Wednesday, 10 May 2017

Champions4Children Meminta Indonesia untuk Menempatkan Anak-anak pada Pusat Pembangunan

Oleh: Liz Pick, Communications Specialist


Champions4Children dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise (keempat dari kanan) foto bersama dengan Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson (ketiga dari kanan) dan lima anak perempuan muda pada acara tersebut di Jakarta Selatan.
©Raditya Henrile / UNICEF/2017 


Jakarta: Hari minggu sore di Jakarta, sebuah kota yang berpenduduk 10 juta orang, dan sepertinya kebanyakan mereka berada di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka.

"Anak-anak adalah pemimpin masa depan kita. Mereka adalah orang-orang yang akan membawa perubahan bagi Indonesia dalam 25 tahun, dalam 50 tahun," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Yohana Yembise, sambil memandang sekelompok pemimpin saat itu.

Duduk di barisan depan adalah sekelompok orang-orang ternama di Indonesia - pemimpin pemerintahan, bisnis, masyarakat sipil, pekerja seni dan akademisi - yang masing-masing memiliki komitmen untuk menggunakan pengaruh mereka dalam
memperjuangkan hak anak-anak di Indonesia. Mereka adalah Champions4Children UNICEF Indonesia.

Acara ini merupakan bagian dari Pekan Pemasaran Jakarta 2017, yang dilaksanakan setiap tahun oleh Businness Champion UNICEF, Hermawan Kartajaya dan perusahaannya MarkPlus. Pada hari Minggu yang penting ini, pesertanya terutama adalah keluarga-keluarga dan itu penting bagi mereka. Itulah kata-kata yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohanna Yembise.

Beliau mengajak semua orang Indonesia untuk bekerja sama guna mengakhiri pernikahan usia anak, mengakhiri kekerasan terhadap anak dan memberdayakan orang-orang muda untuk menentukan masa depan mereka.
"Kita harus bekerja sama untuk melindungi semua anak Indonesia - tanpa diskriminasi. Itulah peran saya sebagai Menteri. Saya berharap anda semua berkomitmen untuk bergabung dengan saya dalam melindungi anak-anak dan masa depan kita." 

Champion di sini adalah untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat umum untuk melakukan aksi dalam rangka mengatasi tantangan yang dihadapi oleh anak-anak di Indonesia. Setiap dari mereka memiliki pesan sederhana untuk disampaikan kepada peserta - sebuah pesan tentang kerja sama yang harus dilakukan saat ini untuk melindungi masa depan.

Salah satu Champion adalah Dion Wiyoko, seorang bintang film yang sedang menanjak. Sebagai presenter acara terkenal TV travel show, ia telah menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Keinginannya untuk melindungi negeri yang indah ini sangat nyata ketika ia berbicara tentang dorongannya untuk meningkatkan praktek-praktek sanitasi dan kesehatan bagi sebuah lingkungan yang lebih aman dan sehat.

"Saya ingin semua orang tahu tentang kampanye “Tinju Tinja” UNICEF," katanya. "Selama perjalanan saya ke seluruh Indonesia, seringkali saya dikejutkan oleh banyaknya orang yang masih buang air besar di tempat terbuka karena mereka tidak memiliki toilet. Banyak anak menderita sakit atau bahkan meninggal karena masalah kesehatan yang diakibatkannya." 

"Solusinya tidak hanya membangun toilet, tetapi juga mendidik orang-orang untuk menggunakannya," kata Dion. "Mereka perlu tahu apa saja bahaya dan dampak yang ditimbulkan. Kita harus meyakinkan orang-orang dimana saja untuk mengakhiri buang air besar di tempat terbuka." 

Dion membantu peluncuran tahap kedua Tinju Tinja (yang diterjemahkan secara bebas sebagai "Punch the Poo") dan rencana-rencana tentang penggunaan kehadiran media sosialnya yang cukup besar untuk meningkatkan jangkauannya ke masyarakat di seluruh Indonesia, ketika kampanye tersebut akan diluncurkan lagi pada akhir tahun ini.


