Annual Report

Showing posts with label blog UNICEF. Show all posts
Showing posts with label blog UNICEF. Show all posts

Thursday, 13 August 2015

Mengenal Lebih Dekat Pendidikan Satap di Bondowoso


Program Satap adalah jenjang pendidikan SD-SMP dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu atap.

Oleh David Damanik, Telefundraiser UNICEF 


Manajemen Berbasis Sekolah dalam satu atap (Satap) merupakan program pemerintah yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah dicanangkan sejak tahun 2005 dan merupakan program pemerintah dalam upaya mensukseskan wajib belajar 9 tahun.  Program satap adalah jenjang pendidikan SD-SMP dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu  atap ( lokasi ) dengan tujuan memberi kesempatan dan mempermudah anak – anak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak sampai jenjang SMP.

Kesempatan kali ini saya akan berbagi kisah “field trip Unicef ke Bondowoso “dengan melihat langsung (observasi) salah satu program pendidikan yang sedang dilaksanakan Unicef yaitu Program Satap Bondowoso tgl 25-26 Mei 2015.

Tuesday, 3 December 2013

Mengakhiri Kekerasan di Sekolah Lewat Disiplin Positif

Devi Asmarani


Setahun setelah memulai program Disiplin Positif, suasana di kelas telah berubah total. Siswa tidak takut guru mereka lagi. ©UNICEFIndonesia/2013/Esteve.

Selama 24 tahun mengajar, guru kelas 5 Darius Naki Sogho sering menggunakan tangan atau tongkat rotan untuk menghukum murid-muridnya.

“Saya dulu sering memukul murid-murid saya kalau mereka nakal atau tidak memperhatikan saya di kelas,” ujar Bapak Darius.

Namun setahun terakhir ini, Bapak Darius telah belajar untuk menguasai emosinya di kelas, dan berusaha mengajar dengan cara yang tidak menyakiti atau menakutkan murid-muridnya.

Ia melakukan ini melalui pendekatan Disiplin Positif, metode pengajaran yang sedang dilatih untuk sekelompok guru di Papua sebagai bagian dari kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah untuk mengakhiri kekerasan di sekolah.

Tuesday, 26 November 2013

Blog dari Tacloban: Gadis kecil bergaun putih

Sepasang boneka di antara puing-puing di kota Tacliban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Oleh Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina

Dua hari yang lalu, bersama dengan beberapa orang wartawan, kami mengunjungi salah satu pemukiman yang paling terpukul topan Haiyan di kota Tacloban. Pemukiman tempat ribuan orang tinggal ini terletak sekitar 200 meter dari pesisir pantai dan cukup kumuh.

Namun sudah tidak ada lagi yang tersisa. Daerah ini terkena kekuatan penuh topan super Haiyan, dan semua rumah pun tersapu oleh topan, gelombang badai, dan angin kencang.  

Barang-barang dan keperluan rumah tangga sehari-hari berserakan di mana-mana. Sebuah boneka di sini, sepotong baju di sana, remote control TV di satu sisi, dan foto album keluarga di seberangnya.

Saat sedang menyelesaikan pekerjaan kami, saya memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekitar 75 meter kemudian, saya melihat dua jenazah. Satu di antaranya tampak seperti seorang pemuda, dan yang satunya adalah seorang gadis kecil bergaun putih, usianya sekitar enam tahun.


Monday, 18 November 2013

Topan Haiyan: Kisah Jhana dan Gwendolyn

Oleh: Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina


Jhana dan perlengkapan kebersihan UNICEF di Tacloban
© UNICEF Philippines/2013/Kent Page

Gereja Our Lady of Perpetual Help di Tacloban telah menjadi rumah darurat bagi 300 keluarga yang rumahnya musnah oleh Topan Haiyan. Di antara mereka adalah Jhana, seorang ibu berusia 20 tahun dan putrinya yang baru lahir, Gwendolyn.

Gwendolyn lahir hanya satu minggu sebelum Haiyan melanda. "Topan menghanyutkan rumah kami" ucap Jhana sambil menyusui Gwendolyn di antara ratusan orang lain yang berlindung di gereja. "Tapi dia adalah malaikat saya dan saya akan melakukan segalanya untuk memastikan kesejahteraan hidupnya."

Thursday, 14 November 2013

Diary topan Haiyan: Lumpur dan reruntuhan di Tacloban

Nonoy Fajardo (Disaster Risk Reduction and Emergency Specialist)

Seorang anak yang terlantar akibat topan Haiyan di kota Tacloban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem
Saya telah bekerja di bidang kedaruratan selama lebih dari 15 tahun, dan saya benar-benar berpikir bahwa saya sudah pernah melihat semuanya. Tapi ketika saya sampai di Tacloban pada hari Senin sebagai anggota tim assessment PBB, saya sangat terkejut. Saat pesawat berjalan di landasan pendaratan, saya melihat lumpur dan reruntuhan - hanya lumpur dan reruntuhan - di mana tadinya ada banyak pohon, bangunan dan semua tanda-tanda kehidupan yang normal.

Segala sesuatu yang dulunya di dalam bangunan terminal bandara kini berada di luar, dan apa yang tadinya di luar menjadi berada di dalam, termasuk sebuah tangga eskalator. Kami diberitahu agar menghindari bagian bangunan yang hancur karena masih ada mayat di reruntuhan, di mana para karyawan bandara mencari perlindungan.