Annual Report

Showing posts with label kebersihan. Show all posts
Showing posts with label kebersihan. Show all posts

Friday, 26 May 2017

Menstruasi, penting diketahui anak perempuan maupun lelaki

By: Liz Pick, Communication Specialist

Buku komik untuk anak laki-laki tentang "Apa itu Menstruasi?"
©UNICEF Indonesia/2016/Tongeng

Tanggal 28 Mei kini diperingati sebagai Hari Kebersihan Menstruasi sedunia—hari yang menyerukan adanya kesadaran lebih tinggi mengenai pentingnya manajemen kebersihan menstruasi (MKM) dalam membantu wanita dan anak-anak perempuan mewujudkan potensi dirinya.

UNICEF Indonesia telah bergabung dengan gerakan global yang mendorong agar pendidikan menstruasi diberikan tak hanya kepada anak perempuan, tetapi juga lelaki.

Lho, bukankah menstruasi hanya dialami perempuan? Untuk apa diajarkan kepada anak lelaki?”

Wednesday, 13 August 2014

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sarah Grainger

Novianti, 7 tahun, bersama ibunya Amelia di atas pantai dekat rumah mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

FUNGAFENG, Provinsi NTT, Indonesia, April 2014 - Novianti Atafan, 7 tahun, adalah salah satu anak terakhir di desanya yang mendapatkan jamban di rumah. Dia tinggal di desa Fungafeng di pinggir pantai pulau Alor di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keluarganya tinggal di sebuah rumah adat lopo yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap jerami.

Setiap pagi, Novianti dan ibu, ayah, kakek serta 5 kakaknya harus menuruni lereng di belakang rumahnya untuk buang air besar di dekat pantai.

Semua itu berubah ketika seorang sanitarian - petugas kesehatan lokal yang memiliki spesialisasi dalam sanitasi dan hygiene - mengunjungi desanya.

Thursday, 31 July 2014

Check-list untuk hidup sehat

Nova Fransisca Silitonga, Corporate Partnership Officer, UNICEF Indonesia

Sudahkah kamu mencuci tangan dengan sabun? Makan pagi? Sikat gigi? Buang air di toilet? Membersihkan telinga?

Ini adalah beberapa pertanyaan yang harus dijawab setiap pagi oleh siswa-siswi SDN 69 di Desa Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Murid-murid diminta untuk mengisi aktifitas yang telah dan belum mereka lakukan pada sebuah tabel di dinding kelas. Kegiatan ini dirancang untuk mendorong siswa agar jujur serta mengajarkan mereka tentang gaya hidup yang sehat.

Sekolah di Desa Galesong ini adalah satu dari 93 di kabupaten tersebut yang gurunya telah menerima pelatihan tentang sanitasi dan kebersihan dari UNICEF pada tahun 2011.

Monday, 19 August 2013

Senyuman dari Wilayah Timur Indonesia

By Dita - Fundraiser UNICEF Indonesia

Betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Field Trip yang dilakukan oleh Team UNICEF pada tanggal 25 Juni 2013 yang lalu. Kami diberi kesempatan untuk mengunjungi Kabupaten TTS (Timur Tengah Selatan) tepatnya di kota Soe (baca: So’e). Dan pada saat itu, team UNICEF yang berangkat tidak hanya dari Jakarta saja, tetapi juga dari Perancis dan Swiss.

Kota Soe terletak cukup jauh dari Kupang. Kami membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam untuk mencapai kota tersebut. Jangan bayangkan Kota Soe sama dengan Ibu Kota-Ibu Kota yang ada di Indonesia. Kota Soe yang kami kunjungi jauh dari kesan modern. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Semua fasilitas yang ada di kota tersebut serba terbatas, terutama akses kesehatan dan pendidikan.

Untuk meningkatkan standar kesehatan dan pendidikan, salah satu upaya yang dilakukan oleh UNICEF adalah membangun fasilitas kamar kecil dan penampungan air bersih di sekolah-sekolah yang ada di Kota Soe. Hal ini dilakukan untuk menekan angka anak yang sakit akibat diare dan malaria. Kedua penyakit ini adalah penyebab utama tingginya tingkat kematian balita di Indonesia.

Dengan adanya fasilitas kamar kecil dan air bersih ini, anak-anak diperkenalkan dengan mencuci tangan dengan sabun dengan benar dan agar tidak buang air besar dan kecil sembarangan. Karena menurunnya jumlah anak yang sakit akibat diare dan malaria, anak-anak di Kota Soe dapat belajar dan masuk sekolah karena mereka lebih sehat. Dan dampaknya luar biasa, angka anak yang tinggal kelas menurun, bahkan anak-anak yang lulus dari sekolah dasar tingkat kelulusannya 100%.

Fasilitas air dan sanitasi yang dibangun UNICEF di salah satu sekolah di kota Soe
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Di sekolah dasar yang kami kunjungi, saya bisa melihat betapa lebarnya senyuman anak-anak yang ada di sana. Mereka begitu ceria menyambut kedatangan kami. Mereka sangat semangat menceritakan kemajuan-kemajuan yang mereka alami semenjak sekolah mereka memiliki kamar kecil dan penampungan air bersih. Bahkan mereka mengajari saya lagu-lagu edukasi mengenai pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun dan membuang sampah pada tempatnya, serta pentingnya membasmi jentik-jentik nyamuk malaria. Lewat lagu tersebutlah mereka menjadi sadar dan mempunyai kebiasaan baik untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit.