Bisa dipastikan bahwa, sebagai seorang guru yang ahli dalam menggunakan teknik “storytelling”, Ariyo Zidni memiliki perhatian yang besar terhadap orang banyak ketika ia berbicara tentang pentingnya memanfaatkan kreativitas anak-anak bagi pengembangan pendidikan mereka. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan memfasilitasi lokakarya dengan  teknik storytelling (bercerita) untuk melakukan penyembuhan trauma psikososial bagi anak-anak dan remaja yang terkena dampak bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, keadaan darurat yang terjadi secara tetap di Indonesia.

Champions4Children Dion Wiyoko (kanan) dan M. Farhan (kiri) berbicara tentang hak anak dalam acara tersebut di Jakarta.
©Raditya Henrile / UNICEF/2017
 


Sambil kuliah di Universitas Indonesia, saat ini Ariyo sedang bekerja sama dengan UNICEF dalam sebuah proyek untuk memberdayakan orang-orang muda melalui storytelling digital untuk menemukan solusi-solusi terhadap masalah yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Berbicara setelah acara tersebut, ia mengatakan bahwa kerja sama dengan UNICEF telah memberinya akses ke banyak informasi dan data tentang hak-hak anak yang telah membantunya untuk lebih memahami tentang-isu-isu yang dihadapi oleh anak-anak di Indonesia dan untuk meningkatkan prakteknya sendiri.

"Saya mendukung UNICEF karena kami memiliki gagasan yang sama tentang perlunya untuk menempatkan anak-anak sebagai bagian penting dari agenda Indonesia," katanya. "Sebagai orang dewasa, kita perlu memahami pandangan anak-anak dan memandang dunia dari perspektif mereka untuk semua gagasan dan desain baru."
Demikian pula, seorang penyiar radio dan TV terkenal, M. Farhan mengatakan bahwa ia mendukung UNICEF karena kegiatan UNICEF bagi anak-anak sangat sesuai dengan keyakinan dasarnya sendiri. 

"UNICEF memiliki nilai-nilai penting dan UNICEF bekerja untuk membantu hak-hak anak mulai dari perlindungan terhadap bahaya dan kekerasan hingga pendidikan. Dengan cara demikian, ketika mereka dewasa, mereka juga dapat melindungi dan memenuhi hak-hak generasi anak-anak berikutnya."  
Farhan adalah seorang pendukung kuat terhadap hidup sehat, pendidikan, dan pengembangan ekonomi untuk memberdayakan orang muda guna mencapai masa depan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri. Sambil mempraktekkan gaya hidup sehat yang ia sampaikan, Farhan menunjukkan foto-foto dari trilomba (triathlon) yang ia ikuti sambil mendorong para peserta untuk “tergerak untuk bergerak”.

"Saya ingin orang-orang tidak hanya digerakkan dan menunjukkan empati, tetapi juga untuk benar-benar bergerak dan melakukan aksi," katanya.  
Terdengar bisikan dari para peserta ketika puteri mendiang Presiden RI Gus Dur, Yenny Wahid naik ke atas panggung. Sebagai anggota aktif Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam independen terbesar di dunia dengan 70 juta anggota, Ibu Yenny telah menjadi pegiat sosial terkenal untuk dialog antaragama dan multikultural dalam haknya sendiri.

Beliau menyampaikan pesan kepada peserta khususnya para orang tua, agar mereka mendengarkan anak-anak mereka dan mengajarkan nilai-nilai positif kepada mereka sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan baik di dunia sekarang ini.
"Orang tua perlu memelihara komunikasi terbuka dengan anak mereka. Kita tidak bisa hanya menyampaikan cerita-cerita kepada mereka sebelum tidur dan kemudian kembali lagi kepada jadwal kesibukan kita. Komunikasi adalah kuncinya. Jika tidak, anak-anak kita tidak akan menyampaikan kepada kita ketika mereka menghadapi masalah."

Belakangan ini, mantan jurnalis terkenal tersebut memberikan dukungannya kepada UNICEF selama Pekan Imunisasi Dunia untuk mendorong orang tua dari segala agama untuk melakukan vaksinasi bagi anak-anak mereka dari penyakit yang dapat dicegah seperti campak dan rubella.
Pada akhir acara tersebut, Menteri Yembise mengundang para Champion ke kantornya untuk membicarakan tentang bagaimana mereka dapat bekerja sama untuk mewujudkan hak-hak anak.