Thursday, 18 May 2017

Memenuhi Hak Anak untuk Aris

Oleh: Dinda Veska, Fundraising Communication Officer


Aris (7) usai sembuh dari demam akibat Virus Rubella
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Demam dan Campak Jerman
Keceriaan dan aktifitasnya di sekolah terganggu tiba-tiba saja pada Februari kemarin, Aris (7 tahun) mengalami demam tinggi hingga 38 derajat celcius sepulang dari sekolah. Ibunya yang juga merupakan seorang kader kesehatan memberikan Aris obat penurun demam dan mengompresnya. Hingga malam hari suhu tubuhnya tidak kunjung menurun.

Keesokan harinya Aris dibawa ke Puskesmas Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Petugas kesehatan setempat mengambil contoh darah Aris untuk diperiksakan ke laboratorium di Yogyakarta. Selang beberapa hari hasil pemeriksaan darah Aris menunjukkan bahwa
ia positif terkena virus Rubella atau biasa disebut dengan Campak Jerman.

Berakibat fatal pada ibu hamil
Saat mengetahui hal tersebut, Ibu Diah cukup panik memikirkan dampak kesehatan yang akan terjadi pada anaknya. Sedikit banyak beliau mengetahui bahwa virus Rubella sangat berbahaya, ia khawatir anaknya juga akan mengalami katarak, gangguan pendengaran atau gangguan kesehatan lainnya.

Tetapi setelah dijelaskan oleh petugas kesehatan di Kecamatan Bayat, Ibu Diah menjadi lebih tenang. Karena Virus Rubella yang menyerang Aris pada usia 7 tahun tidak akan berdampak fatal kecuali demam tinggi, pusing dan ruam-ruam kemerahan di kulit.


Ibu Diah bersama Aris dan anak ke empatnya.
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Menurut Dokter Kenny Peetosutan – Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia - virus ini akan berdampak fatal jika menginfeksi ibu hamil, terutama pada kehamilan muda. “Janin yang masih dalam masa perkembangan di dalam kandungan berisiko menderita kelainan jantung, gangguan pada fungsi pendengaran, gangguan mata (katarak kongenital) dan gangguan kesehatan lainnya”, ungkap Dokter Kenny.

Setiap tahunnya 100.000 bayi di dunia lahir dengan Congenital Rubella Syndrom (CRS) atau berbagai gangguan pada organ seperti yang disebutkan oleh Dokter Kenny di atas.

Di Kabupaten Klaten sendiri, terhitung mulai 2016 sudah ada 7 orang anak terkena virus Rubella. Sejauh ini penanganan yang dilakukan pihak Puskesmas Kecematan Bayat kepada Aris dan anak-anak tersebut adalah dengan memberikan Vitamin A dan pengobatan tertentu sesuai dengan gejala yang diderita anak.

Virus Rubella mengancam di sekitar kita

Meskipun saat ini Aris telah sembuh dan dinyatakan bebas virus. Namun Rubella masih mengancam di sekitar Aris dan jutaan anak Indonesia lainnya. “Virus ini masih ada di sekeliling kita dan dapat menyerang siapa saja dan kapan saja”, jelas Dokter Kenny.

Aris bersama teman-temannya di seklolah.
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Imunisasi cegah rubella
Masih ada harapan untuk Aris dan anak-anak lainnya agar terhindar dari virus ini. Pada bulan Agustus 2017 nanti, Pemerintah Indonesia akan melaksanakan Kampanye Imunisasi Measles (Campak) Rubella (MR). Sekitar 35 Juta anak usia 9 bulan hingga usia di bawah 15 tahun di Pulau Jawa akan mendapat imunisasi MR guna mencegah mereka terinfeksi virus Rubella. Imunisasi ini juga akan menyasar sekitar 32 Juta anak lainnya di luar Pulau Jawa di 2018.  

Balqish (2 bulan) mendapat Imunisasi Rutin dari Puskesmas Kecamatan Bayat
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Bersama UNICEF memastikan setiap anak bebas Rubella
Untuk memastikan setiap anak mendapat imunisasi Measles Rubella ini, UNICEF mendukung upaya pemerintah dengan melakukan mobilisasi sumber daya dan pemantauan untuk menjangkau anak-anak yang rentan dan berada di area yang sulit dijangkau.

Selain mengubah masa depan Aris dan setiap anak lainnya menjadi lebih baik, kampanye imunisasi Measles Rubella ini juga akan memenuhi hak dasar anak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.

Peran serta dan dukungan masyarakat luas juga sangat dibutuhkan untuk mendukung kampanye imunisasi ini. Melalui kampanye ini, kita bisa mencegah bayi lahir dengan resiko gangguan cacat organ atau gangguan kesehatan lainnya.

Ayo ikut serta memenuhi Hak-hak Anak Indonesia!