Saturday, 25 April 2015

Malaria pada Kehamilan: Apa artinya bagi kehidupan anak-anak kita

Oleh Maria Endang Sumiwi – Health Specialist Malaria

Dr Jeanne Rini Poespoprodjo, SpA, Msc, PhD adalah dokter anak di Rumah Sakit Umum Daerah Mimika (Papua, Indonesia), konsultan kesehatan ibu dan anak untuk UNICEF dan WHO Indonesia serta Dinas Kesehatan di Papua, Indonesia, serta peneliti malaria di Fasilitas Riset Timika bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Menzies School of Health Research, Darwin.

Indonesia sedang berperang melawan malaria dan sejauh ini sudah terlihat sejumlah kemajuan yang menjanjikan. Penyakit itu secara berangsur mulai lenyap di sejumlah daerah. Namun di banyak daerah dengan tingkat penularan yang tinggi, beban karena malaria masih dirasakan. Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia merupakan daerah dengan penularan malaria yang tertinggi. Di kabupaten dengan situasi malaria yang terburuk, satu dari tiga orang terserang malaria sekali dalam satu tahun.

Ibu hamil terutama sangat rentan terhadap malaria. Mereka memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi malaria dan menderita malaria berat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak hamil.

Lantas, apa arti hal itu bagi kehidupan anak-anak kita? UNICEF menghadirkan perspektif seorang dokter yang sehari-hari berhadapan dengan malaria. Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo adalah seorang dokter anak yang sudah 15 tahun bekerja di Papua.



T: Bagaimana Anda menjelaskan situasi malaria dalam pekerjaan sehari-hari Anda sebagai dokter dan situasi malaria pada kehamilan? 

J: Setiap bulan, ada sekitar 100-150 kunjungan pasien malaria ke rumah sakit dan sedikitnya ada dua orang pasien baru yang dirawat inap karena malaria setiap harinya. Di antara ibu hamil yang datang untuk bersalin 10-15 % nya menderita malaria; dan sekitar 30% pasien di bangsal anak dirawat karena malaria. Pasien saya yang termuda adalah bayi berusia satu hari yang mengalami malaria falciparum dengan anemia: kemungkinan merupakan infeksi kongenital (bawaan).

T: Jika seorang perempuan menderita malaria saat hamil, apa dampak yang bisa terjadi pada dirinya dan pada bayinya? 

J: Efek yang paling berbahaya akibat malaria pada ibu hamil di daerah endemik malaria, termasuk Papua, adalah anemia. Malaria pada ibu hamil dan anemia akan meningkatkan risiko kehamilan yang buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita malaria. Malaria pada kehamilan bisa mempengaruhi pertumbuhan janin dan akan mengakibatkan bayi lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram (bayi berat lahir rendah/BBLR), sebuah kondisi yang dihubungkan dengan risiko tinggi kematian pada tahun pertama kehidupan. Kelahiran prematur juga bisa dipicu oleh demam malaria. Malaria pada kehamilan juga bisa mengakibatkan keguguran.

T: Bagaimana Anda mendeskripsikan efek malaria pada kehidupan anak-anak kita? 

J: Risiko mengalami efek buruk malaria dimulai dalam rahim dan risiko terkena malaria dimulai saat kelahiran. Tanda dan gejala malaria di usia dini pasca kelahiran tidak spesifik dan cenderung tidak terdeteksi. Saya sudah melihat banyak balita yang mengalami anemia parah yang dikaitkan dengan malaria vivax dan falciparum. Menderita anemia di usia sedini itu jelas mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal itu juga akan mencegah anak mencapai potensi penuh mereka sebagai generasi masa depan. Ini adalah isu yang sangat serius.

T : Bagaimana kita mengatasi situasi ini?

J: Memberikan pengobatan dengan obat antimalaria yang efektif, pemberian pengobatan presumtif berkala, serta penggunaan kelambu berinsektisida adalah tiga strategi utama dalam mengatasi masalah malaria pada kehamilan dan bayi di daerah endemik malaria rendah hingga tinggi.
Sebagian besar pengetahun mengenai program pencegahan malaria pada ibu hamil dan balita berasal dari usaha melawan malaria P. falciparum. Pentingnya malaria P.Vivax di kelompok rentan ini baru mendapat perhatian belum lama ini dan karenanya memerlukan pendekatan yang lebih baru.

T: Bagaimana memastikan ketiga intervensi tersebut terlaksana? 

J: Memastikan cakupan yang tinggi untuk diagnosis dini diikuti pengobatan segera, penggunaan kelambu berinsektisida dan – jika memungkinkan- pengobatan presumtif berkala dengan obat antimalaria yang efektif akan mengurangi beban malaria pada ibu hamil dan bayinya. Ini bukan tugas yang mudah dan memerlukan upaya terpadu dari semua pihak yang terlibat dalam program pengendalian malaria.

Sejak tahun 2005 UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan Indonesia dalam program Malaria dalam Kehamilan dan upaya penurunan angka malaria di Indonesia Timur serta eliminasi malaria di Indonesia.


Catatan:

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium. Terdapat beberapa jenis Plasmodium yang dapat menyebabkan penyakit malaria pada manusia yakni P.falciparum, P.vivaks, P.ovale, dan P.malariae. Terdapat juga jenis Plasmodium pada binatang (monyet) yang dapat menginfeksi manusia yakni P. knowlesi. Di Indonesia malaria paling banyak disebabkan oleh P.falciparum dan P.vivaks.

Pengobatan presumtif berkala merupakan pengobatan malaria yang diberikan beberapa kali selama kehamilan kepada setiap ibu hamil yang tinggal di daerah endemik malaria. Pengobatan ini meskipun dilakukan di Afrika tidak dilakukan di Indonesia karena masih dibutuhkan bukti ilmiah yang lebih kuat untuk konteks Indonesia. Saat ini program Malaria dalam Kehamilan oleh Kementerian Kesehatan berupa pemberian kelambu berinsektisida dan pemeriksaan penapisan kepada setiap ibu hamil di daerah endemik malaria, dan jika didapati positif malaria akan diberikan pengobatan yang efektif. Intervesi tersebut tersedia di layanan Ante Natal Care di seluruh daerah endemik malaria di Indonesia.

2 comments:

  1. Wah, bahaya nih kalau malaria sampai mengenai ibu hamil.. bisa bahaya buat ibu dan janinnya tuh...

    ReplyDelete
  2. boleh saya minta kontak dari ibu jeanne ? saya mau mengundang beliau menjadi narasumber di acara kami

    ReplyDelete