Annual Report

Showing posts with label air bersih. Show all posts
Showing posts with label air bersih. Show all posts

Thursday, 23 March 2017

Belajar bersyukur dari Caca yang ceria

Oleh Yoan Mei Dyandari A – Fundraiser UNICEF Indonesia

Saya sangat bersemangat ketika mendapat kesempatan berkunjung ke kota Mamuju di Sulawesi Barat. Saya merasa beruntung didampingi oleh tim UNICEF dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Masagena.


Para Facers disambut oleh anak-anak SDN Pantaraan ©UNICEF Indonesia/2016

Tujuan utama kami adalah Desa Pantaraan, lokasi Sekolah Satu Atap (SATAP) yang di dukung oleh UNICEF dan LSM Masagena. Perjalanan ke sekolah tersebut tidak mudah, jalanan berbatu, tidak rata, ditambah terik matahari yang menyengat. Namun hal itu

Thursday, 5 January 2017

Survey di Yogyakarta ungkap tantangan dan peluang dalam memastikan ketersediaan akses air bersih dan sanitasi

Menguji kualitas air di Yogyakarta © UNICEF Indonesia / 2016/ Aidan Cronin

Oleh Aidan Cronin, Chief of WASH, Mitsunori Odagiri, UNICEF WASH Officer, dan Bheta Aryad, Social Policy Specialist, UNICEF Indonesia

Pemerintah Indonesia telah mengambil peran sebagai pemimpin implementasi Agenda 2030 dan Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) baik di kawasan Asia Tenggara maupun di tingkat dunia. Komitmen ini tercermin antara lain dari upaya pemerintah menyelaraskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dengan tujuan 6 SDG, yaitu menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi layak untuk semua pada tahun 2030. RPJMN 2015-2019 bahkan melangkah lebih ambisius dengan mencanangkan target untuk memastikan 100 persen penduduk Indonesia punya akses terhadap air minum yang aman pada akhir 2019.
Komitmen untuk menciptakan kemajuan sudah tidak diragukan lagi. Namun kurangnya data masih menjadi hambatan.

Untuk mengatasinya, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menyelenggarakan Survei Kualitas Air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada September tahun lalu bersamaan dengan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Itulah kali pertama kedua survei diintegrasikan.

Survei Kualitas Air di Yogyakarta hendak mendapatkan gambaran terperinci mengenai mutu air, sanitasi, dan kebersihan di tingkat rumah tangga serta menyediakan estimasi awal (baseline) mengenai kondisi kemajuan Indonesia terhadap target air dan sanitasi SDG yang ingin dicapainya. Selain itu, survei juga bertujuan mengumpulkan data mengenai mutu air minum untuk Pemerintah D.I. Yogyakarta dan pemangku kepentingan terkait.

Untuk survei ini, tim BPS Yogyakarta mendatangi hampir 1.000 rumah tangga. Sementara itu, analisis data air dilaksanakan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Kementerian Kesehatan dengan fokus mendeteksi kontaminasi kotoran yang mengandung bakteri E.coli.

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa 89 persen sampel sumber air sudah terkontaminasi E. Coli. Padahal, akses pada “sumber air yang aman” sudah cukup tinggi. Temuan ini menyiratkan bahwa sumber air minum aman pun masih sangat berisiko terkontaminasi.

Sekitar 67,1 persen sampel air minum rumah tangga, yaitu air siap minum, juga ditemukan terkontaminasi E.coli. Merebus air dapat menurunkan tingkat kontaminasi, namun tidak berarti dapat sama sekali menghilangkan sisa-sisa bakteri.
Hasil ini jelas sangat meresahkan. Telah diketahui bahwa tingginya kontaminasi kotoran baik pada sumber air maupun pada air siap minum rumah tangga berkorelasi dengan kemiskinan, kondisi perdesaan, dan tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini menegaskan bahwa intervensi yang menyasar kelompok paling rentan sangat dibutuhkan. Angka proporsi rumah tangga dengan akses pada air minum aman dan dengan sarana sanitasi layak sesuai definisi SDGs masing-masing diperkirakan sebesar 8,5 persen dan 45,5 persen.

Dalam proses pengambilan data, tim survei dituntut untuk dapat melakukan tugas tambahan, termasuk melengkapi kuesioner kualitas air serta mengambil sampel dari sumber air dan dari air siap minum rumah tangga. Mereka pun harus mengantarkan sampel ke laboratorium dalam kurun 4 hingga 6 jam. Semua upaya ini turut menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara yang berkomitmen menetapkan pengetahuan dasar mengenai keamanan air di negaranya. Atas inisiatif ini, Pemerintah layak mendapat apresiasi tinggi.

