Annual Report

Showing posts with label Mamuju. Show all posts
Showing posts with label Mamuju. Show all posts

Tuesday, 17 April 2018

"Saya ingin jadi polisi!" dibalik keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Gunawan (9) terinspirasi ingin menjadi poiisi berkat Gerakan Kembali ke Sekolah. Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Gunawan menangis ketika saya tanyakan ingin jadi apa kelak di masa depan, air matanya tumpah sambil kemudian menjawab "Ingin jadi polisi." Tangisannya bukan karena rasa takut seorang anak yang bertemu dengan orang baru, tapi ada cerita yang ia lanjutkan sambil mengharu biru. "Saya ingin menjadi seperti bapak polisi yang membantu saya kembali ke sekolah."

Dua tahun lalu neneknya meninggal dunia, satu-satunya orang yang mendukung dan mengusahakan agar Gunawan dapat tetap bersekolah. "Nenek sudah tidak ada, jadi saya tidak bisa terus belajar lagi di sekolah, rumah saya juga jauh." Cerita Gunawan yang setiap hari harus berjalan kaki dari rumah hampir 4 kilometer untuk sampai ke sekolah. Jika pendidikan adalah eskalator untuk seorang anak memperbaiki nasibnya, maka pupuslah harapan Gunawan di hari ia putus sekolah. Keinginannya untuk membuat bangga sang nenek pun menjadi mustahil, karena satu-satunya pilihan di depan mata saat itu adalah menganggur.

November 2017, Gerakan Kembali Bersekolah yang merupakan tindak lanjut dari program SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat) kembali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju. Lebih dari 3200 anak telah dijangkau dan dikembalikan ke sekolah. Gunawan dan beberapa anak lainnya dijangkau oleh pihak kepolisian setempat - yang telah mendapat pelatihan dari UNICEF Indonesia untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan membantu setiap anak agar kembali mendapatkan haknya atas pendidikan.

Sunday, 15 January 2017

Ayo ajak High Five!

Oleh: Dinda Veska


Seorang facers sedang mengedukasi pengunjung mall tentang program UNICEF Indonesia.
©UNICEF Indonesia/2016/Surabaya.

Fundraising atau penggalangan dana kerap kali dipandang sebagai sebuah kegiatan yang tidak menarik atau bahkan mengganggu bagi sebagian orang termasuk saya. Para penggalang dana (facers) yang ada di jalan-jalan atau di mall ini cukup menyebalkan. "Seperti sales credit card, gak sopan asal stop aja, emang gak ada cara lain untuk mintain uang? Kalau bisa dihindari, mending menghindar aja." Dan masih banyak lagi komentar negatif lainnya.

Selama satu pekan kemarin saya mendapat kesempatan bekerja sama dengan mereka untuk pembuatan beberapa video story di Kabupaten Mamuju. Kesan pertama yang ditimbulkan oleh keempat facers ini adalah sangat aktif dan banyak bicara. Wajar saya pikir karena itulah yang menjadi alat utama untuk mereka bergerilya mengumpulkan banyak donasi selama ini.

Saat mendapat kesempatan untuk rapat persiapan dengan organisasi lokal di Mamuju, keempat facers ini banyak bertanya hal-hal yang di luar ekspetasi saya tentang mereka. Pertanyaan mereka cukup dalam dan jauh dari ranah permukaan. Secara bergantian dengan sangat antusias mereka menanyakan data dan fakta yang terjadi di lapangan.

Seketika ingatan saya melayang ke beberapa waktu lalu saat dicegat oleh seorang facers di sebuah pusat perbelanjaan. Alih-alih meminta donasi, facers itu lebih banyak bercerita mengenai program-program yang dilakukan oleh UNICEF dan bagaimana kondisi anak-anak Indonesia yang hidup dengan banyak keterbatasan.

Pantas saja mereka benar-benar memahami kondisi anak-anak yang diceritakan ketika menggalang donasi. Proses pengumpulan informasinya ternyata tidak sembarangan, seperti yang dilakukan saat itu. Mereka harus berkunjung ke daerah yang di mana program UNICEF sedang berlangsung, untuk memastikan donasi yang digalang akan terserap dengan benar dan tepat sasaran. Selain itu juga untuk benar-benar memahami data dan fakta yang ada mereka bertemu langsung dengan anak-anak di sana.

