Annual Report

Showing posts with label anak perempuan. Show all posts
Showing posts with label anak perempuan. Show all posts

Monday, 6 November 2017

Isto, Agen Perubahan Kebersihan Menstruasi

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Isto (11) menjadi agen perubahan di sekolahnya untuk melindungi anak-anak perempuan dari ejekan-ejekan soal menstruasi. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017


Terik matahari di Sumba Barat daya hari itu cukup menyengat kulit, siswa-siswi SD Lolaramo berlarian ke tengah lapangan dan bersiap untuk berlatih ekstra kurikuler tarian daerah. Mereka berbaris rapih, memberikan senyumnya lebar-lebar kepada para guru.

Di tengah-tengah latihan, seorang anak perempuan terlihat pucat dan meminta izin untuk istirahat sebentar. Isto (11) menawarkan diri untuk menemaninya ke ruang UKS. Mengetahui teman perempuannya sedang mengalami menstruasi, Isto melempar sedikit guyonan sambil jalan berdua menuju ruang UKS. Ia berpikir itu dapat sedikit mengalihkan rasa sakit di perut temannya.

“Menstruasi itu tanda ketika anak perempuan sudah tumbuh dewasa kak! Sebagai anak laki-laki aku harus siap membantu dan tidak boleh mengejek.” Seru Isto ketika di ruang kelas saya bertanya apa itu menstruasi.

Tuesday, 17 October 2017

#GirlsTakeOver: Remaja bertindak untuk mengakhiri perkawinan usia anak

By Fadilla Dwianti, Child Protection Officer


21 remaja terpilih yang berasal dari 12 provinsi berpose bersama Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Amanda Bissex, dan Direktur Plan International Indonesia Myrna Remata-Evora.©UNICEF/Fadilla Putri/2017 


Bukan hal aneh jika Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia berpidato di Hari Anak Perempuan Internasional.
Kecuali tahun ini, menteri tersebut adalah seorang anak perempuan berusia 19 tahun.

Dimulai dari beberapa hari sebelumnya, 21 remaja berusia 15-19 tahun dari seluruh Indonesia berkumpul untuk Pelatihan Kepemimpinan selama tiga hari yang dilaksanakan oleh Plan Indonesia, UNICEF, Jaringan untuk Remaja Perempuan Indonesia (AKSI) dan Youth Coalition for Girls. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan masalah perkawinan usia anak dan meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang komunikasi, advokasi dan kepemimpinan, yang kesemuanya bertujuan untuk mempersiapkan mereka “mengambil alih” Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak selama satu hari.

Friday, 26 May 2017

Menstruasi, penting diketahui anak perempuan maupun lelaki

By: Liz Pick, Communication Specialist

Buku komik untuk anak laki-laki tentang "Apa itu Menstruasi?"
©UNICEF Indonesia/2016/Tongeng

Tanggal 28 Mei kini diperingati sebagai Hari Kebersihan Menstruasi sedunia—hari yang menyerukan adanya kesadaran lebih tinggi mengenai pentingnya manajemen kebersihan menstruasi (MKM) dalam membantu wanita dan anak-anak perempuan mewujudkan potensi dirinya.

UNICEF Indonesia telah bergabung dengan gerakan global yang mendorong agar pendidikan menstruasi diberikan tak hanya kepada anak perempuan, tetapi juga lelaki.

Lho, bukankah menstruasi hanya dialami perempuan? Untuk apa diajarkan kepada anak lelaki?”

Monday, 27 February 2017

Melindungi Yessi dari Kekerasan

Oleh: Dinda Veska


Perlindungan untuk Anak Indonesia ©UNICEF/2016


Yessi* masih berusia tiga tahun saat ditinggal kedua orang tuanya pergi menjadi buruh migran ke negara tetangga. Jauh dari harapan Sang Ayah dan Ibu yang mempercayakan anaknya dibesarkan oleh orang lain. Yessi justru tidak mendapat perlakuan baik selama hidup bersama kerabat dari Sang Ayah, ia lebih sering mengalami kekerasan.

Sejak memutuskan bekerja di luar Indonesia, orang tuanya pun tidak pernah mengunjungi Yessi, mereka berpisah di tengah perantauannya di Malaysia.