Diluncurkan oleh Menteri BAPPENAS Bambang Brodjonegoro, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, dan Perwakilan UNICEF Gunilla Olsson, laporan survei merekomendasikan agar survei serupa dilaksanakan di provinsi lain dan menyarankan agar pemerintah daerah menyelenggarakan uji mutu air secara teratur. Laporan juga menyatakan pentingnya pemerintah pusat dan daerah berkoordinasi lebih baik agar dapat meraih peluang untuk mencapai kemajuan-kemajuan yang sudah ditetapkan. 

UNICEF merasa bangga dapat turut menyediakan dukungan teknis untuk upaya yang luar biasa penting ini karena air aman adalah penyumbang utama kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Kita tahu bahwa lebih dari 40 persen kematian balita, misalnya, disebabkan oleh dua hal utama: diare dan pneumonia. Kita juga tahu bahwa air, sanitasi, dan kebersihan—terutama kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah menggunakan toilet—dapat secara drastis menurunkan angka ini. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa peningkatan mutu air dapat menurunkan angka kejadian diare sampai dengan 30 persen.

Selain itu, telah diketahui bahwa air, sanitasi, dan kebersihan punya peran besar dalam mengurangi angka gizi buruk. Indonesia sendiri masih menghadapi kasus anak bertubuh pendek (stunting) yang serius, dengan angka balita stunting atau dengan tinggi badan tidak sesuai untuk usianya mencapai 37 persen. Dua hal ini dapat menghambat perkembangan kecerdasan dan produktivitas mereka kelak. Studi UNICEF baru-baru ini menunjukkan bahwa anak dari keluarga yang minim akses pada air minum aman dan sarana sanitasi layak memiliki risiko stunting yang lebih tinggi.

“Dalam periode MDG (2000-2015), Indonesia berhasil menurunkan angka proporsi penduduk yang kekurangan akses pada sumber air aman sampai lebih dari setengahnya. Pencapaian ini luar biasa. Kini, Tujuan-Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) mengubah fokus dari sumber menjadi keamanan air. Pergeseran ini membuka peluang baru untuk melangkah maju mengingat pencapaian tujuan SDG dianggap berhasil hanya jika telah menjangkau semua orang di semua tempat.”


Survei kualitas air membuktikan bahwa kita tahu cara untuk terus merintis langkah ke depan walau mungkin ada perjalanan panjang yang menanti. 

Friday, 4 July 2014

Unilever memperluas dukungan untuk melawan defekasi terbuka

(c) UNICEF Indonesia/2014/Silitonga

JAKARTA, 4 Juli 2014 - Unilever Indonesia Foundation dan UNICEF semakin memperkuat kolaborasi mereka dalam mengatasi tantangan air bersih dan sanitasi di negara ini.

Setelah kontribusi pertama sebesar € 100.000 pada tahun 2013, Unilever kini menyumbangkan € 200.000 kepada program WASH UNICEF yang bertujuan untuk mengakhiri defekasi terbuka dan meningkatkan praktek-praktek higienis di Indonesia.

Monday, 19 August 2013

Senyuman dari Wilayah Timur Indonesia

By Dita - Fundraiser UNICEF Indonesia

Betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Field Trip yang dilakukan oleh Team UNICEF pada tanggal 25 Juni 2013 yang lalu. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi Kabupaten TTS (Timur Tengah Selatan) tepatnya di kota Soe (baca: So’e). Dan pada saat itu, team UNICEF yang berangkat tidak hanya dari Jakarta saja, tetapi juga dari Perancis dan Swiss.

Kota Soe terletak cukup jauh dari Kupang. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam untuk mencapai kota tersebut. Jangan bayangkan Kota Soe sama dengan Ibu Kota-Ibu Kota yang ada di Indonesia. Kota Soe yang kami kunjungi jauh dari kesan modern. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Semua fasilitas yang ada di kota tersebut serba terbatas, terutama akses kesehatan dan pendidikan.

Untuk meningkatkan standar kesehatan dan pendidikan, salah satu upaya yang dilakukan oleh UNICEF adalah membangun fasilitas kamar kecil dan penampungan air bersih di sekolah-sekolah yang ada di Kota Soe. Hal ini dilakukan untuk menekan angka anak yang sakit akibat diare dan malaria. Kedua penyakit ini adalah penyebab utama tingginya tingkat kematian balita di Indonesia.

