Markus - Rintangan akses pendidikan di Provinsi Papua

Markus meninggalkan desa asalnya
pada usia 14 tahun demi bersekolah.
© UNICEF Indonesia / 2012 / Klaus
 Megapura, Provinsi Papua, Juli 2013 - Empat tahun telah berlalu sejak Markus bertemu orang tuanya, dan paling tidak setahun lagi sebelum ia bisa pulang ke desa Kalbok yang dapat ditempuh dengan 10 hari berjalan kaki melalui dataran tinggi Papua. Remaja berusia 18 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMA ini pun sadar bahwa ia takkan pernah mengenyam bangku sekolah jika tidak meninggalkan desa asalnya.

Dalam kurun waktu itu, Markus tumbuh dengan pesat dan kini telah menjadi kepala suatu honai (gubuk tradisional) yang dijadikan rumah kos untuk 50 remaja dan orang muda di Megapura. Mereka semua bersekolah di tingkat SMA atau institusi kejuruan di kota Wamena.

"Kabupaten-kabupaten di dataran tinggi Papua memiliki indikator anak terburuk dari seluruh negara," jelas Margaret Sheehan, Kepala Kantor Lapangan UNICEF di Papua dan Papua Barat. Lebih dari 120 dari setiap 1.000 anak meninggal sebelum melewati usia lima tahun, atau lebih dari tiga kali rata-rata nasional. Hanya sepertiga penduduk memiliki akses terhadap air bersih dan kurang dari seperempat memiliki akses jamban.

Tuesday, 2 July 2013

Bagaimana seorang relawan mencegah kekerasan terhadap anak di sekolah di Jawa Tengah

Erry dalam salah satu sesi diskusi grup
tentang pencegahan kekerasan.
© UNICEF Indonesia/2012.
Mencegah kekerasan di sekolah tidaklah mudah dan membutuhkan visi yang kuat, pengetahuan khusus, serta pengalaman dan kesabaran. UNICEF tidak dapat melakukan hal ini sendirian, dan karena itu bekerja dengan pemerintah dan mitra-mitra lainnya. Selain itu, para relawan juga memainkan peran yang sangat besar.

Salah satu contoh terbaik adalah kegiatan yang dilakukan Erry Pratama Putra, seorang pria berusia 37 tahun dari Klaten, Jawa Tengah. Ia pertama kali terlibat dengan UNICEF enam tahun yang lalu, ketika menjadi relawan tanggap darurat pasca gempa di Yogyakarta dan Klaten.

"Memastikan anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, baik di rumah, sekolah atau masyarakat adalah tanggung jawab kita semua. Saya hanya bisa menawarkan jiwa, hati, pikiran, semangat dan idealisme untuk menciptakan dunia yang layak bagi anak-anak - karena masa depan mereka telah dipercayakan kepada kita."

Tuesday, 4 June 2013

Yang penting adalah abilitasnya - UNICEF Indonesia meluncurkan laporan Situasi Anak di Dunia 2013 tentang anak dengan disabilitas

Bersama beberapa pemenang medali emas Olimpiade Khusus dan aktivis-aktivis hak penyandang disabilitas, UNICEF Indonesia meluncurkan laporan State of the World's Children (Situasi Anak di Dunia), bersama dengan Kementerian Sosial dan mitra pemerintah lainnya pada tanggal 30 Mei 2013 kemarin.

"Ketika berbicara tentang anak-anak dengan kebutuhan khusus, kita sering lebih berpikir tentang apa yang mereka TIDAK bisa lakukan, daripada melihat apa yang mereka BISA berikan sebagai kontribusi kepada masyarakat," ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney dalam acara yang berlangsung di gedung Kementerian Sosial, Jakarta.

"Hal ini perlu diubah. Seperti di banyak negara lain, anak dengan disabilitas termasuk anak-anak yang paling terpinggirkan dan tak terlihat di Indonesia. Seringkali orangtua hanya menyembunyikan mereka, karena malu atau tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka."