Bernyanyi lagu-lagu perilaku hidup bersih dan sehat bersama murid-murid
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Setelah kami mengunjungi dua sekolah di Kota Soe, kami bertolak ke sebuah Desa yang terletak cukup jauh dari pusat kota. Kami membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan untuk tiba di Desa tersebut. Desa yang akan kami kunjungi adalah Desa Nenas. Alasan kenapa kami mengunjungi desa tersebut, karena kami ingin menilik program UNICEF yang berkaitan dengan kesehatan di sana.

Desa tesebut tidak memiliki pelayanan kesehatan. Apabila ada penduduk yang sakit ataupun Ibu yang mengandung dan akan melahirkan, mereka harus menempuh waktu 3 jam untuk bisa mendapatkan fasilitas kesehatan tersebut. Dan untuk menuju ke Desa Nenas, perjalanan tidak hanya menyita waktu, akan tetapi medan yang kami tempuh juga sangat berat. Belum lagi sepanjang perjalanan, tanah cukup becek dan licin karena hujan baru saja berhenti di siang hari. Beberapa jalanan bahkan longsor dan mengakibatkan perjalanan kami di hari itu cukup berat.

Perjalanan melalui medan yang cukup berat untuk ditempuh menuju Desa Nenas
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Setiba di Desa Nenas, hari sudah menjelang sore dan mengakibatkan team kami tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama di desa tersebut. Kami langsung dibawa ke balai desa dan diperkenalkan dengan kepala desa setempat. Setelah dari balai desa, kami dibawa ke rumah salah satu Kader di Desa Nenas. Fungsi Kader ini adalah untuk penanganan pertama bagi penduduk yang terserang penyakit dan mengedukasi penduduk di desa tersebut agar lebih peduli pada kesehatan. Sehingga penduduk setempat tidak perlu menempuh waktu berjam-jam untuk bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Tidak hanya melatih Kader, UNICEF juga mengirimkan tim medisnya yang juga bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk mengunjungi Desa Nenas satu bulan sekali. Tim tersebut harus menempuh jalanan yang sulit dengan waktu yang cukup panjang untuk mengantar vaksin dan imunisasi serta memantau perkembangan kesehatan di Desa Nenas. Atas jasa merekalah angka kematian Ibu melahirkan menurun dan kesehatan penduduk setempat juga meningkat.

Bersama para pahlawan-pahlawan kesehatan dari Desa Nenas
© UNICEF Indonesia/2013/Dita

Saya merasa bersyukur memiliki kesempatan meninjau Kota Soe dan Desa Nenas. Dan melihat lebarnya senyum anak-anak yang saya kunjungi, membuat saya semakin bersemangat untuk mengajak masyarakat yang tinggal di kota-kota besar di seluruh Indonesia untuk turut membantu anak-anak yang berada di pelosok dan pedalaman Indonesia. Senyum yang mereka tunjukkan ketika kami mengunjungi mereka, membayar semua peluh yang harus kami hadapi selama perjalanan menuju Desa Nenas.

Senyuman gembira anak-anak, motivasi bagi kami semua
© UNICEF Indonesia/2013/Dita 

Monday, 27 May 2013

Mengintip Proyek UNICEF di Rappocini, Makassar.

Ditulis oleh Dorkas, anggota tim penggalang dana di UNICEF Indonesia.

Tempat yang kami tuju untuk field trip UNICEF tidak seperti dugaanku. Bukan di tempat terpencil yang jauh dari kota, tapi ada di dalam kotanya sendiri, yang menunjukkan kompleksitas dari keragaman ekonomi penduduknya. Kota ini indah namun di dalamnya masih banyak ibu dan anak-anak yang masih kurang dari standarisasi hidup layak dan sejahtera.

Proyek kali ini adalah tentang proyek Urban WASH (Water, Sanitation and Hygiene). Sebelum pergi ke lokasi proyek, mitra UNICEF menjelaskan kepada kami tentang gaya hidup warga yang akan kami kunjungi, keadaan mereka, dan mengapa mereka yang dijadikan sasaran dari proyek ini.

Namun, yah.. sekedar teori bagi telinga tidak akan begitu berarti bukan kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Tuesday, 26 March 2013

Seorang visioner, seorang petani - dan desa yang sehat: bagaimana Galung mengakhiri buang air besar (BAB) sembarangan


Meskipun berlokasi hanya 17 kilometer dari ibu kota kabupaten, Galung adalah desa yang belum berkembang di Kecamatan Barru, di Provinsi Sulawesi Selatan.


Jamban sederhana yang dibuat di Desa Galung
© UNICEF Indonesia / Gerber
140 dari 484 rumah tangga di desa ini sudah lama tidak memiliki akses kepada jamban yang layak, meskipun telah dilakukan upaya untuk mempromosikan kesehatan yang lebih baik. Namun, permintaan untuk sanitasi yang layak semakin tinggi, terutama disebabkan oleh frustrasi terhadap rendahnya penghasilan dibandingkan pembangunan jamban. Terlepas dari tantangan itu, Galung baru saja dinyatakan sebagai desa pertama di kabupaten yang terbebas dari BAB di tempat terbuka. 

Faktor utama keberhasilan ini adalah karena kepala desa yang sangat peduli akan sanitasi, dan adanya seorang pengusaha / pengrajin desa yang kreatif dan bisa membangun jamban yang murah.