Monday, 18 January 2016

Ketidakhadiran Siswa di Papua

Oleh: Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Teo menghadapi masa depan yang tidak pasti. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Waktu itu hari Senin pukul 8 pagi di kampung Poumako Papua. Ketika lonceng berbunyi, kelompok anak-anak berdatangan dari rumah mereka dan mulai berjalan menuju kelas. Tetapi Teo tidak – anak yang berusia sembilan tahun tersebut tidak pergi ke sekolah hari itu. Ia jarang pergi ke sekolah.

Kisah Teo merupakan kisah umum yang terjadi di sekitar kampungnya dan di seluruh provinsi. Daerah ini merupakan salah satu daerah termiskin dan paling terisolasi di Indonesia. Kondisi ini dapat dilihat dari  besarnya jumlah anak yang putus sekolah untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Anak-anak di sini lebih mengenal palu dan sekop daripada pensil dan buku.

"Kadang-kadang saya bekerja di pelabuhan," kata Teo. Ada pelabuhan besar beberapa kilometer dari kampungnya yang melayani daerah tersebut. Anak-anak seperti Teo bisa memperoleh sedikit tambahan rupiah melalui bongkar muat barang ke kapal-kapal yang berlabuh di sana. "Saya mengangkut barang-barang seperti perabot, semen dan beras," katanya, "Barang-barang ini biasanya beratnya 15-25 kilogram."


Anak-anak bekerja di pelabuhan Papua. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekolah di kampung Poumako merupakan gabungan beberapa bangunan tua. Anak-anak bermain sepak bola di area umum kecil yang dikelilingi oleh lima ruang kelas. Sekolah ini seluruhnya berdiri tidak aman di atas panggung kayu yang tinggi di atas rawa yang sangat kotor.

Walaupun begitu, banyak dari anak-anak tersebut kelihatan penuh semangat dan siap untuk belajar. Beberapa anak hanya memiliki satu pensil, sedangkan anak-anak lainnya tidak memiliki sama sekali. Tetapi mereka bangga dengan seragam sekolah mereka ketika mereka berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya.

Markus Fasak telah menjadi kepala sekolah untuk sekolah ini selama beberapa tahun. Ia mengatakan bahwa banyak siswa yang sering tidak hadir. "Banyak anak membantu keluarga mereka untuk menangkap ikan atau memanen sagu. Kegiatan-kegiatan yang menghasilkan pendapatan seringkali dianggap lebih penting, "katanya.

Inilah hal yang disuarakan oleh guru Basilus Batmomolin. "Paradigma masyarakat tersebut berbeda di sini," katanya, "Beberapa keluarga tidak menganggap pendidikan sepenting itu."


Ruang Kelas di Poumako. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Angka-angka terakhir pemerintah menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan tentang ketidakhadiran siswa di Papua. Survei terakhir menunjukkan bahwa hingga 30 persen anak di sini putus sekolah. Angka ini semakin mengejutkan di daerah-daerah yang sulit diakses: 50 persen untuk SD dan 73 persen untuk sekolah menengah pertama.

"Anak-anak yang tidak menyelesaikan sekolah memulai hidup mereka dengan ketidakberuntungan," kata Spesialis Pendidikan UNICEF Papua Monika Nielsen, "Kesempatan mereka dalam kehidupan sangat berkurang. Banyak dari anak-anak ini akan terbatas pada pekerjaan di bidang pertanian atau perburuhan. Demikian pula, siklus kemiskinan antargenerasi akan berlanjut.


Murid di Poumako berjalan ke kelas. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekalipun dihadapkan pada tantangan-tantangan ini, anak-anak di sekitar daerah tersebut tetap memiliki semangat yang besar. Sekelompok siswa muda memberikan daftar panjang tentang kemungkinan karir mereka di masa depan. "Saya ingin menjadi perawat," kata salah satu anak perempuan. "Saya ingin menjadi polisi," kata yang lain. Salah satu anak laki-laki ingin kuliah di perguruan tinggi, meskipun dia belum tahu apa yang ingin dipelajari.

Tetapi bagi banyak orang muda di sini, masa kecil tanpa pendidikan berarti masa depan tanpa peluang. Hal ini akan menjadi masalah bagi Teo. Ada kemungkinan ia akan bekerja di pelabuhan untuk beberapa tahun yang akan datang.


Saat ini, UNICEF sedang melaksanakan Program Pendidikan Daerah Perdesaan dan Terpencil untuk Provinsi Papua di 120 sekolah di seluruh Tanah Papua - termasuk Poumako. Tujuan Program adalah untuk melakukan pengujian pendekatan yang efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan hasil pembelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal. Program ini akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dimana anak-anak tetap bersekolah dan sukses dalam studi mereka.