Angela Kearney dengan Adi (kiri) dan Stephanie (kanan), para pemenang medali emas di Special Olympics. © UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Monday, 27 May 2013

Mengintip Proyek UNICEF di Rappocini, Makassar.

Ditulis oleh Dorkas, anggota tim penggalang dana di UNICEF Indonesia.

Tempat yang kami tuju untuk field trip UNICEF tidak seperti dugaanku. Bukan di tempat terpencil yang jauh dari kota, tapi ada di dalam kotanya sendiri, yang menunjukkan kompleksitas dari keragaman ekonomi penduduknya. Kota ini indah namun di dalamnya masih banyak ibu dan anak-anak yang masih kurang dari standarisasi hidup layak dan sejahtera.

Proyek kali ini adalah tentang proyek Urban WASH (Water, Sanitation and Hygiene). Sebelum pergi ke lokasi proyek, mitra UNICEF menjelaskan kepada kami tentang gaya hidup warga yang akan kami kunjungi, keadaan mereka, dan mengapa mereka yang dijadikan sasaran dari proyek ini.

Namun, yah.. sekedar teori bagi telinga tidak akan begitu berarti bukan kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Wednesday, 15 May 2013

Oralit dan Zinc: Solusi sederhana penyelamat nyawa anak-anak.



Veronika sangat lemas karena
kehilangan banyak cairan tubuh
©UNICEF Indonesia/2013/Rob Patmore
Hari masih cukup pagi di Tambolaka, Sumba, ketika Teresia dan suaminya bergegas membawa putri mereka untuk diobati. Veronika dalam keadaan sangat lemah, dan telah kehilangan banyak cairan tubuh. Ketika ia mulai muntah-muntah dan mencret, seorang supir Angkot segera mengantarkan mereka ke Puskesmas setempat.

Usia Veronika adalah 1,5 tahun, dan ia menjadi semakin lemah dengan setiap jam yang berlalu karena diare dan dehidrasi yang dialaminya. Teresia hanya bisa menatap sedih dan memeluk Veronika dengan erat, sambil berharap nyawa putrinya bisa diselamatkan.

"Kami sangat takut dan khawatir," kata Teresia. "Kami pernah mendengar bahwa anak-anak bisa mati dari hanya diare," tambahnya sambil melihat putrinya. Salah satu petugas kesehatan tiba dengan sebuah sachet oralit kecil. Ia juga diberi tablet zinc yang diencerkan dalam satu sendok teh air, yang akan membantunya melawan diare yang bisa mematikan ini.

Dengan setiap tegukan, hidup seolah-olah mengalir kembali ke tubuh mungil Veronika. Hebatnya, hanya dalam beberapa jam, kondisinya membaik secara dramatis dan ia pun bisa tersenyum lagi. Anda dapat membayangkan air mata kelegaan dan kebahagiaan yang mengalir di wajah Teresia saat ia sadar putrinya tidak menderita lagi.

Tuesday, 30 April 2013

Malaria, penyakit yang paling ditakuti seorang ibu


Eta (6 tahun) dan ibunya, Deborah
© UNICEF Indonesia / 2013 / Rob Patmore
Tidak ada perasaan yang lebih sedih bagi seorang ibu daripada berpikir bahwa ia akan kehilangan anaknya.  Namun, di Sumba, salah satu pulau di Indonesia di Nusa Tenggara Timur, terlalu banyak ibu telah menyaksikan anak-anak mereka meninggal  dunia akibat malaria. Malaria terinfeksi melalui gigitan nyamuk yang endemik di pulau Sumba.

Deborah mengerti perasaan ini. Putrinya, Eta, pernah mengalami demam tinggi sampai ia gemetar. "Saya pikir dia akan mati," Deborah ingat bagaimana takutnya ia malam itu.

Eta dibawa ke Puskesmas terdekat dan diambil darahnya untuk di tes. Hasil tes menyatakan ia terkena malaria, dan salah satu jenis yang paling berbahaya.