Dengan adanya fasilitas kamar kecil dan air bersih ini, anak-anak diperkenalkan dengan mencuci tangan dengan sabun dengan benar dan agar tidak buang air besar dan kecil sembarangan. Karena menurunnya jumlah anak yang sakit akibat diare dan malaria, anak-anak di Kota Soe dapat belajar dan masuk sekolah karena mereka lebih sehat. Dan dampaknya luar biasa, angka anak yang tinggal kelas menurun, bahkan anak-anak yang lulus dari sekolah dasar tingkat kelulusannya 100%.

Fasilitas air dan sanitasi yang dibangun UNICEF di salah satu sekolah di kota Soe
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Di sekolah dasar yang kami kunjungi, saya bisa melihat betapa lebarnya senyuman anak-anak yang ada di sana. Mereka begitu ceria menyambut kedatangan kami. Mereka sangat semangat menceritakan kemajuan-kemajuan yang mereka alami semenjak sekolah mereka memiliki kamar kecil dan penampungan air bersih. Bahkan mereka mengajari saya lagu-lagu edukasi mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan membuang sampah pada tempatnya, serta pentingnya membasmi jentik-jentik nyamuk malaria. Lewat lagu tersebutlah mereka menjadi sadar dan mempunyai kebiasaan baik untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit.

Bernyanyi lagu-lagu perilaku hidup bersih dan sehat bersama murid-murid
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Setelah kami mengunjungi dua sekolah di Kota Soe, kami bertolak ke sebuah Desa yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Kami membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan untuk tiba di Desa tersebut. Desa yang akan kami kunjungi adalah Desa Nenas. Alasan kenapa kami mengunjungi desa tersebut, karena kami ingin menilik program UNICEF yang berkaitan dengan kesehatan di sana.

Desa tesebut tidak memiliki pelayanan kesehatan. Apabila ada penduduk yang sakit ataupun Ibu yang mengandung dan akan melahirkan, mereka harus menempuh waktu 3 jam untuk bisa mendapatkan fasilitas kesehatan tersebut. Dan untuk menuju ke Desa Nenas, perjalanan tidak hanya menyita waktu, akan tetapi medan yang kami tempuh juga sangat berat. Belum lagi sepanjang perjalanan, tanah cukup becek dan licin karena hujan baru saja berhenti di siang hari. Beberapa jalanan bahkan longsor dan mengakibatkan perjalanan kami di hari itu cukup berat.

Perjalanan melalui medan yang cukup berat untuk ditempuh menuju Desa Nenas
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Setiba di Desa Nenas, hari sudah menjelang sore dan mengakibatkan team kami tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama di desa tersebut. Kami langsung dibawa ke balai desa dan diperkenalkan dengan kepala desa setempat. Setelah dari balai desa, kami dibawa ke rumah salah satu Kader di Desa Nenas. Fungsi Kader ini adalah untuk penanganan pertama bagi penduduk yang terserang penyakit dan mengedukasi penduduk di desa tersebut agar lebih peduli pada kesehatan. Sehingga penduduk setempat tidak perlu menempuh waktu berjam-jam untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Tidak hanya melatih Kader, UNICEF juga mengirimkan tim medisnya yang juga bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengunjungi Desa Nenas satu bulan sekali. Tim tersebut harus menempuh jalanan yang sulit dengan waktu yang cukup panjang untuk mengantar vaksin dan imunisasi serta memantau perkembangan kesehatan di Desa Nenas. Atas jasa merekalah angka kematian Ibu melahirkan menurun dan kesehatan penduduk setempat juga meningkat.

Bersama para pahlawan-pahlawan kesehatan dari Desa Nenas
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Saya merasa bersyukur memiliki kesempatan meninjau Kota Soe dan Desa Nenas. Dan melihat lebarnya senyum anak-anak yang saya kunjungi, membuat saya semakin bersemangat untuk mengajak masyarakat yang tinggal di kota-kota besar di seluruh Indonesia untuk turut membantu anak-anak yang berada di pelosok dan pedalaman Indonesia. Senyum yang mereka tunjukkan ketika kami mengunjungi mereka, membayar semua peluh yang harus kami hadapi selama perjalanan menuju Desa Nenas.

Senyuman gembira anak-anak, motivasi bagi kami semua
© UNICEF Indonesia/2013/Dita