Annual Report

Showing posts with label Papua Barat. Show all posts
Showing posts with label Papua Barat. Show all posts

Monday, 26 May 2014

Kebijakan Pemuda di Papua Barat - Mendengarkan Generasi Baru

Oleh Sarah Grainger

Melan, 24, dan ibunya, Elvi, seorang guru biologi di Manokwari, Papua Barat
© UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown

MANOKWARI, Provinsi Papua Barat, Indonesia, Mei 2014 - Ketika Melan mulai kuliah beberapa tahun yang lalu, ia mendapat sebuah kejutan .

Keluarga Melan selalu berbicara secara terbuka tentang hal-hal seperti hubungan seks yang aman dan pencegahan HIV / AIDS. Berkat itu, pemudi berusia 24 tahun ini merasa terbekali sebelum memasuki masa kuliahnya. Namun dia segera menyadari bahwa tidak semua teman-temannya telah mendapatkan dukungan yang sama.

"Saya mulai melihat betapa sedikit informasi yang mereka punya tentang keterampilan hidup," katanya. "Beberapa teman saya sangat terbuka dan saya sering mendengar tentang masalah mereka. Tidak begitu banyak masalah narkoba, tetapi lebih pada alkohol dan kehamilan. Ada juga yang mengalami kekerasan dalam hubungan mereka."

Tuesday, 3 December 2013

Mengakhiri Kekerasan di Sekolah Lewat Disiplin Positif

Devi Asmarani


Setahun setelah memulai program Disiplin Positif, suasana di kelas telah berubah total. Siswa tidak takut guru mereka lagi. ©UNICEFIndonesia/2013/Esteve.

Selama 24 tahun mengajar, guru kelas 5 Darius Naki Sogho sering menggunakan tangan atau tongkat rotan untuk menghukum murid-muridnya.

“Saya dulu sering memukul murid-murid saya kalau mereka nakal atau tidak memperhatikan saya di kelas,” ujar Bapak Darius.

Namun setahun terakhir ini, Bapak Darius telah belajar untuk menguasai emosinya di kelas, dan berusaha mengajar dengan cara yang tidak menyakiti atau menakutkan murid-muridnya.

Ia melakukan ini melalui pendekatan Disiplin Positif, metode pengajaran yang sedang dilatih untuk sekelompok guru di Papua sebagai bagian dari kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah untuk mengakhiri kekerasan di sekolah.

Sunday, 7 July 2013

Rumah Honai Markus - Rintangan akses pendidikan di Provinsi Papua

Markus meninggalkan desa asalnya
pada usia 14 tahun demi bersekolah.
© UNICEF Indonesia / 2012 / Klaus
 Megapura, Provinsi Papua, Juli 2013 - Empat tahun telah berlalu sejak Markus bertemu orang tuanya, dan paling tidak setahun lagi sebelum ia bisa pulang ke desa Kalbok yang dapat ditempuh dengan 10 hari berjalan kaki melalui dataran tinggi Papua. Remaja berusia 18 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMA ini pun sadar bahwa ia takkan pernah mengenyam bangku sekolah jika tidak meninggalkan desa asalnya.

Dalam kurun waktu itu, Markus tumbuh dengan pesat dan kini telah menjadi kepala suatu honai (gubuk tradisional) yang dijadikan rumah kos untuk 50 remaja dan orang muda di Megapura. Mereka semua bersekolah di tingkat SMA atau institusi kejuruan di kota Wamena.

"Kabupaten-kabupaten di dataran tinggi Papua memiliki indikator anak terburuk dari seluruh negara," jelas Margaret Sheehan, Kepala Kantor Lapangan UNICEF di Papua dan Papua Barat. Lebih dari 120 dari setiap 1.000 anak meninggal sebelum melewati usia lima tahun, atau lebih dari tiga kali rata-rata nasional. Hanya sepertiga penduduk memiliki akses terhadap air bersih dan kurang dari seperempat memiliki akses jamban.