Yessi tetap kuat bertahan hidup meski kerap mendapat perlakuan buruk selama bertahun-tahun. Sayangnya ini bukan arena pertempuran untuk anak sekecil Yessi, ia hanya bisa diam dan menerima kondisi hidupnya.

Wednesday, 18 January 2017

Sebuah Gerakan untuk Perubahan yang berpusat pada Anak Gadis

Oleh Felice Baker, JPO, Perlindungan Anak

Jakarta:”Penciptaan generasi yang kuat tidak akan tercapai jika sang ibu, yang merupakan sumber pertama pendidikan bagi seorang anak, adalah seorang gadis yang belum siap menjadi seorang ibu,” demikian perkataan Ibu Sinta Nuriyah Wahid, pendukung hak-hak perempuan dan mantan Ibu Negara (1999-2001), pada saat peluncuran Jaringan Gadis Remaja Indonesia di Jakarta.

Lokakarya dua hari ini, yang diadakan oleh UNICEF bekerjasama dengan Flamingo Social Purpose dan Rumah Kita, menghadirkan pendukung dari 28 organisasi berbasis di Indonesia, yang berfokus pada isu-isu seperti pernikahan anak, kesehatan reproduksi dan kesetaraan gender. Jaringan ini didirikan untuk memungkinan para anggotanya mengkoordinasikan dan mengimplementasikan intervensi, memperbesar dan mengembangkan sinergi untuk hasil yang terbaik bagi para gadis remaja.

Chernor Bah, pendukung hak-hak gadis dan anak muda dan pendiri Jaringan Gadis Remaja Sierra Leone, memperkenalkan kepada para peserta prinsip-prinsip yang ia sebut sebagai ‘program yang terpusat pada anak gadis’, sebuah filosofi yang dimulai dengan kepercayaan bahwa “permainannya dibuat untuk mencurangi anak gadis, mereka dibuat kalah – dan jika anak gadis kalah, semua orang kalah,” ujarnya.

Secara global, anak-anak gadis umumnya kurang sehat, kurang terdidik dan menikmati hak-hak yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan anak lelaki, menghadapi kemudaratan sistematik yang disebabkan norma-norma yang diskriminatif. Pada saat pubertas, anak-anak gadis menghadapi resiko diperlakukan dengan tidak pantas, harus melakukan pekerjaan domestik dan putus sekolah, menjadi terisolasi secara sosial. Bahkan menurut sebuah studi yang dilakukan di Afrika Selatan oleh Population Council, sebuah pusat pemikiran pembangunan yang berpusat di New York, pada saat pubertas, akses anak-anak gadis terhadap tempat-tempat seperti pasar, pusat kesehatan dan perpustakaan juga berkurang, sementara untuk anak lelaki akses itu bertambah. Berinvestasi pada anak-anak gadis tidak hanya menjanjikan imbalan ekonomis yang signifikan, tapi juga dampak yang besar pada hampir setiap indikator pembangunan, dari partisipasi anak-anak gadis di pasar tenaga kerja, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, hingga perbaikan kesehatan dan pendidikan untuk generasi mendatang1.

Program yang berpusat pada anak gadis membuat mereka menjadi fokus dari setiap keputusan program; hal ini termasuk menentukan siapa yang ditargetkan, kapan dan bagaimana memantau kemajuan mereka. Program seperti ini dapat menunda pernikahan, meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, meningkatkan rasa percaya diri dan memperbaiki literasi keuangan.

Selama lokakarya, anggota Jaringan setuju bahwa  memberdayakan anak gadis melalui peningkatan literasi keuangan, perluasan jaringan pendukung sosial dan perbaikan pengetahuan mereka tentang kesehatan, akan menjadi misi penyatuan. Jika dikombinasikan, hal ini akan mengurangi  kerentanan anak-anak gadis, dan menciptakan pertahanan terhadap pernikahan anak, kehamilan remaja dan putus sekolah,

Dengan menempatkan anak gadis di pusat, Jaringan Gadis Remaja Indonesia sekarang siap untuk memperkuat karya penting mereka. Anggota akan bertemu tiap bulan untuk berbagi informasi mengenai aktivitas, melakukan koordinasi riset dan intervensi bersama dan menyerahkan usulan bersama untuk pendanaan. Saat ini sedang direncanakan sebuah inisiatif bersama untuk membuat platform online, yang memungkinkan anak-anak gadis untuk berkomunikasi dengan rekan dan mentornya.