Wednesday, 30 September 2015

Laporan global UNICEF: Kematian anak di Indonesia menurun drastis tapi masih banyak tantangan yang harus dihadapi

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Sekitar 4,5 juta anak Indonesia berhasil diselamatkan sejak 1990. ©UNICEF Indonesia/2015

Laporan global UNICEF menggarisbawahi pencapaian gemilang Indonesia dalam mengurangi kematian anak.

Laporan berjudul Promise Renewed: 2015 Progress Report menyatakan bahwa tingkat kematian balita saat ini berada di angka 27 kematian per 1.000 kelahiran jika dibandingkan dengan 85 kematian per 1.000 kematian di tahun 1990.

Pada 1990, sebanyak 395.000 anak meninggal di Indonesia sebelum mencapai usia lima tahun. Angka itu menurun menjadi 147.000 pada 2015. “Angka ini masih mengejutkan, tapi hal ini juga berarti bahwa sekitar 4,5 juta anak akan meninggal dunia jika angka kematian masih sama dengan tingkat pada tahun 1990,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson.


Laporan itu memasukkan Indonesia ke dalam kelompok 24 negara dari 81 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang berhasil mengurangi kematian balita hingga dua pertiga dalam periode tersebut – yang merupakan target Tujuan Pembangunan Millenium Empat (Millennium Development Goal Four).

Solusi sederhana dan berdampak besar yang digabungkan dengan pertumbuhan ekonomi diyakini berkontribusi terhadap pengurangan dramatis kematian balita, termasuk perluasan jangkauan imunisasi, pemberian ASI eksklusif dan diagnosis serta perawatan tepat penyakit-penyakit umum. Ini adalah area di mana UNICEF dan mitra-mitra pembangunan memberikan dukungan pada tingkat nasional dan lokal.


Angka global dari laporan Promise Renewed. ©UNICEF/2015

Ibu Gunilla juga menggunakan laporan tersebut untuk menggarisbawahi betapa banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengurangi kematian anak: “Angka-angka terbaru ini menyembunyikan disparitas di Indonesia. Data yang ada menyatakan bahwa kematian anak di Papua lebih dari tiga kali kematian anak di Jakarta. Dan disparitas-disparitas lainnya juga tersebar di berbagai kuintil kekayaan.”

Hampir separuh kematian balita terjadi di bulan pertama setelah kelahiran dan kebanyakan diakibatkan komplikasi dari kelahiran premature, asfiksia dan infeksi parah. “Untuk menghapus semua ini memerlukan sistema kesehatan yang dapat memberikan layanan berkualitas selama 24 jam dan semua wilayah negara ini,” kata Ibu Gunilla.

Ke depan, hal yang sangat penting adalah memastikan agar kematian anak terlacak, terpantau dan dibahas di tingkat subnasional untuk perbaikan. Ada pula peluang untuk meningkatkan akses ke intervensi berbasis bukti. Intervensi ini meliputi solusi rehidrasi oral dan zinc untuk diare serta vaksin-vaksin manjur yang belum diperkenalkan di Indonesia.


Masih banyak balita Indonesia yang masih bisa diselamatkan. ©UNICEF Indonesia/2014

2015 merupakan momen penting dalam upaya global untuk membahas kematian anak. Akhir bulan ini, 193 pemerintah akan bertemu di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menyetujui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) – yang merupakan peta jalan untuk kemajuan manusia dalam 15 tahun mendatang. Salah satu tujuan itu adalah mengurangi kematian balita menjadi 25 (atau lebih kecil lagi) per 1.000 kematian di setiap negara pada 2030.

“Indonesia harus memanfaatkan kesuksesan ini dan mengurangi kematian anak dalam tahun-tahun mendatang,” kata Ibu Gunilla. “Kami tetap berkomitmen untuk bekerja sama dan memastikan bahwa kemajuan terjadi di setiap bagian negara ini. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tentang kematian balita hanya bisa disebut tercapai jika setiap provinsi dan setiap kabupaten di kepulauan ini berhasil mencapainya.”