Wednesday, 25 November 2015

Dukungan besar pada acara pendaftaran Pelindung Anak


Ribuan orang telah mendaftar jadi Pelindung Anak, termasuk Menteri Yohana Yembise (kedua dari kiri) dan Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim (kanan). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang  berkumpul pada Hari Anak Sedunia 2015 untuk mencegah kekerasan terhadap anak dan menjadi Pelindung Anak.

Acara pendaftaran kampanye inovatif bertajuk Pelindung Anak ini dihadiri antara lain oleh Menteri, aktor, psikolog, serta model.

Tujuan kampanye ini adalah menciptakan sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran tentang serta memulai aksi untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Peserta diajak untuk mengunjungi website kampanye tersebut (www.pelindunganak.org), di mana mereka bisa mendapat informasi tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia, dan berkomitmen untuk melindungi anak-anak di sekeliling mereka.

"Kekerasan terhadap anak adalah krisis tersembunyi di Indonesia. Ini hanya bisa dihentikan jika kita semua bergabung dan melindungi setiap anak seolah-olah mereka adalah anak kita sendiri," kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson. "Jika seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak, maka seluruh desa juga dibutuhkan untuk melindungi seorang anak."


Di antara yang sudah bergabung dalam daftar Pelindung Anak adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim, dan aktris Raline Shah serta Alya Rohali.

"Menurut saya daruratnya (kekerasan anak) sudah dari dulu, bukan hanya sekarang. Tapi, dulu itu dianggap aib dan banyak orang enggak mau tahu," ujar Ibu Yohana di acara ini.

"Kampanye ini mengajak kita semua untuk merasa punya moral menjadikan semua anak-anak sebagai anak kita," kata Ferry Salim, yang telah menjadi Duta Nasional UNICEF di Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun.

Panel diskusi di acara pendaftaran Pelindung Anak bersama Ali Aulia Ramly dari UNICEF, Psikolog Anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Wakil Menteri Perlindungan Anak Pri Budiarta Nur Sitepu, Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim dan aktivis Citra Natasya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ibu Gunilla menambahkan: "Ini saatnya untuk menyorot yang tidak terlihat menjadi tampak. Saatnya untuk bertindak. Sudah waktunya untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak. Saya seorang Pelindung Anak dan saya harap semakin banyak orang yang akan bergabung."

Beberapa poin penting tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia:

  • 40 persen anak usia 13-15 tahun pernah diserang secara fisik setidaknya sekali dalam satu tahun.
  • 26 persen anak-anak mengalami hukuman fisik dari orangtua atau pengasuh di rumah.
  • 50 persen anak-anak melaporkan pernah di-bully disekolah.
  • 45 persen perempuan Indonesia percaya bahwa suami /pasangan berhak memukul mereka dalam kondisi tertentu.

"Konsekuensi dari tidak menangani kekerasan terhadap anak di Indonesia bisa sangat parah. Anak korban kekerasan fisik, seksual dan emosional sering menderita konsekuensi jangka panjang, termasuk kondisi fisik dan psikologis, "kata Ibu Gunilla.

Semua warga Indonesia dianjurkan untuk mengunjungi website kampanye dan menjadi Pelindung Anak: www.pelindunganak.org