Annual Report

Thursday, 8 June 2017

1000 Hari Pertama yang menentukan


 Oleh: Dinda Veska

Rinayah digendong ibunya setelah menangis hampir selama 15 menit ©UNICEF/Dinda Veska/2017
Berjarak satu jam dari kota besar Yogyakarta, seorang anak tidak dapat menjalani hari-harinya dengan ceria seperti anak-anak lainnya. Ia mengalami gizi buruk, sehingga sering kali mudah lelah ketika bermain atau belajar. Sang Ibu menamainya Rinayah, balita berusia 2 tahun ini hanya memiliki berat badan 8 kilogram, masih kurang 3 kilo dari berat badan normal.
Anak-anak seperti Rinayah yang tidak terpenuhi kebutuhan gizinya pada 1000 hari pertama kehidupannya akan mengalami hambatan pertumbuhan.  Kemampuan kognitifnya tidak dapat berkembang secara optimal, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan ia mudah sakit. Selain itu Rinayah juga terancam tidak dapat mencapai potensi maksimalnya karena mengalami kekurangan gizi pada periode emas ini.

Monday, 5 June 2017

Mengupayakan Keselamatan dari Kabut Asap untuk Anak Indonesia

Oleh: Vania Santoso – Innovations Adolescent and Youth Engagement Officer


Murid berjalan kaki setelah dipulangkan lebih awal dari sekolah akibat kabut asap di Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia© Antara Foto/Wahdi Setiawan/Reuters/29 September 2015

Palangkaraya: “Gara-gara asap, saya rasanya tidak pernah mau berada di sini lagi!” kata Gibran, siswa kelas empat di Palangkaraya, Kalimantan Timur.

Berat rasanya mendengarkan Gibran menceritakan kembali hari-harinya saat kabut asap menyelubungi tempat tinggalnya di Kalimantan, peristiwa yang berlangsung berminggu-minggu dan disebut oleh beberapa pihak sebagai bencana lingkungan terburuk. Di desanya, kabut asap begitu parah hingga Gibran

Menolong Jasmine

oleh: Felice Bakker, JPO, Perlindungan Anak

Sebagai bagian dari pendekatan UNICEF Indonesia untuk melakukan pemodelan intervensi yang terukur, saya mendokumentasikan praktek pencatatan kelahiran yang baik di sembilan lokasi percontohan kami di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan ini, saya bertemu dengan satu keluarga yang mendapat manfaat dari percontohan UNICEF di Makassar, di mana kemitraan dilakukan dengan LSM lokal untuk mendaftarkan anak-anak yang rentan, termasuk penyandang cacat.

Makassar: Jasmine * adalah seorang ibu yang lumpuh. Begitu juga kedua anaknya yang terkecil. Putrinya yang berusia tiga tahun Nur harus digotong, sementara anak laki-lakinya yang berusia lima tahun, Ali, harus berjalan dengan kaki dan tangannnya.


Selama pemeriksaan sebelum kelahiran di rumah sakit di tahun-tahun sebelumnya, dokter mengatakan kepada Jasmine bahwa

Thursday, 1 June 2017

Dengan INFOBIDAN, Memberdayakan Bidan Indonesia

Oleh: Cory Rogers, Communication Officer, UNICEF Indonesia


Dua bidan menunjukkan cara mengakses informasi di situs INFOBIDAN.
website. © Cory Rogers / UNICEF / 2017  

Jawa Timur: “Dengan INFOBIDAN, data ada di tangan kita!” Sri Utami, bidan desa di Jawa Timur, berseru lantang agar suaranya bisa terdengar di antara keriuhan di sekitarnya.

Tak jauh dari tempatnya berada, tujuh perempuan memimpin yel-yel. “INFOBIDAN, yes! INFOBIDAN, yes!” Sorakan mereka hendak menggugah semangat 100 bidan lain yang berkumpul untuk mendaftar sebagai pengguna aplikasi ponsel itu.

INFOBIDAN adalah bentuk teknologi kesehatan nirkabel (mHealth tech) yang diluncurkan UNICEF dan Pemerintah Indonesia pada 2012 untuk memberdayakan bidan. Dengan memanfaatkan

#IniSuaraku: Apa Pendapat Anak Muda tentang Akses Layanan Kesehatan Reproduksi

Oleh Vania Santoso, Youth Engagement Officer


Anak-anak muda sibuk dengan ponsel mereka untuk menyuarakan pendapat mereka selama Temu Nasional Remaja Indonesia © UNICEFIndonesia/2017/Achmad Rifai  

Yogyakarta: Setiap tahun, tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Orang Tua Sedunia, hari yang menekankan peran penting orang tua dalam membesarkan anak-anak. Anak-anak perlu diasuh dan dilindungi. Tidak boleh ada anak yang menjadi orang tua

Pendapat ini membuat saya mengingat kembali pengalaman saya pada Temu Nasional Remaja Indonesia di Yogyakarta pada bulan Maret 2017 yang bertujuan untuk menangani masalah kehamilan remaja yang tidak diinginkan.   

Kurang lebih 70 anak muda, yang dipilih dari 25 dari 34 provinsi di Indonesia, ikut serta dalam diskusi mendalam tentang akses kesehatan reproduksi