Belum selesai sampai disitu, motivasi dan semangat mereka juga sangat menginspirasi saya. Seperti Mey yang ternyata memilih pekerjaan ini karena ingin membayar rasa bersalahnya kepada sang adik yang meninggal di usia anak. "Mungkin ini memang kesempatannya mbak untuk melakukan sesuatu untuk adikku, ya meskipun gak untuk dia langsung tapi setidaknya aku lega karena melakukan hal baik untuk anak-anak. Waktu lihat banner UNICEF di job fair tuh aku langsung inget adikku, waktu dia meninggal aku tuh gak ada di sampingnya mbak." Ungkap Mey

Memahami sebelum membenci, mungkin itu yang sebaiknya kita lakukan. Meskipun terkadang menyebalkan ketika sedang tergesa-gesa masih harus menanggapi mereka di jalan. Satu hal yang akhirnya saya pahami, kebaikan yang mereka lakukan tidak seharusnya dihindari. Proses panjang yang mereka usahakan mulai dari pengumpulan informasi hingga penggalangan donasi sudah saatnya mendapat apresiasi.

Saya mengajak siapapun yang akhirnya membaca tulisan ini untuk ikut memberi apresiasi kepada para facers. Ayo ajak High Five! Dan katakan "SEMANGAT" pada mereka!

“Not all of us can do great things. But we can do small things, with great love.” Mother Teresa


Kegiatan Facers bersama anak-anak di sekolah.
©UNICEF Indonesia/2016/Mamuju.


Thursday, 8 December 2016

Kini, Sang Pengantin telah kembali menjadi Pelajar!

Oleh: Dinda Veska

Masih ingatkah dengan kisah dua orang anak dari Desa Kenanga* bernama Sari* dan Dewi*? Yang hidupnya berubah dramatis setelah menikah dan melahirkan anak dari laki-laki yang sama. Sari sempat menguangkapkan bahwa ia rindu kehidupan lamanya. "Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada Ibu. Ketika saya masih sekolah, semuanya lebih baik."


Setelah ditinggalkan oleh Hazar – suaminya, Sari menyampaikan kembali keinginannya kepada sang Ibu. Keterbatasan biaya menjadi kendala utama untuk mengembalikan Sari ke sekolah. Ditambah lagi tidak mudah untuk mencari sekolah yang bersedia menerima Sari dengan kondisi sudah pernah menikah dan memiliki anak.

Thursday, 10 November 2016

Menjadi Ibu dan Ingin Kembali ke Sekolah

Oleh: Dinda Veska

Ani* anak perempuan yang telah menikah dan melahirkan seorang anak, ingin kembali ke sekolah juga demi sang anak.
©UNICEF Indonesia/2016/Mamuju.

Menikah karena dijodohkan adalah hal yang banyak dialami oleh anak-anak perempuan di Mamuju, Sulawesi Barat. Ada 687 Anak yang tidak sekolah karena menikah/mengurus rumah tangga di sana.

Salah satunya adalah Ani*, 17.

Setelah menikah pada usia 15 tahun dan melahirkan seorang anak, Ani bertengkar dengan suaminya dan memutuskan untuk bercerai. Menyadari pentingnya pendidikan untuk sang anak nanti, Ani pun ingin kembali ke sekolah dan melanjutkan pendidikannya hingga bisa menjadi seorang guru.

Motivasinya sangat sederhana, ia ingin anaknya kelak bisa belajar langsung mengenai banyak hal dari sang Ibu. "Kalau bukan saya yang ajarkan, saya takut anak saya jadi tidak baik," ungkap Ani.

Saat ini, Ani bersama orangtuanya tengah berusaha mengurus proses administrasi untuk kembali menjadi pelajar. Sambil menunggu waktu kembali duduk di sekolah, sehari-hari Ani bekerja sebagai pelayan toko di pasar.

Seperti yang kita semua ketahui juga, salah satu fokus UNICEF Indonesia adalah pendidikan anak. Untuk itu UNICEF, bekerja sama dengan Phillip Lighting Indonesia dan Pemerintah, melakukan sebuah program Gerakan Kembali ke Sekolah, sebagai bentuk upaya bagaimana anak-anak seperti Ani dapat kembali mendapatkan hak pendidikannya. UNICEF Indonesia juga bekerjasama dengan Komite Nasional untuk UNICEF Belanda dalam isu perkawinan usia anak.

Bila akhirnya bisa kembali ke sekolah, Ani sangat ingin kisahnya bisa menginspirasi banyak anak di Indonesia untuk berusaha kembali mendapatkan hak pendidikan. "Sekolah itu cara biar aku sukses kak," jelas Ani.

*Foto, nama anak perempuan, dan desa disamarkan untuk melindungi dan menghargai hak anak.