Wednesday, 20 January 2016

Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Pertama

Oleh: Femmy, In-House Face To Face UNICEF Surabaya

Pada hari Senin, 26 november 2015, saya berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Tugu Yogyakarta bersama dua anggota team In-House Face To Face UNICEF.

Tujuan dari trip ini adalah untuk melihat secara langsung program kerja UNICEF di lapangan, mengenai bagaimana peran UNICEF mampu memberikan dampak pada perubahan perilaku pada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan pada kesempatan kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi wilayah kabupaten Klaten, Jawa Tengah, untuk melihat program gizi dan perlindungan anak.


Setelah sekitar satu jam perjalanan, tempat pertama yang kami kunjungi adalah kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) kabupaten Klaten untuk berdialog dengan Dinas Kesehatan Klaten, Perangkat Desa Pandes dan juga tim kesehatan UNICEF Surabaya.

UNICEF memulai beberapa program di kabupaten Klaten pasca gempa bumi yang terjadi pada tahun 2006, dengan fokus pada kesehatan dan perlindungan anak. Tujuannya adalah KLA, Kota Layak Anak.

Beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut:
  • Di kabupaten ini sekitar 12 dari 318 bayi mengalami stunting, atau terhambatnya pertumbuhan akibat masalah gizi. Jika stunting terdeteksi saat bayi berusia di atas 2 tahun, maka akan sulit disembuhkan.
  • Micro mineral disiapkan untuk membantu ibu yang anaknya mengalami stunting.
  • Pemberian susu formula pada bayi dapat menjadi bermasalah, dan Klaten sendiri memiliki banyak pabrik susu formula.
  • PMBA, pemberian makan bayi dan anak, dijadikan gerakan yang berbasis masyarakat agar ada kerjasama untuk memastikan asupan gizi bayi dan anak sudah baik dan benar.

Sekertariat Bersama – Forum Anak Kabupaten Klaten.

Kami pun berlanjut ke Sekretariat Bersama Perlindungan Anak Kabupaten Klaten untuk berdiskusi dengan Forum Anak Klaten, sebuah forum informal yang membantu upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dimana konselornya ya sebaya dengan anak-anak, seusia SMP - SMA. 

Kekerasan yang terjadi pada anak bisa terjadi di dalam keluarga (membentak, menjewer, memukul, dsb) dan di lingkup pergaulan teman sebaya (bullying).

Fakta menarik tentang bullying: banyak pelaku bully dulunya pernah jadi korban bullying / melihat kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya / kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Konselor anak ini tidak menjadi tempat curhat (curahan hati) teman-teman sebayanya akan tetapi juga bisa membantu pelaporan dan prosedur pelaporan kekerasan terhadap anak. Mulai dari bukti yang kelihatan ataupun yang tidak.

Yang pasti mendidik anak memang tidak mudah serta diperlukan extra sabar dan kasih sayang yang berlimpah. Karena satu cubitan dari orang tua mengakibatkan rusaknya 10 miliar syaraf anak. Dan satu bentakan sederhana bisa merusak 1 miliar syaraf pada anak. 

Angka yang fantastis bukan? 

Jadi bayangkan berapa banyak syaraf yang rusak, jika orang tua secara rutin melakukan kekerasan verbal dan nonverbal terhadap anak. Bisa dipastikan dalam 3 - 5 tahun ke depan, otak anak akan mengecil, sementara 1 Triliun syaraf baru bisa tumbuh dan berkembang dengan memberikan sayang dan pujian kepada anak.

Suasana saat sedang berdiskusi dengan Forum Anak.
Diskusi dan tanya jawab di tempat ini berakhir sekitar pukul 17.00, Kemudian kami kembali ke Yogya tepat saat makan malam tiba.